LOGINBab 106Deru mesin sedan hitam milik Lucien perlahan memelan saat kendaraan mewah itu memasuki halaman utama kediaman Blackthorne. Gerbang besi raksasa terbuka lebar, menyambut kedatangan sang tuan rumah di bawah pendar lampu-lampu taman yang mulai menerangi senja yang makin temaram.Mobil berhenti tepat di depan pintu masuk utama. Dua pelayan pria berseragam rapi dengan sigap melangkah maju, bersiap menyambut dan membukakan pintu.Isolde masih berusaha mengatur napasnya yang memburu akibat ciuman intens di dalam mobil tadi. Ia terburu-buru merapikan kemeja lilaknya, pipi tembamnya masih merona panas. Tangan tembamnya terulur meraih gagang pintu, berniat keluar sendiri sebelum para pelayan menyadarinya.Namun, sebelum jari-jari tembamnya sempat mendorong pintu, Lucien sudah lebih dulu bergerak.Pria dewasa itu keluar dari kursi pengemudi, melangkah lebar mengitari bagian depan mobil, lalu membukakan pintu penumpang depan untuk Isolde."Luci, aku bisa jalan sendiri—"Sebelum Isolde sem
Bab 105Sinar matahari sore mulai memancarkan pendar jingga di sepanjang jalanan di luar kampus. Isolde berjalan keluar melewati gerbang utama, menghela napas pelan dan berat. Tas punggungnya terasa agak berat, makin terasa membebankan karena gulungan kertas sketsa dari Azriel yang disimpannya dengan hati-hati di dalam tas agar tidak rusak. Setelah drama percekcokan antara Evander dan Azriel akibat persaingan mereka di kafetaria siang tadi, Isolde merasa benar-benar terkuras tenaganya.Namun, begitu mata abu-abunya menangkap pemandangan di pinggir jalan, dadanya mendadak berdebar.Satu unit sedan hitam mewah, tampil anggun dan sangat familier dalam ingatannya sejak malam itu, terparkir tenang di bawah pohon mahoni. Di samping pintu pengemudi, berdiri sosok tegap Lucien. Pria dewasa itu mengenakan kemeja abu-abu gelap dengan lengan digulung rapi hingga ke siku, memancarkan aura wibawa tenang yang bagaimanapun sangat mengintimidasi."Isolde," panggil Lucien pelan, suara baritonnya yang
Bab 104Di tempat lain, tak jauh dari area kampus, Gavin berjalan terhuyung-huyung menuju sebuah gang sempit yang sepi. Pria itu mengusap sudut mulutnya yang memar dengan telapak tangannya yang gemetar. Dadanya naik turun seraya menahan rasa sakit di perutnya akibat tendangan keras Evander tadi."Sialan! Keparat Blackthorne itu benar-benar gila!" umpat Gavin serak, meludahkan sedikit darah ke tanah.Gavin menghantamkan tinjunya ke dinding bata di sampingnya, meluapkan amarah dan penghinaan yang membakar benaknya. Sebenarnya, kedatangannya menemui Isolde hari ini bukan sekadar karena rasa penyesalan bodoh. Kabar mengenai masuknya Isolde ke lingkaran atas keluarga Blackthorne sebagai calon nyonya muda telah menyebar diam-diam di kalangan pebisnis kelas atas. Di saat yang sama, perusahaan keluarga Gavin berada di ambang kebangkrutan parah karena beberapa pihak memutus investasi mereka.Gavin tahu betul bahwa satu-satunya cara untuk menyelamatkan bisnis keluarganya dari kehancuran adalah
Bab 103Suasana di halaman utama kampus terasa menyengat siang itu. Angin musim panas yang lembut berembus melewati area tersebut, membawa aroma dedaunan kering yang berguguran di sekitar area parkir. Isolde berjalan sendirian di sepanjang koridor luar setelah menyelesaikan kelas keduanya hari ini. Kedua tangannya yang berisi memeluk dua buku tebal di dadanya, sementara pikirannya masih dibayangi oleh kehangatan dan ketegangan dari interogasi Lucien di meja makan pagi tadi.Gadis berlekuk tubuh indah itu baru saja hendak mengambil jalan pintas menuju kafetaria belakang untuk membeli minuman dingin ketika suara langkah kaki terburu-buru mendekatinya dari samping."Isolde!"Suara yang terlalu familier itu seketika membuat langkah kaki Isolde yang berat terhenti kaku. Mata abu-abunya sedikit membelalak sebelum perlahan menoleh ke arah sosok pria yang berdiri hanya beberapa meter darinya.Pria tampan berbalut kemeja rapi dengan lengan digulung hingga ke siku berdiri menatapnya. Wajahnya t
Bab 102Denting sendok dan cangkir yang beradu dengan meja makan akhirnya mereda saat Evander dan Azriel bangkit untuk pergi. Evander menyambar jaket kulitnya dengan raut wajah kaku tanpa mengucapkan sepatah kata pun, sementara Azriel hanya memberikan senyum tipis yang sarat akan makna kepada Isolde sebelum melangkah keluar dari ruang makan utama.Alih-alih membawa kelegaan, kepergian dua pria muda keluarga Blackthorne itu justru menyisakan suasana yang terasa makin berat dan menyesakkan.Ruang makan yang megah itu mendadak hening seketika. Hanya dentang jam dinding antik dan hembusan angin pagi yang menerobos masuk lewat jendela tinggi, membuai pelan tirai tipis, yang terdengar. Isolde tetap terpaku di kursinya, berpura-pura sibuk mengoleskan sisa selai ke atas selembar roti panggangnya, berharap waktu bisa melompati momen ini agar ia punya alasan untuk melarikan diri.Namun, harapan itu sirnah dalam sekejap.Lucien perlahan menggeser cangkir kopinya melintasi meja, menimbulkan suara
Bab 101Sinar matahari pagi menerobos tirai tipis di kamar Isolde, menyebarkan pendar keemasan di atas seprai putih yang sedikit kusut. Isolde terbangun dengan perasaan bercampur aduk. Kepalanya yang berisi terasa agak berat, dan ingatan liar dari semalam—mulai dari pergulatan panas di dalam mobil bersama Lucien hingga bisikan mengintimidasi Evander di kamarnya—langsung berputar kembali di benaknya.Isolde turun dari tempat tidur lalu melangkah menuju cermin rias yang berdiri di sudut kamar. Jemarinya yang berisi mengibaskan helaian rambut hitamnya yang terurai seraya memeriksa lehernya dengan cemas. Di sana, di dekat lekukan lehernya yang mulus, bekas ciuman kemerahan dari Lucien terlihat kian jelas, bertumpuk dengan hickey hangat yang ditinggalkan Evander tadi malam.Isolde mengembaskan napas panjang lalu memanyunkan bibirnya jengkel."Sialan... bagaimana kalau ada yang melihat ini?"Dengan sangat hati-hati, gadis berlekuk tubuh indah itu mengambil wadah concealer dan foundation dar







