LOGIN"Tubuhku miliknya, tapi jiwanya milik wanita lain."–Arianna De Rossi. Pernikahan tidak pernah masuk dalam rencana hidup Arianna De Rossi. Terlebih dengan seorang pria asing—dingin, berkuasa, dan berbahaya. Namun demi nyawa ayahnya, Arianna tidak punya pilihan. Ia menyerahkan hidupnya pada sebuah ikatan yang tak pernah ia inginkan, terikat pada pria tersebut. Arianna tidak tahu satu hal—pernikahan itu bukanlah penyelamatan, melainkan awal dari kehidupan yang akan mengubah segalanya.
View MoreGedung tua Don Caruso, Milan.
Langit Milan sore itu berwarna kelabu, bangunan-bangunan tua berdiri angkuh. Di salah satu gedung berlantai lima di pusat kota, Arianna De Rossi, 26 Tahun, duduk dengan kedua tangan saling menggenggam, jemarinya dingin dan gemetar. Ia tidak seharusnya berada di tempat ini. Ruang kerja itu terlalu besar, terlalu sunyi, dan terlalu mahal untuk seorang wanita sepertinya. Bau kopi hitam bercampur aroma kayu tua memenuhi udara. Dindingnya dipenuhi lukisan klasik—indah, tapi terasa mengintimidasi. Di depannya, seorang pria berdiri membelakangi jendela. Mario Caruso, 30 Tahun. Nama itu saja sudah cukup membuat dada Arianna terasa sesak. Pria itu tidak perlu menoleh untuk membuat kehadirannya terasa. Tubuhnya tegap, dibalut setelan hitam rapi. Tangannya dimasukkan ke saku celana, sikap santai yang sama sekali tidak menunjukkan bahwa hidup seseorang sedang berada di ujung tanduk. Ayah Arianna berdiri beberapa langkah di belakangnya. Wajah pria paruh baya itu pucat, matanya menunduk. Tidak ada lagi wibawa yang dulu Arianna kenal—yang tersisa hanya rasa takut. “Ayahmu sudah tahu kenapa kita bertemu,” ucap Mario akhirnya. Suaranya rendah. Datar. Tidak mengandung emosi. Mario berbalik. Tatapan gelapnya jatuh tepat ke arah Arianna. Sekilas saja, tapi cukup untuk membuat napas Arianna tercekat. Pria itu menatap seperti seseorang yang terbiasa menilai harga suatu barang—dingin dan penuh perhitungan. “Hutang itu,” lanjut Mario, “sudah lewat batas waktu.” Ayah Arianna tersentak. “Tuan Caruso, saya mohon—” Mario mengangkat satu tangan. Cukup satu gerakan kecil untuk membungkam semua kata. “Aku tidak meminta penjelasan.” Keheningan kembali turun. Arianna merasa jantungnya berdetak terlalu keras. Ia ingin berbicara, ingin bertanya, ingin menarik ayahnya keluar dari ruangan ini. Namun kakinya terasa berat, seolah lantai marmer itu menahannya tetap di tempat. Mario melangkah mendekat. Sepatunya berbunyi pelan di lantai, setiap langkah terasa seperti hitungan mundur. “Aku tidak tertarik dengan uang yang tak bisa kau bayar,” kata Mario, berhenti tepat di depan Arianna. “Tapi aku selalu tertarik pada solusi.” Tatapan pria itu turun, sejenak, seolah baru benar-benar melihat Arianna. Mata hitam itu tidak lembut. Tidak juga kejam. Hanya kosong—dan justru itulah yang membuatnya menakutkan. “Apa maksud Anda?” tanya Arianna akhirnya, suaranya nyaris bergetar. Mario menatapnya lebih lama dari yang diperlukan. Ada sesuatu di wajah wanita itu yang membuatnya terdiam sejenak. Bukan kecantikan semata—melainkan kesan familiar yang samar, seperti bayangan masa lalu yang seharusnya sudah terkubur. Ia menyingkirkan pikiran itu dengan cepat. “Aku akan melunasi hutang ayahmu,” ucap Mario pelan. Arianna membeku. Ayahnya mengangkat kepala dengan harapan yang nyaris menyakitkan untuk dilihat. “Tapi—” Mario melanjutkan, nadanya tidak berubah, “setiap solusi memiliki harga.” Arianna menelan ludah. “Harga apa?” Mario menatapnya lurus. Tidak ada senyum. Tidak ada basa-basi. “Menikahlah denganku,” katanya. “Itu satu-satunya cara agar ayahmu tetap hidup.” Waktu seakan berhenti. Arianna merasa dunia di sekelilingnya runtuh dalam satu kalimat singkat. Pernikahan? Dengan pria ini? Dengan Mario Caruso—nama yang disebut orang dengan bisikan, bukan percakapan biasa? “Itu tidak masuk akal,” bisiknya. “Anda bahkan tidak mengenal saya.” Mario tidak terlihat tersinggung. “Aku tahu cukup.” “Aku bukan barang untuk ditukar,” kata Arianna, kali ini lebih tegas, meski suaranya masih bergetar. Mario sedikit menunduk, sejajar dengan tatapannya. “Di dunia ini,” ujarnya pelan, “semua orang adalah sesuatu yang bisa dipertukarkan. Termasuk nyawa.” Ayah Arianna terdengar terisak pelan. Arianna menoleh, melihat ketakutan yang begitu nyata di wajah pria yang membesarkannya. Pria yang kini hidupnya tergantung pada jawabannya. Ketika Arianna kembali menatap Mario, ia tahu satu hal dengan pasti. Pria ini tidak sedang mengancam. Ia sedang memberi pilihan—pilihan yang hanya memiliki satu jawaban. Arianna menarik napas panjang, seolah-olah udara terasa berat di paru-parunya. “Kalau aku menolak?” tanyanya pelan. Mario tidak langsung menjawab. Ia berdiri tegak, menatap Arianna tanpa berkedip, seolah pertanyaan itu tidak cukup penting untuk segera ditanggapi. Beberapa detik berlalu. “Kalau kau menolak,” akhirnya ia berkata, suaranya tetap datar, “aku akan tetap mendapatkan apa yang menjadi milikku.” Arianna mengernyit. “Apa maksudmu?” Mario sedikit memiringkan kepala. “Hutang itu.” Ayah Arianna tersentak. “Tuan Caruso, tolong—” “Diam.” Satu kata. Rendah. Tajam, dan pria itu benar-benar terdiam. Arianna menatap ayahnya, dadanya terasa sesak melihat bagaimana pria yang selalu ia andalkan kini tidak berdaya. “Kau mencintai ayahmu?” tanya Mario tiba-tiba. Pertanyaan itu membuat Arianna menegang. “Tentu saja.” “Bagus.” Mario mengangguk pelan. “Itu akan mempermudah semuanya.” Arianna menggigit bibirnya. “Ini bukan kesepakatan yang adil.” Mario mendekat satu langkah lagi. Jarak mereka kini terlalu dekat—cukup untuk membuat Arianna bisa melihat garis rahang tegasnya, dan dinginnya tatapan yang tidak menunjukkan sedikit pun keraguan. “Keadilan,” ulang Mario pelan, seolah kata itu asing baginya. “Tidak pernah menjadi bagian dari dunia ini.” Arianna mengepalkan tangannya. “Kau bahkan tidak tahu siapa aku.” Mario menatapnya lebih dalam kali ini. Lebih lama. “Arianna De Rossi,” ucapnya tenang. “Dua puluh enam tahun. Lulusan desain interior. Tinggal bersama ayahmu sejak ibumu meninggal.” Napas Arianna tercekat. “Aku tahu cukup,” lanjut Mario. Keheningan kembali terasa, lebih berat dari sebelumnya. “Kenapa aku?” suara Arianna melemah, tapi masih berusaha tegar. “Kenapa harus aku?” Untuk pertama kalinya, Mario tidak langsung menjawab. Tatapannya kembali turun, menelusuri wajah Arianna dengan cara yang membuat wanita itu merasa tidak nyaman—seolah ia sedang dibandingkan dengan sesuatu yang tidak ia pahami. Namun hanya sepersekian detik. “Karena kau ada di sini,” jawab Mario akhirnya. Jawaban yang terlalu sederhana. Terlalu dingin. Arianna menggeleng pelan. “Itu bukan alasan.” Mario tidak membantah. Ia hanya berkata, “Itu sudah cukup.” “Aku tidak akan bahagia,” ucap Arianna lirih. Mario mengangkat bahu tipis. “Itu bukan bagian dari kesepakatan.” Kalimat itu menghantam lebih keras dari apa pun. Arianna menutup matanya sejenak. Mencoba menenangkan dirinya. Tapi suara napas ayahnya yang tidak teratur di belakangnya membuat semua usahanya sia-sia. “Ayah…” bisiknya, berbalik. Pria itu tidak berani menatapnya. “Maafkan Ayah, Arianna… Ayah tidak punya pilihan…” Arianna menelan pahit. Tidak punya pilihan. Kalimat itu kembali bergema di kepalanya. Ia kembali menghadap Mario. Pria itu masih berdiri di sana, tak berubah sedikit pun—seolah waktu tidak memengaruhinya. “Kalau aku setuju,” kata Arianna akhirnya, suaranya lebih stabil, “kau benar-benar akan melunasi semuanya?” Mario menatapnya. “Aku tidak pernah mengingkari kata-kataku.” “Dan… ayahku aman?” “Selama kau tetap menjadi istriku,” jawab Mario tanpa jeda. Ada sesuatu dalam kalimat itu. Sebuah syarat tak tertulis yang terasa seperti rantai. Arianna mengerti, ini bukan sekadar pernikahan. Ini penjara. Ia menghembuskan napas perlahan. Lama. Seolah mengumpulkan sisa keberaniannya. “Baik,” katanya akhirnya. Satu kata. Namun cukup untuk mengubah segalanya. Ayahnya terisak lega di belakangnya. Tapi Arianna tidak menoleh. Ia hanya menatap Mario. “Aku akan menikah denganmu.” Tidak ada senyum kemenangan di wajah pria itu. Tidak ada perubahan berarti. Hanya anggukan kecil. “Keputusan yang tepat.” Arianna merasakan sesuatu runtuh di dalam dirinya. “Kapan?” tanyanya. “Besok.” Arianna membeku. “Besok?” “Kontrak akan disiapkan malam ini,” lanjut Mario tenang. “Pernikahan dilakukan secara privat. Tidak perlu perayaan.” “Terlalu cepat,” bisik Arianna. Mario menatapnya datar. “Waktu tidak pernah berpihak pada orang yang berhutang.” Arianna tidak membalas. Ia sudah tahu. Tidak ada yang bisa ia ubah lagi. Mario berbalik, berjalan kembali ke mejanya. Seolah pembicaraan barusan hanyalah urusan bisnis biasa. “Ada yang akan mengantarmu pulang,” ucapnya tanpa menoleh. “Siapkan dirimu.” Arianna berdiri diam. Kakinya terasa mati rasa. “Dan Arianna—” Langkahnya terhenti, ia menoleh. Mario menatapnya sekali lagi. Tatapan yang sama dinginnya, tapi kali ini terasa lebih… dalam. Lebih sulit dibaca. “Mulai saat ini,” ucapnya pelan, “kau adalah milikku.”Suasana di dalam ballroom hotel terasa begitu menyesakkan bagi Arianna. Lampu kristal yang berkilau, denting gelas sampanye, dan tawa basa-basi para tamu seolah mengepungnya. Mario terus menggenggam pinggangnya, memamerkannya pada setiap kolega bisnis seolah ia adalah piala kemenangan yang baru saja dimenangkan dari taruhan mahal. "Caruso! Jadi ini alasan kau menghilang dari peredaran beberapa minggu terakhir?" Seorang pria paruh baya dengan perut buncit mendekat, matanya menatap Arianna dengan binar yang tidak sopan. "Luar biasa. Kau selalu tahu cara memilih koleksi terbaik." Mario tidak tersenyum, namun ia menarik Arianna lebih rapat ke sisinya, membiarkan tangan besarnya mendekap pinggang Arianna yang terekspos. "Perkenalkan, ini Arianna," ucap Mario dengan nada datar yang penuh penekanan. "Istriku." Terdengar gumaman terkejut dari beberapa pria di lingkaran itu. Mereka menatap Arianna dari ujung kepala hingga kaki, seolah sedang menilai harga dari perhiasan hidup yang d
Cahaya matahari Milan yang pucat menembus dinding kaca, memaksa Arianna membuka matanya. Ia terbangun di atas ranjang besar, masih dengan jubah mandi yang membungkus tubuhnya. Tulang-tulangnya terasa kaku, dan memar di lengannya kini berwarna keunguan—tanda nyata dari cengkeraman Mario semalam. Kamar itu sudah kosong. Tidak ada tanda-tanda keberadaan suaminya, kecuali aroma sandalwood yang masih tertinggal di bantal yang tak tersentuh. Arianna bangkit dengan susah payah. Di atas nakas, ia menemukan sebuah kotak kecil berwarna putih dan secarik kertas dengan tulisan tangan yang kaku namun elegan. 'Ganti pakaianmu. Enzo menunggumu di bawah.' Arianna membuka kotak itu. Sebuah ponsel model terbaru. Di sampingnya, sudah tersedia beberapa pakaian baru di ruang ganti—semuanya berwarna gelap, elegan, dan mahal. Persis seperti selera Mario. Ia tidak tahu bahwa di dalam ponsel cantik itu, sebuah perangkat lunak pelacak sudah aktif, siap melaporkan setiap koordinat langkahnya kepada
Arianna tidak menjawab, ia hanya mendengar apa yang Mario ucapkan. Setelahnya, mereka masuk ke dalam mobil. Mobil mewah itu melaju pelan menuju suatu tempat yang Arianna sendiri tidak tahu. Ia tidak ingin bertanya, ia hanya diam dan memejamkan matanya. Otaknya sangat penuh, tidak paham apa yang sudah terjadi pada hidupnya hari ini. Mansion Mario Caruso. Mobil itu bergerak memasuki area bangunan besar dan terlihat sangat mewah, Arianna melihatnya dengan terpukau, ini bukan rumah di pinggiran Milan pada umumnya. Bangunan itu adalah perpaduan beton, baja, dan kaca—arsitektur yang sempurna namun tak memiliki jiwa. Sama seperti pemiliknya. Setelah mobil berhenti, mereka keluar, dan melangkah menuju pintu utama. Begitu pintu utama yang tinggi besar itu terbuka, Enzo—pria berjas yang sedari tadi mengikuti mereka—melangkah maju. Ia tidak membawa Arianna ke ruang tengah, melainkan berhenti di sebuah koridor panjang yang sunyi. Sementara Mario, pria itu sudah menghilang ntah kema
Pagi di Milan tidak membawa kehangatan apa pun. Arianna duduk di ruang tamu sebuah penthouse yang terlalu luas untuk disebut rumah. Dinding kaca menjulang, memperlihatkan kota dari ketinggian—indah, tapi terasa jauh. Terlalu jauh untuk dijangkau. Di atas meja kaca di depannya, sebuah map hitam tergeletak rapi. Tipis. Namun cukup untuk mengikat seluruh hidupnya. Pintu terbuka tanpa suara. Mario Caruso masuk, diikuti seorang pria berjas abu-abu yang membawa tas dokumen. Tidak ada sapaan. Tidak ada basa-basi. “Mulai,” ucap Mario singkat. Pria itu mengangguk, lalu duduk berhadapan dengan Arianna. Ia membuka map hitam tersebut, mengeluarkan beberapa lembar kertas, dan mendorongnya perlahan ke arah Arianna. “Kontrak pernikahan,” katanya formal. “Silakan dibaca.” Arianna menatap lembaran itu beberapa detik, seolah berharap tulisan-tulisan di atasnya berubah. Tidak, semuanya tetap di sana. Dingin. Resmi, dan mengikat. Ia menarik napas, lalu mulai membaca. “Pasal satu
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.