Share

Kopi Beracun

Penulis: Senjaaaaa
last update Tanggal publikasi: 2026-01-23 20:50:30

Anya membungkuk.

Kepalanya bertumpu di atas lengan yang tergeletak di meja kerja Nares. Matanya terasa berat, kelopak itu berjuang sebentar sebelum akhirnya menyerah. Lampu ruangan terasa makin redup, suara AC berubah menjadi dengung jauh.

Lalu… gelap.

Anya tertidur pulas. Bukan tidur yang manja, tapi tidur orang yang lelah jiwa dan raganya.

Pintu ruang kerja terbuka.

“Nanti berkas ini kirim ke legal malam ini,” suara Nares terdengar tegas.

“Iya, Tuan,” jawab Jhon sambil mengikuti masuk.

Nares
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Gadis Kesayangan si Raja Neraka   130

    Sepanjang perjalanan pulang, suasana di dalam mobil terasa begitu sunyi.Biasanya, Kiara akan terus berceloteh tanpa henti. Menceritakan kupu-kupu yang ia lihat di jalan, bentuk awan yang menurutnya menyerupai kelinci, atau sekadar bertanya hal-hal aneh yang membuat Anya tertawa.Sementara Kyan selalu punya sesuatu untuk dikeluhkan.Entah cuaca yang terlalu panas.Atau jalanan yang terlalu bergelombang.Namun hari ini tidak ada suara itu.Kyan dan Kiara duduk berdampingan di kursi belakang. Sesekali mereka saling melirik, lalu kembali menunduk.Mereka memang baru berusia empat tahun.Tetapi anak-anak sering kali mampu merasakan sesuatu yang tidak dapat dijelaskan oleh orang dewasa.Mereka melihat wajah ibunya yang pucat.Melihat jemari wanita itu mencengkeram setir terlalu erat hingga buku-buku jarinya memutih.Dan mereka tahu...Mama sedang tidak baik-baik saja.Perlahan, Kiara menggeser tangannya.Meraih jemari kecil Kyan.Kyan tidak berkata apa-apa.Ia hanya membalas genggaman itu.

  • Gadis Kesayangan si Raja Neraka   129

    Drama akhirnya mencapai bagian penutup.Kiara yang berperan sebagai kancil berdiri dengan kedua tangan di pinggang sambil berkata lantang,"Nah! Sekarang aku bisa menyeberang sungai!"Sementara para "buaya" kecil yang menjadi korban tipu dayanya langsung menjatuhkan diri ke lantai secara dramatis."Aduh!""Aku ditipu!""Jahat sekali kancil!"Salah satu anak bahkan lupa bahwa dirinya sudah kalah dan malah melambai ke arah ibunya di bangku penonton.Aula langsung pecah oleh tawa.Di sisi lain panggung, Kyan yang masih mengenakan kostum pohonnya akhirnya mengangkat tangan."Aku boleh duduk sekarang?"Seluruh aula meledak.Tepuk tangan dan gelak tawa menggema ke seluruh ruangan.Guru-guru sampai menahan wajah karena malu sekaligus gemas.Dan saat tirai ditutup...Tepuk tangan membahana.Sangat meriah.Semua orang berdiri.Bertepuk tangan untuk anak-anak yang tampil dengan begitu lucu.Bahkan tanpa sadar...Nares ikut bertepuk tangan.Beberapa kali.Tatapannya masih tertuju pada panggung y

  • Gadis Kesayangan si Raja Neraka   128

    Anya melirik jam dinding yang tergantung di ruang kerjanya.09.30.Ia mengembuskan napas panjang.Hari ini ia memang tidak bisa terus bekerja.Sejak seminggu lalu yayasan tempat Kyan dan Kiara belajar sudah mengirim undangan resmi kepada seluruh wali murid.Pemilik yayasan yang baru akan datang.Akan ada acara penyambutan.Dan yang paling penting...Kyan dan Kiara akan tampil dalam drama.Meskipun pekerjaan masih menumpuk, Anya tidak mungkin melewatkan momen itu.Ia mematikan mesin jahit lalu berdiri."Bu Susan."Wanita paruh baya itu segera menoleh dari meja pemotongan kain."Iya, Nona?""Saya harus ke yayasan."Susan langsung mengangguk."Oh iya, hari ini penampilan Kyan dan Kiara, kan?"Wajahnya langsung berseri-seri."Keduanya pasti lucu sekali."Anya tersenyum tipis.Ia lalu menunjuk beberapa pesanan yang sudah dipisahkan."Kalau ada pelanggan datang, tolong catat ukurannya.""Baik.""Dan paket yang ini dikirim sore nanti."Susan mengangguk cepat."Serahkan saja pada saya."Anya

  • Gadis Kesayangan si Raja Neraka   127

    Pagi itu, sebuah iring-iringan mobil hitam memasuki jalan utama sebuah kota kecil di pesisir.Di dalam mobil paling depan, Nares duduk sambil menatap layar tabletnya.Jhon yang duduk di sampingnya masih terlihat sedikit bingung.Sebenarnya sampai sekarang ia tidak mengerti keputusan atasannya."Tuan.""Hm."Jhon melirik dokumen di tangannya."Maaf jika lancang, tapi saya masih penasaran."Nares mengangkat sebelah alis."Penasaran apa?""Kenapa Tuan membeli yayasan ini?"Sunyi sesaat.Jhon memang sudah lama bekerja untuk Nares.Karena itulah ia tahu.Biasanya Nares tidak pernah mengambil keputusan tanpa alasan yang jelas.Namun kali ini berbeda.Beberapa minggu lalu, Nares secara tidak sengaja melihat sebuah iklan sederhana di internet.Iklan penggalangan dana untuk sebuah yayasan pendidikan anak-anak di kota kecil yang hampir tidak dikenal siapa pun.Bangunannya tua.Fasilitasnya terbatas.Donaturnya sedikit.Tidak ada keuntungan bisnis sama sekali.Namun anehnya...Saat melihat foto

  • Gadis Kesayangan si Raja Neraka   126

    Tiga bulan.Sembilan puluh hari.Dan tidak ada satu pun jejak Anya.Brak!Sebuah map melayang menghantam dinding ruang kerja.Kertas-kertas berhamburan ke lantai.Seluruh ruangan langsung membeku.Tidak ada seorang pun yang berani bernapas terlalu keras.Nares berdiri di belakang meja dengan wajah gelap.Tatapannya begitu dingin hingga membuat para bawahannya menundukkan kepala."Tiga bulan."Suaranya rendah.Namun justru itu yang membuat semua orang semakin takut."Tiga bulan dan kalian belum menemukan satu petunjuk pun?"Tidak ada yang menjawab.Karena memang tidak ada yang bisa dijawab.Nares tertawa kecil.Tawa yang sama sekali tidak mengandung humor."Kalian dibayar miliaran setiap tahun untuk apa?"Suara itu membuat beberapa orang refleks menegang."Apa aku harus mengajari kalian cara bekerja?"Seorang pria memberanikan diri maju."Tuan, kami sudah menyisir seluruh jalur transportasi yang mungkin digunakan Nona Anya.""Bandara.""Pelabuhan.""Terminal.""Stasiun.""Semuanya suda

  • Gadis Kesayangan si Raja Neraka   125

    Perjalanan panjang itu akhirnya berakhir menjelang sore. Kereta yang ditumpangi Anya berhenti di sebuah kota kecil yang jauh dari hiruk-pikuk kehidupan yang selama ini dikenalnya. Tidak ada gedung pencakar langit. Tidak ada jalan raya yang padat. Tidak ada wajah-wajah yang mungkin mengenal dirinya. Dan yang terpenting... Tidak ada Nares. Tidak ada Leon. Tidak ada Juan. Anya berdiri di tepi jalan kecil sambil menggenggam tangan Kyan dan Kiara. Angin laut berembus pelan membawa aroma asin yang khas. Tatapannya menyapu desa kecil di pinggiran kota itu. Tenang. Damai. Jauh dari semua luka yang selama ini mengejarnya. Di tempat inilah ia memutuskan untuk memulai kembali. Bukan sebagai wanita yang pernah dihancurkan masa lalu. Bukan sebagai seseorang yang terus diburu kenangan. Hanya sebagai seorang ibu. Ibu bagi Kyan dan Kiara. Dan itu sudah cukup. Beberapa menit kemudian. Mereka berhenti di depan sebuah rumah sederhana yang sebelumnya sudah dilihat Anya melalui agen

  • Gadis Kesayangan si Raja Neraka   Aku Akan Pergi

    Setelah jam kuliah berakhir, Emily langsung menuju tempat praktik ibunya. Langkahnya tergesa, pikirannya penuh. Begitu sampai, ia mengetuk singkat lalu langsung membuka pintu. Tok tok tok. “Ma...” Emily masuk dan tanpa ragu memeluk ibunya. Dr. Melita terkejut sebentar, lalu tersenyum lembut. “Ka

  • Gadis Kesayangan si Raja Neraka   Drama kampus

    Anya sudah rapi, tas tersampir di bahu, sepatu terpasang sempurna. Namun langkahnya terhenti di ruang tengah. Anya melirik ke arah tangga, menunggu. Leon sudah berdiri di dekat pintu, kunci mobil berputar-putar di jarinya. “Yuk, berangkat. Nanti telat,” katanya santai. Anya mengangguk, tapi m

  • Gadis Kesayangan si Raja Neraka   Pengakuan atau Perpisahan

    Pelukan itu masih terjadi. Nares berdiri kaku, sementara Anya tetap menempel di punggungnya. Di dalam kepalanya, sesuatu bertabrakan keras. Pergi… atau tinggal. Mengungkapkan… atau memendam selamanya. Jika ia diam, Anya akan baik-baik saja. Gadis itu akan tetap tertawa, kuliah, hidup tanpa

  • Gadis Kesayangan si Raja Neraka   Titik Terendah Nares

    Pagi masih muda ketika Nares tiba di kediaman Dito. Udara dingin belum sepenuhnya pergi. Rumah tua itu selalu memberi kesan tenang seperti tempat yang aman untuk mengambil keputusan besar. Dito sedang menikmati teh paginya ketika melihat Nares masuk. “Kamu datang pagi-pagi,” ucap Dito sambil ters

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status