LOGIN"Tubuhku miliknya, tapi jiwanya milik wanita lain."–Arianna De Rossi. Pernikahan tidak pernah masuk dalam rencana hidup Arianna De Rossi. Terlebih dengan seorang pria asing—dingin, berkuasa, dan berbahaya. Namun demi nyawa ayahnya, Arianna tidak punya pilihan. Ia menyerahkan hidupnya pada sebuah ikatan yang tak pernah ia inginkan, terikat pada pria tersebut. Arianna tidak tahu satu hal—pernikahan itu bukanlah penyelamatan, melainkan awal dari kehidupan yang akan mengubah segalanya.
View MoreArianna masih menyentuh sudut bibirnya, merasakan sisa hangat yang tertinggal di sana. Pikirannya kacau. Kecupan itu... rasanya tidak sinkron dengan kata-kata kejam yang Mario ucapkan tadi malam. "Kau gila, Arianna. Jangan terbuai," bisiknya pada diri sendiri. Kepalanya yang masih terasa berat akhirnya memaksa Arianna untuk kembali berbaring. Di bawah pengaruh obat dari perawat, ia akhirnya jatuh tertidur. Sore harinya, ia terbangun dengan tubuh yang terasa jauh lebih ringan. Demamnya sudah turun. Rasa sesak karena terus terkurung membuat Arianna nekat untuk keluar. Dengan langkah pelan, ia menyusuri lorong mansion yang sunyi hingga langkahnya terhenti di depan sebuah pintu kayu jati besar di ujung koridor lantai dua. Pintu itu berbeda—tidak ada gagang, hanya sebuah pemindai sidik jari yang dingin di sampingnya. Arianna teringat ucapan Enzo bahwa ruangan itu terlarang. Ia ingin mendekat, namun rasa takut akan amarah Mario lebih besar. Ia memutuskan menjauh dan turun menuju dapur,
Perjalanan pulang di dalam limosin terasa jauh lebih dingin daripada salju di puncak Alpen. Mario duduk di sisi lain, menatap keluar jendela dengan rahang yang masih terkatup rapat. Tidak ada kata maaf, tidak ada penjelasan. Hanya kesunyian yang memekakkan telinga. Arianna meringkuk di sudut kursi, masih terbungkus tuxedo milik Mario yang kebesaran. Aroma kayu cendana dari kain itu kini terasa seperti racun yang masuk ke pori-porinya. Setiap kali mobil berguncang, robekan di gaunnya terasa menyentuh kulit, mengingatkannya betapa rendahnya ia di mata pria itu. Begitu sampai di mansion, Mario keluar lebih dulu tanpa menoleh. "Nyonya," Enzo membukakan pintu untuk Arianna, matanya tertuju ke lantai, tidak berani menatap kondisi Arianna yang berantakan. "Tuan memerintahkan Anda untuk segera beristirahat. Besok pagi, akan ada perawat yang datang untuk memeriksa ... kondisi Anda." Arianna tidak menjawab. Ia melangkah masuk dengan kaki lemas, melewati lorong-lorong mansion yang kin
Suasana di dalam ballroom hotel terasa begitu menyesakkan bagi Arianna. Lampu kristal yang berkilau, denting gelas sampanye, dan tawa basa-basi para tamu seolah mengepungnya. Mario terus menggenggam pinggangnya, memamerkannya pada setiap kolega bisnis seolah ia adalah piala kemenangan yang baru saja dimenangkan dari taruhan mahal. "Caruso! Jadi ini alasan kau menghilang dari peredaran beberapa minggu terakhir?" Seorang pria paruh baya dengan perut buncit mendekat, matanya menatap Arianna dengan binar yang tidak sopan. "Luar biasa. Kau selalu tahu cara memilih koleksi terbaik." Mario tidak tersenyum, namun ia menarik Arianna lebih rapat ke sisinya, membiarkan tangan besarnya mendekap pinggang Arianna yang terekspos. "Perkenalkan, ini Arianna," ucap Mario dengan nada datar yang penuh penekanan. "Istriku." Terdengar gumaman terkejut dari beberapa pria di lingkaran itu. Mereka menatap Arianna dari ujung kepala hingga kaki, seolah sedang menilai harga dari perhiasan hidup yang d
Cahaya matahari Milan yang pucat menembus dinding kaca, memaksa Arianna membuka matanya. Ia terbangun di atas ranjang besar, masih dengan jubah mandi yang membungkus tubuhnya. Tulang-tulangnya terasa kaku, dan memar di lengannya kini berwarna keunguan—tanda nyata dari cengkeraman Mario semalam. Kamar itu sudah kosong. Tidak ada tanda-tanda keberadaan suaminya, kecuali aroma sandalwood yang masih tertinggal di bantal yang tak tersentuh. Arianna bangkit dengan susah payah. Di atas nakas, ia menemukan sebuah kotak kecil berwarna putih dan secarik kertas dengan tulisan tangan yang kaku namun elegan. 'Ganti pakaianmu. Enzo menunggumu di bawah.' Arianna membuka kotak itu. Sebuah ponsel model terbaru. Di sampingnya, sudah tersedia beberapa pakaian baru di ruang ganti—semuanya berwarna gelap, elegan, dan mahal. Persis seperti selera Mario. Ia tidak tahu bahwa di dalam ponsel cantik itu, sebuah perangkat lunak pelacak sudah aktif, siap melaporkan setiap koordinat langkahnya kepada
Arianna tidak menjawab, ia hanya mendengar apa yang Mario ucapkan. Setelahnya, mereka masuk ke dalam mobil. Mobil mewah itu melaju pelan menuju suatu tempat yang Arianna sendiri tidak tahu. Ia tidak ingin bertanya, ia hanya diam dan memejamkan matanya. Otaknya sangat penuh, tidak paham apa yan
Pagi di Milan tidak membawa kehangatan apa pun. Arianna duduk di ruang tamu sebuah penthouse yang terlalu luas untuk disebut rumah. Dinding kaca menjulang, memperlihatkan kota dari ketinggian—indah, tapi terasa jauh. Terlalu jauh untuk dijangkau. Di atas meja kaca di depannya, sebuah map hitam
Gedung tua Don Caruso, Milan. Langit Milan sore itu berwarna kelabu, bangunan-bangunan tua berdiri angkuh. Di salah satu gedung berlantai lima di pusat kota, Arianna De Rossi, 26 Tahun, duduk dengan kedua tangan saling menggenggam, jemarinya dingin dan gemetar. Ia tidak seharusnya berada di tem
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.