MasukSuasana hening sesaat. Wildan sempat mengalihkan tatapannya ke arah Jena yang masih menyibukkan dirinya dengan makanan di hadapannya.“Kau serius?” Malik bertanya sekali lagi.“Kau pernah melihatku bermain-main dengan apa yang kukatakan?”Wildan mengelap bibirnya, lalu menyentuh lembut pucuk kepala Jena sebelum bangkit berdiri.“Jena sudah sempurna, tapi aku juga tidak pernah mengingkari janjiku pada siapa pun,” kata Wildan tenang.Malik hanya diam mengamati. Entah mengapa ia merasa ada sesuatu yang salah. Bukan, bukannya ia tidak senang Jena akan segera melihat, tetapi di lubuk hatinya yang paling dalam, ia merasa ada yang tidak beres di sini.“Selesaikan makan malammu dan beristirahatlah. Aku akan menyelesaikan pekerjaanku.”Wildan memilih beranjak setelah mengecup dahi Jena. Gadis itu hanya mengangguk pelan, terlihat jauh lebih pendiam dan penurut—sangat berbeda dari biasanya.“Jena,” suara Malik terdengar rendah.“Ya?”“Kau… baik-baik saja?”Pertanyaan itu tidak langsung mendapatk
Pagutan itu terlepas tidak lama kemudian. Napas Jena tersengal, dadanya naik turun dengan wajah semerah hidung rusa di malam Natal. Sementara Wildan tersenyum puas, tangan besarnya terulur, menggapai bibir Jena yang terlihat agak bengkak akibat ulahnya. Ia menyeka sudut bibir gadis itu yang basah akibat permainannya beberapa saat lalu. “Jena, tolong dengarkan aku kali ini. Aku serius saat menikahimu, dan tidak pernah sekalipun terbesit dalam kepalaku untuk menceraikanmu, tidak akan pernah.” Belum sempat Jena merespons, dengan sekali hentakan tubuh mungil gadis itu sudah masuk ke dalam rengkuhan hangat Wildan yang sesekali juga menciumi pucuk kepalanya. “Tolong ingat ini, tanamkan dalam ingatanmu. Aku, Wildan Wisnu Aditama, tidak akan pernah menceraikanmu sampai kapan pun untuk alasan apa pun. Dan apa yang kukatakan adalah mutlak,” bisiknya. Jena menahan napas. Ia tidak bisa mengatakan apa pun atau bereaksi bagaimana. Otaknya serasa tidak bisa berpikir, semua yang ia siapkan untuk
Gadis yang dipanggil dengan nama Nesa itu tersenyum ke arah Wildan. “Hai, Wildan,” sapanya lembut. Tidak ada reaksi dari si pria. Ia justru mengeratkan genggamannya pada tangan Jena yang hanya bisa diam kebingungan. “Astaga, Nesa, sayangku. Kau datang tepat waktu,” sambut Tante Lestari sambil memeluk Nesa. Wanita itu sempat melirik sekilas ke arah Jena sebelum menuntun Nesa untuk duduk di antara dirinya dan sang nenek. “Kau datang tepat waktu, sayang. Kami mengundangmu ke mari untuk membahas perjodohanmu dengan Wildan,” ucap Tante Lestari lagi. Wildan melotot. Ia menatap geram ke arah sang tante yang sepertinya tidak memedulikan hal itu. Sebelah tangannya yang bebas mengepal hingga buku-buku jarinya memutih. “Tante, bukankah baru saja kukenalkan Jena sebagai istriku? Lalu apa maksudnya dengan perjodohan? Apa tante sudah tidak waras?” ucap Wildan tanpa segan. Tante Lestari terlihat geram. Baru saja wanita itu hendak menyahut, suara Nesa lebih dulu terdengar. “Istri? Kau sudah m
Pukul sepuluh malam setelah Wildan mengantarkan Jena ke dalam kamarnya, pria itu menutup pintu dan tersenyum miring begitu mendapati Malik yang sudah berdiri tidak jauh darinya. Ia mendekati pria itu dengan dua tangan bersilang di depan dada. “Ada apa?” tanyanya santai. “Ikut aku,” kata Malik berjalan pergi yang diikuti Wildan di belakangnya. Dua pria dewasa itu berdiri di luar rumah. Malik terlihat gelisah, sementara Wildan tampak biasa saja. “Apa maksudnya dengan memperkenalkan Jena kepada keluarga? Kau gila?!” sentak Malik keras. Wildan hanya menyandarkan tubuhnya di pagar. Ia sama sekali terlihat tidak terlalu peduli dengan ucapan Malik yang sedang memperingatkannya soal apa yang mungkin saja terjadi jika dirinya benar-benar mengenalkan Jena kepada keluarga. “Memangnya kenapa? Bukankah setelah menikah denganku, Jena juga menjadi bagian dari keluarga Aditama?” Tidak ada keraguan sedikit pun dari ucapan Wildan. Pria itu terdengar begitu percaya diri dengan setiap perkataan ya
Suasana dalam mobil terasa begitu canggung. Sudah sekitar lima menit lalu hanya terdengar sayup-sayup suara deru kendaraan di antara tiga orang dewasa itu. Jena yang duduk di bangku belakang bersama Wildan hanya bisa terdiam dengan tangan yang menggenggam tongkat erat-erat. Wajahnya ia palingkan ke arah jalan meski dirinya tidak bisa melihat bagaimana kondisi jalanan saat ini. “Malik, turunkan aku di depan sana. Kau bisa mengantar Jena pulang lebih dulu, aku akan mengurus sesuatu terlebih dulu,” kata Wildan yang sejak tadi sibuk berkutat dengan ponselnya. Malik yang bertugas mengemudi hanya mengangguk. Sesekali pria itu melirik ke arah Jena melalui spion tengah dengan wajah khawatir. Tidak lama kemudian mobil berhenti di depan sebuah toko dua puluh empat jam, Wildan turun dengan tergesa dan memberhentikan sebuah taksi kemudian. Mobil kembali melaju, masih tidak ada satu pun di antara mereka yang berniat membuka obrolan lebih dulu. Malik menghela napas, ia tahu suasana hati Jena se
Dua hari berlalu dengan normal. Keseharian Jena masih sering ditemani Malik, terkadang Wildan juga menghabiskan waktu bersama gadis itu di sela-sela kesibukannya. Namun entah mengapa, Jena merasa lebih nyaman saat bersama dengan Malik. Selain karena pria itu lebih bisa mengerti dirinya, sikap Malik juga tidak semesum Wildan yang suka tiba-tiba mencuri ciuman di bibirnya ataupun menggigit telinganya tanpa permisi. Pagi ini suasana terlalu damai daripada biasanya. Dengan bantuan tongkat yang diberikan Wildan, Jena melangkah keluar kamar dengan hati-hati. Sesekali gadis itu memanggil nama Malik, berharap pria itu ada di sekitarnya. Namun sayang, suasana pagi itu benar-benar hening, seperti tidak ada orang lain selain dirinya. “Ke mana mereka?” gumam Jena lirih. “Mencariku?” Bisikan lirih dengan suara berat itu membuat Jena terperanjat. Hampir saja ia melayangkan tongkat yang dipegangnya ke sembarang arah, sebelum dengan gesit Wildan menahan tangannya. “Santai, cantik. Ini aku, calo
Pagi menjelang layaknya roller coaster. Sinar matahari mulai mengintip dari celah gorden berwarna putih bersamaan dengan terbukanya pintu kayu itu.Wildan terdiam melihat Malik yang masih setia menemani Jena. Keduanya terlelap dengan Malik yang terduduk di samping ranjang dengan dua tangan yang ter
Wildan benar-benar menepati ucapannya. Ia membayar sejumlah besar uang kepada Nyonya pemilik rumah bordil demi bisa membawa Jena pulang bersamanya.Dengan langkah pelan, Pria itu menuntun si gadis berjalan menuju sebuah mobil mewah yang sudah terparkir apik di depan bangunan.Seorang pria berbadan
Gedung tinggi menjulang dengan beragam penjagaan ketat itu terlihat begitu megah. Suasana keras dengan diiringi musik yang terus mengalun, mengiringi tiap gerakan para tamu yang tengah asyik berjoget di lantai dansa.Tidak lama kemudian datang sebuah mobil mewah, seorang pria berkepala pelontos den







