LOGINTENG.Bunyi itu masih terngiang di telinga Rayung ketika ia keluar dari lift.Ia berhenti di depan pintu kamar, menatap wadah kecil berisi rambut Aruna yang kini kembali diam di dalam tasnya.Genta Perunggu Berukir Naga seharusnya berada di Pelabuhan Timur. Mereka bahkan belum berangkat, tetapi benda itu sudah berbunyi.Apa yang terjadi jika genta itu berbunyi sekali lagi?Rayung tidak ingin membayangkannya.Ia baru saja hendak masuk ketika pintu di sebelahnya terbuka. Prewa muncul dengan kemeja hitam dan jas yang belum dikancingkan. Wajahnya tampak seperti seseorang yang sudah membaca tiga laporan buruk sebelum sarapan.“Kamu belum tidur?” tanyanya.Rayung menggeleng. “Genta itu berbunyi lagi di kepala saya.”“Bunyi?”“Bukan di kepala saya secara harfiah. Saya mendengarnya ketika membuka map tadi. Rambut Ibu juga bereaksi.”Prewa mengamati wajahnya.“Apakah kamu merasa sakit?”Pertanyaan itu membuat Rayung sedikit terdiam.“Tidak. Kenapa?”“Kamu terlihat pucat.”Rayung hampir menjawa
Hujan turun ketika mereka meninggalkan gedung arsip lama Zalas.Rayung duduk di kursi penumpang, memandangi gedung yang perlahan menghilang di balik kaca mobil. Ada sesuatu yang mengganjal pikirannya sejak mereka menemukan laporan penutupan Protokol Raza.Mereka telah menemukan nama yang dihapus.Mereka telah mengetahui bahwa Aditya Zalas sengaja menghilangkan Raza dari silsilah keluarga.Namun, mereka belum tahu siapa yang sebenarnya kembali dari pintu.Dan Rayung tidak menyukai teka-teki yang meninggalkan terlalu banyak lubang.“Pak Prewa.”“Ya?”“Menurut kamu, siapa orang yang kita lihat di rekaman itu?”Prewa tidak langsung menjawab. Ia duduk di samping Rayung, sementara Alan mengemudi dan Kip masih sibuk memeriksa data di perangkatnya.“Saya tidak tahu.”Rayung menoleh. “Jawaban yang sangat jujur. Tumben.”“Kalau kamu mengharapkan saya mengarang jawaban agar terdengar pintar, kamu salah orang.”“Bukan begitu. Saya cuma mengira orang seperti kamu selalu punya rencana cadangan.”“S
Kata terakhir itu terus terngiang di kepala Rayung.BELUM.Hanya itu yang sempat dilihatnya sebelum layar komputer kembali gelap.“Pak Prewa, kita belum bisa pergi.”Prewa yang sedang berjalan menuju pintu berhenti. “Apa lagi?”“Pesan terakhir di layar tadi. Ada sesuatu yang sengaja disembunyikan dari kita.”“Bukankah itu sudah jelas sejak awal?”“Bedanya, kali ini saya merasa sesuatu itu sengaja ingin kita menemukan jawabannya sedikit demi sedikit.”Kip berbalik dari komputer.“Saya bisa mencoba memulihkan pesan yang muncul sebelum layar mati. Tapi saya membutuhkan waktu.”“Lakukan,” perintah Prewa.Sementara Kip bekerja, Rayung mengeluarkan wadah rambut Aruna dari tasnya. Sejak mereka menemukan kotak bersimbol tujuh lingkaran, rambut itu terus bergerak sesekali, seolah sedang mencari sesuatu.Kini, sehelai rambut melayang keluar dan mengarah ke meja tempat mereka menemukan catatan Protokol Raza.Ujungnya menyentuh permukaan kayu.Garis putih keperakan muncul sesaat, membentuk sebuah
“Prewa, Nak. Kali ini, jangan tinggalkan Ayah sendirian.”Suara dari balik pintu terdengar begitu nyata.Rayung melihat Prewa melangkah mendekati sumber suara itu. Wajah pria tersebut masih terkendali, tetapi rahangnya mengeras. Ada keraguan di matanya, bercampur dengan sesuatu yang jarang diperlihatkannya kepada siapa pun.Kerinduan.Rayung segera menyambar lengan jasnya.“Tunggu.”Prewa menoleh. “Lepaskan, Rayung.”“Tidak sebelum kamu berpikir jernih.”“Itu suara ayah saya.”“Atau sesuatu yang tahu cara meniru suara ayahmu.”Prewa terdiam.Rayung tidak bermaksud menyakitinya. Namun, ia juga tidak akan membiarkan Prewa berjalan memasuki perangkap hanya karena suara dari masa lalu memanggilnya dengan sebutan yang dirindukannya.Makhluk tiga kepala di bahu Prewa mendesis pelan.Jangan biarkan dia menjawab panggilan itu.Rayung menyampaikan peringatan tersebut.Prewa menatap pintu yang terbuka. “Kalau memang bukan ayah saya, kita akan mengetahuinya di dalam.”“Dan kalau itu justru yang
BAB 37 — Wajah yang Bukan Miliknya Ruangan arsip mendadak terasa terlalu sempit.Kalimat di layar komputer itu masih terpampang jelas.PREWA, KAU MASIH MEMAKAI WAJAH YANG KUBERIKAN KEPADAMU.Rayung menatap tulisan tersebut, kemudian melirik Prewa.Pria itu tidak bergerak. Wajahnya tetap tenang, tetapi ada sesuatu yang berubah dalam tatapannya. Seolah-olah satu kalimat sederhana baru saja merobek bagian masa lalu yang selama ini ia yakini benar.“Pak,” panggil Rayung pelan.Prewa tidak menjawab.“Prewa.”Kali ini ia menoleh.Rayung sengaja menggunakan namanya tanpa embel-embel formal. Entah kenapa, melihat Prewa terdiam seperti itu membuatnya merasa perlu memastikan pria tersebut masih benar-benar berada di sana.“Kamu masih di sini, kan?”Alis Prewa sedikit terangkat. “Menurut kamu, saya sedang pergi ke mana?”“Entahlah. Mungkin pikiran kamu sudah jalan-jalan ke tempat yang tidak bisa dijangkau manusia biasa.”“Kalau begitu, seharusnya kamu bisa menyusul.”Rayung berkedip.Dia masih
Rayung baru saja duduk di meja makan ketika Prewa meletakkan semangkuk sup hangat di hadapannya. Ia menatap mangkuk itu, kemudian menatap pria yang duduk di seberangnya. “Pak Prewa.” “Ya?” “Ini sarapan atau pemeriksaan kesehatan terselubung?” Prewa mengangkat alis. “Kenapa harus ada pemeriksaan kesehatan?” “Karena kemarin Anda menyuruh saya makan. Sekarang Anda sudah menyiapkan makanan sebelum saya turun. Besok apa lagi? Anda mau berdiri di depan kamar sambil membawa timbangan?” Alan yang sedang menuangkan kopi nyaris tersedak. Prewa meliriknya. “Ada yang lucu?” “Tidak, pak.” “Kalau begitu, berhenti tertawa.” “Baik, pak.” Alan menunduk, tetapi bahunya masih bergetar. Rayung menahan senyum. Ternyata bukan hanya dirinya yang bisa dibuat tidak nyaman oleh tatapan dingin Prewa. Di atas bahu kiri pria itu, makhluk tiga kepala tersebut mengangkat salah satu kepalanya. Dua kepala lainnya masih terlihat lesu, seolah belum sepenuhnya bangun. Kalau dia benar-benar membawa timban







