登入Suara musik lembut mengalun pelan, sementara para pelayan berdiri rapi di sisi ruangan terbuka. Di depan, Tommy berdiri dengan setelan jas elegan, memegang mikrofon dengan senyum hangat yang selama ini begitu dikenal banyak orang.
“Terima kasih karena sudah datang,” ucap Tommy tenang, pandangannya menyapu para tamu yang hadir.
“Saya benar-benar menghargai semua hubungan baik yang sudah berjalan selama ini.”
Para tamu memperhatikan dengan hormat. Beberapa mengangkat gelas mereka, tersenyum mendengar sambutan pria yang dikenal sebagai salah satu CEO paling berpengaruh itu.
Carlos berdiri tidak jauh dari sana bersama dengan Azalea yang langsung menjaga jarak setelah kejadian barusan.
Namun beberapa detik kemudian, suara Tommy tiba-tiba melemah. Pria itu berhenti bicara. Tangannya perlahan memegang dada kirinya.
Wajahnya berubah pucat.
“Papa?” gumam Carlos pelan, alisnya langsung berkerut.
Tommy mencoba berdiri tegak, tetapi napasnya mulai tersengal. Mikrofon di tangannya terjatuh dengan suara nyaring yang langsung membuat suasana mendadak hening.
Tubuh Tommy ambruk ke lantai. Suasana pesta berubah kacau dalam hitungan detik.
“PAPA!” Carlos langsung berlari menghampiri.
Ia berlutut di samping Tommy dengan wajah panik yang belum pernah terlihat sebelumnya. Tangannya mengguncang tubuh ayahnya pelan.
“Papa! Pa, buka mata!” suara Carlos meninggi.
Para tamu mulai berdiri dari kursi mereka. Beberapa orang panik, beberapa lainnya buru-buru memanggil bantuan.
Sisca yang melihat itu langsung menjerit kecil dan berlari mendekat. “Tommy!” suaranya bergetar.
Carlos menoleh cepat dengan napas memburu. “Panggil ambulans sekarang!” teriaknya keras pada para pelayan.
Untuk pertama kalinya, wajah tengil dan santai Carlos benar-benar hilang. Tidak ada senyum malas, tidak ada sikap bermain-main. Yang terlihat hanya kepanikan seorang anak yang takut kehilangan ayahnya.
Tangannya bahkan sedikit gemetar saat memegang Tommy. Sisca mulai menangis panik di samping suaminya, sementara orang-orang di sekitar mencoba membantu sebisa mungkin.
Di sisi lain halaman, Azalea berdiri terpaku. Matanya tertuju pada Carlos tanpa berkedip. Ia terbiasa melihat Carlos sebagai pria menyebalkan, santai, dan selalu bermain-main dengan hidupnya. Tapi sekarang, pria itu terlihat sangat berbeda.
Carlos dengan susah payah mengangkat tubuh Tommy ke dalam gendongannya. Jas mahal yang ia kenakan mulai berantakan, napasnya memburu, tapi ia tidak peduli sedikit pun.
“Buka jalan!” teriak salah satu pelayan panik saat ambulans akhirnya tiba di depan rumah.
Carlos langsung melangkah cepat membawa Tommy keluar dari kerumunan. Sisca mengikuti di belakang dengan wajah pucat dan air mata yang terus jatuh tanpa henti.
“Tommy…” lirihnya gemetar.
Di sisi lain, Rose dan Bryan ikut bergerak cepat mengikuti Carlos menuju ambulans. Para tamu mulai saling berbisik panik, suasana pesta yang tadi mewah kini berubah kacau total.
Setelah Tommy dipindahkan ke atas brankar ambulans, Carlos berdiri diam beberapa detik di depan pintu kendaraan itu. Wajahnya terlihat kosong dan bingung. Tatapannya beralih pada halaman rumah yang masih dipenuhi tamu-tamu penting, para relasi bisnis ayahnya, dan acara yang kini berantakan.
Untuk sesaat, Carlos terlihat seperti kehilangan arah. Bryan yang berdiri di dekatnya mengerti kebingungan itu. Ia menepuk pelan bahu Carlos.
“Carlos, pergilah! Biar Om yang urus acara di sini,” ucap Bryan mencoba menenangkan.
Carlos mengangguk kecil. “Iya… makasih, Om,” gumamnya pelan.
Tanpa berpikir panjang lagi, Carlos langsung masuk ke dalam ambulans menemani Tommy dan Sisca.
Pintu ambulans tertutup. Bryan menghela napas panjang sambil memperhatikan kendaraan itu perlahan pergi meninggalkan rumah.
Lalu ia menoleh ke belakang.
“Rose, kalian ikut ke rumah sakit,” ujar Bryan cepat. “Temenin Sisca sama Carlos.” panggilnya.
Rose yang sejak tadi terlihat cemas langsung mengangguk, bersama Azalea mereka menaiki mobil menyusul ke rumah sakit.
***
Esok harinya, Carlos sudah berada di gedung perusahaan milik ayahnya. Ia duduk di ruangan rapat utama yang begitu besar dan terasa menyesakkan. Meja panjang mengilap terbentang di tengah ruangan, dikelilingi para eksekutif dan petinggi perusahaan yang mengenakan setelan formal rapi.
Namun di tengah suasana serius itu, Carlos hanya duduk diam dengan kepala tertunduk. Suara bisikan para eksekutif terdengar samar di telinganya.
“Bagaimana kondisi Presdir?”
“Apa Carlos siap mengambil alih sementara?”
“Proyek bulan depan bagaimana?”
Semua percakapan itu terdengar asing bagi Carlos. Istilah bisnis, laporan, angka, dan strategi yang mereka bicarakan terasa seperti bahasa lain yang tidak pernah ingin ia pelajari.
Tangannya mengepal pelan di bawah meja.
Bayu, asisten pribadi Tommy yang selama ini selalu berada di sisi ayahnya, mengetuk meja Carlos.
“Tuan Carlos,” panggilnya hati-hati.
Carlos mengangkat wajah perlahan.
“Kita harus memutuskan langkah perusahaan sekarang.”
Carlos hanya memandangnya kosong.
“Beberapa proyek membutuhkan persetujuan. Investor juga mulai bertanya tentang kondisi Tuan Tommy,” lanjut Bayu pelan. “Apa yang harus kita lakukan sekarang?”
Ruangan kembali hening. Semua mata tertuju pada Carlos, menunggu jawabannya. Namun Carlos justru merasa semakin sesak. Ia tidak mengerti apa pun tentang tempat ini. Tentang perusahaan. Tentang tanggung jawab besar yang tiba-tiba dilemparkan kepadanya begitu saja.
Carlos menunduk lagi, mengusap wajahnya kasar. Namun, detik berikutnya tatapan mata Carlos perlahan berubah serius. Ia mengangkat kepalanya lalu menatap para eksekutif di ruangan itu.
“Bagaimana kalau beberapa proyek baru ditunda terlebih dahulu? Dan fokus ke hal-hal yang urgent sampai kondisi Presdir membaik.”
Ruangan mendadak hening, sementara Bayu mulai memperhatikan Carlos dengan berbeda.
***
Carlos mendorong pelan pintu ruang rawat VVIP itu. Penampilannya berantakan, kemejanya kusut, rambutnya tak beraturan, dan wajahnya terlihat lelah setelah seharian berada di perusahaan lalu langsung kembali ke rumah sakit.
Di dalam ruangan, Sisca duduk di samping ranjang Tommy dengan mata sembab, sementara Bryan dan Rose berdiri tidak jauh dari sana. Azalea juga ada di ruangan itu, berdiri diam sambil memandang Tommy yang baru dua jam lalu selesai menjalani operasi.
Begitu melihat Carlos masuk, Sisca langsung berdiri. “Carlos…”
Carlos berjalan cepat mendekati ranjang ayahnya. Tatapannya langsung tertuju pada Tommy yang terlihat jauh lebih lemah dari sebelumnya.
“Gimana kabar Papa?” tanyanya pelan.
Tommy tersenyum tipis meski wajahnya pucat. Tangannya perlahan terangkat, menggenggam tangan Carlos dengan lemah.
“Papa udah dengar ... Kamu berhasil pimpin rapat hari ini.”
Carlos langsung menggeleng pelan. “Jangan pikirin perusahaan dulu,” katanya cepat. “Papa fokus sembuh aja.”
Tommy hanya tersenyum kecil. Tatapannya kemudian bergeser pelan ke arah Azalea yang berdiri di sudut ruangan.
“Ada satu permintaan lagi…” ucap Tommy perlahan.
Semua orang langsung terdiam. Tommy menarik napas pelan sebelum kembali bicara.
“Papa nggak tahu umur Papa bakal sampai kapan.”
“Jangan ngomong gitu,” potong Sisca dengan suara bergetar.
Namun Tommy tetap melanjutkan. Tatapannya kembali pada Carlos.
“Menikahlah dengan Azalea.”
Carlos membeku di tempatnya. Sementara Azalea yang sejak tadi diam langsung mengangkat wajahnya cepat. Matanya melebar menatap Carlos dengan keterkejutan yang jelas terlihat.
Jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat. Tak ada seorang pun yang menyangka permintaan itu akan keluar dari mulut Tommy.
Carlos makin mendekatkan wajahnya. Tatapannya turun ke bibir Azalea yang langsung membuat Azalea salah tingkah sendiri. Jantungnya mulai nggak karuan. Entah kenapa, dia nggak tahu harus ngomong apa. Napas Carlos terasa dekat banget. Azalea bahkan tanpa sadar mulai memejamkan mata pelan. Tapi… Bukannya mencium, Carlos malah berhenti. “Lo belum pernah pacaran sebelumnya, kan?” tanyanya tiba-tiba dengan nada santai. Azalea langsung buka mata. Carlos masih menatap dia sambil senyum tipis penuh godaan. “Berarti…” Carlos mendekat sedikit lagi. “Gue first kiss lo?” Wajah Azalea langsung merah padam. Bruk! Dia langsung mendorong dada Carlos kuat-kuat. “Jangan pernah sentuh gue lagi!” bentaknya malu sekaligus kesal. Carlos malah ketawa kecil melihat reaksinya. Azalea langsung pergi cepat ke kamar mandi sambil menutup pintu cukup keras. Begitu masuk, dia langsung nyender di wastafel sambil napas buru-buru. Tangannya cepat nyalain air lalu membasuh wajahnya sendiri. “Sadarlah, Azalea
Hari pernikahan pun tiba, Azalea duduk diam di depan meja rias dengan gaun putih sederhana yang membalut tubuhnya. Rambut pendeknya ditata, dan wajahnya dipoles makeup tipis yang membuat sisi feminin dalam dirinya terlihat semakin jelas.Namun, di balik penampilannya, pikirannya terasa kacau. Ucapan kedua orang tuanya semalam terus terngiang di kepalanya.“Orang tua Carlos sudah banyak membantu keluarga kita. Papa cuma minta kali ini aja… tolong penuhi permintaan Om Tommy.”Azalea menghela napas panjang. Ia tahu benar bagaimana keluarga Rigel selalu membantu mereka selama bertahun-tahun. Mulai dari masa sulit usaha pertanian ayahnya hingga biaya rumah sakit neneknya dulu. Karena itu, ia tidak punya keberanian untuk benar-benar menolak permintaan terakhir Tommy.Tangannya perlahan mengambil buket bunga putih kecil yang terletak di sisi meja rias. Tiba-tiba, suara pintu terbuka. Azalea menoleh.Carlos masuk ke dalam ruangan dengan setelan jas hitam yang pas di tubuhnya. Rambutnya sudah
Suara musik lembut mengalun pelan, sementara para pelayan berdiri rapi di sisi ruangan terbuka. Di depan, Tommy berdiri dengan setelan jas elegan, memegang mikrofon dengan senyum hangat yang selama ini begitu dikenal banyak orang.“Terima kasih karena sudah datang,” ucap Tommy tenang, pandangannya menyapu para tamu yang hadir.“Saya benar-benar menghargai semua hubungan baik yang sudah berjalan selama ini.”Para tamu memperhatikan dengan hormat. Beberapa mengangkat gelas mereka, tersenyum mendengar sambutan pria yang dikenal sebagai salah satu CEO paling berpengaruh itu.Carlos berdiri tidak jauh dari sana bersama dengan Azalea yang langsung menjaga jarak setelah kejadian barusan.Namun beberapa detik kemudian, suara Tommy tiba-tiba melemah. Pria itu berhenti bicara. Tangannya perlahan memegang dada kirinya.Wajahnya berubah pucat.“Papa?” gumam Carlos pelan, alisnya langsung berkerut.Tommy mencoba berdiri tegak, tetapi napasnya mulai tersengal. Mikrofon di tangannya terjatuh dengan
Di dalam rumah besar itu, Azalea berdiri di depan wastafel kamar Carlos, menatap bayangannya sendiri di cermin dengan wajah kesal. Tanpa ragu, ia langsung membasuh bibirnya berkali-kali, seolah ingin menghapus jejak yang barusan terjadi.“Gila…” gumamnya pelan, tangannya menggosok bibirnya lebih keras dari yang seharusnya. “Kenapa sih harus lo yang ambil bibir suci gue!”Ia menghela napas panjang, masih diliputi rasa jengkel. Dalam kepalanya, ia terus memaki Carlos yang bahkan tidak sadar sudah melakukan hal yang membuatnya kacau seperti ini.Setelah beberapa saat, Azalea mematikan keran dan melangkah keluar dari kamar mandi. Matanya langsung tertuju pada Carlos yang sudah terbaring di atas ranjang, tertidur lelap tanpa beban. Nafasnya teratur, wajahnya terlihat tenang seolah tidak terjadi apa-apa.Melihat itu, rasa kesal Azalea justru semakin memuncak.“Enak banget lo tidur!” gerutunya.Ia berjalan mendekat, meraih bantal di samping Carlos, lalu tanpa ragu memukulkannya ke wajah pria
Carlos melepaskan ciumannya dengan napas yang masih memburu. Ia menatap Raisa sekilas, lalu mengusap tengkuknya sendiri dengan ekspresi datar. Ada sesuatu yang terasa kurang, tapi ia sendiri tidak tahu apa.Raisa yang masih bersandar manja di dada Carlos, mengerutkan kening. “Lo kenapa sih akhir-akhir ini?” tanyanya pelan, jemarinya bermain di dada bidang Carlos.Carlos menghela napas pendek. “Nggak kenapa-kenapa. Cuma… bosan aja,” jawabnya.Raisa langsung mengangkat wajahnya, sedikit tidak percaya. “Bosan? Sama gue?”Carlos hanya mengangkat bahu, tidak benar-benar menjawab. Kamar apartemen itu tampak berantakan, baju berserakan, gelas kosong di meja, dan lampu yang hanya menyala setengah membuat suasana terasa sumpek.Raisa bangkit dari posisi tidurnya, meraih pakaiannya yang tergeletak di kursi, lalu memakainya perlahan.“Kalau gitu kita ganti suasana, gimana?” katanya sambil tersenyum menggoda. “Mungkin ke hotel… atau ke pantai? Biar nggak monoton.”Ia kembali mendekat, memeluk tub







