Share

12. Tidur Satu Kamar

Author: Nadia Styn
last update Last Updated: 2025-11-10 08:02:17

Aku berdiri di dekat pintu kamar Mark dengan gelisah, kedua tanganku menggenggam sisi atas celana panjang yang kukenakan, dan tiap inci sekeliling kamar yang luas itu tak lepas dari pandanganku.

Sepertinya ini adalah pertama kali aku masuk ke kamar tidur Mark. Tidak ada yang istimewa dari kamar ini, selain ukurannya yang luas dan nyaman. Terasa kosong dan terlalu sunyi.

“Apa yang kau lakukan di situ?” tanya Mark heran, menatapku dari ujung kepala sampai ujung kaki. Kini dia sedang berada di dekat meja bacanya di sisi kamar.

“Kau pasti risi dengan keberadaanku di sini,” kataku dengan canggung.

Mark tidak menjawab, kerutan samar di keningnya seolah tidak setuju dengan perkataanku barusan.

Aku memberanikan diri maju beberapa langkah, menjauhi pintu, sampai ke tengah kamar. Setelah menelan ludah susah payah, aku mencoba bernegosiasi, “Kita... tidak benar-benar harus tidur satu kamar, bukan?”

“Menurutmu?” Mark menyahut dingin.

“Lily sudah tidur. Dia tidak akan tahu jika... jika aku kembali
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Gadis Mungil CEO: Mommy, Please Jadi Ibuku   113. Wanita Nakal

    Paula muncul di dapur.William langsung melepaskan pelukannya padaku, setelah menyadari bahwa teguran tegas barusan berasal dari putrinya yang seakan siap mengamuk.Aku pun segera mundur satu setengah langkah, menjauh dari ayahnya Paula tersebut.“Apa-apaan ini?!” tanya Paula.Dia mengambil langkah mendekat ke arahku dan William. Dengan wajahnya yang kaku oleh amarah, mendadak dia mendorongku kencang.Dorongannya itu membuatku mundur beberapa langkah dan nyaris hilang keseimbangan, tetapi untungnya ada counter dapur di sebelah kiriku, sehingga aku bisa segera menumpukan tanganku di sana untuk mempertahankan diri.“Apa kau sudah gila?!” bentak Paula. “Setelah menggoda suamiku, sekarang kau mengincar ayahku juga?!”Aku menggeleng cepat. “Aku tidak bermaksud.... Aku tidak melakukan apa-apa, Paula.”“KAU MEMANG JALANG MURAHAN!!”Paula mengangkat tangan kanannya untuk menamparku.Aku refleks memejamkan mata dan menundukkan kepala.Tapi untungnya, William langsung mencengkeram pergelangan t

  • Gadis Mungil CEO: Mommy, Please Jadi Ibuku   112. Sikap Aneh Ayah Mertua Bosku

    “California? Mengatakan... mengatakan apa maksud Anda? Saya tidak mengerti.”Pertanyaan bingungku barusan, tak ditanggapi. William malah bergeming lama.Tatapannya tak lepas dari wajahku, dan itu membuatku sedikit merasa diintimidasi. Namun, aku bisa melihat kegelisahannya semakin besar.Seperti yang kusebutkan sebelumnya, ada suratan penyesalan di mata itu, terlebih setelah dia menyadari sesuatu setelah aku balik bertanya.Jelas pria tua ini sedang menahan hal besar di dalam pikirannya, pun juga di balik lidahnya yang tertahan.Tapi aku tidak tahu apa-apa, dan tidak mengerti pula mengapa dia mengajakku bicara tentang California, sehingga aku menunggu sedikit detail atau penjelasan.“Jadi, kau bisa mengenal Mark, karena kau bekerja untuknya?” William malah mengganti pertanyaan.“I-iya, Tuan.” Aku mengangguk berkali-kali. “Saya sekretaris Mark di Lawrence Company. Lalu, ehm... karena kondisi kesehatan Lily, beberapa bulan yang lalu, Mark juga meminta saya untuk menjadi pengasuh Lily.”

  • Gadis Mungil CEO: Mommy, Please Jadi Ibuku   111. Apakah Itu Tidak Cukup Baginya?

    Ketika Mark memintaku untuk ‘menunggu’, sekujur tubuhku semakin membeku. Lidahku di balik bibir yang terkatup rapat pun kelu.Entah harus bagaimana menanggapi itu.Lagi dan lagi, dia menempatkanku dalam posisi di mana aku harus merasa bersalah, seolah aku adalah penjahat.“Anna?” panggil Mark, karena aku diam lama sekali tanpa memberikan tanggapan sedikitpun.Usai mendorong saliva susah payah, akhirnya aku buka mulut.“Aku... apa yang kau ingin aku lakukan dengan keputusanmu itu?” Aku balik bertanya. “Maksudku, jika aku menunggumu menceraikan Paula... bukankah aku terlihat sangat jahat? Mark berkedip lambat, tetapi belum merespons.“Kau memang tidak pernah bilang bahwa kau benar-benar punya perasaan khusus padaku.” Aku tersenyum getir, dan melanjutkan, “Tapi tetap saja intinya sama. Menunggu seorang istri diceraikan, agar aku bisa mendapatkan suaminya... itu jahat sekali, bukan?”“Kau tetap mengatakan itu, padahal kau sudah tahu apa yang telah Paula lakukan padaku dan Lily?” sahut Ma

  • Gadis Mungil CEO: Mommy, Please Jadi Ibuku   110. Maukah Kau Menungguku?

    “Jika kau masih berani menghina Anastasia di hadapanku, aku tidak peduli lagi meski kau sedang hamil. Aku akan langsung mengurus perceraian kita.” Paula menelan ludah. Namun, kelopak bawah matanya terangkat, membuat kedua matanya memicing. “Bisa-bisanya kau memperlakukan istrimu sendiri seperti ini, hanya untuk membela sekretarismu,” desis Paula. “Kau yang membuatku bertindak seperti ini. Kau seharusnya sadar betapa keterlaluannya dirimu, Paula.” “Aku hanya memberi masukan kepadamu atas keputusan bisnis yang kau lakukan, Mark. Aku mencoba menolongmu!” sahut Paula. “Aku tidak butuh masukanmu.” “Kau benar-benar keras kepala. Kau tidak boleh membiarkan klien besarmu jatuh ke tangan kompetitormu!” “Kenapa? Apakah karena Rieley Group sedang dalam krisis belakangan ini, sehingga proyek Mr. Weenie kemungkinan bisa menyelamatkan profit mereka, sedangkan alasanmu kembali padaku adalah karena Jackson Rieley sudah berada jauh di bawahku dan hampir bangkrut? Begitu?” Mark memberi jeda unt

  • Gadis Mungil CEO: Mommy, Please Jadi Ibuku   109. Ancaman Perceraian

    “Kau milikku, Anna. Tidak ada yang boleh menyentuhmu selain aku.”Perkataan Mark di New Jersey kemarin, terus menghantui pikiranku.Aku tidak mengerti.Seharusnya itu menjadi ancaman nyata bagiku, tetapi aku justru malah tersanjung dan semakin... berharap padanya.Mengesampingkan persoalan itu dulu, setelah kemarin berada di New Jersey seharian penuh, hari ini aku sudah datang ke kantor sejak pukul tujuh pagi.Aku harus menyusun tumpukan dokumen penting yang tak tersentuh kemarin.Mark baru akan datang pukul sembilan nanti. Dan sebelum dia datang, dokumen-dokumen itu harus sudah siap.Kupikir David akan menyopiri Mark pagi ini, dan nantinya datang bersama dengan bos kami itu. Namun pukul delapan pagi, ketika aku sedang berkutat dengan komputer di meja Mark untuk menyiapkan folder khusus, David tiba-tiba muncul.“David? Apakah Mark datang lebih cepat?” tanyaku heran. “Astaga... folder yang dia minta belum selesai kususun.”“Tidak,” jawabnya. “Tuan Lawrence memintaku ke sini duluan untu

  • Gadis Mungil CEO: Mommy, Please Jadi Ibuku   108. Aku Miliknya

    “Siapa pun yang berani macam-macam pada sekretarisku, tidak akan ada yang kubiarkan memiliki kerja sama dengan perusahaanku.”Semua orang yang ada di ruang rapat, terdiam oleh atmosfer tegang yang mendadak menyelimuti sekeliling ruangan.“Apa kau sudah gila?! Kau benar-benar akan membatalkan produksi untuk kasinoku?!” Mr. Weenie membelalak tak percaya.“Ya.”BRAK!Pria paruh baya itu memukul meja dengan kedua telapak tangannya. Keras, hingga hampir semua orang tersentak kaget dan mengerutkan kening tak nyaman, terutama para klien yang lain.Tapi belum ada satu pun dari mereka yang berniat beranjak meninggalkan ruang rapat, karena sepertinya mereka sangat oportunis, mengetahui bahwa ada peluang untuk keuntungan mereka dari keributan ini.“Aku memberikan proyek besar dengan dana selangit untuk perusahaanmu! Tidak tahu terima kasih! Bisnis macam apa ini?!”Mark tersenyum tenang.“Apa kau rela kehilangan jutaan dolar hanya karena hal sepele begini?! Memangnya aku melakukan apa pada sekret

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status