Share

Bab 7 Suka Pria Dewasa

Author: Ratu As
last update Last Updated: 2025-10-21 10:16:51

"Arrrgggh!" Reyna sampai menjerit ketika dia dan Beny didorong dengan begitu kuat oleh lelaki yang tadi di ambang pintu sampai tersungkur ke lantai.

"Maaf saya harus kasar karena Anda menghalangi--" ucapnya sambil memberi isyarat agar Ziana cepat keluar mengikutinya.

"Kak Rey, maaf--" Ziana menunduk sebelum benar-benar melangkah, untuk gadis selugu dia, bahkan tidak berpikir buruk apa pun pada Reyna selain Reyna menahannya hanya karena pekerjaan yang akan tertunda, tidak ada niat buruk.

***

Ziana duduk di kursi penumpang dengan perasaan masih gugup dan panik, dia melirik ke arah supir di depan yang tampak tenang dan biasa saja.

"Apa keadaan Sandra benar-benar kritis?" tanya Ziana penasaran.

Lelaki itu tersenyum ramah lalu bergeleng pelan, "Maaf, saya belum tahu pasti. Pak Arhan hanya menyuruh saya untuk segera menjemput Anda, kalau diperlukan saya bahkan disuruh untuk memaksa agar Anda segera keluar dari tempat itu. Jadi, alasan saya sebelumnya hanya untuk membuat Anda mempertimbangkan lebih--"

Hah?

Bibir Ziana membulat, dia tidak menyangka jika tadi hanya sekedar akting yang cukup baik?

"Semoga keadaan Nona Sandra tidak parah--"

Ziana berdeham menampak raut yang sedikit kecewa karena sudah dibohongi, namun dia tidak ingin membahasnya dan memilih mengalihkan topik.

"Oiya, tadi aku baru saja ditelepon Pak Arhan, bagaimana bisa Anda sudah sampai begitu cepat di apartemen?"

Rasa penasarannya tidak lagi bisa ditahan, jadi dengan terburu Ziana menanyakannya.

Supir itu kembali tersenyum, "hampir setengah jam yang lalu Pak Arhan memerintah dan saya langsung pergi."

"Maksudnya Anda ke apartemen bahkan sebelum Pak Arhan menelponku--" gumam Ziana, namun tidak lagi ditanggapi oleh sang sopir karena fokus pada jalan yang membelok.

Ziana berpikir keras, jika Arhan menyuruh sopir itu datang ke apartemen setengah jam lalu... itu berarti Arhan harusnya sudah tahu posisi Ziana sebelumnya, dong! Tapi apa mungkin?

Gadis itu menerka-nerka, merasa aneh namun tidak berani untuk berpikir lebih jauh. Dia hanya merasa kalau Arhan itu orang yang rumit dan tak terduga.

Sampai di rumah sakit, Ziana berjalan dari lobi ke ruang rawat Sandra dengan tergesa. Namun saat sampai dia mendapati gadis itu sedang bertengkar dengan sepupunya.

"Hanya lecet dan keseleo, untuk apa sampai opname, Monyet!" Aziel mengumpat sambil mengacak gemas rambut Sandra.

"Tapi sakit! Dokter bilang, sekali pun cidera kecil tetap butuh waktu pemulihan! Jadi apa salahnya aku beristirahat sambil menikmati nyamannya ranjang rumah sakit," jawab Sandra dengan santai dan menepis tangan Aziel.

Aziel mengerucutkan bibir, tentu dia tidak setuju dengan pemikiran konyol sepupunya itu, Sandra jatuh saat membonceng motor Aziel, jatuhnya pun tidak keras. Motor baru melaju dan sangat lambat, saat berbelok keseimbangan Aziel goyah karena Sandra yang membonceng terus bergerak.

Sementara kaki Sandra yang keseleo itu didapat bukan karena kecelakaan, melainkan setelah jatuh Sandra mengoceh dan hendak berjalan kabur, tapi terpeleset di paving dan oleng, lalu masuk ke got.

"Zia?" Mata Sandra membulat saat di depan pintu melihat sosok sahabatnya yang berdiri bengong. "Kamu ngapain di situ?"

Ziana tersenyum canggung, lalu berjalan mendekat. "Katanya kamu kecelakaan--"

Melihat Ziana datang dengan penuh perhatian Aziel pun berdecak dan tersenyum miring, "Terlalu mengada-ngada... dia hanya kepeleset dan jatuh ke got!"

Ziana menoleh ke sumber suara, dia tidak pangling untuk mengingat cowok tengil yang pernah mendorongnya ke kolam.

"Sudah sana pergi!" usir Sandra pada Aziel. "Sudah ada sahabatku!" ketus Sandra, semakin terlihat menyebalkan di mata Aziel.

Aziel membalasnya dengan senyum mencibir dan langsung balik badan tanpa basa-basi, "Okey, aku pergi! Kalian berdua memang sangat cocok jadi bestie! Klop. Punya banyak kesamaan. Sama-sama ratu drama dan streees!"

"Heeeeeh! Jaga bicaramu Kak Aziel! Awas ya kalo kamu berani ngomong lagi, kutabok mulutmu biar tambah maju kek Kingkong!" sahut Sandra berapi-api.

Di telinga Ziana, balasan Sandra tadi terdengar sangat konyol. Ziana terkekeh, dia tidak mempermasalahkan ucapan Aziel untuknya, sadar jika Aziel mungkin masih dendam. Apalagi karena setelah membuat Ziana tenggalam Aziel juga mendapat hukuman dari Arhan.

"Kamu baik-baik ajah, San?" Ziana memindai kondisi Sandra yang tampak bugar, namun tetap ada balutan perban di lengan dan kaki. "Kalo cuma keseleo kenapa sampai menginap di rumah sakit?"

Sandra meringis, "enggak ada masalah serius, kok, Zi. Cuma aku pengen ajah... biar bisa dijenguk, sama Endra," bisiknya dengan kekehan tanpa dosa.

Dia bahkan mengambil ponsel kemudian foto dengan gaya lemah, "aku akan mengirim fotonya, dia pasti sangat khawatir dan akan segera datang!"

"Astaga, kamu se-effort ini cuma buat Endra?" Mata Ziana melotot, dia gemas dengan sahabatnya satu itu. Sejak dulu tidak berubah, ada saja kelakuan Sandra yang akan membuatnya tercengang sampai geleng-geleng.

"Hey, Zi, enggak gitu sih... yah, cuma memanfaatkan keadaan ajah! Apa salahnya? Aku beneran sakit, kok--"

"Aku pikir kamu terlibat kecelakaan parah dan beneran kritis, sampai ayahmu memintaku datang." Ziana mencubit pipi Sandra sampai membuatnya mengaduh minta ampun.

Ziana terkekeh kecil memberi balasan untuk sahabat yang suka iseng. Keduanya sedekat itu, sekali pun Ziana mengomel dan memerahi Sandra sekarang, Sandra tahu jejak air mata di wajah Ziana itu tulus untuknya.

***

Arhan ke rumah sakit larut malam, mungkin pukul sebelas setelah dia lembur di kantor kemudian balik ke rumah untuk bebersih dan ganti baju. Dia tidak begitu khawatir karena tahu putrinya hanya mengalami cedera ringan, dan Aziel sudah memberitahunya kalau dokter tidak menyarankan Sandra opname, tapi gadis itu yang memaksa. Arhan tidak heran, putrinya memang suka berulah dan ada-ada saja tingkahnya.

"Memang kamu udah jadian sama Endra, San?" Terdengar dari dalam dua gadis itu masih asyik mengobrol, Arhan menghentikan langkahnya dan memilih diam sebentar di depan ruang rawat putrinya.

"Belum. Semoga sebentar lagi, kita udah deket banget, kok. Tapi dia enggak nembak-nembak... apa aku ajah ya yang ungkapin perasaan dulu?"

"Dih? Gengsi! Masa cewek nembak duluan--"

"Ya gimana dong! Lama-lama enggak sabar... " Sandra murung, mengingat hubungannya dengan Endra masih tanpa status, sedangkan dia sudah sangat mencintai. "Kamu sendiri gimana, Zi? Ada cowok yang kamu taksir? Kerja di tempat baru pasti banyak gebetan dong?"

Ziana menggeleng, dia berbaring di sofa sambil menatap langit-langit ruangan.

"Aku enggak mikirin itu--"

"Hah? Jangan bilang... kamu masih terbayang-bayang sama Pak Kevin?"

"Dih, apaan sih? Enggaklah!" elak Ziana yang langsung protes dan menoleh ke arah Sandra.

Sandra tertawa kecil, "kupikir masih belum move on, inget Zi... Pak Kevin udah nikah dan punya anak, jangan sampai ya... suka sama suami orang--"

"Kamu tahu sendiri, saat itu aku suka dengan Pak Kevin sebelum tahu dia udah nikah. Setelah tahu punya anak-istri, mana berani aku." Ziana mengingat kembali momen di sekolah dulu, dia sempat naksir pada salah satu guru di sekolahnya yang begitu baik dan sering kali memberi perhatian pada Ziana.

Diam-diam Ziana menyukainya, apalagi saat Ziana mengikuti olimpiade salah satu mapel Kevin yang membimbingnya, dari situ keduanya kompak dan makin dekat. Ziana terbuai dengan sikap manis dan dewasanya seorang Kevin.

"Ngomong-ngomong, kenapa dulu kamu sampai naksir Pak Kevin? Selain baik dan ganteng... apa yang membuatmu tertarik?"

"Dewasa! Dia bisa menjadi apa saja, seorang teman, kakak, bahkan kadang bersikap layaknya ayah, untuk seorang fatherless sepertiku... kamu pasti paham--"

Ziana memejam sesaat dan menghela napas, dadanya tiba-tiba terasa sesak, bukan ingat masa lalu, tapi dia hanya merasa miris dengan nasib sendiri.

Di ranjang, Sandra yang terbaring miring menatap Ziana dengan mata yang mulai meredup karena kantuk. Dia pun ikut perihatin, tahu jelas bagaimana kehidupan seorang Ziana.

"Kalau diberi kesempatan... Pak Kevin jadi duda, kamu mau sama dia?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Gadis Lugu Tertindas, Dipungut Paman Tampan   Bab 193

    Suara Wina bergetar saking emosinya. "Pak Polisi, cepat jebloskan mereka berdua ke penjara! Mereka berdua kriminal!" tunjuk Wina pada Ofi dan Yudis. "Nenek, tidak! Semua ini pasti hanya fitnah dan rekayasa Paman!" elak Yudis yang masih saja protes dan membela diri. Sementara Raya tidak lagi berkutik, apalagi ada Aziel yang menahannya. "Jika Ibu berusaha melindungi Kakak, Aziel tidak akan segan untuk membuat Paman ikut menyeret Ibu!" tegas Aziel. "Apanya yang rekayasa, Yudis? Apa kamu pikir selama ini aku idiot hingga bisa dengan mudah dibodohi oleh orang bodoh sepertimu dan Ofi? Sekarang saatnya kamu menebus semua perbuatanmu," kata Arhan tanpa belas kasih. Semua kehancuran itu terekam jelas di kamera. Lewat siaran langsung, semua orang tahu dan menjadi berita tranding. Yudis dan Ofi sudah benar-benar hancur, keduanya akan mendekam di penjara dengan waktu yang tidak sedikit. Ada pasal berlapis yang akan membuat hukuman mereka berat. "Ayah--" Sandra menatap ayahnya dengan mata

  • Gadis Lugu Tertindas, Dipungut Paman Tampan   Bab 192

    Semua persiapan untuk pesta pernikahan sudah siap 100%, bahkan kabar pernikahan Arhan dan Ofi sudah tersebar luas. Orang luar tahu jika pernikahan itu dilakukan mendadak dan lebih awal karena putri dari Arhan mengalami kecelakaan dan sakit. Hari ini, meski duduk di kursi roda namun Sandra sudah berdandan cantik dengan gaun pesta. Dia mendampingi ayahnya yang juga sudah rapi dengan memakai tuxedo hitam. Di acara itu, hanya keluarga saja yang diundang, namun banyak pers yang diundang secara pribadi oleh Arhan. Ofi tetap senang, dia yakin Arhan melakukan itu demi kenyamanan acara dan semua orang akan tetap tahu pernikahan mereka lewat siaran langsung. Ezhar melihat berita itu di televisi, bahkan di sosial media pun ramai. "Ziana, kamu sudah berkemas?" Lelaki paruh baya itu melihat putrinya di kamar, Ziana tampak sedang menata beberapa bajunya ke koper. "Ini sedang berkemas, Ayah." Ziana memaksakan senyumnya. Dia terlihat baik-baik saja meski hati dan pikirannya masih kacau, apalag

  • Gadis Lugu Tertindas, Dipungut Paman Tampan   Bab 191

    Setelah menelpon Ofi, Arhan juga menelpon asistennya. Cukup lama. "Saya ingin semuanya selesai secepatnya. Adakan acara pernikahan itu di hotel bintang lima. Tidak perlu mengundang banyak orang, cukup undang pers. Pastikan di acara nanti semua bisa melakukan siaran langsung.""Baik, Pak Arhan, saya mengerti," jawab Dafa dari telepon. "Untuk pihak keamanan, jangan lupa untuk memanggil petugas kepolisian. Kalau perlu kamu buat laporan dari sekarang-- kamu mengerti apa yang saya inginkan kan?" "Saya mengerti, Pak. Saya usahakan semuanya berjalan sesuai rencana yang jauh hari sudah pernah kita bahas sebelumnya." Arhan menutup telepon, dia kembali ke ruang rawat Sandra. Di sana sudah ada Ofi yang duduk menemani Sandra dengan wajah cerah. "Pak Arhan, aku lihat jemari Sandra bergerak. Sepertinya dia akan sadar--"Arhan mendekat. "Sayang, kamu dengar Ayah?" Kening Sandra berkerut, tak lama kelopak matanya berkedip dan mengerjap. "Sandra.... " "A--yah," bibir Sandra pucat, dia menatap

  • Gadis Lugu Tertindas, Dipungut Paman Tampan   Bab 190

    Mobil Sandra melaju cepat dijalanan, seolah hanya ada dia sendirian hingga tidak mempedulikan kendaraan lain. Di belakang Arhan terus membuntut dengan perasaan campur aduk, cemas dan khawatir. Dia lihat beberapa kali mobil putrinya yang oleng dan banting stir namun tetap melaju. "Sandra...," Arhan ingin berteriak keras untuk menghentikan putrinya, namun tidak mungkin, beberapa kali dia menelpon pun tidak diangkat gadis itu sengaja lari. Braaaaaak! Dengan mata kepala sendiri, Arhan melihat mobil yang Sandra kendarai menabrak pembatas jalan lalu terpental dan terguling hingga ringsek. "Sandraaaaa!" Histeris Arhan, dia berhenti mendadak, dengan cepat keluar dari mobilnya dan berlari ke arah Sandra yang masih terjebak dalam mobil. "Sandra," Arhan bergumam, dia tidak berpikir apa pun selain mengeluarkan tubuh Sandra yang lemas dengan darah bercucuran. Orang-orang di sekitar sigap memanggil ambulans. "Sandra, bertahan, jangan buat ayah khawatir." Arhan membopong tubuh itu masuk ke a

  • Gadis Lugu Tertindas, Dipungut Paman Tampan   Bab 189

    Sandra berjalan mendekat dengan mata nyalang dan penuh kekecewaan. Dia terus menatap pada Ziana. "Aku sudah sangat baik padamu selama ini, ternyata begini balasanmu?"Plaaak! Tanpa basa-basi Sandra mengayunkan tangannya. "Aku sudah menduganya sejak kemarin, namun aku tidak menyangka akan memergoki tingkah menjijikan kalian malam ini.""Sandra," Arhan ingin menenangkan putrinya, namun Sandra justru makin berontak. "Lepas, Ayah! Kamu sangat mengecewakan saat ini!" teriak Sandra dengan nada frustasi. "Bisa-bisanya Ayah tergoda dengan gadis seusiaku!!" Kekecewaan itu terlihat jelas di wajah Sandra, hingga Arhan dan Ziana tidak bisa berkutik. "Sandra, maaf aku--" "Kenapaa harus ayahku, sih, Zi? Kenapaaa? Ada banyak lelaki lain, kenapa harus ayahku! Yang sebentar lagi akan menikah!"Sandra menggoncang-goncangkan pundak Ziana. "Dia ini ayahku Zi! Ayah sahabatmu! Kenapa kamu tega merusak semua mimpiku!" teriak Sandra dengan histeris sampai suaranya serak. "Sandra cukup!" Arhan menarik

  • Gadis Lugu Tertindas, Dipungut Paman Tampan   Bab 188

    Arhan berdeham, dia juga merasa sejak tadi putrinya bicara begitu dingin dan tajam. Arhan perhatikan ekspresi Ziana yang berubah kalem dan terlihat terluka. "Sudah malam, mari kita mulai saja makan malamnya. Ziana sudah mempersiapkan semuanya, spesial untuk menyambut keluarganya, juga untuk reuni Ibu dan Bu Lisa. Jadi jangan sungkan-sungkan." Arhan angkat suara, menacairkan suasana yang sempat tegang. Lisa terkekeh, dia lebih fokus pada Wina. Keduanya sesekali asyik bernostalgia.Makan malam berjalan cukup lancar. Meski ada sedikit yang mengganjal karena kehadiran Sandra yang membuat acara itu jadi tidak nyaman untuk Ziana. "Ziana, ini untukmu." Setelah makan malam selesai, sebelum pulang istri Ezhar memberikan kado untuk Ziana. "Terima kasih--" ucap Ziana canggung. "Mama. Panggil saja aku Mama, mau bagaimana pun aku kan istri ayahmu," ujar Anna dengan senyum hangat. Ziana sudah tahu tentang keluarganya setelah beberapa hari ini selalu berkirim kabar dengan Dylan. Ziana mengang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status