Share

Chapter 4

last update publish date: 2026-05-11 14:22:35

Hari pernikahan pun tiba, Azalea duduk diam di depan meja rias dengan gaun putih sederhana yang membalut tubuhnya. Rambut pendeknya ditata, dan wajahnya dipoles makeup tipis yang membuat sisi feminin dalam dirinya terlihat semakin jelas.

Namun, di balik penampilannya, pikirannya terasa kacau. Ucapan kedua orang tuanya semalam terus terngiang di kepalanya.

“Orang tua Carlos sudah banyak membantu keluarga kita. Ayah dan Ibu cuma minta kali ini aja… tolong penuhi permintaan Om Tommy.”

Azalea menghela napas panjang. Ia tahu benar bagaimana keluarga Rigel selalu membantu mereka selama bertahun-tahun. Mulai dari masa sulit usaha pertanian ayahnya hingga biaya rumah sakit neneknya dulu. Karena itu, ia tidak punya keberanian untuk benar-benar menolak permintaan terakhir Tommy.

Tangannya perlahan mengambil buket bunga putih kecil yang terletak di sisi meja rias. Tiba-tiba, suara pintu terbuka. Azalea menoleh.

Carlos masuk ke dalam ruangan dengan setelan jas hitam yang pas di tubuhnya. Rambutnya sudah jauh lebih rapi dibanding beberapa hari terakhir, meski wajahnya masih menyisakan lelah dan kusut karena kurang tidur.

Begitu melihat Azalea, Carlos berhenti sebentar lalu terkekeh kecil.

“Lo kelihatan kayak pengantin waktu kita kecil dulu,” ledeknya santai.

Azalea langsung mendelik. “Apaan sih.”

Carlos mengusap pipi Azalea yang kemerahan karena blush on sambil tersenyum tipis. “Lo inget nggak? Kita pernah main nikah-nikahan.”

Azalea menepis tangan Carlos dengan kesal. “Ya iyalah inget. Itu juga karena lo maksa gue jadi pengantin.”

Carlos tertawa pelan.

“Ya soalnya banyak anak cewek yang rebutan buat jadi pengantin gue sih, ampe bingung harus pilih yang mana. Nah kebetulan ada lo yang malah sibuk main kelereng sama anak cowok lain,” kata Carlos tertawa kecil.

“Lo nyebelin banget sumpah waktu itu!” seru Azalea dengan cemberut.

Carlos justru terlihat makin terhibur mendengarnya. Ia melangkah mendekat perlahan hingga berdiri tepat di depan Azalea.

Jarak mereka kini terlalu dekat. Carlos mencondongkan tubuh sedikit, menatap Azalea dengan senyum penuh godaan yang sangat familiar.

“Tapi ... Lo serius mau nikah sama gue?” katanya pelan.

Azalea langsung terdiam, ia merasa jantungnya berdebar tak karuan. Namun, ia buru-buru memalingkan wajah sebentar sebelum mendengus kecil.

“Jangan geer.”

Carlos mengangkat alis.

“Gue cuma ngikutin permintaan orang tua gue. Jadi jangan berharap lebih sama gue!” lanjutnya dan mencoba mendorong tubuh Carlos untuk menjauh.

Carlos menahan tangan Azalea yang berada tepat di dadanya, menurunkan kembali wajahnya agar sejajar dengan wajah Azalea dan berkata pelan.

“Kalau gitu… kita anggap aja ini pernikahan kontrak.”

Azalea langsung membulatkan matanya. “Hah? Kenapa begitu?”

Carlos menegakkan tubuhnya, sedikit mundur. “Emangnya lo mau terjebak seumur hidup sama gue?”

Azalea refleks menggeleng cepat tanpa berpikir. Melihat itu, Carlos malah terkekeh kecil.

Lalu ia mengulurkan tangannya ke arah Azalea.

“Satu tahun, cukup satu tahun kita nikah. Setelah itu… kita cerai.”

Azalea menatap tangan Carlos beberapa detik. Entah kenapa, ada rasa aneh di dadanya mendengar kata cerai diucapkan semudah itu. Tapi ia tahu sejak awal pernikahan ini memang bukan tentang cinta.

Ini hanya kewajiban.

Perlahan, Azalea mengangkat tangannya lalu menyambut uluran tangan Carlos.

“Deal,” jawabnya tegas.

Tangan mereka saling berjabat.

***

Pintu besar gereja perlahan terbuka.

Carlos dan Azalea berjalan masuk berdampingan di tengah suasana yang hening dan sakral. Pernikahan itu jauh dari kata mewah untuk ukuran keluarga Rigel. Tidak ada ratusan tamu penting atau pesta besar seperti yang biasa diadakan kalangan konglomerat. Hanya keluarga inti dan beberapa orang terdekat yang hadir.

Namun justru karena itu, suasananya terasa lebih nyata.

Azalea menggenggam buket bunganya sedikit lebih erat. Gaun putih sederhana yang ia kenakan membuatnya terlihat berbeda dari biasanya. Sementara di sampingnya, Carlos berjalan dengan jas hitam elegan yang membuatnya tampak jauh lebih dewasa dibanding pria tengil yang selalu ia kenal.

Di depan altar, pendeta sudah menunggu.

Tommy duduk di kursi roda di barisan depan dengan infus masih terpasang di tangannya dan selang oksigen yang membantu pernapasannya. Tangannya menggenggam erat tangan Sisca yang duduk di sampingnya.

Di sisi lain, Rose tampak menahan tangis haru dalam pelukan Bryan. Mereka tidak pernah membayangkan putri mereka akan menikah secepat ini.

Carlos dan Azalea akhirnya berhenti tepat di depan pendeta. Pendeta mulai memimpin jalannya pemberkatan dengan suara tenang dan penuh makna.

“Carlos Rigel, apakah Anda bersedia menerima Azalea Frieda sebagai istri Anda, mencintainya, menghormatinya, melindunginya, dan berjalan bersamanya dalam setiap fase kehidupan, dalam keadaan apa pun?”

Carlos menelan ludah, lalu menjawab dengan mantap, “Saya bersedia.”

“Azalea Frieda, apakah Anda bersedia menerima Carlos Rigel sebagai suami Anda, untuk hidup bersama dalam suka dan duka, menjaga dan mencintainya, setia dalam segala keadaan, hingga maut memisahkan?”

Azalea mengangkat wajahnya. Suaranya bergetar halus, namun penuh keyakinan.

“Saya bersedia.”

Setelah pendeta mengucapkan doa, tibalah saat pertukaran cincin.

Carlos mengambil cincin itu perlahan lalu memasangkannya di jari manis Azalea. Tatapannya sempat berhenti beberapa detik pada wajah gadis itu sebelum Azalea gantian memasangkan cincin pada jari Carlos.

Tepuk tangan kecil terdengar dari keluarga mereka.

Namun momen berikutnya langsung membuat Azalea membeku.

“Sekarang,” ucap pendeta, “pengantin pria dipersilakan mencium pengantin wanitanya.”

Mata Azalea langsung membesar.

“Eh?” dia buru-buru nengok ke Carlos dengan muka panik.

Sementara Carlos malah santai banget. Senyum miringnya muncul kayak biasa.

Dia mendekat dikit ke Azalea. “Kenapa?” bisiknya pelan.

“Lo nervous?”

Azalea langsung melotot. “Nggak lah!”

Carlos malah ketawa kecil. “Padahal kita udah pernah ciuman juga.”

“Itu kecelakaan!” bisik Azalea cepat dengan muka merah.

“Hmm…” Carlos ngangguk-ngangguk sok ngerti.

Tiba-tiba Carlos langsung narik cepat pinggang Azalea. Tubuh Azalea langsung kaku. Dan detik berikutnya…

Cup.

Bibir Carlos langsung nempel di bibir Azalea. Azalea langsung melotot. Otaknya kosong total. Sementara Carlos tersenyum santai seolah itu hal biasa.

Tepuk tangan langsung pecah di seluruh gereja, bikin Azalea makin gugup tidak karuan.

Carlos mencium Azalea beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya. Seolah sengaja menikmati bagaimana gadis itu benar-benar terpaku dalam pelukannya.

Sisca menutup mulutnya haru, Tommy tersenyum lemah penuh kepuasan, sementara Rose akhirnya benar-benar menangis dalam pelukan Bryan.

Carlos perlahan melepaskan ciumannya. Saat wajah mereka terpisah tipis, ia masih bisa melihat jelas wajah Azalea yang merah padam dan tatapan gugup yang berusaha disembunyikan.

***

Kini mereka berada di kamar hotel mewah yang dihadiahkan Tommy untuk pernikahan mereka. Azalea masuk lebih dulu dengan langkah cepat, langsung melepas veil putih di kepalanya dengan kesal. Sementara Carlos masuk santai di belakangnya sambil melonggarkan dasi dan membuka beberapa kancing kemejanya.

Azalea langsung berbalik. “Kenapa lo cium gue kayak gitu tadi?!”

Carlos terlihat bingung sesaat, lalu malah berjalan mendekat perlahan. Azalea otomatis mundur sedikit sampai punggungnya hampir menyentuh meja.

Jarak mereka kini tak lebih dari lima senti.

Carlos menatap Azalea dengan senyum jahil khasnya. “Kenapa?” bisiknya pelan. “Lo kurang puas?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (252)
goodnovel comment avatar
Razi Maulidi
kok mau dijodohkan... bikin penasaran aja kkak bacanya
goodnovel comment avatar
mayasaryi246
Bab ini berhasil membuat pembaca ikut bahagia melihat kebersamaan mereka
goodnovel comment avatar
sintaparilia56
Hubungan mereka mulai terlihat lebih dekat dibanding sebelumnya
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Gadis Tomboy Incaran CEO Playboy   Chapter 82

    Di dalam mobil, suasana langsung berubah sunyi. Carlos fokus menyetir, sementara Azalea duduk di sampingnya sambil memandang keluar jendela.Lampu-lampu jalan berlalu begitu saja. Hingga akhirnya Azalea mendengus pelan."Ngapain sih lo ke sana?"Carlos melirik sekilas."Jemput istri gue lah."Azalea langsung menoleh dengan wajah kesal."Istri? Bukannya lo lagi seneng-seneng sama cewek-cewek bule di Bali?"Carlos justru tersenyum kecil."Oh... Kirain lo nggak lihat semua foto dan video yang gue kirim."Azalea mendengus lagi."Gue sibuk. Jadi nggak sempat lihat semuanya. Kalau lo mau seneng-seneng ya seneng-seneng aja. Nggak usah nyepam kayak

  • Gadis Tomboy Incaran CEO Playboy   Chapter 81

    Carlos berjalan santai menghampiri Mike yang masih berdiri. Wajahnya tampak tenang, tetapi sorot matanya tetap tajam. Ia melirik ke sekeliling kebun yang mulai sepi lalu bertanya dengan nada santai,"Pestanya udah selesai?"Mike memasukkan kedua tangannya ke saku celana."Udah."Lalu ia balik bertanya,"Untuk apa lo ke sini?"Carlos tersenyum tipis."Kenapa? Gue nggak boleh datang?"Mike tidak menjawab. Carlos lalu menambahkan sambil mengangkat bahu,"Lagi pula Azalea itu anak teman nyokap gue. Nggak aneh kalau gue datang."Mike menatap Carlos beberapa detik. Tatapannya jelas tidak bersahabat."Cuma sayangnya.""Apa?""Azalea nggak bisa ketemu lo."Carlos mengangkat sebelah alis."Siapa lo ngatur-ngatur Azalea?"Nada suaranya berubah dingin. Mike langsung menatap balik."Gue cuma nggak mau Azalea terluka."Kalimat itu membuat Carlos tersenyum miring."

  • Gadis Tomboy Incaran CEO Playboy   Chapter 80

    Senja mulai turun ketika pesta rakyat akhirnya selesai.Lampu-lampu gantung yang dipasang sejak pagi mulai menyala satu per satu, menerangi kebun yang kini perlahan kembali sepi.Anak-anak sudah pulang bersama orang tua mereka. Tenda-tenda mulai dibongkar. Beberapa warga masih membantu membereskan meja dan kursi.Sementara itu, Rose dan Bryan tampak sibuk membagikan hasil panen kepada warga yang masih mengantre.Bryan terlihat sangat bahagia."Ambil yang banyak ya! Tahun ini panen kita luar biasa!" serunya sambil tertawa.Rose ikut tersenyum melihat suaminya yang begitu bersemangat. Sedangkan di sisi lain, Azalea masih membantu membereskan sisa-sisa makanan bersama Mike.Namun sejak pagi tadi, tubuhnya terasa semakin tidak nyaman. Perutn

  • Gadis Tomboy Incaran CEO Playboy   Chapter 79

    Carlos akhirnya tiba di kamar hotel saat matahari mulai tenggelam di ufuk Bali. Begitu pintu kamar terbuka, Sintia yang sejak tadi berjalan di belakangnya langsung ikut melangkah maju."Pak Carlos, kalau ada yang perlu saya bantu—""Nggak usah."Carlos langsung memotong.Sintia berhenti. "Tapi kita bisa berbagi kehangatan—""Lain kali aja."Carlos membuka pintu lebih lebar lalu menatap sekretarisnya."Gue mau istirahat."Sintia tampak kecewa. Ia sebenarnya berharap bisa menghabiskan lebih banyak waktu berdua dengan Carlos, apalagi mereka sedang berada di luar kota.Namun tatapan dingin pria itu membuatnya tidak berani membantah."Baik, Pak."Carlos mengangguk singkat. Lalu menutup pintu.Klik.Kamar hotel yang luas itu langsung terasa sunyi. Carlos melemparkan kartu kamar ke atas meja. Kemudian ia menjatuhkan tubuhnya ke ranjang besar.Matanya menatap langit-langit.A

  • Gadis Tomboy Incaran CEO Playboy   Chapter 78

    Matahari Bali bersinar terik ketika Carlos berdiri di depan bangunan resort yang masih setengah jadi.Debu konstruksi beterbangan tertiup angin.Beberapa pekerja masih terlihat mondar-mandir, namun jumlahnya jauh lebih sedikit dibanding laporan yang pernah ia terima beberapa bulan lalu.Carlos memasukkan kedua tangan ke saku celananya sambil memperhatikan area proyek yang terbengkalai itu.Semakin lama ia melihatnya, semakin banyak hal yang terasa tidak masuk akal."Masih aneh," gumamnya.Sintia yang berdiri di sampingnya menoleh."Apa yang aneh, Pak?"Carlos menghela napas."Kalau klien memang mau menghentikan proyek, kenapa menunggu sampai pembangunan sejauh ini?"Sintia ikut memandang bangunan tersebut."Kemungkinan masalah dana?"Carlos menggeleng."Kalau masalah dana, mereka nggak mungkin berani mulai proyek sebesar ini."Ia menyipitkan mata."Ada sesuatu yang belum kita tah

  • Gadis Tomboy Incaran CEO Playboy   Chapter 77

    Pagi itu langit masih berwarna abu-abu ketika Carlos sudah berada di terminal keberangkatan bandara. Matanya tampak lelah. Ia bahkan masih mengenakan pakaian yang sama seperti semalam.Kemeja yang sedikit kusut. Jas yang digantung asal di lengan. Dan aroma alkohol yang masih menempel samar di tubuhnya.Carlos duduk di ruang tunggu VIP sambil menatap landasan pacu di balik jendela besar. Sudah sejak dini hari ia berada di sana.Dan sejak semalam pula ia tidak kembali ke apartemen. Ponselnya tergeletak di meja. Layar gelap.Tidak ada satu pun pesan yang ia kirim. Tidak ada satu pun telepon yang ia lakukan. Beberapa saat kemudian langkah sepatu hak tinggi mendekat.Sintia datang sambil membawa koper kecil dan beberapa kantong pakaian. Begitu mendekat, wanita itu langsung mengernyit."Pak Carlos..."Carlos melirik sekilas."Hm?"Sintia meletakkan kantong pakaian di sampingnya."Bapak nggak pulang ke rumah?"Car

  • Gadis Tomboy Incaran CEO Playboy   Chapter 29

    Pagi itu Carlos baru saja tiba di kantornya. Langkahnya tenang memasuki ruangan CEO yang luas dan elegan itu sambil melepas jas mahalnya. Tatapannya jatuh pada layar laptop dan tumpukan dokumen kerja. Tok tok tok. Suara

  • Gadis Tomboy Incaran CEO Playboy   Chapter 20

    Acara pesta masih berlangsung meriah dengan musik dan obrolan para tamu yang memenuhi ballroom.Namun karena waktu sudah cukup malam, Carlos akhirnya memutuskan untuk pulang lebih dulu bersama Azalea.Mereka berjalan keluar hotel bersama Mike yang ikut mengantar sampai depan lobby.

  • Gadis Tomboy Incaran CEO Playboy   Chapter 7

    Azalea langsung nengok cepat. “Hah?”Carlos menyandarkan tubuhnya ke kursi mobil. “Tentang semalam.”Bug!Azalea langsung mukul lengan Carlos cukup keras.“Tentu aja gue keberatan!” protesnya kesal. “Inget ya, kita nikah kontrak. Bukan berarti lo bisa nyentuh gue seena

  • Gadis Tomboy Incaran CEO Playboy   Chapter 6

    Perlahan, Carlos mengusap atas dada Azalea. Menyentuhnya pelan-pelan, menelusuri lekuk tubuhnya. Tubuh Azalea menegang, saat jemari Carlos mulai memutari titik sensitifnya. Azaela bergetar. Air matanya tiba-tiba jatuh begitu saja. Suara isak terdengar dari bibir Azalea membuat Carlos langsung berhe

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status