Share

Arsenio Alvier

Author: Miss Wang
last update Last Updated: 2025-09-17 09:13:52

“Tahanan nomor 165, keluarlah! Kamu bebas hari ini.”

Suara seorang sipir memecah kesunyian, suara jeruji besi berderit—menggema di ruangan yang lembab dan gelap.

Seorang pria yang sedang duduk tertunduk perlahan mengangkat kepalanya—Arsenio Alvier. Pria tinggi dan kekar berumur 27 tahun itu berdiri tegak kemudian berjalan melangkah keluar dari balik Jeruji besi yang sudah ia diami selama 7 tahun setelah dituduh melakukan satu pembunuhan.

Kedua bola matanya yang coklat berkeliling menatap suasana di luar gedung tinggi dan tertutup itu, kedua alisnya bertaut ketat saat sinar matahari menerpa kedua matanya. Rambutnya yang gondrong berantakan, serta kumis dan juga janggut tipis membuat wajah tampannya terlihat liar dan sangar.

Tiba tiba, sebuah mobil mewah berhenti tepat di hadapan Arsenio. Kaca hitam jendela belakang mobil itu pun turun.

"Masuklah!" ucap tegas seorang pria tua berumur 50 tahun, Tuan Albert Jung.

Meski tak muda lagi, pria blasteran Inggris dan Cina itu tampak gagah dan berwibawa, matanya sipit dan janggut serta kumis tebal yang sudah tampak memutih. Dia—kepala gengster kelas kakap yang tak segan melakukan segala cara untuk mendapatkan uang.

Dengan tatapan tajam, tanpa basa basi, Arsenio masuk ke dalam jok belakang mobil mewah itu, tepat di samping Tuan Albert, bos besarnya.

"Bagaimana kabarmu?" Tn. Albert bertanya, dengan tatapan yang tetap fokus ke depan.

"Baik," sahut Arsenio. Singkat dan dingin.

Tuan Albert menoleh ke arah pria di sampingnya, "Maafkan aku, karena aku telah..."

"Cukup! Asalkan Tuan menepati semua janjimu," potong Arsenio tajam, menyela perkataan Tn. Albert.

"Tentu saja, kamu bisa memeriksanya sendiri, anak-anak panti baik baik saja Arsen. Sandang, pangan dan pendidikan mereka tercukupi selama kamu tak ada, hahaha," ucap Tn. Albert sambil tertawa.

Arsenio tak menjawab, tatapannya tajam menuju keluar jendela. Hening.

"Aku senang kamu telah kembali Arsen." Tn. Albert menepuk bahu pria itu. Sang ketua sudah tak heran dengan sikap Arsenio yang dingin dan tak banyak bicara.

"Aku ada tugas baru untukmu, bayarannya besar, gimana? Kamu mau," sambung Tn. Albert bertanya.

"Berapa?" singkat Arsenio.

"4 digit, 80-20," jawab Tn. Albert sembari mengacungkan ke empat jarinya.

"70-30," tegas Arsenio.

"Hmm... baiklah, aku setuju, hahaha," jawab Tn. Albert dengan tawanya yang serak dan khas.

"Apa tugasnya?" tanya Arsenio.

Tn. Albert merogoh saku dalam jas nya, kemudian mengeluarkan selembar foto berukuran 4R dan memberikannya kepada Arsenio.

Arsenio mengerutkan keningnya saat melihat gambar seorang gadis muda di dalam foto itu. "Siapa dia?" tanyanya dengan nada serius.

"Dia bernama Alexa... Alexa Jennifer, putri semata wayang dari pasangan konglomerat yang baru saja meninggal dunia, pewaris tunggal dari perusahaan Algenio. Cantik bukan?" jawab Tn. Albert, namun ia segera menambahkan, "Tapi sayang... dia buta."

Arsenio terdiam sejenak menatap dalam foto itu dalam genggamannya. "Lalu?"

"Sekarang dia hidup sebatang kara, walau dia buta dan lugu, namun dia tegas dan tak mudah percaya dengan siapapun, bahkan kepada keluarganya sendiri, karena paman dan bibinya ingin menguasai semua hartanya." Dengan santai Tn. Albert menjawab.

"Apakah aku harus melenyapkannya?" tanya Arsenio, tanpa basa basi.

"Ya, tapi tidak untuk sekarang," sahut Tn. Albert seketika Arsenio mengernyitkan keningnya.

"Seluruh aset, surat-surat penting dan harta kekayaan orang tuanya hanya dia yang mengetahuinya, kamu hanya perlu menjadi bodyguardnya, dan buat dia sepenuhnya percaya padamu. Dengan begitu dia akan menunjukkan di mana seluruh kekayaan orang tuanya berada. Setelah itu baru kita habisi dia, bagaimana?" Tn. Albert tersenyum licik, penuh ambisi.

"Baiklah, Aku mengerti," jawab Arsenio sambil memasukkan foto itu ke dalam saku jaketnya.

"Hahahahahaha. Bagus, kamu memang orang yang paling bisa aku andalkan," ucap Tn. Albert dengan gelak tawa penuh kepuasan.

Tak lama kemudian, mereka pun sampai di sebuah rumah mewah nan mega. Milik Tn. Albert tentunya. Di sana telah berjajar puluhan anak buahnya dengan pakaian yang sama, yaitu setelan jas hitam.

"Selamat datang, Kak Arsen," seru salah satu anak buahnya, diikuti serempak oleh anak buahnya yang lain.

"Ya," singkat Arsenio, kharisma dan aura dinginnya sungguh tak terbantahkan.

"Pergilah mandi, kemudian istirahatlah, karena besok kamu akan mulai melakukan misi," ucap Tn. Albert, menepuk bahu kekar Arsen.

Tanpa menoleh, Arsenio langsung pergi menuju kamar lama—kamar mewah yang sudah ia tempati sejak datang ke tempat itu.

"Ah..." desahan lembut terluncur dari bibirnya saat tubuhnya terbenam ke dalam hangatnya air di dalam bathtub. Rasa lelah menyeruak pergi, digantikan oleh kenyamanan yang sudah lama tak ia rasakan.

Namun, dalam keheningan dan kedamaian itu, tiba tiba ia teringat wajah gadis dalam foto. "Wajahnya... terasa tak asing. Tapi... di mana aku pernah melihatnya?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (14)
goodnovel comment avatar
Riska Risdiyanita
wah wah ada apakah ini yaaa , apa arsen dn alexa pernah bertemu sebelum nyaa .. mari kita saksikan kelanjutan kisah nyaaa pemirsa cekidot hahaha
goodnovel comment avatar
yuda putra
selalu bagus cerita nya
goodnovel comment avatar
Miss Wang
iya dong kk ...............
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Gelora Gadis Buta & Bodyguard Dingin   Ditikam

    Hujan belum juga reda saat mobil yang ditumpangi Dania dan Kelvin melaju meninggalkan bangunan tua itu. Jalanan basah memantulkan cahaya lampu kota, seperti serpihan kenangan yang tak mau padam.Mereka duduk diam di kursi belakang, wajahnya pucat, matanya kosong. Tangannya menggenggam erat ponsel—di dalamnya tersimpan rekaman suara Ny. Kelly. Rekaman pengakuan. Rekaman yang bisa menyelamatkan… atau menghancurkan segalanya.Ia memejamkan mata.Dadanya sesak.Ia tidak menangis. Air matanya sudah habis.Sementara itu, di sisi lain kota, Alexa mondar-mandir gelisah di ruang kerja mansion. Arsenio berdiri di dekat jendela, menatap gelap dengan rahang mengeras."Kenapa dia nekat? Bagaimana jika terjadi sesuatu padanya," ucap Alexa pelan, tapi penuh kecemasan. “Seharusnya dia menghubungi kita.”Arsenio meraih ponselnya lagi, menelpon. Tidak aktif. Ia menekan nomor Kelvin, tak aktif juga. “Ini tidak benar,” gumamnya. “Dia ingin menemui wanita itu. Seharusnya aku melarang sejak awal.”Alexa m

  • Gelora Gadis Buta & Bodyguard Dingin   Bertemu

    Di kantor pusat perusahaan AJ, suasana berubah mencekam.Karyawan berbisik-bisik. Saham turun drastis. Media berkumpul di gerbang."Tuan Arsenio! Apakah benar Anda melindungi pelaku penculikan?”“Benarkah Ny. Eli mengambil anak secara ilegal untuk kepentingan keluarga Anda?”“Apakah yayasan hanya kedok?”Satu pertanyaan lebih tajam dari yang lain.Di ruang rapat, para direksi bersitegang.“Ini serangan sistematis,” ujar salah satu petinggi. “Ada pihak yang menginginkan perusahaan jatuh. Mereka tahu kelemahan Anda ada pada sisi kemanusiaan.”Arsenio menghela nafas panjang.“Mereka menyentuh hal yang paling sensitif,” katanya pelan. “Anak. Masa lalu. Dan rasa bersalah.”Sementara itu, di sudut lain kota, Dania terkunci di kamarnya.Ia membaca berita demi berita, tangannya gemetar.'Dugaan eksploitasi anak oleh keluarga konglomeratPerempuan bernama Dania diduga korban penculikanNy. Eli dan Arsenio terancam proses hukum'Dania menjatuhkan ponselnya.“Kak Arsen..., ini karena aku...," b

  • Gelora Gadis Buta & Bodyguard Dingin   Dendam Masa Lalu

    Pagi itu, berita menyebar lebih cepat daripada angin.Nama Dania mendadak ramai dibicarakan—bukan karena pernikahannya yang megah, bukan pula karena statusnya sebagai istri Kelvin, melainkan karena satu isu yang menggemparkan:“Wanita yang mengaku ibu kandung Dania—keluarga Arsenio Alvier muncul kembali.”Seseorang telah membocorkan informasi itu.Dan tidak butuh waktu lama hingga gosip berubah menjadi tuduhan.Di ruang keluarga mansion, suasana mencekam.Alexa berdiri di depan televisi yang menampilkan berita daring. Judulnya menyala terang:“Kontroversi Keluarga Elite: Ibu Kandung Muncul Setelah Puluhan Tahun Menghilang? Nama Arsenio Alvier terseret dalam kasus ini. Tangan Alexa gemetar saat membaca.“Siapa yang membocorkan ini?” suaranya pecah.Arsenio berdiri kaku, rahangnya mengeras. “Tidak mungkin kebetulan. Mereka ingin menghancurkan aku. Ini pasti pesaing bisnis.”***Kelvin yang baru datang dari kantor langsung mematikan televisi. “Ini gila. Mereka mengorek luka lamamu. Dan

  • Gelora Gadis Buta & Bodyguard Dingin   Terkuak

    Hujan kembali turun malam itu, lebih deras dari sebelumnya, seolah langit pun tak sanggup lagi menahan rahasia yang selama puluhan tahun terkubur.Arsenio berdiri di depan meja kerjanya, mata terpaku pada tumpukan berkas yang berserakan. Tangannya gemetar saat membuka map terakhir—map yang baru saja ia dapatkan dari seorang kenalan lama di kepolisian.Isinya membuat dadanya serasa dihantam berkali-kali.Dokumen lama. Laporan kebakaran. Catatan psikiater. Dan… satu surat tulisan tangan yang mulai pudar tintanya.Nama di sudut kertas itu membuat nafasnya tercekat.Eleanor Widjaja.Nama muda Ny. Eli.Dan di bawahnya, tertulis satu nama lagi.Kelly Widjaja.“Jadi… kalian saudara…” gumam Arsenio lirih.Ia membaca dengan seksama.Tahun demi tahun mulai tersusun seperti kepingan puzzle yang kejam.Kelly dan Eli adalah sepupu. Tumbuh bersama. Besar di lingkungan yang sama. Namun hidup memilih jalan berbeda untuk mereka. Kelly—cantik, lembut, penuh kasih—jatuh cinta pada seorang pria yang sam

  • Gelora Gadis Buta & Bodyguard Dingin   Mulai Terkuak

    Malam semakin larut ketika hujan akhirnya reda, meninggalkan jejak basah di dedaunan dan aroma tanah yang menyengat. Di luar mansion, lampu taman menyala redup, seolah ikut menjaga rahasia yang semakin berat tersimpan di dalam rumah itu.Namun, Ny. Eli sudah tidak berada di mansion malam itu.Ia telah kembali ke tempat yang selama puluhan tahun menjadi dunianya—panti asuhan kecil di pinggir kota. Bangunan tua bercat krem itu tampak sepi, hanya diterangi satu lampu di ruang tengah. Di sanalah ia duduk sendirian, di kursi kayu tua yang telah menemaninya melewati puluhan tahun kehidupan.Tangannya gemetar saat membuka laci kecil di meja kerjanya.Dari dalamnya, ia mengeluarkan sebuah kotak besi berkarat.Kotak itu berat—bukan karena isinya, tapi karena kenangan yang terkunci di dalamnya.Dengan nafas bergetar, ia membukanya.Foto-foto lama berserakan. Beberapa sudah menguning. Di antaranya, ada satu foto yang membuat matanya langsung berkaca-kaca.Seorang wanita muda berdiri sambil mengg

  • Gelora Gadis Buta & Bodyguard Dingin   Penyelidikan

    Malam semakin larut.Di balik pagar tinggi mansion yang menjulang, bayangan wanita itu menghilang perlahan, menelan dirinya ke dalam gelap. Senyumnya masih terukir samar, seperti janji yang belum ditepati—atau ancaman yang menunggu waktu.***Keesokan paginya, udara terasa berbeda.Dingin dan berat.Seolah sesuatu yang lama terkubur mulai bangkit ke permukaan.Di ruang kerja Arsenio, suasana tegang tak terucap. Berkas-berkas lama terhampar di meja. Foto-foto usang, laporan medis, arsip kepolisian, bahkan potongan berita kebakaran dua puluh tahun lalu.Arsenio berdiri dengan tangan bertumpu di meja, menatap satu foto yang paling membuat dadanya sesak.Seorang wanita muda tersenyum samar, menggendong bayi kecil berbalut selimut putih.Nama di bawah foto itu membuat rahangnya mengeras.Kelly Winata.“Ada yang tidak beres…” gumamnya.Alexa berdiri di belakangnya, memeluk lengannya. “Kamu yakin ini tidak kebetulan?”Arsenio menggeleng pelan. “Terlalu banyak yang cocok. Waktu, usia, lokasi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status