MasukBRAK!Tutup kotak itu terlempar ke samping.Rayung refleks mundur, sementara Prewa segera berdiri di depannya. Satu tangannya terangkat melindungi Rayung, sedangkan tangan lainnya tetap memegang senjata.Namun, tidak ada manusia ataupun monster yang muncul dari dalam kotak.Hanya kain hitam tua yang membungkus sesuatu.Dan sehelai rambut panjang berwarna hitam yang perlahan bergerak sendiri.Rayung menahan napas. Rambut itu menjulur keluar dari kotak, melayang di udara seperti ular yang baru terbangun setelah tidur panjang.“Jangan sentuh,” ujar Prewa.“Gue tahu.”Rayung tidak berniat menyentuhnya. Penglihatan yang baru saja dialaminya sudah cukup menjadi peringatan bahwa rambut tersebut bukan benda biasa.Anehnya, helai rambut itu tidak menyerang mereka.Ujungnya justru bergerak ke arah Rayung, berhenti sesaat di depan wajahnya, lalu beralih menunjuk dada Prewa.Rayung mengerutkan kening.“Sepertinya dia menunjuk kamu.”Prewa tidak mengalihkan pandangan dari rambut itu. “Apa maksudny
“Prewa…” Rayung menelan ludah sambil menatap tanah di bawah pohon pule. “Kayaknya... yang ada di bawah sana belum mati.” Prewa tidak langsung menjawab. Tatapannya tertuju pada lubang yang baru saja mereka gali. Di antara akar-akar besar yang mencuat dari tanah, terdengar suara ketukan sekali lagi. Tok. Rayung dan Prewa saling berpandangan. Tok... tok. Bukan suara ranting patah. Bukan pula suara akar yang bergesekan. Sesuatu memang sedang mengetuk dari bawah tanah. Rayung perlahan berjongkok dan menempelkan telapak tangannya ke permukaan tanah. Seketika, hawa dingin menjalar dari ujung jarinya. Bukan dingin biasa, melainkan dingin yang mengingatkannya pada kulit mayat. Prewa langsung menarik lengannya. “Jangan sentuh lagi.” “Kenapa? Kalau dia yang mengetuk, berarti dia juga tahu kita ada di sini.” “Justru itu masalahnya. Kita belum tahu apa yang sedang menunggu di bawah.” Rayung hendak membalas, tetapi suara cekikikan dari atas pohon memotong ucapannya. “Hehehe…” Kuntila
Bab 21: Tamu yang Tidak Punya Bayangan Tok... tok... tok... Ketukan itu terdengar lagi. Tiga kali. Pelan. Teratur. Prewa berhenti tepat beberapa langkah dari pintu depan. Tangannya masih berada dekat senjata di pinggang. Rayung berdiri dari kursinya. Tubuhnya memang masih lemas, tetapi rasa lelah itu mendadak tersingkir oleh firasat buruk. Ia menatap pintu. Tidak ada aura manusia dari balik sana. Tidak ada napas. Tidak ada suara langkah. Namun— ada sesuatu. Sesuatu yang sangat dingin. "Jangan dibuka dulu," kata Rayung. Prewa menoleh. "Tadi kamu bilang akan membukanya." "Berubah pikiran." "Kenapa?" Rayung menunjuk pintu. "Karena yang berdiri di luar bukan cuma satu." Prewa langsung waspada. "Berapa?" Rayung memejamkan mata. Kemampuan yang sudah dimilikinya sejak kecil kembali bekerja. Dunia di depannya seolah berubah. Warna-warna memudar. Suara angin menghilang. Yang tersisa hanya lapisan tipis antara dunia manusia dan dunia yang selama ini selalu bisa ia
KABOOM! Ledakan energi menghantam seluruh ruangan lelang. Panggung The Crimson Velvet pecah. Meja-meja terlempar. Kaca jendela bergetar hebat. Lampu kristal yang menggantung di langit-langit runtuh satu demi satu. Rayung bahkan tidak sempat melihat apa yang terjadi setelah tangannya menyentuh kedua artefak itu. Cahaya putih keperakan meledak dari tubuhnya. Kemudian semuanya menjadi gelap. Ketika Rayung membuka mata— langit-langit putih menyambut pandangannya. Ia berkedip beberapa kali. Bau antiseptik memenuhi hidungnya. "Rumah sakit?" Suaranya serak. "Zalas Tower." Suara Prewa terdengar dari samping. Rayung memutar kepala. Prewa duduk di sofa panjang dekat jendela. Jasnya sudah dilepas. Kemeja hitamnya sedikit kusut dan dua kancing bagian atas terbuka. Wajahnya terlihat lelah. Namun matanya tetap tajam. Rayung mencoba bangun. Prewa langsung berdiri. "Jangan." "Gue cuma mau duduk." "Kamu baru sadar." "Terus?" "Berbaring." Rayung mengerutkan kening. "Lu m
BLUP... BLUP... BLUP... Gelembung cairan merah di dalam Cangkir Porselen Merah meletup makin kencang, memercikkan hawa amis beraroma karat dan bunga kamboja yang seketika memenuhi seluruh ruangan lelang. Tawa melengking non-manusia yang keluar dari dalam cangkir itu menggetarkan lampu-lampu kristal, membuat kaca panggung retak seribu. Para tamu VIP yang semula duduk tenang mendadak panik. Beberapa pejabat dan pengusaha berteriak seraya berusaha menerobos keluar melalui pintu utama yang tiba-tiba terkunci rapat secara gaib. "Tenang semuanya!" seru Madam Clara dengan suara yang bergema magis. Namun, matanya sendiri menyiratkan keterkejutan saat melihat cairan darah Aruna menolak dikendalikan oleh mantra pemudanya. Di barisan belakang, pria berjas hitam dengan pisau kecil beracun meluncur cepat dari balik kegelapan. Ia bergerak seperti bayangan tanpa suara, mengincar leher Rayung saat perhatian semua orang teralih ke panggung! SRAK! Sebelum bilah hitam itu menyentuh kulit Rayung,
Malam turun perlahan di atas kota. Lampu-lampu gedung pencakar langit menyala seperti ribuan mata yang mengawasi jalanan dari ketinggian. Di antara deretan bangunan modern dan klub-klub eksklusif yang hanya dikenal oleh kalangan tertentu, sebuah gedung tua berdiri tanpa papan nama. Dari luar, tempat itu tampak seperti bangunan kolonial yang sudah lama ditinggalkan. Namun sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan pintu besinya. Pintu itu terbuka. Prewa turun lebih dulu. Setelan hitamnya rapi tanpa satu pun lipatan. Wajahnya tetap dingin seperti biasa. Kemudian ia berjalan mengitari mobil dan membukakan pintu untuk Rayung. Rayung turun perlahan. Gaun hitam panjang dengan detail merah gelap membalut tubuhnya. Rambutnya ditata sederhana, tetapi beberapa helai sengaja dibiarkan jatuh di sisi wajah. Rayung menatap gedung di hadapannya. "Ini klubnya?" "Ya." Rayung mengerutkan kening. "Kelihatannya kayak tempat syuting film horor." Prewa menatap bangunan itu sebentar. "Meman







