LOGIN“Jadi ... kau perempuan barunya Adrian?”
Kalimat itu meluncur tajam dari mulut salah satu wanita di hadapanku. Aku tidak mengerti, kenapa banyak orang menyebutku dengan sebutan seolah-olah aku perempuan murahan seperti itu? “Maaf, apa maksud Anda? Saya tidak mengerti,” ujarku hati-hati. “Tcih.” Seorang wanita bergaun merah marun dengan potongan bahu terbuka menyilangkan tangan di dada. Tatapannya sinis. “Jangan berpura-pura polos. Bisa tinggal di sisi Adrian, artinya kau sudah menjual dirimu sendiri padanya.” Wanita di sebelahnya menimpali dengan nada tajam, “Aku heran, selera Tuan Adrian kali ini benar-benar menurun.” Yang terakhir ikut menambahkan dengan senyum mengejek. “Kau sama sekali tidak terlihat istimewa, tapi bisa menempati rumah ini. Jadi, selain tubuhmu, apa lagi yang sudah kau jual padanya?” Aku menatap mereka dengan tidak percaya. Jadi, hal seperti itukah yang mereka pikirkan tentangku? Meski ketiga wanita itu berdiri dengan anggun, aura mereka begitu menekan hingga membuatku sedikit goyah. Sekar, yang sejak tadi berdiri di sampingku, segera melangkah maju dan berdiri sedikit di depanku. “Maaf, Nona-nona,” ucapnya sopan, “Nona Melati baru saja pulang dari kampus. Beliau pasti lelah. Sebaiknya—” “Diam.” Wanita bergaun merah itu memotong kasar, menatap Sekar dengan mata dingin. “Kau hanya pelayan, jangan ikut campur urusan para nona.” Sekar menundukkan kepala, diam. “Kami di sini hanya ingin tahu, rupa perempuan yang sampai membuat Adrian rela membiarkan rumah ini ditinggali,” kata wanita itu dengan nada tinggi. Aku mengepalkan tangan, berusaha menekan rasa takut. Sebisa mungkin kutahan suaraku agar tidak bergetar. “Sekarang, Nona-nona sudah melihat sendiri seperti apa perempuan itu. Jadi, silakan pergi.” Wanita bergaun merah itu tersenyum miring. “Berani juga kau.” Ia mendekat perlahan. Suara hak sepatunya yang menekan marmer membuatku tercekat. “Berhati-hatilah, Sayang. Di Kediaman Cempaka ... tidak ada yang bertahan lama karena berani melawan.” Aku menatapnya tanpa berkata apa-apa. Dalam diam, aku mencoba menegakkan diri. Aku tidak tahu siapa mereka sebenarnya, tetapi dari cara bicara dan pakaian mereka, jelas bahwa semuanya bukan orang sembarangan di rumah ini. Tanganku masih mengepal kuat begitu ketiga wanita itu berjalan melewatiku. Salah satu dari mereka menyenggol bahuku dengan cukup keras hingga aku hampir limbung, jika saja Sekar tidak sigap menangkapku. “Nona tidak apa-apa?” tanya Sekar cemas. Aku menggeleng samar. “Tidak apa-apa.” Rasanya sedikit lega ketika melihat ketiga punggung itu menjauh meninggalkan halaman. Setelah mereka benar-benar pergi, aku pun menatap Sekar. “Siapa mereka sebenarnya, Sekar?” Sekar sempat ragu sebelum menjawab, “Mereka ... adalah nona-nona dari Rumah Jelita.” “Rumah ... Jelita?” “Iya, Nona. Jika Nona berada di rumah utama dan melihat ke sisi kiri, maka akan terlihat sebuah bangunan besar bernuansa putih dan emas. Itulah Rumah Jelita.” Karena kejadian malam ini, akhirnya Sekar menceritakan kepadaku segala hal tentang Kediaman Cempaka. Dari penjelasannya, aku lantas tahu bahwa bangunan megah di sisi kiri rumah utama—yang sekilas kukira vila tamu—ternyata adalah tempat tinggal para wanita simpanan Tuan Adrian. Aku duduk di ruang makan, sementara Sekar berdiri menuangkan teh hangat ke dalam cangkirku. Uapnya mengepul lembut di udara malam yang sunyi. “Kediaman Cempaka memiliki tiga bangunan besar,” ujar Sekar sambil duduk di seberangku. “Satu bangunan utama untuk Tuan Adrian, dan dua lainnya berada di sisi kanan dan kiri, menghadap ke rumah utama.” “Setiap rumah punya fungsi dan penghuninya masing-masing,” lanjutnya. “Rumah utama hanya ditempati oleh Tuan Adrian. Di sana, beliau bekerja, beristirahat, dan menerima tamu. Pelayan yang boleh masuk pun hanya pelayan senior yang sudah lama mengabdi padanya.” Aku mengangguk perlahan, mendengarkan setiap kata. “Sedangkan rumah yang saat ini Nona tempati ... disebut Rumah Bunga,” kata Sekar sambil tersenyum samar. “Sebagian besar lahannya dipenuhi tanaman dan berbagai jenis bunga. Sisanya adalah bangunan rumah ini, dengan lantai paling atas difungsikan sebagai rumah kaca. Rumah yang memang dirancang untuk tempat bersantai Tuan Adrian.” Aku menatap sekeliling, mendadak memahami kenapa rumah ini terasa begitu tenang. “Lalu ... bagaimana dengan rumah di sisi kiri itu?” Sekar menjawab, “Itu adalah Rumah Jelita.” “Rumah Jelita?” “Iya, Nona. Rumah Jelita ... adalah tempat tinggal para wanita pilihan Tuan Adrian.” Sekar terdengar cukup berhati-hati menyebutnya. Aku menatapnya bingung. “Wanita pilihan? Maksudmu ....” “Mudahnya,”—Sekar mengecilkan volume suaranya—“itu adalah rumah para wanita simpanan Tuan Adrian.” Aku terdiam. Sekarang, semua cibiran dan tatapan aneh yang kuterima akhir-akhir ini terasa masuk akal. “Jadi, wanita-wanita tadi ... mereka ....” Sekar mengangguk. “Benar, Nona. Mereka para penghuni Rumah Jelita. Wanita yang telah dipilih Tuan Adrian untuk melayaninya.” Aku bukan perempuan polos yang tidak mengerti maksud kata “melayani” yang dipakai Sekar. Melihat penampilan wanita-wanita tadi, aku pun bisa langsung menemukan kesesuaiannya. “Rumah Jelita berukuran besar, hampir menyamai rumah utama,” lanjut Sekar. “Setiap nona di sana memiliki kamar sendiri dengan fasilitas mewah dan seorang pelayan pribadi. Namun ....” Aku menatap Sekar lekat-lekat. “Namun kenapa?” Sekar balas menatapku, lalu berkata dengan nada nyaris berbisik, “Meski terlihat seperti istana, suasana di dalam Rumah Jelita tidaklah ramah. Rumah itu ... sudah mirip seperti istana harem. Persaingan di antara para nona sama persis seperti selir di istana raja. “Hanya mereka yang kuat dan cerdik yang bisa bertahan. Sementara yang tidak cukup kuat ... mereka akan tersingkir. Entah dengan cara baik-baik, atau ... tiba-tiba menghilang tanpa jejak.” Aku terdiam, berkedip beberapa kali, lalu beralih menatap dan memegang cangkir teh hangat yang kini sudah mulai dingin. Sulit rasanya mempercayai bahwa semua ini sungguh nyata. Kupikir, hal seperti ini hanya ada di dalam novel. Namun ternyata, perempuan-perempuan dengan segala intrik dan persaingan demi merebut hati satu pria ... itu benar-benar ada. Dan jika segalanya memang berjalan seperti kisah dalam novel, lantas mungkinkah saat ini aku menjadi tokoh yang akan disingkirkan para selir yang merasa tersaingi? Ah ... memikirkannya saja sudah membuatku merinding.Pagi di Rumah Jelita berjalan seperti biasa. Cahaya matahari masuk melalui celah manapun di rumah ini.Aku berdiri di dapur, mengenakan celemek, dan menyiapkan bahan-bahan dengan gerakan terukur. Tanganku bergerak seperti biasa, mencuci, memotong, dan juga menata.Namun, ada sedikit yang berbeda hari ini. Pikiranku tidak lagi setenang hari-hari sebelumnya.Aku memasak, bukan karena kebiasaan, bukan pula karena harapan. Hari ini, aku memasak dengan kesadaran penuh.Setiap bahan yang kugunakan kuperiksa dua kali. Setiap langkah kucatat di kepalaku, seolah aku sedang menyiapkan sesuatu yang jauh lebih penting daripada sekadar makanan.Sesekali, aku melirik jam di dinding. Masih cukup pagi, jadi tidak perlu terburu-buru.Aku kembali menekuni masakanku.Mulai hari ini, aku tidak akan lagi menitipkan apa pun pada siapa pun. Masakan ini akan kuantar sendiri kepada Tuan Adrian, atau setidaknya sampai ke tangan Kak Danu selaku orang kepercayaannya.“Melati.”Suara itu datang tiba-tiba dari bel
Bab 115Sendok Tuan Adrian masih tertahan di udara. “Memangnya, sebelum ini kamu memasak sesuatu untukku?”Pertanyaan itu melayang ringan, nyaris terdengar biasa. Namun bagiku, kalimat itu jatuh seperti benda berat yang menghantam dada.Aku menatapnya tanpa berkedip, berusaha mencerna maksud di balik kata-katanya. Senyum tipis yang tadi sempat muncul di wajahku perlahan memudar.“Saya ...,” suaraku tercekat, “... memasak setiap hari untuk Tuan.”Ruangan itu kembali sunyi. Tidak ada yang bersuara, dentingan alat makan pun tidak ada.Tuan Adrian menatapku tajam, tetapi tidak keras. Lebih seperti ... heran“Setiap hari?” ulangnya pelan.Aku mengangguk. “Iya. Sudah seminggu ini.”Ia kembali menyendok makanan. “Kamu yakin?” tanyanya singkat, lalu menyuapkan makanan itu ke mulutnya.Aku terdiam.Tuan Adrian kembali mengungkapkan, “Aku hanya sekali menerima makanan darimu, dan itu sudah seminggu yang lalu melalui sopir pribadimu. Setelah itu, aku meminta Danu menyampaikan padamu agar tidak p
“Amara, Melati. Kalian di sini rupanya.”Nyonya Vanya tetap membiarkan tangannya bertengger di lengan Tuan Adrian, seolah sengaja mempertahankannya agar aku dan Nona Amara dapat melihatnya dengan jelas.Tidak ada yang segera bergerak. Kak Danu pun menahan tombol lift agar pintunya tetap terbuka.Nona Amara menyahut, “Kalian mau pergi?” Nada bicaranya santai, nyaris terdengar tanpa emosi.“Kami akan pergi makan siang,” jawab Nyonya Vanya singkat.“Oh ... pas sekali,” ujar Nona Amara.Aku menoleh sekilas ke arah Nona Amara untuk mencoba membaca ekspresinya. Namun, ia hanya menampilkan senyum tipis yang sulit kuterjemahkan.“Bagaimana kalau kita makan bersama saja?” lanjutnya. “Hari ini kami membawa makan siang cukup banyak.”Nyonya Vanya menyahut, “Maaf, tapi kami sudah memesan restoran.” Ia kemudian menarik lengan Tuan Adrian, berniat melangkah keluar dari lift.Awalnya, aku mengira Tuan Adrian akan mengikutinya. Namun, ia justru tetap berdiri di tempat.Kening Nyonya Vanya mengerut. “
Saat semua makanan selesai dikemas, aku menatap kotak makan yang kali ini lebih besar dari biasanya. Aku mengambil satu kertas note dan kembali menuliskan pesan seperti hari-hari sebelumnya.Melalui pesan yang kutulis, aku memberi tahu Tuan Adrian bahwa makanan hari ini bukan hanya buatanku, melainkan ada tangan-tangan lain yang ikut bekerja.Ada ketulusan para nona yang mungkin tidak pernah Tuan Adrian lihat sebelumnya. Jadi, aku ingin ia bisa melihat dan merasakannya sekarang.“Jika Tuan masih belum mau memaafkan saya, tidak apa. Saya mengerti. Namun, tolong makanlah makanan ini. Bukan untuk saya, tetapi untuk para nona, untuk menghargai ketulusan mereka.”Aku berhenti menulis sejenak, lalu menambahkan satu paragraf terakhir. Kalimat yang sejak awal ingin kusampaikan.“Tuan, saya tidak meminta banyak. Saya juga tidak akan meminta Tuan mencintai saya sekarang juga. Cukup beri saya kesempatan saja, untuk membuktikan bahwa perasaan saya sungguh-sungguh kepada Tuan, dan di hati saya han
(Pov Melati)Setelah kegiatan sarapan di Rumah Jelita selesai, semua nona pun memulai aktivitas mereka masing-masing. Hanya aku yang tidak memiliki kegiatan apa pun di rumah ini, sehingga ... kini aku hanya berdiri diam di tepi kolam renang sambil berpikir.Aku tidak bisa terus menunggu. Jika aku ingin menyelamatkan Tuan Adrian dari Nyonya Vanya, dari permainan kotor yang mengintai keluarga Hartono, dan dari kesepian yang ia bangun sendiri, maka aku harus bergerak lebih dulu.Pemikiran itu tidak datang dengan tiba-tiba. Ia lahir dari malam yang panjang sebelumnya. Buah dari kesadaran yang akhirnya muncul dari balik rasa takut.Kesadaran itu pun lantas menumbuhkan sebuah tekad yang kemudian membawaku menuju dapur, mengikat rambutku, mengenakan celemek, lalu mulai menyiapkan bumbu.Bukankah aku harus melakukan sesuatu? Jadi, mulai hari ini aku akan memulainya dengan memasak makan siang untuk Tuan Adrian.Aku akan merebut hatinya melalui apa yang masuk ke perutnya.Tanganku bergerak tanp
(Pov Adrian)Pukulan datang tanpa peringatan, menghantam rahangku dengan keras. Kepalaku terpelanting dan tubuhku terhuyung beberapa langkah ke belakang. Rasa nyeri menyambar cepat, disusul rasa logam di lidah.Aku mengangkat wajah, melihat siapa yang memiliki tenaga begitu kuat dan berani melakukannya padaku.Arga.Pria itu menatapku tajam dengan napasnya yang memburu. Seluruh tubuhnya tegang seperti tali yang ditarik terlalu keras, sementara tangannya masih mengepal di samping tubuhnya.“Dasar berengsek kau, Adrian.”Aku menyeka sudut bibirku dengan punggung jari. Darah menempel di kulitku.Belum sempat aku membuka mulut, suara lain menyela tajam dan panik. “Arga!”Vanya melangkah cepat ke arah kami, meraih lengan Arga dan menariknya mundur. “Apa yang kau lakukan?”Dia lantas berdiri di antara kami, seolah menghalangi sang adik agar tidak kembali mendekatiku. Wajahnya terlihat memucat, tetapi aku yakin itu bukan karena terkejut, melainkan takut jika keributan kami menarik perhatian







