แชร์

Hari yang Kacau

ผู้เขียน: Nooraya
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2025-10-09 20:11:07

Saat ini aku tengah duduk di ruang tunggu rumah sakit dengan ditemani Danu yang berdiri tidak jauh dariku. Sejak tadi jemariku tidak hentinya bergerak gelisah menunggu kabar tentang Nina.

Tidak lama kemudian, pintu ruangan di depanku terbuka. Seorang dokter dan perawat berjalan keluar melewati kami dengan disusul oleh sepasang laki-laki dan perempuan yang kini berhenti di hadapanku dan Danu.

Degup jantungku semakin keras. Tanpa bertanya, aku pun tahu siapa mereka, kedua orang tua Nina.

Si ibu menatapku tajam, sorot matanya bagai pisau yang siap merobek kulitku kapan saja. “Kamu yang namanya Melati?” Suaranya terdengar dingin.

Aku tercekat. “I-iya ... Tante.”

“Panggil aku Nyonya.” Ibu Nina mengoreksi.

Aku menundukkan pandangan sembari menelan ludahku sendiri.

Dari ekor mata, kulihat Danu melangkah maju. Dengan suara tenang namun mantap ia berkata, “Maaf ... Nyonya dan Tuan Hatmoko, benar?”

Pasangan itu menoleh pada Danu, menunggu penjelasan.

Danu kembali melanjutkan, “Izinkan saya memperkenalkan diri. Saya Danu, asisten Tuan Adrian Hartono.”

“Oh, jadi perempuan ini salah satu simpanan Adrian?” Suara berat Tuan Hatmoko terdengar penuh cemooh.

Aku refleks menatapnya, tidak terima disebut seperti itu. Namun belum sempat aku mengatakan apapun, Danu sudah mendahuluiku. 

“Tuan ... saya harap, Tuan dan Nyonya bijak dalam menggunakan kata.”

“Tch!” Tuan Hatmoko mendengus tajam. “Untuk apa berhati-hati terhadap perempuan liar sepertinya? Dia sudah membuat putriku masuk rumah sakit!”

“Saya tahu, apa yang terjadi memang sangat disayangkan,” ungkap Danu hati-hati. “Atas nama Tuan Adrian, saya ingin meminta maaf kepada Tuan dan Nyonya. Dan Nona Melati ...,”—Danu menoleh padaku—“saya yakin, ia tidak bermaksud menyakiti Nona Nina. Betul begitu bukan, Nona?”

Aku mengangguk cepat. “I-iya. Saya sungguh tidak sengaja. Saya ... benar-benar minta maaf.”

Namun, permintaan maafku sepertinya tidak bisa mereka terima begitu saja. Nyonya Hatmoko masih menatapku penuh ketidaksenangan.

Danu kembali berucap penuh kerendahan hati. “Sebagai bentuk penyesalan, Tuan Adrian akan bertanggung jawab penuh atas semua biaya pengobatan Nona Nina. Jadi, mohon—”

“Bertanggung jawab penuh?” Tuan Hatmoko memotong dengan nada suara tinggi. “Jangan kalian pikir kami akan menerima itu, dan masalah selesai. Anak perempuanku hampir mati, asal kau tahu! Kau kira itu bisa ditebus hanya dengan uang? Tidak semudah itu. Kami akan bawa masalah ini ke jalur hukum.”

Aku tercekat. Rasanya udara di ruang tunggu ini hilang. Aku ingin membuka mulut untuk memohon, tetapi lidahku kelu.

Danu masih berusaha membujuk. “Tuan, saya mohon pertimbangkan kembali. Selama ini Hatmoko Corp. Dan Hartono Grup memiliki hubungan yang baik. Jangan sampai karena masalah ini hubungan keduanya menjadi renggang.”

“Aku tidak peduli. Kalian pikir ... kalian itu superior, huh? Sehingga kalian berpikir bahwa kami akan takut kehilangan hubungan baik dengan Hartono Grup?”

Danu sejenak terdiam. Kemudian, ia menarik napas dan tersenyum tipis. “Tidak, Tuan. Saya tidak berani. Saya hanya berharap Tuan berpikir matang sebelum mengambil keputusan.”

Kali ini Nyonya Hatmoko menyerang dengan nada lebih tajam. “Bukankah Tuan Adrian itu terkenal sangat disiplin dan tegas? Lalu, kenapa sekarang kalian malah meminta damai untuk kesalahan perempuan ini? Seistimewa itukah dia?

“Aku tahu Tuan Adrian suka mengoleksi perempuan untuk kesenangannya, tapi aku sungguh heran, bagaimana bisa dia membiarkan perempuan liar ini berada di tempat beradab seperti Cahaya Bangsa? Benar-benar tidak cocok.”

Kata-kata kasar Nyonya Hatmoko menampar wajahku. Mataku panas, berair, tetapi aku berusaha menahannya agar tidak jatuh. Apa sungguh sehina itu aku di mata mereka?

“Nyonya.” Suara Danu tidak tinggi, tetapi cukup dingin. Sudah tidak ada lagi senyum di wajahnya. “Saya rasa sudah cukup. Jaga ucapan Anda. Bagaimanapun, saat ini Nona Melati adalah tanggung jawab Tuan Adrian. Dan percayalah, Tuan Adrian tidak akan tinggal diam jika ada yang menyinggungnya.”

Suasana mendadak menegang. Untuk beberapa saat, hanya keheningan yang menyelimuti.

Sebelum akhirnya, Tuan Hatmoko hanya mendecakkan lidah, lalu membawa istrinya pergi. “Kami harap Tuan Adrian tidak akan bertindak mengecewakan!”

**

Perjalanan pulang ke rumah Cempaka terasa panjang. Mobil yang membawa kami dipenuhi keheningan. Danu duduk di kursi depan, sementara aku di kursi belakang, menatap jalanan dari balik kaca jendela.

Tepat ketika kami tiba di kediaman Cempaka, Danu yang melihat ekspresiku pun berkata, “Silakan beristirahat, Nona. Tidak perlu terlalu mencemaskan persoalan dengan Nona Nina. Tuan Adrian telah berpesan bahwa beliau sendiri yang akan menanganinya.”

Aku menunduk sejenak, lalu memberanikan diri bertanya, “Kak Danu... apakah aku sudah terlalu merepotkan Tuan Adrian?”

Danu menoleh sebentar, tersenyum tipis. “Tidak, Nona. Sejujurnya, ini bukan lagi perkara antara Anda dan Nona Nina. Persoalan ini sudah menyangkut Tuan Hatmoko dan Tuan Adrian.”

Aku masih belum sepenuhnya memahami, tetapi aku hanya bisa mengangguk pelan. “Baiklah.”

Namun, walau bibirku mengatakan itu, ternyata semalaman aku berakhir tidak bisa tidur karena masalah tersebut. 

Pikiranku terus kembali pada kejadian tadi siang di kampus, serta tatapan penuh benci dari orang tua Nina.

Saat bangun dengan kantong mata gelap, aku pun menarik napas panjang, lalu menghembuskannya kasar. “Aku harus menemui Tuan Adrian dan meminta maaf.”

Berpikir demikian, aku pun lekas bersiap-siap pergi ke rumah utama untuk melakukan tugasku. 

Saat bertemu Sekar di lantai bawah, aku pun berkata, “Di mana makanan untuk sarapan Tuan Adrian? Biar aku antarkan.”

“E ... Nona,”—Sekar terlihat ragu—“Tuan Adrian berpesan bahwa ... beliau tidak ingin bertemu dengan Nona.”

Aku terdiam, seketika tidak bisa lagi tersenyum. Ada perasaan kecewa dan juga takut, takut Adrian benar-benar marah padaku karena kejadian kemarin.

“Jangan tersinggung atau sedih, Nona. Tuan Adrian hanya—”

“Tidak.” Aku berucap tegas, “Aku akan tetap menemuinya.”

Gampang menyerah itu bukan sifatku. Pokoknya, aku harus memberitahukan kejadian sebenarnya antara aku dan Nina. Aku tidak boleh membuat Tuan Adrian salah paham.

Aku melangkah cepat menuju rumah utama. Sekar terus berusaha menahanku, tetapi aku sama sekali tidak menghiraukannya.

Semakin dekat aku berjalan, semakin kuat pula degup jantungku. Dan ketika sampai di depan kamar Tuan Adrian, tanpa pikir panjang aku langsung masuk ke kamarnya tanpa mengetuk pintu.

“Tuan Adrian, aku ingin bicara tentang Nina dan minta—”

Belum selesai berucap, kalimatku terhenti saat mataku menemukan sebuah pemandangan mengejutkan dalam ruangan.

Berdiri membelakangiku, terlihat tubuh tinggi tegap Tuan Adrian hanya berbalut handuk yang melingkar di pinggang di hadapan cermin ruangan.

Dengan butiran air yang masih menetes dari rambutnya yang basah, sosok itu sungguh menggoda. 

Aku terpaku, dan tanpa sengaja mata serta mulutku terbuka lebar.

“Oh ....” Sadar ada kata yang keluar dari mulutku, aku pun segera membekap mulutku. 

Namun sial, sosok pria yang kukagumi itu sudah terlanjur menyadari keberadaanku.

Dia berbalik ke arahku. “Melati.”

Maniknya menggelap selagi dia berkata, “Apakah memasuki ruang pribadi orang lain adalah kebiasaan burukmu?”

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Gadis Kesayangan Tuan Adrian   Tanpa Perantara

    Pagi di Rumah Jelita berjalan seperti biasa. Cahaya matahari masuk melalui celah manapun di rumah ini.Aku berdiri di dapur, mengenakan celemek, dan menyiapkan bahan-bahan dengan gerakan terukur. Tanganku bergerak seperti biasa, mencuci, memotong, dan juga menata.Namun, ada sedikit yang berbeda hari ini. Pikiranku tidak lagi setenang hari-hari sebelumnya.Aku memasak, bukan karena kebiasaan, bukan pula karena harapan. Hari ini, aku memasak dengan kesadaran penuh.Setiap bahan yang kugunakan kuperiksa dua kali. Setiap langkah kucatat di kepalaku, seolah aku sedang menyiapkan sesuatu yang jauh lebih penting daripada sekadar makanan.Sesekali, aku melirik jam di dinding. Masih cukup pagi, jadi tidak perlu terburu-buru.Aku kembali menekuni masakanku.Mulai hari ini, aku tidak akan lagi menitipkan apa pun pada siapa pun. Masakan ini akan kuantar sendiri kepada Tuan Adrian, atau setidaknya sampai ke tangan Kak Danu selaku orang kepercayaannya.“Melati.”Suara itu datang tiba-tiba dari bel

  • Gadis Kesayangan Tuan Adrian   Hati yang Tidak Pernah Sampai

    Bab 115Sendok Tuan Adrian masih tertahan di udara. “Memangnya, sebelum ini kamu memasak sesuatu untukku?”Pertanyaan itu melayang ringan, nyaris terdengar biasa. Namun bagiku, kalimat itu jatuh seperti benda berat yang menghantam dada.Aku menatapnya tanpa berkedip, berusaha mencerna maksud di balik kata-katanya. Senyum tipis yang tadi sempat muncul di wajahku perlahan memudar.“Saya ...,” suaraku tercekat, “... memasak setiap hari untuk Tuan.”Ruangan itu kembali sunyi. Tidak ada yang bersuara, dentingan alat makan pun tidak ada.Tuan Adrian menatapku tajam, tetapi tidak keras. Lebih seperti ... heran“Setiap hari?” ulangnya pelan.Aku mengangguk. “Iya. Sudah seminggu ini.”Ia kembali menyendok makanan. “Kamu yakin?” tanyanya singkat, lalu menyuapkan makanan itu ke mulutnya.Aku terdiam.Tuan Adrian kembali mengungkapkan, “Aku hanya sekali menerima makanan darimu, dan itu sudah seminggu yang lalu melalui sopir pribadimu. Setelah itu, aku meminta Danu menyampaikan padamu agar tidak p

  • Gadis Kesayangan Tuan Adrian   Di antara Perempuan yang Mencintai

    “Amara, Melati. Kalian di sini rupanya.”Nyonya Vanya tetap membiarkan tangannya bertengger di lengan Tuan Adrian, seolah sengaja mempertahankannya agar aku dan Nona Amara dapat melihatnya dengan jelas.Tidak ada yang segera bergerak. Kak Danu pun menahan tombol lift agar pintunya tetap terbuka.Nona Amara menyahut, “Kalian mau pergi?” Nada bicaranya santai, nyaris terdengar tanpa emosi.“Kami akan pergi makan siang,” jawab Nyonya Vanya singkat.“Oh ... pas sekali,” ujar Nona Amara.Aku menoleh sekilas ke arah Nona Amara untuk mencoba membaca ekspresinya. Namun, ia hanya menampilkan senyum tipis yang sulit kuterjemahkan.“Bagaimana kalau kita makan bersama saja?” lanjutnya. “Hari ini kami membawa makan siang cukup banyak.”Nyonya Vanya menyahut, “Maaf, tapi kami sudah memesan restoran.” Ia kemudian menarik lengan Tuan Adrian, berniat melangkah keluar dari lift.Awalnya, aku mengira Tuan Adrian akan mengikutinya. Namun, ia justru tetap berdiri di tempat.Kening Nyonya Vanya mengerut. “

  • Gadis Kesayangan Tuan Adrian   Saat Hati Tersayat Pelan

    Saat semua makanan selesai dikemas, aku menatap kotak makan yang kali ini lebih besar dari biasanya. Aku mengambil satu kertas note dan kembali menuliskan pesan seperti hari-hari sebelumnya.Melalui pesan yang kutulis, aku memberi tahu Tuan Adrian bahwa makanan hari ini bukan hanya buatanku, melainkan ada tangan-tangan lain yang ikut bekerja.Ada ketulusan para nona yang mungkin tidak pernah Tuan Adrian lihat sebelumnya. Jadi, aku ingin ia bisa melihat dan merasakannya sekarang.“Jika Tuan masih belum mau memaafkan saya, tidak apa. Saya mengerti. Namun, tolong makanlah makanan ini. Bukan untuk saya, tetapi untuk para nona, untuk menghargai ketulusan mereka.”Aku berhenti menulis sejenak, lalu menambahkan satu paragraf terakhir. Kalimat yang sejak awal ingin kusampaikan.“Tuan, saya tidak meminta banyak. Saya juga tidak akan meminta Tuan mencintai saya sekarang juga. Cukup beri saya kesempatan saja, untuk membuktikan bahwa perasaan saya sungguh-sungguh kepada Tuan, dan di hati saya han

  • Gadis Kesayangan Tuan Adrian   Hidangan untuk Hati yang Diam

    (Pov Melati)Setelah kegiatan sarapan di Rumah Jelita selesai, semua nona pun memulai aktivitas mereka masing-masing. Hanya aku yang tidak memiliki kegiatan apa pun di rumah ini, sehingga ... kini aku hanya berdiri diam di tepi kolam renang sambil berpikir.Aku tidak bisa terus menunggu. Jika aku ingin menyelamatkan Tuan Adrian dari Nyonya Vanya, dari permainan kotor yang mengintai keluarga Hartono, dan dari kesepian yang ia bangun sendiri, maka aku harus bergerak lebih dulu.Pemikiran itu tidak datang dengan tiba-tiba. Ia lahir dari malam yang panjang sebelumnya. Buah dari kesadaran yang akhirnya muncul dari balik rasa takut.Kesadaran itu pun lantas menumbuhkan sebuah tekad yang kemudian membawaku menuju dapur, mengikat rambutku, mengenakan celemek, lalu mulai menyiapkan bumbu.Bukankah aku harus melakukan sesuatu? Jadi, mulai hari ini aku akan memulainya dengan memasak makan siang untuk Tuan Adrian.Aku akan merebut hatinya melalui apa yang masuk ke perutnya.Tanganku bergerak tanp

  • Gadis Kesayangan Tuan Adrian   Sore Itu

    (Pov Adrian)Pukulan datang tanpa peringatan, menghantam rahangku dengan keras. Kepalaku terpelanting dan tubuhku terhuyung beberapa langkah ke belakang. Rasa nyeri menyambar cepat, disusul rasa logam di lidah.Aku mengangkat wajah, melihat siapa yang memiliki tenaga begitu kuat dan berani melakukannya padaku.Arga.Pria itu menatapku tajam dengan napasnya yang memburu. Seluruh tubuhnya tegang seperti tali yang ditarik terlalu keras, sementara tangannya masih mengepal di samping tubuhnya.“Dasar berengsek kau, Adrian.”Aku menyeka sudut bibirku dengan punggung jari. Darah menempel di kulitku.Belum sempat aku membuka mulut, suara lain menyela tajam dan panik. “Arga!”Vanya melangkah cepat ke arah kami, meraih lengan Arga dan menariknya mundur. “Apa yang kau lakukan?”Dia lantas berdiri di antara kami, seolah menghalangi sang adik agar tidak kembali mendekatiku. Wajahnya terlihat memucat, tetapi aku yakin itu bukan karena terkejut, melainkan takut jika keributan kami menarik perhatian

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status