登入100Suara bariton yang dingin, dalam, dan begitu sangat familiar itu tiba-tiba bergema dari sudut ruangan yang remang-remang di dekat jendela kamar. Isolde begitu terkejut hingga mi yang baru saja ia telan salah masuk saluran.Ia langsung terbatuk-batuk hebat, wajah gempalnya yang tadinya bersemu senang kini berubah merah semerah tomat matang. Ia menyeka sudut bibirnya dengan punggung tangan montoknya, berusaha menstabilkan napasnya yang tersengal-sengal.Berdiri di hadapannya, sosok pria jangkung berambut berantakan melangkah keluar dari bayangan di sudut kamar.Evander.Ia berdiri dengan tangan bersidekap di dada bidangnya, menatap Isolde dengan mata yang dipenuhi kilatan geli yang tidak bisa disembunyikan. Tidak ada amarah di wajahnya, melainkan hanya binar usil yang entah mengapa membuat Isolde merasa jauh lebih gugus ketimbang jika pria itu sedang murka.Evander berjalan santai mendekati tempat tidur. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia mengambil mangkuk mi dari tangan Isolde
Bab 99Pertemuan penuh gairah di dalam kabin mobil yang remang-remang itu akhirnya mencapai puncaknya. Desahan lembut Isolde yang tak berdaya berpadu dengan erangan berat Lucien yang dalam, bergema pelan di dalam ruang yang sejuk dan terbatas itu. Tubuh berlekuk Isolde sedikit bergetar sebelum akhirnya terkulai lemas di dada bidang pria dewasa itu.Keduanya bernapas terengah-engah, mencoba memulihkan sisa tenaga yang telah terkuras habis. Napas Lucien naik turun saat ia mengelus lembut punggung telanjang Isolde yang masih dilapisi lapisan tipis keringat, sementara sisa kehangatan di antara mereka belum sepenuhnya memudar.Isolde menyandarkan kepalanya yang gempal di lekukan leher Lucien, mendengarkan detak jantungnya yang cepat. Namun, ketika jemari montoknya tanpa sengaja menyentuh sebuah kemasan kecil yang tergeletak di samping kursi pengemudi, mata abu-abunya membelalak kaget."Luci..." panggil Isolde dengan suara parau, mengangkat wajah gempalnya dengan ekspresi bingung. "Apakah k
Bab 98Sedan hitam mewah milik Lucien terparkir di sudut jalan yang gelap dan sepi, tidak jauh dari gerbang belakang mansion Blackthorne. Pendar samar lampu jalan hanya mampu menembus kaca mobil yang gelap gulap sebagai bayangan-bayangan remang.Semula, niat Lucien adalah membawa Isolde keluar untuk mencari makan malam. Namun, begitu aroma manis dari tubuh chubby Isolde memenuhi kabin mobil yang sejuk, niat itu menguap begitu saja. Rasa lapar akan makanan seketika tergantikan oleh rasa haus yang jauh lebih liar.Di dalam mobil, napas kedua insan itu sudah menderu pendek dan dangkal. Alih-alih melaju menyusuri jalanan, mobil tersebut tetap terparkir tanpa bergerak di tempatnya. Lucien kembali mengunci bibir montok Isolde dalam ciuman yang lebih dalam, menuntut, dan dipenuhi oleh rasa posesif yang membara."Nngh... Luci..." Rintihan Isolde teredam di antara gerakkan bibir mereka yang begitu bernafsu.Tangan besar Lucien bergerak dengan gesit di bawah pengaruh gairah yang membakar dadanya
Bab 97Isolde segera berganti pakaian. Ia mengenakan kardigan rajut tebal berwarna krem yang membungkus tubuh berlekuknya dengan hangat, dipadukan dengan celana panjang yang nyaman. Tanpa membuang waktu, gadis berlekuk itu diam-diam menyelinap keluar dari kamarnya, berjalan menyusuri koridor sayap timur yang sepi, dan menuruni tangga menuju pintu belakang mansion yang mengarah langsung ke taman bagian dalam.Malam semakin larut, dan embusan angin dingin dengan lembut menggerakkan dedaunan. Begitu ia melangkah melewati pintu kayu yang berat, mata kelabu Isolde menyapu kegelapan taman yang hanya diterangi oleh cahaya samar lampu taman yang redup.Di sana, berdiri dengan kokoh di bawah bayang-bayang pohon beringin tua yang besar, tersembunyi dari kamera keamanan dan para pelayan yang lewat, Lucien sudah menunggunya. Pria dewasa itu berdiri tegak dengan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga ke siku, menyandarkan punggung lebarnya dengan santai ke batang pohon."Luci!" bisik Isolde d
Bab 96Pertanyaan tajam Azriel menggantung berat di studio seni yang remang-remang itu. Pertanyaan itu menembus pertahanan Evander, membuat pria berambut berantakan itu terpaku di tempatnya, tidak mampu mengucapkan satu kata pun untuk membela diri.Evander menatap adiknya dengan rahang yang terkatup rapat. Tanpa memberikan balasan apa pun, ia tiba-tiba berbalik. Sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket kulit hitamnya, ia melangkah keluar dari studio seni, langkah kakinya bergema di sepanjang koridor sementara kemarahan bergejolak hebat di dalam dadanya.Brak!Pintu kamarnya didorong kasar sebelum dibanting hingga tertutup. Evander mengusap wajah tampannya dengan kedua tangan, lalu menghempaskan tubuhnya ke sofa kulit di sudut ruangan. Pria muda itu mengeluarkan umpatan serak, berusaha meredam frustrasi yang terus menggerogoti pikirannya."Sial!" desis Evander tajam sambil menatap langit-langit kamar yang redup di atasnya. "Bagaimana ini bisa terjadi... Bagaimana bisa aku
Bab 94Mobil mewah yang dikendarai Lucien perlahan berhenti saat memasuki pelataran utama Kediaman Blackthorne. Gerbang besi yang menjulang tinggi telah tertutup rapat di belakang mereka, meninggalkan halaman luas yang diselimuti keheningan malam yang damai.Isolde menghembuskan napas panjang, merenggangkan tangannya yang plump setelah seharian penuh menjalani kuliah di universitas dan piting gaun di butik bersama Lucien. Pipinya yang chubby masih memancarkan rona kehangatan dan kebahagiaan yang tersisa."Luci, aku mau naik ke kamarku dulu ya," kata Isolde lembut sambil berbalik ke arah pria matang yang sedang mematikan mesin mobil.Lucien mengangguk pelan, mengusap puncak kepala gadis itu dengan kelembutan yang jarang ia perlihatkan kepada orang lain."Baiklah. Pergilah beristirahat. Jangan tidur terlalu larut."Isolde mengangguk riang.Dengan langkah kakinya yang agak terburu-buru dan berat, gadis berlekuk indah itu menaiki tangga utama menuju lantai dua, berjalan menyusuri koridor







