LOGINMbak Sri mencoba memejamkan matanya, namun matanya kembali terbuka. Rasa kantuk yang tak kunjung datang membuatnya lelah terus-menerus memaksa diri agar cepat tertidur. Wanita yang terbalut selimut tipis itu menghela napas kasar dari mulutnya. Dia mengubah posisinya menjadi terlentang dan menatap lurus ke atas.
Pikirannya berkelana, menerawang jauh ke masa depan setelah dia resmi bercerai dengan Teguh. Di usianya yang tak lagi muda, ada rasa takut yang menyelinap untuk kembali membina
Malam di Wisma Asri terasa lebih dingin dari biasanya. Jam dinding di lorong tengah menunjukkan pukul 21.00 WIB. Suasana luar kos tampak begitu hangat dan harmonis, tanaman gantung yang tertata rapi, lampu teras kekuningan yang temaram, serta kesan kekeluargaan yang kerap dipuji oleh tetangga sekitar. Namun, Mbak Sri tahu betul apa yang ada di balik fasad indah itu.Di dalam, udara dipenuhi dengan ketegangan terselubung. Sepuluh pria penghuni Wisma Asri yang selama ini sangat baik, penuh perhatian, dan rela membantunya dalam segala hal mulai menunjukkan persaingan diam-diam. Bantuan-bantuan kecil yang dulu tulus kini berubah menjadi ajang pembuktian diri. Tatapan antarpenghuni saat makan malam bersama tak lagi sehangat dulu. Mbak Sri merasa bersalah. Dialah alasan di balik dinamika rumit ini, dan ia merasa menjadi beban besar bagi keharmonisan tempat tersebut.Mbak Sri menarik napas panjang. Ia harus segera mengambil sikap malam ini sebelum gesekan dingin ini merusak k
Matahari sore baru saja tergelincir di balik deretan pohon mangga di halaman Wisma Asri. Sebuah mobil minibus abu-abu berhenti tepat di depan gerbang berpagar besi tempa hijau. Suara mesinnya mati, disusul bunyi pintu mobil yang terbuka dan derit koper besar yang diturunkan ke atas lantai semen.Mas Bayu menyapu pandangannya ke sekeliling halaman. Setelah hampir satu bulan lebih mengasingkan diri di mess proyek akhirnya ia kembali. Debu proyek dan aroma semen yang biasa menemaninya kini berganti dengan wangi bunga melati dari pekarangan Wisma Asri yang akrab.Belum sempat Mas Bayu melangkah tiga tindak, pintu utama wisma terbuka lebar."Nah, benar kan kata gue! Mas Bayu sampai!" seru Raka, penghuni paling lantang, sambil berlari kecil menuruni tangga teras.Satu per satu penghuni Wisma Asri keluar. Dimas, Leo, Nico, Mas Rehan, Pak Doni, Bimo, Fahri, hingga Gavin merangsek maju. Suasana seketika riuh."Halo, Mas! Akhirnya balik juga ke peradaban!" D
Pagi itu, sinar matahari baru saja menerobos celah-celah pepohonan di area proyek pembangunan. Suasana di lapangan yang biasanya bising oleh suara mesin, pagi ini terasa agak sunyi dan dibalut canggung.Di depan proyek, Mas Bayu, Pak Doni dan Mas Rehan sedang duduk Bersama. Hingga tak lama kemudia, tak jauh dari tempat mereka duduk, di balik gerbang berhenti sebuah motor membuat ketiganya menoleh.Sesosok wanita anggun dengan pakaian rapi bertandang ke lokasi. Ia adalah Mbak Sri, yang datang tepat waktu sesuai dengan janji yang telah ia buat sebelumnya. Mbak Sri hadir untuk menemui Mas Bayu.Namun, kehadiran Mbak Sri yang tak disangka-sangka oleh Pak Doni dan Mas Rehan membuat suasana seketika menegang.Mas Rehan dan Pak Doni menghentikan pembicaraan mereka begitu melihat kedatangan Mbak Sri. Wajah mereka menunjukkan terkejut yang luar biasa.Mas Rehan terperanjat, "Mbak Sri? Anda... bagaimana bisa ada di sini pagi-pagi begini?"Pak Doni s
Suasana di Kos Wisma Asri menjelang pukul sembilan pagi mulai berangsur sepi. Kebisingan khas pagi hari seperti suara deru motor, celoteh penghuni kos yang berebut kamar mandi, hingga denting alat masak kini telah mereda. Mayoritas penghuninya sudah berangkat menembus kemacetan kota untuk bekerja dan berkuliah. Hanya tersisa keheningan yang dibalut sepoi angin pagi dan suara jangkrik liar di sudut halaman.Di dalam kamarnya, Mbak Sri berdiri mengamati penampilannya. Ia meraih tas selempang kulit warna cokelat pastel lalu memakainya serong di bahu. Matanya menatap lekat pantulan dirinya di cermin rias berukuran sedang. Dress bunga-bunga kecil berwarna lembut yang melekat di tubuhnya tampak begitu rapi, membalut sosoknya yang biasanya hanya mengenakan daster atau kaos santai sehari-hari. Sebuah senyum tipis yang hampir tak terlihat, namun penuh arti mengembang di bibirnya.Dengan jemari yang sedikit gemetar, Mbak Sri meraih botol parfum kaca berdesain elegan dari atas me
Suara tumisan bumbu halus di atas wajan besar beradu dengan keheningan pagi yang masih samar. Jarum jam dinding di dapur umum menunjukkan pukul 04.15 WIB. Asap tipis beraroma bawang merah, terasi, dan daun jeruk membumbung tinggi, memenuhi ruangan berubin putih tersebut.Setelah tiga hari tutup total demi mengurus berkas perceraiannya di Pengadilan Agama, Mbak Sri akhirnya kembali ke tempat yang paling membuatnya merasa hidup: dapur katering milik pribadinya. Hari ini, ia harus menyelesaikan 50 kotak nasi tumpeng mini dan 100 porsi prasmanan untuk acara syukuran kantor.Dengan cekatan, Mbak Sri mengaduk sambal goreng ati dengan sutil kayu besar. Keringat tipis mulai menetes di pelipisnya. Tangannya yang sigap dan terlatih melangkah dari satu kompor ke kompor lain.Ting!Suara denting notifikasi ponsel terdengar dari balik saku apron kain motif kotak-kotak biru yang ia kenakan.Mbak Sri mengecilkan api kompor terlebih dahulu. Ia me
Angin malam berembus dingin, membawa aroma tanah basah yang kian pekat. Langit di atas sana gulita, tertutup awan mendung yang menggantung rendah, seolah menyimpan beban yang siap ditumpahkan kapan saja.Mbak Sri duduk sendirian di kursi kayu teras rumahnya. Matanya menatap lurus ke arah langit malam yang hampa. Sebuah helaan napas berat terdengar beberapa kali dari bibirnya, terlepas bersama rasa sesak yang tak kunjung mereda. Malam ini seharusnya terasa begitu berharga—sebuah garis akhir dari drama panjang yang menguras emosi dan air mata. Namun, bukannya lega, hatinya justru terasa ganjil, gundah, dan tidak tenang. Seperti ada sesuatu yang mengganjal di relung dadanya yang paling dalam."Mas Bayu..." lirih Mbak Sri sangat pelan, hampir tak terdengar, mengucap nama seseorang yang kini jauh darinya.Tiba-tiba, sebuah sentuhan lembut mendarat di atas kepalanya. Sebuah elusan hangat pada pucuk kepala yang seketika menghentikan lamunannya.Mbak Sri te







