LOGINKeesokan harinya...
"Kamu sudah siap, Arsenio? Kamu... kembali tampan sekarang. Hahaha," ucap Tn. Albert, seperti biasa, tawanya selalu mengiringi ucapannya. Pria dingin itu, mencukur rambut dengan gaya Caesar Cut, gaya rambut yang klasik dan simpel, membuatnya semakin gagah, aura dingin dan sangar semakin terpancar. Ia juga menghilangkan semua bulu di wajahnya, mempertegas garis wajahnya yang maskulin. Ditambah dengan setelan jas serba hitam dan sepatu pantofel mengkilat yang menambah kesan wibawanya. "Ya," seperti biasa, jawabannya sangat singkat. Wajah Tn. Albert berubah serius, suaranya serak saat berkata: "Nyonya Audrey, Tuan Thomas dan juga Nona Alexa si gadis buta putri konglomerat itu sudah menunggumu di sana, kamu sudah tahu tugasmu, kan, Arsen?" "Ya, aku mengerti," sahut Arsenio. Tanpa menunggu lama, Arsenio dengan penuh keyakinan dalam mengemban tugas yang telah diperintahkan, pergi menuju kediaman megah milik Alexa Jennifer. Suara decitan rem sebuah mobil hitam memekik. Dua jam telah berlalu, dan akhirnya Arsenio tiba di sebuah parkiran luas, yang dipenuhi deretan mobil mewah berkilau. Matanya menyisir rumah tinggi dan megah bak istana di hadapannya. Langkahnya mengayun pasti di atas lantai marmer yang mengkilap, menuju pintu rumah berwarna perak yang sudah terbuka lebar. "Selamat pagi, kau Arsenio Alvier, bukan?” sapa Ny. Audrey dengan senyum dan tatapan liciknya. "Selamat datang, Arsenio. Silahkan duduk." Timpal Tn. Thomas, suami sekaligus paman dari Alexa. Garis wajahnya menunjukkan raut penuh ambisi. Arsenio hanya mengangguk singkat, kemudian duduk di atas kursi mewah di sampingnya, matanya berkeliling kembali mencari sosok yang akan menjadi majikannya. Ny. Audrey dan Tn. Thomas duduk bersebelahan di kursi yang lain, "Tuan Albert sudah memberitahukan semua tugasmu, bukan?" bisik Ny. Audrey. "Ya," sahut Arsenio. "Bagus, kami harap kamu bisa sesegera mungkin menyelesaikannya," ujar Tn. Thomas dengan sengit, bibirnya melengkung menyeringai sinis. "Tak usah banyak bicara dan tak perlu khawatir," ucap Arsenio, suaranya tegas memotong, mata dingin menembus seperti es. "Hahaha, sayang, aku sungguh terpesona dengannya." Candu. Ny. Audrey tergelak lebar, matanya berkilau penuh ketertarikan. Arsenio hanya terdiam, tanpa ekspresi. Sampai langkah sepatu terdengar bersahutan dengan suara tongkat yang menapak lantai membuat pria itu seketika menoleh. "Apakah calon bodyguard itu sudah datang?" suara lembut menggema di ruangan besar itu, Alexa menuruni anak tangga satu per satu dengan perlahan, dengan kedua bola matanya tajam mengarah ke depan. Arsenio sejenak tertegun, terpaku melihat wajah Alexa yang aslinya lebih cantik dari foto yang ia lihat. Namun pikirannya kembali teralihkan oleh misi dan tujuan utamanya. "Sayang, sini duduklah!" Ny. Audrey mengarahkannya menuju kursi tepat di hadapan Arsenio. "Dia berada duduk tepat di depanmu. Calon bodyguardmu—Arsenio," ujar Tn. Thomas. "Bisakah kalian meninggalkan kami? Aku harus bicara empat mata dengannya, agar aku bisa menentukan, dia layak untuk menjadi bodyguardku atau tidak," pinta Alexa tegas namun lembut. "Silahkan, bicaralah," kata Ny. Audrey dengan suara yang tegas. Kedua sosok itu kemudian melangkah meninggalkan ruangan, seraya memberi isyarat mati kepada Arsen bahwa seluruh harapan kini bergantung padanya. Arsen membalas dengan anggukan yang hampir tidak terlihat. "Perkenalkan, namaku Alexa Jennifer," ucap Alexa sambil mengulurkan tangannya. Arsenio memperhatikan wajah Alexa dengan intens. Dengan gerakan lambat, ia menyambut uluran tangan Alexa, seraya memperkenalkan diri dengan suara rendah namun jelas, "Namaku, Arsenio Alvier." Alexa tersenyum tipis, "Dari suaramu, dan juga tekstur kulitmu sepertinya kamu masih muda, mungkin sekitar umur 27 tahun." Tebak Alexa. Arsenio tercekat. “benar," sahutnya. "Kamu pasti bertanya-tanya, apakah aku buta atau tidak, bukan?" tanya Alexa, membuat Arsenio semakin penasaran. Arsenio hanya diam, tak menjawab. "Tenang saja, aku benar benar buta, Arsenio," sambungnya menyeringai. "Bukan suatu masalah bagiku. Lagipula tugasku hanya melindungimu," jawab Arsenio dengan nada serius. "Oke, kita mulai saja, aku mempunyai dua pertanyaan, jawabanmu akan menentukan, kamu layak menjadi bodyguardku atau tidak," tegas Alexa. "Baiklah, silahkan," jawab Arsenio enteng. "Pertama: Hal apakah yang bisa membuatmu bahagia, Arsenio?" tanya Alexa dengan nada santai. "Uang." Tanpa ragu Arsenio menjawab. Alexa menyeringai, "Apa kau yakin?" "Ya! Aku sangat yakin," sahut Arsenio. "Baiklah, pertanyaan kedua: Apa cita-citamu, Arsen?" tanya Alexa, sorot matanya seolah tak sabar mendengar jawaban dari pria itu. "Cita-citaku, membahagiakan semua orang yang penting dalam hidupku," jawab Arsenio dengan penuh keyakinan. Alexa terdiam sejenak, tersenyum penuh arti. "Baiklah, aku mengerti sekarang. Kita masuk ke tahap terakhir, mendekatlah Arsen!" perintahnya. Arsenio menghela nafas, dengan enggan ia duduk mendekat. Namun, Alexa yang tak sabar, dalam sebuah gerakan yang tiba-tiba, ia meraih kerah jas Arsenio dan menariknya mendekat hingga nafas mereka saling beradu, diselingi oleh desahan kecil. Dengan lembut, jemari halus Alexa bergerak naik, mengusap kening Arsenio. Tangannya yang mungil dengan jari-jari yang lentik itu menelusuri setiap kontur; dari mata, ke hidung, hingga akhirnya berhenti di bibir Arsenio. Setiap sentuhan Alexa, seolah melukis wajah Arsen dalam bayangannya. "Sayang sekali, aku tak bisa melihat, sepertinya kamu lumayan tampan," ucapnya dengan senyuman yang memancarkan kehangatan, namun di baliknya tersembunyi rasa pilu yang mendalam. Arsenio hanya terpaku, menatap wajah Alexa yang hanya berjarak beberapa inci darinya. Mata indah berwarna biru itu terbuka lebar, namun sayangnya tak bisa melihat. Sentuhan tangan gadis itu tiba tiba turun ke dada keras Arsenio, Glup. Alexa terlihat menelan ludah. "Apa yang kamu lakukan?" Arsenio menahan tangan Alexa yang akan menyentuhnya lebih intens lagi. "Aku hanya ingin memastikan, jika kamu benar-benar bisa melindungiku, tapi sudahlah, aku sudah memutuskannya," ucap Alexa, dengan cepat ia duduk mundur dan menjauhkan tangannya dari tubuh Arsenio. Alis Arsenio bertaut ketat, ada kebingungan yang jelas terpampang di sana. "Aku pasti bisa melindungimu, Nona," ucap Arsenio tiba tiba. Alexa tertegun, membeku. Kedua matanya berkaca kaca, teringat ucapan mendiang ayahnya sebelum meninggal dunia. "Anakku, jika ada orang yang berambisi dengan uang, namun dia berkeinginan untuk membahagiakan orang yang ia sayangi, dekatilah dia!" "Kenapa, Pa?" tanya Alexa penasaran. "Kamu tak usah ragu, berarti orang itu setia dan akan melakukan apapun untuk melindungi orang yang ia sayangi." Kalimat itu, terngiang di telinganya. 'Apakah dia benar benar orang seperti itu? Arsenio? Apakah dia dapat dipercaya? Ma... Pa... Sebenarnya aku sangat takut.' Batin Alexa lirih. "Kau baik baik saja, Nona?" tanya Arsenio, ia menggerakkan telapak tangannya ke kanan dan ke kiri tepat di depan mata Alexa. Alexa segera mengganti ekspresinya dengan senyuman, air mata yang hendak jatuh itu pun seketika kering. "Baiklah, Arsenio. Kamu, aku terima. Mulai sekarang, kamu adalah bodyguardku " ucapnya tegas, walau masih ada ragu dan ketakutan menggelayut di hati dan pikirannya. "Yes! Kita berhasil, sayang," bisik Ny. Audrey yang diam diam menguping pembicaraan mereka bersama suaminya. "Ya, sayang. Aku yakin, dia bisa dengan cepat menyelesaikan tugasnya, gadis buta ini akan segera lenyap. Katanya, selain berwajah dingin, ia juga berdarah dingin, dia baru saja keluar dari penjara karena membunuh," bisik Tn. Thomas, matanya menyipit, senyum licik mengembang.Detak jantung Alexa serasa pecah satu-satu.Suara itu… suara perempuan.Bukan Arsenio. Bukan resepsionis.Dan bukan orang asing.Alexa tahu persis siapa dia.Mireya.Martin mencengkram lengan Alexa dengan panik, suaranya serak tegang.“Lex, jangan buka! Itu perempuan gila itu—”Alexa menepis tangannya keras.“Ssst! Jangan bersuara! Kalau dia dengar kamu di sini… kita berdua mati!”Martin membeku.Alexa langsung berlari kecil, menyambar semua kotak makanan, vitamin, buah, dan catatan kecil dari Arsenio—diseret ke dalam lemari cepat-cepat. Ia menjejalkannya masuk sesampai bisa menutup pintunya.Tok—tok.“Aku tahu kamu di dalam, Alexa,” suara Mireya menyusup dingin seperti racun. “Buka pintunya.”Alexa menahan napas.Martin berdiri di pojok kamar, wajah kaku karena takut ketahuan. Ia menunduk, bersembunyi di balik tirai gelap.Alexa menepuk dadanya—memastikan tidak terdengar degupnya sendiri.Dengan tangan gemetar ia membuka pintu…Dan langsung berhadapan dengan senyum Mireya yang tidak
Resepsionis menelan ludah, keringat dingin mengalir pelan di pelipisnya. Mata pria berjaket hitam itu terlalu tajam, terlalu dingin untuk dilawan. Ia bukan tamu biasa—dan bukan seseorang yang aman untuk ditolak.“Lantai… sembilan,” bisik resepsionis itu akhirnya, suara gemetar.“Kamar 507.”Pria itu tersenyum tipis, hampir seperti predator yang akhirnya menangkap bau mangsanya.“Pintar.”Tanpa kata tambahan, ia berbalik dan berjalan menuju lift, langkahnya tenang, teratur, mematikan. Begitu pintu lift menutup di belakangnya, wajah itu tidak lagi perlu disembunyikan di balik bayangan.Martin.Seolah tak pernah menghabiskan satu hari pun di balik jeruji besi.Namun nyatanya…Ia telah keluar satu bulan yang lalu. Tidak resmi. Tidak legal. Ia membayar seseorang di dalam. Membayar lebih banyak lagi di luar. Dan pamannya—satu-satunya tembok yang pernah mengatur hidupnya—meninggal karena sakit di penjara.Martin melirik kaca lift, meneliti bayangannya sendiri. Mata gelapnya memerah karena ku
Arsenio turun dari mobil, Ia masuk dengan langkah cepat, tangannya tak sabar melonggarkan dasi dengan kasar.Pintu mansion menutup pelan di belakangnya, namun suara itu terasa seperti palu yang menghantam dadanya. Arsenio berdiri di ruang tamu yang gelap—lampu chandelier di langit-langit memantulkan bayangan panjang tubuhnya, seolah menegaskan satu hal:Ia baru saja bermain peran di meja makan para iblis.Napasnya memburu, meski wajahnya tetap datar.Begitu mencapai sofa, Arsenio menjatuhkan tubuhnya. Bukan kelelahan fisik—ia bisa bertarung melawan sepuluh orang tanpa mengeluh—tetapi kelelahan moral. Kekecewaan terhadap dirinya sendiri.Dan… jijik.Jijik karena tadi ia tersenyum pada Mireya.Jijik karena ia menunduk pada Gervasio.Jijik karena ia berkata seolah Alexa hanyalah “masalah”.Ia memijat pelipisnya keras—berusaha meredam gelombang emosi yang hampir meretakkan ketenangannya.“Apa pun demi dia… demi darah dagingku,” bisiknya pada ruangan kosong.Tangannya menutupi wajahnya. Da
Keheningan memenuhi ruang itu seperti kabut tebal. Arsenio duduk dengan sikap sempurna, namun bahunya menegang sedikit—nyaris tak terlihat, kecuali bagi orang yang benar-benar memperhatikan.Gervasio Hadrian memperhatikan.Mata tua itu menyala dingin, seperti bara yang dipelihara dalam kegelapan.“Aku dengar,” Gervasio membuka suara pelan namun menembus telinga seperti dentuman, “kau telah… menciptakan masalah.”Arsenio menahan napas, hanya satu detik, sebelum tatapannya tetap tenang. “Masalah?”Gervasio mencondongkan tubuh sedikit, memutar kepala tongkat naganya.“Aku dengar ada seorang perempuan yang sedang mengandung anakmu.”Mireya mencengkeram tangan Arsenio di bawah meja—keras—seperti ingin mengukir kuku ke kulitnya. Tatapannya memohon agar Arsenio tidak panik. Atau mungkin… agar Arsenio tidak mengingkari keinginannya.Arsenio tidak mengalihkan pandangan dari kakek itu.“Benar,” katanya pelan. “Alexa sedang hamil.”Gervasio mengeluarkan suara pendek seperti tawa tanpa humor. “Ak
Pagi itu, di ruang klinik bersih dengan aroma antiseptik yang menenangkan, Alexa duduk di atas ranjang periksa. Tangannya gemetar, mencengkeram ujung selimut tipis. Suster memasang gel hangat di perutnya—perut yang masih datar, tetapi menyimpan kehidupan kecil di dalamnya.“Siap, Bu Alexa?” tanya dokter dengan senyum lembut.Alexa mengangguk. Napasnya tersengal halus. “S-si—ya.”Monitor di samping meja mulai menyala, garis-garis bergerak, lalu… suara itu keluar.Detak halus.Cepat.Kecil.Namun jelas.Detak jantung.Detak jantung yang bukan miliknya.Waktu seakan berhenti.Alexa menutup mulutnya, air matanya langsung tumpah tanpa bisa ia cegah. “S-Suster… itu… itu suara…”“Ya.” Dokter mengangguk lembut. “Itu detak jantung janin Anda. Janin sangat sehat. Perkembangannya baik. Tidak ada masalah.”Alexa tersedu kecil, tubuhnya berguncang. “Syukurlah… Terima kasih, Dok…”USG mulai menampilkan bayangan kecil seperti titik mungil. Belum berbentuk sempurna. Masih sangat kecil. Namun bagi Ale
Sore itu, langit kota meredup perlahan ketika Arsenio meraih ponselnya. Jari-jarinya bergerak cepat, mengetikkan sesuatu yang tidak pernah Mireya bayangkan akan datang darinya.'Mireya.Kita makan malam malam ini.Ada hal yang ingin kubicarakan.'Belum sampai lima detik, ponselnya bergetar lagi.Mireya:'Benarkah?! Jam berapa? Di mana? Aku tunggu!'Arsenio menghela napas panjang. “Dia terpancing,” gumamnya, dingin.Felix yang berdiri di belakangnya hanya bisa menatap punggung tuannya, tahu betul betapa ganas badai yang disembunyikan Arsenio.Di saat yang sama, pintu mansion tiba-tiba terbuka. Suara langkah cepat terdengar. Dania muncul dengan wajah pucat, rambut diikat seadanya seperti baru berlari dari parkiran. “Dania?” Felix menoleh. “Kau sudah pulang? Bagaimana dengan Kelvin?”Dania mengangguk pelan. “Kelvin sudah membaik, dia sudah pulang ke rumahnya.”Arsenio menatap Dania sebentar—namun mata itu tidak fokus. Seperti ada badai lain yang lebih penting di dalamnya. “Bagus,” katan







