Share

Keputusan

Penulis: Senjaaaaa
last update Tanggal publikasi: 2026-02-09 10:54:39

Anya membuka matanya perlahan.

Langit-langit putih vila itu terasa asing. Kepalanya berdenyut hebat, seperti ada palu yang memukul dari dalam. Belum sempat ia benar-benar sadar, jemarinya sudah ditangkap oleh tangan hangat.

“Kamu bangun…” suara Leon serak, penuh lega. “Aku khawatir banget.”

Anya mengerjap, lalu refleks memegang kepalanya sendiri. Potongan ingatan itu menghantamnya tanpa ampun kamera kecil, layar gelap, bayangan dirinya dan Nares. Napasnya tersengal.

Ia menggeleng keras dan
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Gadis Kesayangan si Raja Neraka   118

    Setelah turun dari mobil, Anya langsung menggenggam tangan Kyan dan Kiara lalu berjalan menuju rumah. Namun baru beberapa langkah, Kyan tiba-tiba menarik pelan ujung baju ibunya. “Mama…” Wajah bocah itu merah sampai ke telinga. Bahkan ia terlihat salah tingkah sambil menunduk malu-malu. Anya menoleh bingung. “Apa?” Kyan menggigit bibirnya kecil lalu berkata pelan, “Om ganteng tadi… panggil aku sayang…” Kiara yang berjalan di sisi lain langsung ikut memeluk lengan Anya sambil tertawa malu-malu. Wajah kecilnya ikut merah. “Aku juga dipanggil sayang…” gumamnya pelan. Anya langsung menatap kedua anak itu beberapa detik sebelum menghela napas geli. “Tiap hari Mama juga panggil kalian sayang.” Ia menyipitkan mata curiga. “Tapi kalian nggak pernah malu kayak gitu.” Kyan dan Kiara langsung menjerit malu bersamaan lalu memeluk kaki Anya erat-erat sambil tertawa kecil. “Kan beda…” gumam Kyan. “Iya… Om ganteng soalnya…” tambah Kiara polos. Anya langsung memijat pelipis. “Ya Tuhan

  • Gadis Kesayangan si Raja Neraka   117

    Sebuah suara bariton terdengar dari arah depan. “Mama…?” Langkah mereka langsung terhenti. Kyan dan Kiara spontan menoleh bersamaan.nSementara wajah Anya perlahan berubah datar saat melihat siapa yang berdiri beberapa meter di hadapan mereka. Nares. Pria itu melangkah perlahan. Tatapannya jatuh pada Kyan dan Kiara beberapa detik sebelum kembali menatap Anya. “Mama?” ulangnya pelan. “Mereka berdua anakmu?” Suasana langsung berubah aneh. Anya melirik Juan yang berdiri di sampingnya. Sementara dalam hati Juan terasa seperti ada sesuatu yang menghantam keras. Dia… kembali? Tatapan Juan langsung berubah waspada. Sedangkan Nares kini melirik Juan sinis. Ada rasa kesal sekaligus penasaran dalam matanya. Anak Anya sama dia? Juan segera mengusap kepala Kyan lalu berkata lembut, “Sayang, panggil Om.” Kyan langsung tersenyum manis pada Nares. “Om… kamu sangat tampan.” Kiara langsung ikut mengangguk semangat. “Benar! Wajah Om ganteng banget!” Nares sedikit terd

  • Gadis Kesayangan si Raja Neraka   116

    Anya berjalan menuruni tangga sekolah dengan langkah perlahan. Tangannya menggenggam tangan kecil Kyan erat, sementara Kiara berada dalam gendongan Juan sambil memeluk leher pria itu manja. Suasana yang tadi penuh amarah perlahan mulai mereda. Anya menoleh pada putranya lalu berkata lembut, “Masalah hari ini bukan salahmu. Ibu nggak akan nyalahin kamu.” Kyan langsung mendongak. Wajah kecilnya masih sedikit cemberut, tapi matanya berbinar mendengar ucapan itu. “Aku tahu,” katanya penuh percaya diri. “Mama memang paling baik.” Kiara langsung ikut mengangguk cepat dari gendongan Juan. “Kyan benar. Mama memang terbaik!” Juan tertawa kecil mendengar keduanya kompak membela ibunya. “Itu sebabnya aku sangat menyukai ibu kalian.” Anya langsung melirik Juan malas. “Jangan ngomong sembarangan di depan anak-anak.” Namun Kyan justru langsung menyeringai jahil. “Ayah Juan suka Mama lagi…” Kiara langsung ikut menimpali dengan mata bulat polosnya. “Ayah Juan nanti nikah sama Mama?” Jua

  • Gadis Kesayangan si Raja Neraka   115

    “Sekarang sudah mengerti belum?”Guru itu langsung mengangguk cepat. “Sudah, Bu… sudah.”Anya tersenyum tipis lalu melirik wanita paruh baya itu sambil mengangguk pelan penuh kemenangan. Sementara itu Kyan dan Kiara langsung menjulurkan lidah ke arah Ronald dengan wajah puas. Juan sendiri sampai harus memalingkan wajah karena menahan tawa. Kekalahan telak wanita tua itu benar-benar memalukan.Namun wanita paruh baya itu menghentakkan kaki dengan kesal. Wajahnya merah padam menahan malu.“Anya! Kau sombong apa? Bahkan kau sudah dibuang oleh keluarga Mahesa!” bentaknya. “Dan sekarang kau malah punya dua beban kecil!”Ia menunjuk Kyan dan Kiara dengan sinis.“Kau pikir dengan masa lalumu itu masih bisa menikah dengan orang kaya dan menjamin hidup dua bocah sialan itu? Hah? Siapa yang kasih kau muka setebal ini? Apalagi kau berani menamparku!”Anya langsung membentak balik.“Bukannya itu kau?”Ruangan langsung hening.“Muka sebesar dan setebal itu terus maju mendekat. Kalau nggak ditampar

  • Gadis Kesayangan si Raja Neraka   114

    Saat Anya hendak pergi, Nares tiba-tiba menarik tangannya kuat hingga tubuh wanita itu terhuyung dan menabrak dada bidang pria tersebut. Belum sempat Anya mengeluh, Nares sudah menangkup pinggangnya, menarik wajah itu semakin dekat. Tatapannya tajam, penuh rasa possessif yang nyaris menyesakkan.“Aku belum selesai sama kamu,” gumamnya pelan.Nares menunduk hendak mencium bibir Anya lagi, namun tiba-tiba ponsel Anya berdering nyaring.Anya langsung menoleh. Nama wali kelas Kiara dan Kyan muncul di layar.Entah kenapa, dada Anya langsung terasa tidak enak. Ia buru-buru mengangkat telepon itu.“Halo, Bu?”Di seberang sana terdengar suara panik.“Bu Anya bisa datang ke sekolah sekarang? Kyan berkelahi… dan Kiara menangis dari tadi, tidak bisa berhenti.”Wajah Anya langsung pucat.“Apa?”Anya langsung mendorong tubuh Nares tanpa pikir panjang. Wajahnya yang tadi masih kesal kini berubah penuh kecemasan.“Kyan berantem…” bisiknya panik.Ia bahkan tidak peduli lagi pada Nares. Tidak peduli p

  • Gadis Kesayangan si Raja Neraka   113

    Nares masih bertelanjang dada saat jemarinya menyentuh ujung hidung Anya yang kini terkurung di dalam pelukannya. Wajah pria itu tampak begitu cerah, bahkan ia terkekeh pelan melihat reaksi Anya yang geli. Namun ketika jarinya turun menyentuh bibir Anya, wanita itu bergerak lalu perlahan membuka mata. Begitu menyadari wajah Nares berada sangat dekat di hadapannya, Anya langsung terkejut setengah mati. "Eh… kamu gila, ya?" katanya spontan sambil menggeser wajah, berusaha menjauh sedikit. Alih-alih melepaskan, Nares justru menarik lengannya kembali. Senyum jahil terukir di bibirnya. "Ya, aku memang gila," ucapnya santai. "Nona Anya mau obati aku nggak?" Wajah Nares semakin mendekat. Refleks, Anya menarik selimut hingga menutupi dadanya. Tatapan pria itu benar-benar seperti binatang buas yang siap menerkam kapan saja. Dan tepat saat Nares hendak mencium bibirnya, Anya buru-buru menahan leher pria itu dengan kedua tangan. "Kau benar-benar sudah gila," gerutunya. "Aku harus pergi. A

  • Gadis Kesayangan si Raja Neraka   Kilatan Petir Membawa Ketakutan

    Semua pelayan berjajar rapi di halaman mansion saat mobil berhenti. Pintu mobil dibukakan oleh kepala pelayan, Pak Liem, dengan sikap hormat. “Silakan, Tuan.” Pak Liem membantu mengeluarkan kursi roda. Namun sebelum Anya dipindahkan, Nares sudah lebih dulu memangku tubuh Anya dengan hati-hati,

  • Gadis Kesayangan si Raja Neraka   Tak Sadar Bertemu Juan

    Langkah Anya terasa berhenti meski kursi rodanya masih bergerak. Dadanya bergetar. Bukan takut. Bukan marah. Sesuatu yang aneh. Seperti ada tarikan halus di dalam tubuhnya. Getaran yang membuat napasnya tercekat. Tangannya refleks menegang. Nares langsung menyadarinya. Ia berhenti mendoro

  • Gadis Kesayangan si Raja Neraka   Menuduh Pelayan

    Untuk menghindari Rosa yang bisa datang sesuka hati dan kembali membuat onar, Nares memutuskan membawa Anya ke mansion miliknya. Beberapa hari yang lalu... Nares baru saja masuk ke rumah tua keluarga Mahesa. Langkahnya berat, wajahnya dingin. Di ruang tengah, Jhon sudah menunggunya dengan eksp

  • Gadis Kesayangan si Raja Neraka   Keluar Dari Rumah Sakit

    Anya dan Leon masih tertawa kecil, membahas hal-hal konyol yang hanya mereka berdua anggap lucu. Leon bahkan sampai menepuk paha sendiri, sementara Anya menutup mulutnya menahan tawa. Di sudut ruangan, Nares berdiri dengan tangan terlipat di dada. Raut wajahnya makin mengeras. Set

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status