LOGINTri sempat menatap foto itu selama dua puluh detik, tanpa berkedip, tanpa bergerak, tanpa mengeluarkan suara. Ia merasakan denyut nadi di pelipisnya berpacu gila-gilaan, dan dunia di sekitarnya meredup. Tubuhnya terasa berat, namun jiwanya tiba-tiba ringan, terlepas dari kenyataan.
Pelabuhan abadi. Raihan selalu memanggil Tri sebagai pelabuhan terakhir. Kini, Tri mengerti. Ia bukan pelabuhan. Ia hanya persinggahan. Ia adalah jembatan sementara yang dilewati Raihan, tempat Raihan membuang waktu, mengisi bahan bakar emosional, sebelum kembali ke tujuan sebenarnya 'Sarah'. Rasa dingin yang membekukan itu beralih menjadi amarah yang mendidih. Tri dengan tangan gemetar menyentuh layar, mencoba memperbesar foto itu. Ia ingin memastikan matanya tidak salah. Jas Raihan itu mahal, gaun Sarah anggun, dekorasinya elegan. Ini bukan 'simulasi' untuk promosi kantor, ini adalah pernikahan nyata. Tri bergegas membuka aplikasi I*******m, langsung menuju akun Raihan. Sesuai dugaannya, akun Raihan kini sudah menghilang dari daftar pengikutnya. Tri telah diblokir. Raihan telah menekan tombol Block sesaat sebelum ia menekan tombol Upload. Raihan telah memastikan Tri tidak akan pernah melihat kebenaran itu secara langsung, meninggalkan Tri hanya dengan bukti anonim yang bisa ia sangkal. Pengecut. Manipulator. Ponsel itu terlepas dari genggaman Tri, menghantam kasur dengan suara pelan yang ironis. Hening. Keheningan yang memekakkan telinga setelah badai hebat. Tri kini duduk sendirian di lantai kamarnya, di antara buku-buku Biologi yang gagal ia pelajari, dan pita satin maroon yang menjadi saksi bisu. Tri menatap pita maroon itu, lalu melihat cincin perak tipis di jari manisnya, Cincin Janji. "Bohong! Kau bohong, Raihan!" Teriakan itu pecah dari tenggorokannya, parau dan menyakitkan. Teriakan pertama Tri setelah berbulan-bulan menahan semua kecurigaan, kesedihan, dan keraguannya. Teriakan itu diikuti oleh ledakan tangis yang histeris. Tri menjambak rambutnya sendiri, memukul-mukul lantai, merangkak, menangis sejadi-jadinya. "Aku bukan persinggahan! Aku masa depanmu! Kamu bilang begitu!" Kini, bukan hanya Raihan yang ia salahkan, tetapi dirinya sendiri. Mengapa aku begitu bodoh? Mengapa aku percaya? Mengapa aku membiarkannya mematikan logikaku? Tri meraih pita maroon itu. Pita yang menjadi obsesinya, yang ia simpan dengan harapan kebohongan Raihan akan terbukti. Tri merobek pita itu dengan giginya, merobeknya berkeping-keping seolah ia merobek ingatan tentang Raihan. Kain satin yang halus itu terasa pahit di lidahnya. Kemudian, ia menatap cincin perak di jari manisnya. Cincin Janji. Cincin murah yang kini terasa seperti rantai besi. Cincin yang ia pakai sebagai pengikat eksklusif, sementara Raihan memakai cincin emas di jari yang sama dengan Sarah. Dengan kekuatan yang entah datang dari mana, Tri menarik cincin itu hingga kulitnya memerah, melemparkannya ke dinding kamar. Cincin itu memantul dan jatuh di bawah meja belajar. Tri tidak puas. Ia merangkak, menemukan cincin itu, lalu menginjaknya sekuat tenaga dengan tumitnya, berulang kali, hingga cincin perak yang rapuh itu bengkok dan hancur tak berbentuk. Ia harus menghancurkan simbol kebohongan itu. Napas Tri terengah-engah. Tenggorokannya sakit, matanya bengkak. Ia merasa mual, seolah semua kata-kata manis dan janji-janji palsu Raihan kini menjadi beban fisik di perutnya. Ia melihat bayangannya di cermin lemari, wajah pucat pasi, rambut acak-acakan, seragam sekolah yang kusut. Ia terlihat seperti hantu dirinya sendiri. Inikah harga dari janji palsu? Tri mengingat permintaan terakhir Raihan, Putuskan komunikasi dengan Dina. Permintaan itu kini terasa seperti pisau yang ditikamkan dua kali. Raihan tidak hanya menipunya, tetapi juga berusaha memutusnya dari satu-satunya jalan keluar. Raihan ingin Tri benar-benar sendiri, agar ia tidak punya siapa-siapa saat kebenaran ini menghantamnya. Raihan takut pada Dina, karena Dina cerdas dan memiliki logika yang kuat. Raihan tahu, selama Tri memiliki Dina, kontrolnya tidak akan pernah berguna. Kesadaran itu membuat amarah Tri sedikit mereda, digantikan oleh kepasrahan yang mendalam. Ia terlalu lelah untuk menangis lagi. Ia terlalu hancur untuk bergerak. Tri merangkak ke sudut kamar, di antara tumpukan bantal, dan meringkuk. Ia tidak lagi memikirkan Raihan, Sarah, atau pernikahan di Surabaya. Ia hanya memikirkan rasa malu yang akan ia hadapi. Bagaimana ia akan menghadapi Dina, yang peringatannya ia abaikan? Bagaimana ia akan menghadapi Ayahnya, yang ia yakinkan Raihan adalah pria yang stabil? Dan bagaimana ia akan menjelaskan kegagalan nilai-nilainya di sekolah? Seluruh masa depannya yang ia bangun di atas ilusi kini runtuh, menyisakan puing-puing berupa kehancuran akademik dan mental. Saat Tri terperosok dalam keheningan total, keheningan yang lebih menakutkan dari teriakan histerisnya, tiba-tiba terdengar suara ketukan pelan di pintu. "Tri? Sayang, kamu di dalam? Bukalah, Nak. Ibu dengar ada suara keras. Kenapa kamu tidak keluar sejak pulang sekolah?" Itu suara Ibunya, lembut namun cemas. Tri tidak merespons. Ia tidak bisa. Lidahnya kelu. Ia hanya mampu meringkuk lebih erat, berharap kegelapan menelannya. Ibu Tri, yang sudah merasakan ada yang tidak beres sejak Tri menjauhi Dina, mencoba memutar kenop pintu. Pintunya terkunci dari dalam. "Tri, Ibu mohon, buka pintunya. Ibu khawatir." Setelah beberapa detik tanpa respons, kekhawatiran Ibu Tri memuncak. Ibu Tri mengeluarkan kunci cadangan. Ia membuka pintu kamar Tri perlahan. Pemandangan di dalam kamar membuat Ibu Tri terperangah. Jendela tertutup, kamar remang-remang. Cincin perak yang bengkok tergeletak di lantai dekat dinding. Kepingan pita satin maroon berserakan di atas karpet. Dan di sudut, meringkuk di antara bantal, Tri terlihat seperti patung yang tak bernyawa. Ibu Tri segera mendekat, lututnya lemas. Ia menyentuh punggung Tri yang kedinginan. "Ya Tuhan, Tri! Ada apa, Sayang?" Tri sedikit bergerak, mengangkat wajahnya. Matanya sembap, merah, penuh air mata kering dan kekosongan. Tatapan itu tidak fokus, seolah melihat menembus Ibunya, menembus dinding, menembus kebohongan yang baru saja menghancurkan dunianya. "Raihan... Raihan..." Itu satu-satunya kata yang mampu diucapkan Tri, suaranya seperti bisikan angin, sebelum ia kembali meringkuk dan kehilangan kesadaran. Ibu Tri panik, memeluk tubuh Tri yang kaku dan dingin, menyadari bahwa putrinya baru saja mengalami kehancuran emosional total. Tri terlalu rusak untuk memberitahu Ibunya. Aku adalah gadis persinggahan, Bu. Dan dia sudah sampai di pelabuhan abadinya.Jakarta tidak lagi bergetar oleh denyut frekuensi Lazarus, namun ia juga tidak lagi memiliki kemegahan yang dulu pernah dibanggakan. Yang tersisa hanyalah kerangka gedung-gedung tinggi yang menghitam dan debu sisa pembakaran sirkuit yang menyelimuti setiap sudut jalan. Di sebuah sudut kawasan Salemba, di antara tumpukan puing yang masih mengeluarkan aroma logam terbakar, Tri berdiri menatap sebuah bangunan tua berlantai dua yang dindingnya retak-retak.Bangunan itu dulu adalah sebuah apotek kecil. Kini, dengan bantuan Bayu dan beberapa warga yang selamat, Tri mencoba membangkitkan kembali apa yang ia sebut sebagai "Klinik Nurani"."Dokter, air bersih sudah mengalir, tapi tekanannya lemah," seru Bayu dari dalam bangunan. Seragam taktisnya kini digantikan oleh kaos kumal yang penuh noda semen.Tri mengangguk kecil, mencoba menarik napas dalam-dalam. Namun, setiap kali ia mengembuskan napas, ada ruang kosong di dadanya yang terasa perih. Pemandangan ini, memb
Aroma melati yang semula manis kini telah berubah menjadi bau busuk dari pembusukan organik yang dipaksakan. Tri bersimpuh di atas tanah yang bergetar, menatap sosok di depannya dengan perasaan hancur yang tak terlukiskan. Saraswati atau makhluk yang kini menggunakan raga ibunya berdiri tegak dengan sulur-sulur saraf yang menjulur dari punggungnya, menembus dinding-dinding aula dan terhubung langsung ke seluruh ekosistem Kalimantan. Di tengah dadanya, wajah Aria tampak terperangkap di balik lapisan kulit transparan, matanya terpejam namun mulutnya bergerak-gerak mengikuti irama napas Saraswati."Kau tidak mengerti, Tri," suara itu kini bukan lagi bisikan, melainkan gemuruh yang keluar dari setiap helai daun di hutan itu. "Kehendak bebas adalah penyakit. Ia menciptakan perang, ia menciptakan dermaga-dermaga penantian yang tak pernah berakhir. Di dalam pelukanku, kau tidak akan pernah menunggu lagi. Kau akan menjadi bagian dari harmoni yang abadi."Adrian bangkit den
Langkah kaki Tri tenggelam dalam lapisan lumut yang terasa kenyal dan hangat di bawah kakinya. Bau melati yang tadi sempat menyapa kini mulai kalah oleh aroma logam yang teroksidasi dan sesuatu yang amis, menyerupai bau darah namun dengan aroma kimia yang tajam. Mereka telah masuk sekitar seratus meter ke dalam lorong akar yang terbuka di jantung hutan Kalimantan itu, dan cahaya matahari dari luar telah lama hilang, digantikan oleh pendaran merah redup yang berasal dari dinding-dinding lorong. "Dinding ini... mereka bernapas," bisik Bayu, ujung senjatanya gemetar saat ia menyentuh sebuah sulur yang menjuntai. Sulur itu seketika mengerut, mengeluarkan cairan bening yang berdenyut seirama dengan detak jantung mereka. Adrian, yang berjalan di depan dengan perangkat pemindai saraf kunonya, mendadak berhenti. Jarum pada alatnya bergetar hebat hingga patah. "Kita tidak sedang berada di dalam bangunan, Tri. Kita berada di dalam sebuah organ. Titik Nol bukan se
Keheningan di basement Menara Radio itu terasa lebih mencekik daripada gemuruh perang satelit yang baru saja mereka lalui. Tri menatap Aria yang berdiri mematung di tengah kegelapan, matanya yang tadi berpendar merah kini telah meredup, kembali menjadi mata anak kecil yang tampak bingung. Suara Saraswati yang tadi keluar dari mulut Aria masih terngiang di telinga Tri, dingin dan penuh peringatan."Aria? Kau dengar aku?" Tri mendekat, mencoba menyentuh bahu anak itu, namun Aria mundur satu langkah."Ibu... dia ada di tempat yang sangat gelap, Dokter," bisik Aria dengan suaranya sendiri, namun nadanya hampa. "Ada banyak akar yang mengikatnya. Dia tidak ingin kalian datang, karena jika kalian datang, 'dia' yang lain akan ikut bangun."Adrian menghidupkan kembali lampu darurat bertenaga baterai. Cahaya kuning yang redup menerangi wajahnya yang tampak sepuluh tahun lebih tua. "Fase 3," gumamnya sambil menatap monitor yang kini hanya menampilkan layar statis. "R
Jakarta pagi itu tidak lagi bersuara dengan dengungan mesin atau sinkronisasi frekuensi yang dingin. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, yang terdengar adalah suara yang sangat manusiawi, isak tangis lega, teriakan memanggil nama anggota keluarga yang hilang, dan desau angin yang tidak membawa muatan statis. Cahaya matahari yang merambat dari ufuk timur berwarna oranye keemasan, menyentuh sisa-sisa Menara Radio Kebun Jeruk yang kini tampak seperti kerangka raksasa yang telah menunaikan tugas terakhirnya.Tri berdiri di balkon menara, menatap ke arah kota yang perlahan terbangun. Matanya sembab, bukan hanya karena kelelahan, tetapi karena duka yang mendalam atas hilangnya Liora. Di tangannya, ia memegang sepotong logam kecil yang hangus bagian dari pelat dada Liora yang ia temukan di puing-puing setelah ledakan Archangel."Dia benar-benar menjadi manusia di saat terakhirnya," suara Adrian terdengar dari belakang. Pria itu berjalan perlahan, tubuhnya masih te
Suara derap kaki ribuan orang yang bergerak serempak menciptakan getaran yang terasa hingga ke fondasi terdalam Menara Radio Kebun Jeruk. Dari puncak menara yang berkarat, pemandangannya tampak seperti mimpi buruk yang menjadi nyata, lautan manusia dengan mata bersinar biru elektrik merayap maju melalui jalanan sempit, melewati rongsokan kendaraan yang membeku dan puing-puing bangunan sisa perang. Mereka tidak membawa senjata api, mereka bergerak seperti gelombang pasang yang sunyi namun mematikan, hanya digerakkan oleh satu pikiran kolektif dari langit yang dingin. "Mereka sudah mencapai radius lima ratus meter!" teriak Aruna melalui corong bicara tembaga yang usang. "Siapkan barikade listrik! Jangan biarkan mereka menyentuh pagar utama, atau kita akan kehilangan kendali atas frekuensi ini!" Di dalam ruang pemancar yang pengap, Adrian dan Tri bekerja dengan kecepatan penuh di tengah deru mesin yang memanas. Mereka menghubungkan Aria ke sebu







