แชร์

Bab 8 Markas Lama

ผู้เขียน: Rusmidah
last update วันที่เผยแพร่: 2026-08-22 20:02:59

Malam telah beranjak semakin pekat ketika sedan hitam Prewa berhenti di halaman markas lama Zalas Corp.

Kompleks bangunan tua itu berdiri di tengah kawasan industri yang nyaris tidak berpenghuni. Sebagian besar gedung telah lama ditinggalkan. Cat dindingnya mengelupas, jendela-jendelanya dipenuhi debu, sementara rerumputan liar tumbuh menembus retakan beton.

Pohon-pohon tua menjulang di sepanjang halaman.

Rantingnya bergerak perlahan diterpa angin, sesekali menutupi cahaya bulan separuh yang me
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Gadis Indigo Milik Mafia Kejam   BAB 9 Gelombang Darah dan Kebenaran yang Terbelah

    Bau kemenyan dan belerang mendadak memenuhi aula.Ki Ageng mengangkat sebuah belati kecil berkepala tengkorak, lalu menusukkannya ke dalam mangkuk perunggu di atas meja.Cessss...Cairan hitam kental di dalam mangkuk mendesis hebat.“Darah Aruna tak pernah benar-benar mati...” bisik Ki Ageng dengan suara serak. “Ia hanya menunggu waktunya untuk kembali.”Seketika—WUUUSSSHH!Belasan lilin hitam di sekeliling aula menyala semakin besar.Api yang tadinya kecil berubah menjadi merah keunguan, menerangi ruangan dengan cahaya menyeramkan.Makhluk berkepala tiga di bahu Prewa mendadak menjerit.Jeritannya tidak terdengar oleh telinga manusia, tetapi gelombang gaibnya menghantam seluruh ruangan.PRANG!Jendela-jendela tua di lantai atas pecah bersamaan.Kip dan dua pengawal Prewa terhuyung.Mereka memegangi kepala masing-masing, berusaha bertahan dari tekanan aneh yang membuat tubuh terasa lemas dan mual.“Rayung! Mundur!”Prewa bergerak cepat.Tangannya menarik Rayung menjauh dari meja ritu

  • Gadis Indigo Milik Mafia Kejam   Bab 8 Markas Lama

    Malam telah beranjak semakin pekat ketika sedan hitam Prewa berhenti di halaman markas lama Zalas Corp.Kompleks bangunan tua itu berdiri di tengah kawasan industri yang nyaris tidak berpenghuni. Sebagian besar gedung telah lama ditinggalkan. Cat dindingnya mengelupas, jendela-jendelanya dipenuhi debu, sementara rerumputan liar tumbuh menembus retakan beton.Pohon-pohon tua menjulang di sepanjang halaman.Rantingnya bergerak perlahan diterpa angin, sesekali menutupi cahaya bulan separuh yang menggantung pucat di langit.Rayung turun dari mobil.Begitu kedua kakinya menyentuh tanah, bulu kuduknya langsung berdiri.Udara di tempat itu berbeda.Dingin.Bukan dingin malam biasa.Ada sesuatu yang menekan dari segala arah, seolah bangunan tua di hadapannya menyimpan terlalu banyak suara yang tidak pernah benar-benar pergi.Rayung mengusap kedua lengannya.“Tempat ini... nggak beres.”Prewa turun dari sisi lain mobil.“Sejak tadi saya juga merasakan ada sesuatu yang tidak biasa.”Rayung meno

  • Gadis Indigo Milik Mafia Kejam   BAB 7 Darah yang Terikat

    Pernyataan Ki Sastra membuat udara di dalam Griya Pusaka seolah membeku.“Sisa darah dan rambut... Aruna untuk sesuatu yang lebih besar”Rayung tidak bergerak.Bibirnya sedikit terbuka, tetapi tidak ada suara yang keluar.Nama itu kembali terdengar.Nama yang selama dua puluh dua tahun hanya menjadi bagian dari kisah kematian yang ia percaya begitu saja.Aruna. Ibunya.“Ulangi...” suara Rayung akhirnya keluar, sangat pelan.Ki Sastra menelan ludah.“Saya bilang, patung itu dibuat menggunakan sisa darah dan rambut milik Aruna yang disimpan oleh Paman Harsa.”Mata Rayung langsung memerah.“Dari mana Paman Harsa mendapatkan darah dan rambut ibu saya?”“Saya tidak tahu.”“Jangan bohong!”Suara Rayung meninggi.Aura di sekeliling tubuhnya bergetar tanpa ia sadari. Beberapa benda antik di rak bergetar halus.Ki Sastra langsung pucat.“Rayung.”Suara Prewa terdengar rendah.Rayung menoleh.Prewa berdiri di sampingnya. Tatapan pria itu tetap dingin, tetapi kali ini ada sesuatu yang berbeda di

  • Gadis Indigo Milik Mafia Kejam   BAB 6 Kolektor Barang Antik

    Keesokan paginya, sebuah sedan hitam berhenti di depan bangunan tua di sudut kawasan pasar antik yang masih sepi. Bangunan itu memiliki arsitektur kolonial dengan dinding kusam dan jendela-jendela kayu tinggi yang catnya mulai mengelupas. Di atas pintu masuk tergantung papan nama kayu yang sudah lapuk. GRIYA PUSAKA Rayung menatap papan nama itu dari balik kaca mobil. Entah kenapa, sejak mereka meninggalkan kantor Zalas Corp, perasaannya tidak tenang. Bukan karena tempat ini terlihat menyeramkan. Justru karena ia bisa merasakan sesuatu yang jauh lebih aneh. Energi yang samar. Tua. Dan familiar. Rayung melirik ke samping. Prewa duduk tenang di kursinya, mengenakan setelan hitam dengan kemeja gelap. Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan kegelisahan. Namun makhluk berkepala tiga itu masih bertengger di belakang tubuhnya. Sejak patung naga dikurung semalam, aura makhluk tersebut memang terlihat melemah. Gerakannya tidak seganas sebelumnya, tetapi keberadaannya tetap membuat R

  • Gadis Indigo Milik Mafia Kejam   BAB 5 Jejak Tersembunyi

    Prewa masih menatap patung naga perunggu yang kini berdiri di dalam lemari kaca.Tatapannya dingin.Namun, untuk pertama kalinya selama dua tahun terakhir, ada sesuatu yang berbeda di matanya.Harapan.Bukan karena ia percaya pada hal gaib.Melainkan karena rasa sakit yang selama ini tidak mampu dijelaskan oleh dokter akhirnya memiliki sebuah bentuk.Sebuah patung.Dan makhluk mengerikan yang menempel di tubuhnya."Kalau kita biarkan patung ini tetap di sini, rasa sakit di dada Anda akan terus muncul," ujar Rayung. Suaranya masih sedikit bergetar setelah mendengar bisikan makhluk tadi. "Benda itu seperti sumber makanan buat makhluk di tubuh Anda. Selama patungnya aktif, makhluk itu akan terus mendapatkan energi."Prewa berbalik dan berjalan menuju meja kerjanya.Wajahnya tetap tenang."Dua tahun saya hidup dengan rasa sakit ini."Ia berhenti di belakang meja."Beberapa minggu lagi tidak akan membunuh saya."Rayung menatapnya tak percaya."Ya ampun. Bos mafia memang beda."Alis Prewa t

  • Gadis Indigo Milik Mafia Kejam   BAB 4 Benda Penghubung Maut

    Lift pribadi bergerak perlahan menuju lantai tertinggi Zalas Corp.Di dalam kabin yang luas dan sunyi itu, Rayung berdiri beberapa langkah dari Prewa. Tangannya masih menggenggam kartu akses hitam yang baru saja diberikan pria itu.Tidak ada yang berbicara.Hanya suara mesin lift yang berdengung pelan.Rayung sesekali melirik ke arah bahu Prewa.Makhluk berkepala tiga itu masih ada di sana.Tubuh raksasanya melekat seperti bayangan hidup. Ketiga kepalanya bergerak perlahan, seolah sedang mengawasi Rayung.Rayung segera mengalihkan pandangan.Gue harus kuat.Ini cuma pekerjaan walaupun Ini bukan pekerjaan normal.Ting!Pintu lift terbuka.Prewa melangkah keluar lebih dulu.Rayung mengikutinya.Begitu kakinya menginjak lantai teratas, hawa dingin langsung menyambutnya.Bukan dingin dari pendingin ruangan.Ini berbeda.Lebih pekat.Lebih berat.Seolah udara di lantai itu menyimpan sesuatu yang sudah terlalu lama berada di sana.Rayung berhenti.Tangannya refleks meremas kartu akses.Prew

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status