Share

Meluluhkan Mireya

Author: Miss Wang
last update Last Updated: 2025-12-05 15:44:16

Keesokan harinya, setelah malam panjang yang membuat dadanya seperti diremas tanpa belas kasihan, Arsenio berdiri di depan cermin kamarnya. Ia merapikan rambutnya, merapikan kerah kemejanya yang baru dipress, lalu mengendurkan dasinya sedikit—tidak terlalu formal, tidak terlalu santai.

Penampilan yang tepat untuk seorang pria… yang sedang jatuh cinta.

Atau, setidaknya, itulah peran yang harus ia mainkan.

Felix berdiri di dekat pintu. “Tuan, apakah Anda yakin ini perlu?”

Arsenio menatap bayangannya sendiri. Mata yang lelah. Rahang yang tegang. Tapi di balik semua itu ada bara api—rencana yang mulai terbentuk.

“Jika aku ingin mematikan racun,” katanya pelan, “aku harus tahu di mana sumbernya.”

Felix tidak menjawab lagi.

Malam itu, restoran mewah di lantai tertinggi gedung Primrose dipenuhi cahaya kristal dan musik pelan. Namun kemewahan tak mampu menyamarkan ketegangan yang mengalir begitu Arsenio masuk.

Mireya berdiri menyambutnya.

Ia mengenakan gaun hitam panjang yang memeluk tubuhnya
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Gelora Gadis Buta & Bodyguard Dingin   Harga yang Harus dibayar

    Waktu seakan berhenti di mansion itu. Jam dinding berdetak terlalu keras, setiap detiknya seperti palu yang memukul dada mereka satu per satu. Udara terasa berat, seolah penuh oleh doa, ketakutan, dan amarah yang tak menemukan jalan keluar. Di kamar bayi, Alexa duduk di lantai, memeluk boks kosong itu seperti memeluk tubuh James sendiri. Rambutnya kusut, tergerai tanpa dihiraukan. Matanya bengkak, merah, kering oleh air mata yang terlalu lama jatuh. Ia tak mau makan. Tak mau minum. Tak mau tidur. Hanya duduk di sana—di kamar yang masih beraroma bayi, selimut kecil yang masih hangat oleh kenangan. “James…” suaranya pecah, hampir tak terdengar. “Maafin Mama…” Dania duduk di sampingnya sejak berjam-jam lalu. Ia tak pernah pergi. Tangannya mengusap punggung Alexa perlahan, meski dadanya sendiri terasa sesak oleh ketakutan yang sama. “Kita akan menemukannya,” bisik Dania berulang kali, walau suaranya sendiri gemetar. “James kuat… dia anak Arsenio… dia pasti kuat.” Alexa menoleh,

  • Gelora Gadis Buta & Bodyguard Dingin   James Hilang

    Pagi itu seharusnya berjalan biasa. Mansion diselimuti cahaya matahari pucat. Aroma susu bayi masih menggantung di udara. Alexa baru saja selesai menyusui James Alvier, menimangnya dengan senyum kecil sebelum menyerahkannya pada pengasuh. Bayi itu tenang, mata hazelnya terbuka, menatap dunia dengan polos—tak tahu bahwa dunia yang menunggunya kejam. Arsenio berdiri di ruang makan, jasnya belum dikenakan. Ia menyesap kopi tanpa benar-benar merasakannya. Sejak pesan terakhir itu, nalurinya tak pernah benar-benar tenang. “Hari ini aku ke kantor pusat,” ucapnya pada Alexa. “Aku akan pulang cepat.” Alexa mengangguk, tapi ada bayang cemas di matanya. “Jangan lama. Aku… tidak enak perasaan.” Arsenio mendekat, mengecup kening istrinya, lalu menunduk mencium dahi James. “Ayah pergi sebentar,” bisiknya. “Jangan nakal.” James menggerakkan jarinya kecil, seolah menggenggam udara. Arsenio tersenyum—dan itu adalah senyum terakhir yang utuh hari itu. Di kantor, perang sudah dimulai. Rapat da

  • Gelora Gadis Buta & Bodyguard Dingin   Dilema

    Hari-hari di mansion berjalan seperti lukisan yang tenang—pagi dengan cahaya lembut yang menyentuh tirai, aroma kopi hangat, dan tangis kecil James Alvier yang menjadi alarm paling manis di dunia. Alexa menggendong putra mereka dengan senyum mengantuk, sementara Arsenio berdiri di dekat jendela, menatap halaman yang dijaga lebih ketat dari sebelumnya. Kamera tambahan terpasang. Petugas keamanan berganti sif lebih cepat. Setiap pintu memiliki kode baru. Setiap bayangan terasa terlalu panjang. Di luar, hidup terlihat normal. Di dalam dada Arsenio, badai tak pernah benar-benar reda. Ia mencintai dua manusia itu—istrinya dan anaknya—melebihi hidupnya sendiri. Cinta yang membuatnya waspada, tajam, dan terkadang… takut. Bukan takut akan mati, melainkan takut gagal menjaga. Pesan singkat itu masih terngiang, seperti pisau kecil yang ditinggalkan di bawah kulit. “Permainan belum selesai.” Setiap pagi Arsenio mengecup kening Alexa dan dahi kecil James, menghirup aroma rumah yang ia bangun

  • Gelora Gadis Buta & Bodyguard Dingin   Malaikat Kecil

    Pagi itu, cahaya matahari menyelinap lembut melalui tirai kamar rumah sakit, membelai wajah kecil yang terlelap di pelukan Alexa. Bayi itu tenang, napasnya halus, dadanya naik turun dengan ritme yang menenangkan. Arsenio berdiri di samping ranjang, tak lelah menatap keajaiban yang kini menjadi pusat dunianya. “James Alvier,” ucap Alexa pelan, seolah takut nama itu pecah jika diucapkan terlalu keras. Arsenio tersenyum, matanya berkaca-kaca. “James,” ia mengulang, lalu menunduk, mengecup kening bayi itu dengan hati-hati. “Nama yang kuat… seperti doaku untuknya.” Bayi itu membuka mata sesaat—sepasang mata hazel yang jernih, bulu mata lentik, kulit putih kemerahan khas bayi baru lahir. Hidungnya kecil namun tegas, garis rahangnya kelak akan sama dengan Arsenio. Bahkan saat tertidur, ada ketegasan halus di wajah mungil itu, seolah dunia sudah menunggunya dengan segala tantangan. “Dia mirip kamu,” bisik Alexa, matanya berbinar. Arsenio tertawa kecil. “Syukurlah. Aku takut dia mewarisi

  • Gelora Gadis Buta & Bodyguard Dingin   Persalinan

    Satu bulan berlalu dengan napas yang kian berhati-hati. Malam itu, hujan turun tipis—bukan deras, tapi cukup untuk membuat jalanan berkilau dan hati mudah berdebar. Alexa terbangun dengan napas terputus, tangannya refleks menekan perut yang mengeras tiba-tiba. “Arsen…” suaranya gemetar. Arsenio bangun seketika. Tak ada jeda antara sadar dan siaga. Ia duduk, menatap wajah istrinya yang pucat, keringat membasahi pelipis. “Sakit?” tanyanya, suaranya berusaha tenang, meski dadanya seperti dihantam palu. Alexa mengangguk. “Kurasa… ini waktunya.” Kalimat itu menjatuhkan seluruh ketegaran Arsenio. Tangannya bergetar saat meraih ponsel, menekan nomor dokter, lalu Ny. Eli, Dania, Kelvin—semuanya dalam satu tarikan napas. Mansion yang biasanya sunyi mendadak hidup oleh langkah tergesa, pintu yang terbuka-tutup, suara instruksi yang saling bersahut. Ny. Eli datang dengan wajah pucat tapi tegas. “Tenang. Tarik napas, Alexa. Kita berangkat sekarang.” Dania membantu mengenakan jaket, tangann

  • Gelora Gadis Buta & Bodyguard Dingin   Membesar

    Beberapa bulan berlalu seperti alunan musik yang pelan—tak tergesa, tak berisik, hanya mengisi ruang dengan kehangatan yang menetap. Musim berganti tanpa pengumuman, dan di dalam mansion, waktu seolah belajar bersikap ramah. Perut Alexa kini membulat sempurna, seperti bulan yang hampir penuh. Langkahnya melambat, napasnya lebih teratur, dan senyumnya—lebih sering. Setiap pagi, Arsenio memastikan ia duduk nyaman sebelum matahari benar-benar tinggi. Setiap malam, ia menutup tirai dengan hati-hati, seolah cahaya pun harus meminta izin untuk pergi. Alexa berdiri di jendela, tangan menopang punggung bawah. Senja menorehkan warna tembaga di langit. Arsenio menghampiri, menyelipkan jaket tipis ke bahunya. “Dingin?” tanyanya. “Sedikit,” jawab Alexa. “Atau mungkin hanya perasaan.” Arsenio tersenyum, lalu berlutut. Ia berbicara pada perut itu—suara rendah, penuh janji—tentang dunia yang akan menyambut, tentang tangan-tangan yang siap memeluk. Alexa menutup mata, membiarkan kata-kata i

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status