Share

48.

Author: kamiya san
last update publish date: 2026-10-09 05:56:26

Idris baru bangun setelah gorden di jendela kamar kusingkap sesukaku. Dia tidak melarang dan justru bangun karena silau. Mengkin sudah sadar jika subuh hampir lewat. Tanpa bicara dia segera bangun dan melesat ke dalam kamar mandi sambil menyambar handuk. Napasku menghempas, kupikir dia akan menghardik, ternyata tidak.

Tidak lama, Idris keluar kamar mandi dengan santai sambil menggosok rambut yang mungkin baru dikeramas dengan handuk yang tadi disambar. Tampak terkejut dengan adanya aku yang be
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Gadis Klepto : Mencuri Hati Suami    54.

    Tangan Idris aku cengkeram kuat dengan mata rapat kupejamkan. Kakiku meloncat-loncat seperti kerasukan. Bukan lebay dan tanpa alasan. Aku lupa jika gazebo gandeng rapat dengan batang pohon jambu yang besar dan tua. Bahkan pernah juga kulihat seekor ulat bulu yang panjang sedang bergelantungan demi meluncur turun ke gazebo. Hanya melihat begitu, aku sudah merinding dan akan menangis. Siapa yang tidak panik jika begini, sedang aku memang phobia dan jijik sekali dengan segala bentuk dari hewan bernama ulat ini! Bagaimana aku bisa lupa dengan hal begini? “Tidak ada di bajumu, masuklah ke dalam rumah.” Idris telah mematikan ponsel yang tadi dinyalakan penerangnya. Dia lihat juga seluruh baju di tubuhku sebab aku sangat panik dan ketakutan. “Itu, barang-barangku, masih di gazebo.” Belanjaan dan tasku, juga ponsel, masih tertinggal di gazebo. Hanya berpikir membawa badan saja untuk lari dan selamat. “Ya ambil sana …!” hardik Idris yang seolah aku sudah menyuruhnya mengambilkan. “Nggak

  • Gadis Klepto : Mencuri Hati Suami    53. Sembunyi

    Idris keluar rumah setelah mencari-cari di pintu. Yakin jika yang sedang dicari adalah aku. Kakinya berjalan cepat menuju pintu pagar di depan sana. Kuharap lelaki itu merasa waswas dan juga gamang. Merasa bersalah dan menyesal tidak membukakan pintu dengan cepat untukku. Kini aku sudah pergi dan hilang baginya. Semoga dia menyesal! Idris sedang menatap ponsel. Sama dengan yang aku buat sekarang, memandang ponsel di tanganku yang sedang berkedip-kedip tanpa getar dan suara. Idris sedang membuat panggilan untukku. Lelaki itu berjalan lagi ke teras. Mondar-mandir di sana tanpa tujuan jelas. Duduk atau sekedar berdiri sebentar pun tidak. Dia sedang galau tingkat dewa. Mungkin sudah menyangka jika aku sedang menuju hotel murah atau sudah dibawa orang jahat. Rasain deh lu! Bugh Bugh Bugh Aku terkejut. Disaat kepalaku terpekur sejenak mengingat entah yang tak jelas, kudengar gedebuk. Kutoleh … Idris tengah berdiri menghadap tembok dan meninju. Jantungku laju berdetak. Kini jadi g

  • Gadis Klepto : Mencuri Hati Suami    52. Janji Fiktif

    Nomor ponsel mantan teman sekamarku tidak berubah. Ini membuatku mudah menghubungi setelah sempat lupa cukup lama. Memang bukan berbulan dan bertahun. Namun, tidak bertemu dalam hitungan hari atau pun minggu, sudah terasa lama bagiku.“Menemani seorang Naoto, hanya seperti itu penampilanmu?” Idris dengan mengejutkan menghadangku di pintu kamar.“Naoto menyukai gadis sederhana tanpa make up berlebihan sepertiku.” Aku berusaha tenang menyahut. Meski dadaku sedang laju berdenyut sebab sangat terkejut.“Hei suamiku ...! Ternyata kamu sudah pulang? Ingin dibantu ganti baju atau tidak?” tanyaku dengan nada yang lembut dan terkesan merayu. Jurus goda dan rayuku kembali bereaksi saat malam.Saat kembali dari penginapan, lelaki itu belum pulang. Jadi, petang ini semua aktifitas adalah di kamarku sendiri. Rina pun sudah kembali datang ke rumah dan bekerja. Kesehatannya telah pulih seperti sedia kala.“Jika ingin pergi dengan Naoto, pergi saja. Tidak perlu menyempatkan diri untuk genit padaku.”

  • Gadis Klepto : Mencuri Hati Suami    51.

    Awalnya aku ramah, melempar senyum hangat sebagai sesama pekerja dan manusia. Namun, lambat laun menyebalkan. Berbicara saja masih tidak lancar dan sepatah, tetapi sudah berani menggoda. Membuat kami para penghuni asrama pun muak dan ogah meladeni. Dulu, awal mula di sini, kupikir orang suku tamil atau dari India. Oh, ternyata dari negara Bangla … Bangladesh! Tidak heran dengan adanya mereka yang bertebaran. Di Batam, hampir semua warga negara di dunia akan didapati hidup di atas tanahnya! Entah bagaimana awalnya. Bisa jadi memang sengaja dibawa sebagai tenaga kerja, secara di Batam adalah pusat investasi yang strategis. Atau mereka datang sebagai wisatawan dan coba-coba menetap lama. Bisa jadi juga sebagai imigran gelap yang terdampar?! Saat pesanan makanku datang, Nola justru buru-buru meletak sendok dan garpu. Meneguk minum dan berdiri. Kenapa demikian tergesa, aku tidak mengerti dan sungguh merasa kecewa. “Maaf, Sha. Istirahatku lima menit lagi. Terpaksa melewati dzuhurku

  • Gadis Klepto : Mencuri Hati Suami    50. Kabar Baik

    Kupandang Nola dengan rasa berkecamuk. Seperti susah untuk percaya dengan apa yang baru saja dia bilang. Seperti tidak mungkin dan seperti hanya karangan cerita darinya. Yang aktual memang betul dan jelas tersuguh di depan mata. “Susah sekali aku percaya, Nola. Sekarang Mita direhabilitasi? Doi kena jaringan?” tanyaku masih terlalu tidak percaya. Tetapi Nola juga baru saja mengangguk akan tanyaku. Bermakna benar, Mita adalah pengguna narkoboi dan terkena razia dari petugas penginapan. Uh, keren sangat penginapan! “Iya, sekarang di rumah nggak ada Mita lagi. Bahkan di panti rehabilitasi, dia di rumah sakit. Semalam, dia mau gantung diri,” ucap Nola yang sungguh-sungguh membuatku kian kaget. “Lhoh! Ya Allah, Mita … emang apa yang bikin dia ingin bunuh diri, ogah direhabilitasi?” tanyaku ternganga. “Enggak, bukan sebab direhab. Tetapi karena diputus Pak Leonard. Nggak pernah dijenguk,” jawab Nola lirih. “Oh …,” responku lunglai. Merasa prihatin meski rasanya juga rada-rada puas

  • Gadis Klepto : Mencuri Hati Suami    49. Canda Leonard

    Dalam perjalanan menuju penginapan, sudah aku sampaikan pada atasan tentang rencanaku. Membuka total seluruh kamar di penginapan dengan harga dan pelayanan spesial. Yakni dengan penambahan servis pijat di sepuluh kamar istimewa.“Kamu atur-atur bagaimana baiknya saja, Shaqilah …,” sambut Leonard saat kubilang tentang ini.“Oke, Pak Leon. Tetapi tolong, kurasa tidak perlu mengatakan hal ini pada Tuan Naoto. Aku takut dia pindah ke kamar baru dan …,” ucapku menggantung. “Meminta servis pijat dan …,” sahut Leonard yang juga sengaja menggantung. Kami saling pandang dan tersenyum. Kemudian sama-sama terbahak tak lagi ditahan.“Aku tahu ketakutanmu, Sha. Andai bisa, sudah kutunjuk surat kleptomu pada Tuan Naoto. Agar tak perlu lagi kamu datang ke kamarnya. Kali ini aku sungguh tidak paham dengan jalan pikiran Idris.” Leonard sambil menggelengkan kepala lebih dari satu kali.“Terima kasih simpatimu, Pak Leon. Menurutmu, aku harus bagaimana, ingin sekali membuat Pak Idris menyukaiku, dia it

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status