Beranda / Romansa / Gadis Kesayangan Tuan Adrian / Pagi Dipandang Tinggi, Siang Direndahkan

Share

Pagi Dipandang Tinggi, Siang Direndahkan

Penulis: Nooraya
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-09 20:09:12

Aku membuka jendela mobil dan membiarkan udara pagi Kota Metro menerpa wajahku. Kutarik napas panjang, mencoba mengubur kisah kelam hidupku di balik senyum tipis yang saat ini kutampilkan.

Sudah saatnya aku memulai kehidupan baruku, tanpa bayang-bayang ketakutan dan kekhawatiran. Sudah tidak ada lagi sosok bapak yang akan menyulitkan hidupku.

Aku, gadis desa yang sejak kecil terbiasa bekerja keras dan bergulat dengan keterbatasan. Dulu, aku rela banting tulang demi mengumpulkan uang demi membayar kuliah. Namun, semua jerih payah itu sirna begitu saja ketika semuanya raib diambil bapak untuk membayar hutang karena kalah berjudi. Uang yang kukumpulkan dengan keringat dan air mata itupun sekejap hilang bersama dengan mimpi-mimpiku.

Saat itu aku tidak punya pilihan lain selain berhenti kuliah. Kampus lamaku menolak memberi keringanan lebih banyak lagi. Harapanku pun pupus.

Meski rasa sesak itu masih membekas sampai saat ini, luka yang paling menyayat bukanlah tentang kehilangan kesempatan untuk kuliah, melainkan dikhianati oleh bapakku sendiri. Dia yang merupakan orang tuaku, dengan tega menyeretku—darah dagingnya sendiri—ke rumah bordil demi untuk mendapatkan uang.

Aku masih bisa merasakan dinginnya udara di malam itu. Perasaan takut, marah, dan putus asa bercampur jadi satu.

Namun, aku masih beruntung. Malam itu Tuhan berbaik hati padaku, mempertemukanku dengan Paman Wira, sosok lelaki yang tidak pernah kukenal sebelumnya.

Paman Wira adalah teman lama ibuku yang tidak sengaja sedang ada urusan pekerjaan di kota asalku. Dia yang saat itu melihatku diseret oleh bapak lantas menghentikan langkah bapak.

Usai mengetahui duduk perkaranya, Paman Wira pun menawarkan jalan keluar lain selain membawaku ke rumah bordil. Ia menjanjikan uang yang lebih banyak, dua sampai tiga kali lipat dari yang bisa diberikan rumah bordil kepada bapak.

Bapak awalnya tampak ragu. “Jangan main-main denganku. Kalau kau berbohong, nyawamu taruhannya,” ucapnya dengan tatapan curiga.

Tubuhku bergetar. Kata-kata itu seperti cambuk yang menghantamku. Aku ingin berteriak, ingin kabur, tetapi kakiku seakan terpaku ke tanah.

Paman Wira menatap bapak dengan tenang. “Kalau aku berbohong, kau bisa mencariku di tempat kerjaku. Aku tidak akan lari. Tapi jangan seret dia ke sana. Dia masih terlalu muda untuk diperlakukan seperti itu.”

Air mataku menetes tanpa bisa kutahan. Entah karena takut, atau karena ternyata masih ada seseorang yang membelaku dengan begitu berani.

Pada akhirnya, nominal yang dijanjikan Paman Wira berhasil membuat bapakku berpikir kembali. Ia kemudian menerima tawaran itu dan menyerahkanku pada Paman Wira.

Sejak malam itu, hidupku pun berubah. Paman Wira membawaku ke rumah Cempaka, tempat tinggal Tuan Adrian dan menukarku dengan uang lima ratus juta.

Sebelumnya, aku selalu merasa sebagai perempuan yang tidak beruntung dan hina. Namun, melihat seperti apa hidupku saat ini membuatku mengubah pemikiran. Bahwa aku adalah perempuan yang beruntung karena dipertemukan dengan Paman Wira, dan melalui dirinya aku mengenal Tuan Adrian.

Mulai hari ini, kehidupanku telah berubah. Aku akan menggunakan kesempatan kedua yang diberikan Tuhan kepadaku ini dengan sebaik-baiknya.

Mobil mewah yang mengantarku mulai memasuki halaman kampus yang luas dan megah. 

Jantungku berdetak semakin cepat. Hari ini adalah hari pertamaku sebagai mahasiswi di Universitas Cahaya Bangsa, salah satu universitas ternama di Kota Metro.

Orang-orang menoleh, menatapku penuh tanda tanya saat Danu membukakan pintu untukku. Mungkin, mereka mengira aku adalah putri dari keluarga terpandang. Padahal, kenyataannya jauh sekali dari itu.

Aku melangkah menyusuri halaman Universitas Cahaya Bangsa. Bangunan kampus ini begitu besar, dengan taman hijau yang luas dan rapi. Semuanya tampak seperti dunia lain yang jauh dari kehidupanku di kota kecil dulu.

Di kelas pertamaku, beberapa mahasiswa dan mahasiswi mencoba mendekatiku. Mereka terlihat ramah, tetapi entah kenapa aku merasa ada yang janggal. Keramahan itu seolah dibuat-buat.

“Hai, mahasiswi baru, ya? Namamu siapa? Aku Nina.” Seorang perempuan berambut hitam bergelombang mengulurkan tangannya.

Aku sempat tertegun, tetapi kemudian segera menyambut uluran itu. “Melati.”

“Oh, hey Mel, salam kenal, ya!” katanya ceria.

Aku hanya tersenyum tipis dan mengangguk.

“Oh iya, kamu tinggal di mana? Siapa tahu rumah kita dekat, jadi bisa main bareng.” Nina kembali bertanya.

“Aku ... tinggal di kediaman Cempaka.”

Wajah Nina yang tadinya antusias seketika berubah. “Kediaman Cempaka?”

Aku mengangguk pelan, heran dengan reaksinya.

“Kediaman Cempaka ... maksudmu, rumah pengusaha kaya, Adrian?”

Aku kembali mengangguk. Wah, aku tidak menyangka kalau Tuan Adrian seterkenal itu. Bahkan seorang mahasiswi muda saja bisa mengenalinya.

“Oh ... oke. Ya sudah, aku ke bangkuku dulu.” Nina buru-buru pergi.

Setelahnya, aku samar-samar mendengar suara bisik-bisik. Entah apa yang mereka bicarakan, aku hanya bisa merasakan tatapan aneh yang mulai tertuju padaku.

Saat jam istirahat, aku pergi ke kantin fakultas. Suasana terasa berbeda. Orang-orang menatapku dengan sinis, seolah mencibir. Tatapan itu benar-benar kontras dengan sambutan ramah pagi tadi.

Bruk!

“Aduh!”

Karena melamun, aku menabrak seseorang. Segera aku menunduk. “Maaf!”

Ternyata, orang itu adalah Nina. Bajunya basah terkena es jeruk yang dibawanya.

“Nina, maaf. Aku ganti minumanmu, ayo aku temani ke toilet dulu.” Aku mencoba menarik tangannya, tetapi dia justru menghempaskan tanganku.

“Gak usah! Gue gak butuh bantuan lo, apalagi uang haram lo!”

Aku tertegun, dadaku terasa seperti dipukul keras. “Apa maksudmu?”

Nina tersenyum miring. “Halah, jangan pura-pura. Semua orang juga tahu, wanita-wanita Cempaka itu apa.”

Aku benar-benar bingung. “Apa maksudmu?”

“Sudahlah ... jangan sok polos.” Nina meraih segelas es teh dari temannya, dan ....

Surr!

Air dingin mengucur di kepalaku. Gelak tawa pun pecah di sekitarku.

Tanganku gemetar, mengepal kuat. Aku bukannya takut, melainkan marah.

“Dasar murahan. Malu gak sih, kuliah di tempat bagus tapi dari hasil jual diri?”

Kata-kata itu menusuk jantungku. Aku mendongak, menatap Nina tajam. “Jaga mulutmu.”

Nina tertawa mengejek. “Kenapa? Gak terima kalau kebongkar?”

Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba meredam emosi. “Nina, kita baru kenal. Aku gak pernah punya masalah sama kamu. Kenapa kamu memperlakukanku seperti ini?”

“Karena di mana pun, gak ada tempat buat cewek murahan kayak lo!”

Ini adalah hari pertamaku di sini, aku tidak mau membuat masalah. Demi meredam suasana, aku pun memilih untuk berbalik, berniat pergi dari sana. Namun, baru selangkah aku pergi, Nina menarik rambutku kasar hingga membuatku jatuh ke lantai.

Aku mendongak, melihatnya hendak melangkahiku. Aku berusaha melindungi diri, tapi tanpa sengaja kakiku malah menjegalnya.

“Aw!” Nina terjatuh dan berteriak nyaring, membuatku terperangah. 

Belum sempat aku bereaksi, tiba-tiba Nina sudah terlebih dahulu berseru, “Dasar perempuan sialan!” Ia kembali bangkit, lalu menghampiriku dan kembali menjambak rambutku.

Mendapat perlakuan seperti itu, tentu aku memberontak. “Lepas! Lepaskan!” 

Refleks, kudorong tubuh Nina dengan sekuat tenaga, hingga—.

DUK!

Suara memilukan kepala membentur tiang beton  membuat semua orang terperangah.

Di tengah semua itu, aku mematung dengan wajah pucat. 

Karena doronganku, kepala Nina berakhir membentur tiang beton dan pingsan seketika!

**

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Gadis Kesayangan Tuan Adrian   EPILOG

    Bandara selalu memiliki caranya sendiri untuk membuat perpisahan terasa lebih menggetarkan.Aku berdiri di dekat pintu keberangkatan, menatap layar besar yang terus memperbarui jadwal penerbangan. Di sebelahku, Kak Adel menggenggam dokumennya erat, sebuah legalitas yang kini menjadi penanda akhir dari masa tinggalnya di ibu kota.“Melati,” panggilnya pelan.Aku menoleh. Wajahnya tampak berbeda hari ini. Lebih jujur, lebih terbuka, seolah semua lapisan yang biasa ia kenakan akhirnya luruh.Kami berdiri saling berhadapan.“Aku ingin meminta maaf,” ucapnya.Aku tidak segera menjawab. Kuberi ia ruang untuk menyelesaikan kalimatnya.“Mengenai makanan untuk Adrian yang pernah kamu titipkan padaku ....” Ia berhenti sejenak, menarik napas. “Aku tidak pernah menyampaikannya.”Aku tidak benar-benar terkejut. Namun tetap saja, dadaku terasa seperti dihantam sesuatu yang keras saat pengakuan itu keluar langsung dari bibirnya.“Aku iri,” lanjutnya lirih. “Merasa masih punya kesempatan, aku sempat

  • Gadis Kesayangan Tuan Adrian   Masa Depan Tidak Lagi Menakutkan Saat Aku Bersamamu

    Bab 127Aku tidak pernah menyangka bahwa kejutan besar masih menungguku.Tuan Adrian mengungkapkan sebuah kebenaran tentang diriku, bahwa aku adalah anak kandung ayahku.Selama ini, ayah hanya salah paham terhadap ibuku. Aku adalah darah daging mereka.Tidak pernah ada perselingkuhan. Ibuku tidak bersalah. Ia hanya difitnah. Hasil tes DNA-ku telah dipalsukan oleh nenekku sendiri.Mengetahui semua itu, aku bergegas meninggalkan tempat tidur dan bersiap mencari ayah. Aku ingin menjelaskan segalanya. Aku ingin ia tahu kebenaran yang selama ini mengurung kami dalam luka.Namun, belum sampai aku meninggalkan rumah, aku melihat ayah sudah menungguku di ruang tamu.Ayah yang semula duduk segera berdiri saat melihatku. “Melati ....”Aku berlari kecil menghampirinya. “Ayah ....”Kami saling mendekat tanpa perlu aba-aba. Pelukan itu terjadi begitu saja, erat, lama, dan penuh isak yang tidak lagi bisa ditahan.Sudah begitu lama aku mendambakan momen ini. Ini adalah pengalaman pertamaku, merasaka

  • Gadis Kesayangan Tuan Adrian   Segalanya Berakhir

    Hari ini, kebenaran tidak lagi dibungkus rapi. Ia berdiri telanjang, tanpa bisa disangkal.Nama Nyonya Vanya disebut berkali-kali oleh petugas kepolisian. Laporan demi laporan dibacakan.Penyalahgunaan wewenang di perusahaan, penggelapan, manipulasi dokumen, serta tekanan terhadap pihak internal, semuanya memiliki bukti yang konkret dan tak terbantahkan.Selama ini, Nyonya Vanya memang sudah mempersiapkan segalanya dengan rapi. Namun ... siapa sangka, ternyata semua tidak berjalan semulus yang ia harapkan.Dan dari semua itu, ada satu poin yang membuat dadaku menegang pelan.Tentang kematian Tuan Bakrie.Ternyata, itu bukan disebabkan oleh serangan jantung seperti yang selama ini diberitakan. Melainkan, kematian itu adalah sebuah upaya pelenyapan yang dilakukan dengan sengaja oleh Nyonya Vanya.Kematian Tuan Bakrie yang begitu cepat rupanya merupakan hasil dari kesengajaan yang terencana. Semua itu terekam jelas oleh kamera rahasia milik pengawal Tuan Adrian yang terpasang di ruang pe

  • Gadis Kesayangan Tuan Adrian   Kejutan Tiada Henti

    “Ayah?”Suara itu keluar begitu saja dari bibirku, lirih. Dadaku mendadak terasa kosong, seperti ada sesuatu yang tercabut paksa.Pria itu melangkah masuk perlahan. Seringai tipis di wajahnya seolah menegaskan bahwa ia telah mengetahui segalanya, dan kini siap untuk membukanya.“A-apa—apa maksudmu?” sahut Nyonya Vanya tergagap. “Siapa kamu? Aku tidak mengenalmu.”Ayah tersenyum samar.“Kenapa Anda berpura-pura tidak mengenal saya, Nyonya Vanya?” ucapnya tenang. “Oh, atau ... haruskah saya memanggil Anda Mr. Y agar Anda ingat?”Ia berhenti sejenak, menatap Nyonya Vanya lurus-lurus.“Y itu ... inisial nama ayah Anda, bukan?” lanjutnya. “Yusa Hutama.”Nyonya Vanya diam terpaku. Dia seolah tidak bisa bersuara.Sementara itu, Tuan Adrian kembali berucap, mengungkapkan beberapa hal yang membuatku kembali dilanda keterkejutan.Dari penjelasannya, akhirnya aku memahami alasan di balik kedatangan ayahku ke Kediaman Cempaka untuk mencariku.Ternyata, Nyonya Vanya mengatasnamakan dirinya sebagai

  • Gadis Kesayangan Tuan Adrian   Malam Pengungkapan

    Usai berpelukan lama dalam diam, akhirnya Tuan Adrian berucap, “Ikutlah aku ke rumah utama.”Aku menarik diri dari pelukannya. Kutatap kedua matanya, meminta kejelasan atas apa yang kudengar barusan.“Ada yang harus kamu ketahui,” ucapnya menjelaskan.Nada suaranya tenang, tetapi sorot matanya menyimpan sesuatu yang tidak bisa kuterjemahkan. Tampak seperti ada keputusan bulat yang telah ia ambil.Aku tidak tahu alasannya, dan entah kenapa, aku juga tidak merasa punya keberanian untuk bertanya. Aku hanya patuh dan mengikutinya, seperti yang selalu kulakukan.Setelah ajakan itu ... malam itu juga aku dan Tuan Adrian menuju kediaman utama Keluarga Hartono.Begitu mobil memasuki halaman, suasana dingin langsung menyergapku. Rumah itu seolah menyambut kami dengan keheningan yang tidak ramah.Kami berdua masuk dan langsung menuju ruang tengah. Di sana, ternyata Nyonya Vanya dan Nona Amara sudah menunggu.“Adrian.”Nyonya Vanya langsung bangkit dari duduknya dan menghampiri Tuan Adrian. Ia m

  • Gadis Kesayangan Tuan Adrian   Tempat Bersandar

    Upacara pemakaman Tuan Bakrie dilangsungkan tertutup.Seorang pengawal menghentikan langkahku, ketika aku dan para nona akan mengikuti peti jenazah keluar dari aula.Tidak ada penjelasan panjang. Hanya satu kalimat singkat dan kaku, bahwa tidak ada seorang pun yang boleh ikut selain Tuan Adrian, adiknya, serta pengawal masing-masing.Aku berdiri terpaku. Dari kejauhan, kulihat Tuan Adrian sudah melangkah keluar ruangan dengan punggung tegap. Rasanya, seperti semua kekacauan yang terjadi beberapa waktu lalu sama sekali tidak meninggalkan bekas apa pun untuknya.Entah kenapa, aku merasa aneh. Bukan karena kesedihan atas kematian Tuan Bakrie, melainkan karena sunyi yang terasa terlalu disengaja.Pemakaman ini ... terlalu steril. Terlalu tertutup, seolah ada sesuatu yang sengaja disembunyikan dari dunia luar.Namun aku segera menepis pikiran itu. Aku tidak ingin berpikir berlebihan. Hari ini sudah cukup berat tanpa harus menambah beban dengan prasangka.“Para nona, silakan kembali ke mobi

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status