Mag-log inBravo!
Tepuk tangan menggema di seluruh aula bagaikan guruh, keras dan membahana.
Setiap pasang mata tertuju pada Lisa dan suara tepukan serta sorakan seolah menggetarkan dinding-dinding ruangan. Namun di tengah semua pujian itu, Lisa hanya memikirkan satu hal yaitu Adam pasti sedang menonton.
Adam akan senang dan tak a
"Habis? Apa maksudmu?" Eleanor mengernyitkan dahi."Aduh, ayolah, Eleanor. Yang penting kita telah melakukan pekerjaan kita dengan baik dan itu cukup untuk membuat posisi kita tetap aman.”“Kamu yakin?”“Tentu saja. Aku akan duduk manis disini dan membiarkan pelacur kecil itu melayani para tamu klub yang beringas. Lagipula, tugasmu hanya memasak dan menyiapkan kebutuhan untuknya, bukan menjadi malaikat pelindungnya!" bentak Matilda dengan nada yang berubah menjadi tajam.Eleanor menghela napas panjang sambil mengingat kondisi Lisa saat ia mengantarkan air hangat pagi ini. "Tetap saja bagiku Tuan Adam sangat kejam padanya. Dia bahkan tidak menganggapnya sebagai manusia.""Hentikan pembicaraan ini, Elean
“Pasti para pelanggan akan senang dengan mainan baru anda, Tuan.”"Tepat sekali.” jawab Adam sambil mengetuk abu cerutunya ke asbak.Adam akhirnya selesai menghitung tumpukan uang tunai terakhir lalu mengikatnya dengan rapi sebelum melemparkannya ke dalam brankas besi.Sambil bangkit berdiri dari kursinya, ia merapikan rompi jasnya lalu berkata pada pelayannya. "Cari kepala pelayan. Katakan padanya untuk segera mengirim Matilda ke kamarku sekarang juga.""Baik, Tuan."Begitu mendapatkan perintah dari pelayan, Matilda bergegas menuju kamar Adam. Ia mengetuk pintu dengan lembut sebelum melangkah masuk ke dalam kamar pribadi Adam.Tanpa menunggu undangan, ia langsung duduk di atas pangkuan Adam lalu melingkarkan lengan kurusnya di leher pria tinggi besar itu.Sementara Adam hanya menikmati cerutunya dengan santai tanpa menggeser posisi tubuhnya."Ada apa, Sayang?" tanyanya manja sambil menatap mata Adam yang dingin."Besok malam, aku ingin kamu memastikan riasan Lisa. Aku tidak ingin pa
Hahahahahaha!Tawa Matilda terdengar sangat keras di dalam kamarnya. Suara kepuasan itu menggema hingga ke langit-langit kamarnya.Rasa senang yang sangat luar biasa langsung melingkupi dirinya begitu mendengar kabar kalau Lisa kembali dijual Adam pada tamu Klub Kurara yang terkenal bengis.“Rasain kau Lisa. Makanya jangan sombong sekarang kau sudah benar-benar hancur. Tau rasa kamu dijual oleh Adam harga tertinggi di klub! Aku tidak pernah tahu kalau dia bisa menjadi begitu kejam dan luar biasa!" ucap Matilda pada diri sendiri.Senyuman yang aneh menghiasi wajahnya saat ia berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya sampai seorang pelayan memanggilnya sambil membuka pintu."Matilda!" bentak Eleanor, kepala pel
“Aku suka perlawananmu, Sayang!” kekeh pria asing itu lalu menekan bibirnya keras-keras ke bibir Lisa.Ciuman itu pemaksaan dan kasar.Yang Lisa rasakan hanya kenyataan pahit kalau anggannya tak benar-benar terjadi di kamar ini.Ini bukan Adam!Ini bukanlah malam istimewa yang ia impikan."Kamu terasa sangat lembut dan manis," bisik pria itu di bibir Lisa yang sedetik kemudian merobek baju Lisa."Aah!""Ya! Berteriaklah sesukamu, Sayang," pria itu tertawa dengan suaranya yang berat dan mengejek. "Aku ingin mendengar setiap suara kecil yang kamu buat. Itu membuat malam ini jauh lebih menyenangkan."
Bravo!Tepuk tangan menggema di seluruh aula bagaikan guruh, keras dan membahana.Setiap pasang mata tertuju pada Lisa dan suara tepukan serta sorakan seolah menggetarkan dinding-dinding ruangan. Namun di tengah semua pujian itu, Lisa hanya memikirkan satu hal yaitu Adam pasti sedang menonton.Adam akan senang dan tak akan lama lagi pria tampan itu pasti akan memanggilnya untuk melayani gairahnya di ranjangnya.Lisa lalu melangkah turun dari panggung dengan penuh percaya diri sambil menunggu panggilan dari Adam."Mau ke mana, Nona Lisa?" tanya seorang pelayan yang mendekati gadis cantik itu."Ah, aku sedang menunggumu. Bukankah aku diminta menemui Adam malam ini?”
“Tidak!” tegas Matilda sambil menghela napas panjang lalu menundukkan kepalanya.“Bagus!” Adam tersenyum sinis lalu memutar wajahnya ke arah pelayannya. “Sekarang pindahkan semua barang-barang Lisa ke kamar barunya. Sekarang!”Lisa berjalan melenggang dengan senyum penuh kemenangan, sementara Matilda hanya bisa menelan rasa pahit di dalam hatinya.Hari itu, Lisa merasa bagaikan seorang ratu. Barang-barangnya dipindahkan oleh para pelayan menuju lantai yang sama dengan kamar Adam, sementara Matilda hanya bisa menatapnya dari kejauhan dengan rasa cemburu yang membara.Matahari semakin tinggi saat seorang pelayan melangkah masuk ke kamar baru Lisa.







