MasukBeberapa hari berlalu sejak percakapan malam itu, dan suasana di rumah besar keluarga Lawrence menjadi ladang sunyi yang dipenuhi bisik-bisik tajam. Zera tetap menjalani hari-harinya dengan tenang—terlalu tenang hingga membuat orang di sekelilingnya tidak bisa membaca kapan ia akan meledak atau justru hancur diam-diam.
Hari itu, Zera sedang duduk di taman belakang, di bawah pohon palem kecil. Jemarinya menyentuh buku Braille yang dibacakan oleh Nia, pelayan muda yang mulai dekat dengannya. Tiba-tiba langkah cepat menghentikan suara pelan dari Nia. “Zera!” seru Clarisse. Zera menoleh pelan. Ia tak bisa melihat siapa yang baru saja memanggil namanya, tapi ketegangan dari suara itu begitu jelas. “Maaf Nona Clarisse, Nona Zera sedang belajar,” ucap Nia, berdiri dan menunduk gugup. “Pergi kau dari sini,” kata Clarisse dingin pada Nia. “Aku perlu bicara berdua dengan… istri sementara Johnny.” Zera menahan napas. Nia tampak enggan, tapi dengan ragu akhirnya mundur dan meninggalkan mereka berdua. Clarisse mendekat dengan langkah pelan namun pasti. “Aku akan langsung ke intinya,” katanya. “Kau harus pergi dari rumah ini. Kalau tidak, jangan salahkan aku jika Johnny sendiri yang mengusirmu nanti.” “Aku tidak berniat mengganggu,” jawab Zera tenang. “Aku hanya butuh tempat untuk bertenduh dan berlindung, tak ada niat sekalipun untuk menyelinap dalam hubungan kalian.” Clarisse menyeringai. “Berhenti pura-pura lugu. Kau pikir aku tidak tahu permainanmu? Tanganmu mungkin lemah, tapi kata-katamu tajam. Kau mencoba memikat Johnny diam-diam, membuatnya merasa bersalah, membuat dia... memperhatikanmu.” Zera mengerutkan kening. “Aku tidak pernah meminta dia memperhatikan apa pun dariku.” Clarisse menunduk, menyamakan tinggi wajah mereka, lalu berbisik, “Tapi kau menikmatinya, bukan? Saat dia membelamu. Saat dia menyentuh tanganmu. Kau pikir itu cinta?” Zera menegakkan tubuhnya, walau tubuhnya menggigil. “Aku tidak punya ilusi sejauh itu.” Clarisse menggeleng pelan, lalu tiba-tiba berseru dengan suara keras, “Lepaskan aku, Zera!” Zera terkejut. “Apa—” Langkah kaki terdengar. Johnny datang dari arah samping taman, wajahnya gelap. “Apa yang terjadi?” tanyanya tajam. Clarisse berlari kecil menghampirinya, memasang wajah takut. “Dia… dia menggenggam tanganku dan mencengkeramnya. Aku hanya ingin bicara baik-baik, Johnny.” Zera berdiri kaku, seolah tersambar petir. Johnny menatap ke arah Zera. “Benarkah itu?” Zera menggeleng pelan. “Aku bahkan tak tahu di mana dia berdiri sebelum dia bicara. Aku tak menyentuhnya, Johnny. Aku duduk di sini sejak tadi.” Clarisse pura-pura menahan tangis. “Aku cuma ingin memperbaiki hubungan kami. Tapi dia langsung menolak dan—dan menuduhku macam-macam. Dia kasar.” Zera mengatupkan bibir. Di dadanya, jantung berdetak tidak karuan. Ia tahu Clarisse memutarbalikkan fakta, dan lebih dari itu—ia tahu Johnny mulai meragukannya. Johnny tidak langsung bicara. Ia hanya menatap Zera, lalu Clarisse. Sorot matanya gelap, rahangnya mengeras. “Clarisse, kembali ke kamar,” katanya akhirnya. Clarisse tampak enggan, tapi menurut. Sebelum pergi, ia melemparkan pandangan tajam pada Zera—pandangan kemenangan. Setelah wanita itu pergi, Johnny masih berdiri di sana. Zera membuka suara pelan. “Aku tahu ini sulit dipercaya. Tapi aku tidak pernah menyakitinya, Johnny.” Johnny mengangguk pelan, tapi tak berkata apa-apa. “Dan kalau pun aku membencinya… aku tak akan menyentuhnya. Aku bukan orang seperti itu, berada di bawah perlindunganmu saja aku sudah bersyukur, tidak berniat mencari masalah.” Johnny menarik napas panjang. “Aku tak tahu harus percaya siapa sekarang.” Zera memejamkan mata. “Itu hakmu. Tapi ketidakpercayaanmu… lebih menyakitkan dari fitnahan apa pun.” Johnny berbalik tanpa kata dan meninggalkan taman. Malamnya, di kamar Zera, lampu tidak dinyalakan. Ia duduk di tepi ranjang, masih mengenakan gaun yang sama sejak siang. Tangannya menggenggam helai kain di pangkuannya—erat, seperti ingin mencengkeram realita agar tak tergelincir dari genggamannya. Ia menarik napas pelan. "Kenapa aku tetap di sini?" batinnya. Suara Clarisse masih terngiang di telinganya, bersama sorot mata Johnny yang menggantung—bimbang, tidak percaya, tidak memilih. Dan justru itu yang paling menyakitkan. Bukan dibenci yang paling menyakitkan. Tapi diragukan. Telinganya menangkap suara lembut dari luar jendela—daun jatuh, angin menyusup di sela-sela tirai. Tapi yang lebih ia rasakan adalah keheningan Johnny. Lelaki itu tidak datang malam ini. Tidak mengetuk. Tidak bertanya. Tidak menatap. Seakan kepercayaan mereka yang rapuh… telah sepenuhnya runtuh. Air mata menetes di pipi Zera. Bukan karena sedih, tapi karena kecewa pada harapan yang diam-diam pernah tumbuh. "Aku bahkan tak sempat tahu seperti apa rasanya disayangi," gumamnya. Suaranya mengambang di udara, seolah tak ditujukan pada siapa pun. *** Di lantai atas, Johnny duduk sendiri di ruang kerjanya. Lampu baca menyala temaram, menyinari berkas-berkas yang belum sempat ia sentuh. Tapi pikirannya bukan pada laporan. Bukan pula pada transaksi gelap yang sedang menunggu tanda tangannya. Pikirannya tertambat pada gadis buta di taman. Wajah Zera yang pucat, suara tenangnya, dan caranya mengatakan: "Aku tidak pernah menyakitinya, Johnny." "Aku bukan dia." Johnny menutup mata. Tangannya mengepal, mencengkeram ujung meja. “Kenapa kau terdengar begitu meyakinkan… padahal aku ingin memercayai Clarisse?” Ingatan-ingatan kecil berkelebat di pikirannya: Zera yang duduk diam di bawah pohon, membaca dengan Braille. Zera yang menyiapkan sarapan diam-diam. Zera yang tak pernah meminta apa pun—bahkan kasih sayang. Dan Clarisse? Selalu menuntut, selalu bersandiwara, selalu memakai air mata sebagai senjata. Johnny mengumpat pelan. "Aku harus tahu siapa di antara kalian yang berbohong."Hujan turun perlahan di halaman kediaman Lawrence malam itu, menimbulkan suara lembut di atas kaca jendela besar ruang tamu. Di antara redup cahaya lampu gantung kristal, Evelyn Lawrence duduk tegak di kursi panjang berlapis beludru merah tua. Tangannya yang mengenakan sarung satin memegang ponsel dengan tatapan dingin.Suaranya tenang, tapi menyimpan nada mengancam.“Aku sudah memperingatkan sejak awal, proyek itu tak boleh bocor lagi. Kau tahu apa yang akan terjadi kalau dunia luar mendengarnya.”Suara berat dari seberang sambungan terdengar pelan—tak jelas siapa. Tapi nada bicaranya menunjukkan posisi tinggi, seseorang yang dulu mungkin menjadi bagian dari proyek rahasia itu.“Tenanglah, Nyonya Lawrence,” suara itu bergetar samar, “data mengenai Neuro X-9 sudah diamankan. Tak seorang pun yang hidup bisa mengaitkannya dengan keluarga Lawrence.”Evelyn menegakkan punggung, menatap kaca di depannya yang memantulkan bayangan wajahnya sendiri—dingin, nyaris tanpa emosi.“Neuro X-9…,” gu
Beberapa hari yang lalu .... Malam merayap pelan di kediaman Lawrence. Langit menggantung berat, seolah menelan cahaya bulan. Hujan baru saja berhenti, meninggalkan aroma tanah basah yang menyesakkan dada.Shio melangkah tanpa suara di sepanjang koridor menuju halaman belakang. Ia bermaksud memastikan area keamanan setelah sistem pendeteksi gerak sempat menunjukkan aktivitas mencurigakan di sisi timur taman. Namun langkahnya terhenti ketika mendengar suara samar dari balik dinding batu tua.Suara wanita. Lembut tapi tegang. Clarisse.Ia mencondongkan tubuh, bersembunyi di balik semak, matanya menajam di antara sela cahaya lampu taman yang temaram.“…kau yakin ini akan berhasil?” tanya Clarisse pelan. “Johnny bukan orang bodoh. Sekali saja dia mencium ada yang janggal, semuanya bisa berantakan.”Suara pria menjawab dengan nada datar. “Tenang saja. Flashdisk itu sudah diletakkan di ruang kerjanya. Semua bukti akan mengarah pada Zera. Bahkan jika Johnny mencoba menyelidiki, dia tetap ak
Langkah kaki Johnny terdengar berat ketika pintu kamarnya berderit terbuka. Malam telah larut, udara dingin menempel di dinding-dinding batu rumah besar itu. Dari arah ranjang, Zera yang sejak tadi duduk dalam diam langsung menegakkan tubuhnya. Telinga tajamnya menangkap irama langkah itu—pelan, namun setiap hentakan membawa aura kemarahan yang menyesakkan.Ada bau yang menusuk hidungnya. Bukan aroma parfum mahal yang biasanya melekat pada tubuh Johnny, melainkan aroma besi yang tajam, anyir, pekat—darah. Tubuh mungil Zera menegang. Kedua tangannya yang menggenggam kain selimut bergetar.“Johnny…,” suaranya lirih, ragu, seolah takut kata-katanya justru mengundang badai. “Kau… kau pulang?”Johnny tidak langsung menjawab. Ia hanya melepaskan jas hitam yang tadi menempel di tubuhnya, melemparkannya begitu saja ke kursi. Gerakannya kasar, seolah setiap lipatan kain mengingatkannya pada amarah yang belum tuntas.“Apa yang kau dengar, hm?” Johnny akhirnya bersuara. Nada rendahnya menekan, m
Clarisse tertawa kecil, tajam, lalu mendekat lebih dekat hingga jarak mereka hanya sejengkal. Ia menunduk, berbisik di telinga Zera.“Kau pikir Johnny butuh bukti untuk meninggalkanmu? Tidak, sayang. Aku hanya perlu sedikit waktu… sedikit dorongan… dan dia akan sadar betapa menjijikkannya kehadiranmu di sisinya.”Zera menggeleng cepat, wajahnya pucat. “Tidak… dia bukan orang seperti itu—”“Oh, kau terlalu naif,” potong Clarisse. Jarinya menyentuh dagu Zera, mengangkat wajah gadis buta itu dengan paksa. “Kau hanya seorang gadis buta yang terseret ke dalam dunia yang tidak pernah menginginkanmu. Johnny adalah milikku sejak lama, dan kau… hanya noda sementara.”Zera mencoba menjauh, tapi Clarisse menahan. Tekanan pada dagunya semakin keras, hampir menyakitkan.“Aku akan menyingkirkanmu, Zera. Kalau kau pintar, kau akan pergi sendiri sebelum Johnny melakukannya. Karena percayalah… saat dia yang melemparmu keluar, kau tidak akan punya tempat kembali.”Air mata jatuh dari mata Zera, bukan k
Langkah sepatu Clarisse terdengar begitu ringan, namun setiap hentakannya terasa bagai palu godam yang jatuh di dada Zera.“Johnny,” suara Clarisse terdengar halus, penuh percaya diri, tapi mengandung racun yang menyusup pelan. “Aku tidak bermaksud mengganggu, tapi kurasa… ini saat yang tepat.”Johnny menoleh setengah, matanya menyipit, seolah sudah menduga Clarisse tak datang dengan tangan kosong. Zera menggigit bibirnya, firasat buruk menyelubungi batinnya.“Apa yang kau bawa kali ini, Clarisse?” tanya Johnny, suaranya dingin tapi bergetar samar. Clarisse melangkah mendekat, sepatu hak tingginya bergema di lantai marmer. Di tangannya, ia membawa sebuah tablet tipis. Ia menyalakannya dengan satu sentuhan, dan layar menyala, menampilkan rekaman yang seketika membuat jantung Zera serasa berhenti berdetak.Suara itu—suara dirinya sendiri.Suara Zera terdengar dari rekaman, lirih namun jelas: “Aku akan mencoba mendekat padanya… aku harus tahu rahasia yang disembunyikannya. Dia tidak bol
Malam itu, ruang kerja Johnny dipenuhi aroma asap cerutu yang menyengat. Di kursi kulit hitamnya, Johnny duduk tegak, menunggu seseorang. Pintu berderit. Leo masuk dengan langkah ringan, wajahnya setengah tersembunyi oleh bayangan. Senyum kecil melekat di bibirnya, namun matanya tajam, penuh kewaspadaan. “Sepertinya kau sudah tidak sabar,” ucap Leo santai, menarik kursi lalu duduk di hadapan Johnny. Johnny tidak menjawab langsung. Ia menyalakan cerutu, mengisap dalam, lalu menghembuskan asap perlahan. Matanya yang tajam menatap Leo, seperti menimbang sesuatu. “Aku butuh kau untuk sesuatu,” akhirnya Johnny membuka suara. Leo tertawa kecil. “Aku tahu, kalau tidak, kau tak akan memanggilku di jam segila ini.” Johnny meletakkan cerutunya di asbak, lalu mencondongkan tubuh ke depan. “Zera. Aku ingin tahu sejauh mana dia berani.” Leo mengangkat alis. “Kau masih mencurigainya?” “Bukan sekadar curiga.” Johnny mengusap dagunya. “Aku ingin tahu siapa yang menggerakkan dia. Ad







