LOGIN"Pak Arhan, kita pulang sekarang atau cari penginapan saja?" tanya Dafa yang tahu kondisi mereka sekarang, cukup lelah jika harus kembali ke rumah. Sekarang mereka berada di luar kota, paling tidak harus menempuh perjalanan tiga jam jika ingin pulang. Sementara besok masih ada urusan penting di kota ini. “Kamu bisa mencari hotel sendiri. Saya akan langsung pulang,” ujar Arhan datar sembari melirik jam tangannya, memperhitungkan waktu. Jika berangkat sekarang, dia akan tiba di rumah sekitar pukul sebelas.“Tapi, Pak--”“Saya bisa menyetir sendiri, tidak perlu khawatir,” potong Arhan dengan nada terkendali. “Sebagai gantinya, pastikan proposal dan seluruh berkas penting untuk rapat besok sudah dicek ulang.”Dafa tidak bisa menolak perintah bosnya, dia juga sangat lelah jadi memilih untuk menurut dan membiarkan Arhan pulang sendiri. Tidak tahu ada urusan apa di rumah, yang pasti Dafa rasa jika tidak ada hal yang penting tidak mungkin Arhan memilih sesuatu yang merepotkan dan menyita w
Ziana mengangguk-anggukkan kepalanya. Wina tidak bisa tidak merasa aneh, namun dia tidak mengatakan apa pun, hanya berpikir putranya sedikit berubah. Dulu sekali pun Sandra merengek ingin memelihara bintang, Arhan dengan tegas menolak. Tapi kali ini bahkan bebek dan kucing dibolehkan, satu lagi ... Arhan yang biasanya tidak tertarik dengan tanaman ibunya, tiba-tiba mau membawa satu pot aglonema. Mungkin untuk menyenangkan Ziana? Ziana berdeham saat Wina terus menatapnya sambil menelisik seolah sedang memindai dan membuat penilaian pada gadis itu. Wina tidak bisa bohong jika Ziana memang cantik dan menarik, betah dipandang. Tapi apa iya putranya yang berusia empat puluh tahun itu mau dengan gadis muda? Sah-sah saja memang, hanya Wina kurang yakin. "Ziana--" Wina kembali menarik obrolan. "Iya, Bu?" "Sebentar lagi Arhan dan Ofi akan menikah, apa kamu pernah lihat Arhan sudah mulai menyiapkan sesuatu?" Ziana terlihat berpikir, dia lalu menggeleng tanpa mengatakan apa pun. "Menuru
Arhan sakit? Tidak mungkin, Ziana yang paling tahu. Arhan tidak terlihat pucat atau menahan sakit selama itu, yang jelas sebaliknya, Ziana yang sakit. Itu berarti Arhan sengaja bekerja di rumah hanya untuk Ziana. Diam-diam Ziana tersenyum, hatinya terasa hangat dan berbunga. Jadi, Arhan memang seperhatian itu padanya kan? "Ziana," tegur Wina yang menunggu respon Ziana sejak tadi, tapi gadis itu malah bengong. "Eh, ya? Mmm, maaf Bu Wina. Saya akan mengecek dan mengkonfirmasinya kalau Pak Arhan pulang nanti. Semoga saja bukan karena beliau sakit." Wina mengangguk, dia sedikit tenang tapi juga masih bingung karena sebelumnya Arhan tidak pernah begitu. Kantor adalah tempat utama dia menghabiskan waktunya, sementara rumah ibarat tempat kedua yang dia singgahi. Setelah menunggu beberapa waktu, masakan yang Ziana buat selesai. Gadis itu menyuguhkannya untuk Wina. Nasi lembek dengan sup hangat, Wina menyukainya. Dia suka makan dengan sesuatu yang lunak dan berkuah. "Silahkan, Bu. Kala
Bab 136Bukan lagi jinak-jinak merpati, Ziana terang-terangan mengungkapkan perasannya dan menggoda Arhan. "Aku juga tidak takut untuk bersaing dengan Tante Ofi. Setelah kupikir-pikir harusnya Pak Arhan memilihku, bukan dia." Arhan menggelengkan kepalanya, dia masih saja tertawa tidak percaya dengan apa yang dia hadapi sekarang. Arhan melepas tangan Ziana yang tadi merangkul lehernya. "Masih pagi, dan kamu sudah sangat sibuk menggoda. Baiklah, saya akui kamu sangat berani," kata Arhan dengan tenang dan santai. Dia tidak lagi fokus pada Ziana, memilih untuk mengambil cangkir tehnya dan meminumnya sekarang. Ziana yang masih duduk di meja memerhatikan, dia paling suka saat Arhan menelan sesuatu lalu melihat jakunnya yang naik-turun. Itu terlihat sangat menggoda. Saat lelaki itu sudah berhenti dan menghabiskan setengah tehnya, giliran Ziana meraih cangkir di tangan Arhan. Dengan gerakan pelan dia ikut meminumnya, tepat di bekas bibir Arhan seolah sengaja ingin membuat lelaki itu te
Arhan seolah tuli, dia tidak mengindahkan keinginan Ziana, tetap menggendong gadis itu di bahu seperti karung beras. Ziana baru diturunkan saat sampai di mobil dan Arhan mendudukannya paksa. “Diam, Ziana. Kamu bukan bocah lima tahun yang hiperaktif kan?” Arhan mendorong pundak Ziana dan menahannya agar duduk dan bersandar di jok mobil. Lalu Arhan membungkukkan badannya yang setengah masuk untuk membantu memasang seatbelt. Di saat itu Ziana bisa melihat wajah Arhan dengan begitu dekat. “Pak Arhan datang begitu cepat, Pak Arhan tidak antar Tante Ofi pulang?” Ziana bicara setengah menggumam, tapi Arhan bisa mendengarnya jelas. “Kenapa saya harus mengantarkannya pulang? Dia bisa datang sendiri, itu berarti bisa pulang sendiri,” kata Arhan menolehkan wajahnya menghadap Ziana. Reflek Ziana tersenyum tanpa sadar, senyum nakal yang terlihat di mata Arhan. “Sepertinya kamu senang sekali mendengarnya. Apa kamu pikir saya melakukan itu karena kamu?” Arhan bicara dengan satu tangan menu
Ziana diam, menunggu jawaban Arhan. Jantungnya jadi berdebar-debar karena rasa penasaran. Byuuur! Ziana terlonjak ketika dia fokus menatap Arhan dari arah samping ada yang mengguyurkan segelas minuman membuat wajah dan baju Ziana basah dan ternoda. “Tante Ofi?” Ziana kaget, Ofi sudah berdiri di sampingnya dengan gelas kosong yang isinya ditumpahkan. “Ziana, beraninya kamu makan malam romantis hanya berdua dengan Pak Arhan! Apa kamu sedang menggodanya?” Ofi terlihat sangat kesal, dia sejak tadi melihat Ziana begitu sering tersenyum dan menatap Arhan penuh binar. “Ofi, apa yang kamu lakukan? Apa kamu berniat menjadi gila? Ini tempat umum, untuk apa bersikap impulsif begitu?”Arhan sampai berdiri dan menarik pundak Ofi agar menjauh dari hadapan Ziana. Dia mungkin takut tunangannya itu akan bertindak lebih bar-bar. Air mata Ofi mengucur saat dia berhadapan dengan Arhan, seolah menjadi yang sangat terluka melihat pasangannya makan malam dengan wanita lain. “Pak Arhan, kamu bisa je







