LOGINLaura memandangi map tebal di hadapannya tanpa berkedip. Jemarinya mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Selama bertahun-tahun dia selalu berhasil lolos dari setiap masalah yang mengancamnya. Kepintaran dan keberaniannya selalu menjadi jalan keluar. Namun kali ini berbeda. Semua identitas palsu yang pernah ia gunakan, setiap transaksi, hingga daftar para korbannya tersusun rapi di dalam map itu. Tidak ada lagi ruang untuk mengelak.
Laura mengembuskan napas panjang sebelum mengangkat wajahnya. "Kalau aku berhasil menjalankan tugas ini, semua berkas itu benar-benar akan dihancurkan?" Indra tidak langsung menjawab. Ia justru menatap Laura beberapa saat, seolah ingin memastikan gadis itu memahami konsekuensi dari setiap pilihan. "Aku tidak pernah mengingkari kesepakatan bisnis," katanya akhirnya. "Begitu Rama Hermawan menikahimu dan tugasku selesai, semua bukti tentang dirimu akan lenyap. Aku juga tak keberatan membayarmu. Setelah itu kau bebas menjalani hidup baru." Laura tersenyum pahit. "Hidup baru?" sahutnya. "Orang sepertiku memang masih pantas mendapatkannya?" "Itu tergantung pilihanmu hari ini." Ruangan kembali hening. Laura menundukkan kepala. Bayangan tentang sel penjara mulai memenuhi pikirannya. Ia membayangkan bertahun-tahun hidup di balik jeruji besi, kehilangan kebebasan yang selama ini ia pertahankan dengan susah payah. Tidak! Dia belum siap mengakhiri hidupnya seperti itu. Perlahan ia mengangkat kepala dan menatap Indra dengan tatapan pasrah. "Baiklah." Senyum tipis muncul di sudut bibir Indra. "Aku terima tawaranmu..." "Bukan tawaran,," koreksi Indra tenang. "Ini kerja sama yang saling menguntungkan." Laura hanya menghela napas. "Lalu apa yang harus kulakukan?" Indra membuka salah satu map yang tadi sempat diperlihatkannya. Kali ini ia menggeser beberapa lembar dokumen ke hadapan Laura. "Rama Hermawan sedang mencari seorang personal assistant baru." Laura membaca lembar pengumuman perekrutan itu dengan saksama. "Personal assistant?" "Itu jalan tercepat untuk berada di dekatnya setiap hari. Kau tidak mungkin membuat seorang CEO jatuh cinta jika bahkan bertemu dengannya saja sulit." Laura mengangguk pelan. "Kalau hanya menjadi asisten, bukankah pesaingnya akan sangat banyak?" "Memang." "Lalu kenapa Bapak begitu yakin aku bisa diterima?" Indra tersenyum penuh arti. "Karena kami sudah menyiapkan identitasmu." Ia menggeser map lain yang berisi ijazah universitas ternama, sertifikat bahasa asing, pengalaman kerja di perusahaan multinasional, hingga surat rekomendasi yang semuanya tampak asli. "Mulai hari ini kau bukan lagi Laura Julia." Laura membaca identitas baru itu. Larissa Mahendra. Usia dua puluh lima tahun. Lulusan administrasi bisnis. Pernah bekerja sebagai executive assistant selama tiga tahun. Semua terlihat sempurna. "Timku sudah mengurus semuanya. Bahkan jika pihak Hermawan melakukan pemeriksaan latar belakang, mereka tidak akan menemukan kejanggalan." Laura mengangkat alis. "Sedetail itu?" "Aku tidak pernah bermain-main." *** Beberapa hari berikutnya berubah menjadi masa pelatihan yang melelahkan. Setiap pagi Laura datang ke sebuah rumah yang ternyata dijadikan markas kecil oleh tim Indra. Di sana ia tidak hanya mempelajari identitas barunya, tetapi juga kehidupan Rama Hermawan secara mendetail. Ia menghafal jadwal kerja pria itu. Jam berangkat ke kantor. Jam makan siang. Kebiasaan minum kopi tanpa gula. Makanan yang tidak pernah disentuhnya. Merek mobil yang digunakan. Kebiasaan membaca laporan sebelum matahari terbit. Bahkan posisi duduk favoritnya di ruang rapat. Semuanya tercatat. "Orang ini benar-benar hidup seperti robot," gumam Laura sambil membolak-balik berkas. Salah seorang anggota tim Indra terkekeh. "Begitulah kata orang-orang." Laura membaca halaman berikutnya. Prestasi Rama membuatnya menggeleng kagum. Di usia tiga puluh tahun, pria itu berhasil membawa Grup Hermawan menjadi salah satu perusahaan dengan pertumbuhan tercepat di Indonesia. Hampir semua keputusan bisnisnya selalu tepat. Namun ada satu halaman yang kosong. Laura mengernyit. "Mana bagian kehidupan pribadinya?" Petugas itu menggeleng. "Tidak ada." "Maksudnya?" "Dia hampir tidak pernah terlihat berkencan." Laura membuka halaman lain dan kosong. "Tidak mungkin." "Faktanya memang begitu." "Setidaknya mantan pacar?" "Tidak ada data yang valid." Laura mendesah pelan. "Kalau begitu... tipe perempuan yang dia sukai?" Pria itu tersenyum kecut. "Itulah satu-satunya informasi yang gagal kami dapatkan." Laura memijat pelipisnya. "Hebat sekali." "Bukan hebat." Suara Indra terdengar dari belakang. "Rama terlalu pandai menjaga kehidupan pribadinya." Indra berjalan mendekat sambil meletakkan sebuah majalah bisnis di atas meja. "Dia dikenal dingin. Tidak pernah menghadiri pesta jika tidak berkaitan dengan pekerjaan. Tidak pernah terlihat bersama perempuan, dan sangat membenci orang yang berbohong." Kalimat terakhir membuat Laura refleks menelan ludah. "Kalau begitu kenapa justru menyuruhku mendekatinya?" "Karena justru orang seperti itulah yang paling sulit ditaklukkan." *** Hari wawancara akhirnya tiba. Laura berdiri di depan cermin apartemen barunya. Rambut panjangnya ditata rapi, sementara blazer krem dipadukan dengan rok selutut membuatnya terlihat elegan tanpa berlebihan. Riasannya tipis. Parfum yang digunakan pun hanya meninggalkan aroma lembut. Ia ingin terlihat profesional, bukan mencolok. "Semoga identitas baru ini cukup meyakinkan," gumamnya pelan. Sesampainya di kantor pusat Grup Hermawan, Laura langsung dibuat terpukau oleh kemegahan gedung yang menjulang tinggi di pusat kota. Puluhan pelamar telah memenuhi ruang tunggu. Sebagian tampak gugup. Sebagian lagi sibuk memperbaiki penampilan. Laura memilih duduk sambil mengamati keadaan sekitar. "Nomor dua puluh satu." Seorang wanita cantik berdiri dan memasuki ruang wawancara. Lima menit kemudian... Brak! Pintu terbuka. Wanita itu keluar dengan mata merah dan bibir bergetar. "Orang macam apa dia?" gerutunya sebelum berjalan pergi. Laura mengernyit. Tak lama kemudian pelamar berikutnya masuk. Hanya bertahan tujuh menit. Ia keluar sambil mengusap air mata. "Dia bahkan tidak memberiku kesempatan menjelaskan." Pelamar ketiga bernasib lebih buruk. Begitu keluar, pria muda itu membanting map lamaran ke lantai. "Sombong sekali! Kupikir hanya rumor." Laura mulai merasa ada yang tidak beres. Ia melirik resepsionis yang tampak tetap tenang seolah pemandangan itu sudah biasa. "Maaf," bisiknya kepada resepsionis. "Apa memang setiap pelamar keluar seperti itu?" Wanita itu tersenyum tipis. "Sudah biasa." "Se... serius?" "Pak Rama sangat perfeksionis." Laura kembali menatap pintu ruang wawancara yang masih tertutup rapat. Di balik pintu itu ada seorang pria yang bahkan belum pernah dia temui secara langsung, tetapi sudah berhasil membuat hampir semua pelamar kehilangan kepercayaan diri hanya dalam hitungan menit. Laura menarik napas panjang. Dalam hati ia bertanya-tanya. Seberapa dingin sebenarnya Rama Hermawan? Dan yang lebih mengkhawatirkan, mampukah seorang penipu seperti dirinya menaklukkan pria yang bahkan tidak memberi belas kasihan kepada calon asistennya sendiri? Tak lama kemudian nomor Laura pun dipanggil. Laura segera melangkahkan kaki masuk ke ruang wawancara. Seketika dia bisa melihat sosok Rama Hermawan yang tampak duduk di kursi dengan gaya bossynya. 'Astaga, dia tampak sangat menyebalkan?' Laura membatin. Namun diwajahnya, dia memasang senyum palsu yang ramah. "Selamat pagi, Tuan Hermawan..."Tiga hari terasa seperti tiga tahun bagi Rama. Setiap detiknya ia dipenuhi pertarungan antara harapan yang masih tersisa dan ketakutan yang kian membesar, seolah ada dua sisi yang saling menariknya ke arah berlawanan. Ponselnya tak pernah lepas dari genggaman, pesan masuk yang tak pernah ia balas dari Laura hanya ia tatap sekilas sebelum kembali disimpan, tak sanggup menjawabnya namun tak sanggup pula menghapusnya.Hingga pada sore yang mendung itu, pesan yang ia tunggu akhirnya tiba. Tanpa membaca isinya di layar ponsel, ia segera melajukan kendaraannya menuju markas rahasia tim penyelidiknya, sebuah ruangan tersembunyi di lantai paling atas gedung yang dimilikinya, tempat yang tak diketahui siapa pun kecuali dirinya dan pemimpin tim itu.Saat dokumen tebal itu diletakkan di hadapannya, jari-jarinya yang biasanya tak pernah gemetar saat memegang kontrak bernilai miliaran, kini terasa berat dan dingin. Ia membuka halaman pertama perlahan, dan detik itu juga napasnya tercekat.Nama asl
Begitu pintu tertutup rapat, keheningan yang mencekam kembali menyelimuti ruangan itu, namun kini terasa jauh lebih berat dan menyesakkan. Rama masih terpaku duduk di tepi kursi kerjanya, pandangannya kosong menatap gagang pintu yang baru saja menghilangkan sosok Laura dari pandangannya. Kata-kata gadis itu masih bergema berulang kali di telinganya, terasa begitu nyata dan meyakinkan, namun sisi rasionalnya yang selama ini menjadi tameng utama dalam setiap keputusan besar tak begitu saja menyerah pada perasaan terharu atau kaget sesaat. Ia menggeleng pelan, mencoba merapikan pikirannya yang sempat berantakan, menarik napas panjang berusaha mengembalikan ketenangan dan ketajaman berpikir yang sempat hilang seketika."Tidak bisa semudah itu aku menerima semuanya," gumamnya pelan pada diri sendiri, jari telunjuknya mengetuk-ngetuk permukaan meja marmer dengan irama yang teratur dan terukur, kebiasaan lama yang selalu muncul setiap kali ia sedang mempertimbangkan sesuatu dengan sangat ser
Kata-kata itu menggantung di udara, berat dan mencekam, seolah waktu sendiri ikut berhenti berputar di ruangan luas itu. Rama masih terpaku di tempatnya, menatap Laura dengan pandangan yang bercampur aduk, keterkejutan yang mendalam, keraguan yang masih menyisakan ruang, dan sejenis kebingungan yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya. Ia berulang kali menelan ludah, mencoba mencerna setiap suku kata yang baru saja meluncur dari bibir gadis itu, namun rasanya pikirannya seakan berputar tanpa arah, bingung membedakan antara mimpi dan kenyataan yang datang terlalu tiba-tiba."Kau... yakin sepenuhnya?" tanyanya akhirnya, suaranya terdengar rendah, bergetar, dan penuh keraguan. Matanya meneliti wajah Laura lekat-lekat, berusaha mencari sedikit pun tanda kebohongan, keraguan, atau kepura-puraan di balik tatapan itu. "Ini bukan hal sepele yang bisa diucapkan sembarangan, Laura. Kau paham betul betapa besar dampaknya, bukan? Ini menyangkut masa depan kita berdua, bahkan nyawa lain yang m
Keesokan paginya, Laura tiba di kantor lebih awal dari biasanya. Ia mengenakan setelan kerja yang rapi, wajahnya dicukupi riasan tipis yang sengaja dibuat sedikit lebih pucat dari biasanya, seolah ia benar-benar sedang menahan rasa sakit dan mual. Langkah kakinya pelan dan hati-hati, tangannya sesekali tanpa sadar menepuk-nepuk perutnya pelan, gerakan kecil yang sengaja ia latih semalam, seolah ada sesuatu yang sedang ia jaga di dalam sana.Begitu melangkah masuk ke ruangan kerja Rama, jantungnya berdegup kencang bukan karena takut ketahuan, melainkan karena melihat sosok pria itu yang sudah berdiri menunggu di dekat jendela besar. Rama langsung menoleh saat mendengar suara langkah kaki, dan seketika tatapannya terpaku pada wajah Laura. Sejak gadis itu masuk ke dalam ruangan, detak jantungnya kembali liar berpacu, persis seperti yang selalu terjadi setiap kali ia melihatnya. Pria yang biasanya dingin dan tak tergoyahkan itu tiba-tiba merasa tenggorokannya kering, tak tahu harus berkat
Sejak kepergian Laura tadi pagi, penthouse luas yang biasanya terasa nyaman dan tenang kini berubah menjadi tempat yang sepi dan gelap, seolah cahaya ikut pergi bersama gadis itu. Rama berjalan mondar-mandir di ruang tengah tanpa tujuan yang jelas, langkah kakinya terdengar berat di atas karpet tebal. Matanya tak sengaja berkali-kali melirik ke arah pintu depan yang sudah tertutup rapat, seolah berharap sosok yang baru saja ia usir itu akan kembali melangkah masuk kapan saja.Pikirannya tak henti-henti melayang kembali pada momen pagi tadi, saat mereka terbangun dalam pelukan erat, napas yang saling beradu hangat di dada, dan rona merah di pipi Laura yang tampak begitu cantik di bawah cahaya matahari pagi yang menembus tirai jendela. Setiap kali bayangan wajah gadis itu melintas di benaknya, jantungnya kembali berdebar kencang, berpacu liar tanpa alasan yang masuk akal, membuatnya menepuk dadanya sendiri dengan frustrasi."Apa yang sebenarnya salah denganku?" gumamnya pelan, suaranya
Laura mengangguk pelan, masih merasakan sisa kehangatan yang perlahan memudar di udara di antara mereka. "Baik, Tuan. Kalau begitu saya pamit dulu. Saya akan segera merapikan diri dan berangkat."Ia bangkit berdiri dengan tergesa-gesa, menyembunyikan rasa canggung yang sama persis dengan yang dirasakan Rama. Jantungnya pun masih berdebar tak menentu, namun di balik itu terselip rasa lega yang luar biasa. Mendengar perintah Rama untuk pulang justru membuatnya merasa seolah beban berat baru saja diangkat dari pundaknya. Ia butuh waktu sendirian, butuh menjauh sejenak dari sosok pria itu sebelum perasaannya semakin terjerat terlalu dalam hingga tak bisa lagi ia kendalikan.Dengan langkah cepat namun tenang, Laura merapikan pakaiannya yang sedikit berkerut, mengambil tas dan sepatunya, lalu melangkah keluar dari penthouse mewah itu. Pintu tertutup pelan di belakangnya, dan baru saat itulah ia menghela napas panjang, membiarkan udara segar lorong gedung mengisi kembali dadanya.Perjalanan







