Share

Chapter 3

last update publish date: 2026-05-11 14:22:12

Suara musik lembut mengalun pelan, sementara para pelayan berdiri rapi di sisi ruangan terbuka. Di depan, Tommy berdiri dengan setelan jas elegan, memegang mikrofon dengan senyum hangat yang selama ini begitu dikenal banyak orang.

“Terima kasih karena sudah datang,” ucap Tommy tenang, pandangannya menyapu para tamu yang hadir.

“Saya benar-benar menghargai semua hubungan baik yang sudah berjalan selama ini.”

Para tamu memperhatikan dengan hormat. Beberapa mengangkat gelas mereka, tersenyum mendengar sambutan pria yang dikenal sebagai salah satu CEO paling berpengaruh itu.

Carlos berdiri tidak jauh dari sana bersama dengan Azalea yang langsung menjaga jarak setelah kejadian barusan.

Namun beberapa detik kemudian, suara Tommy tiba-tiba melemah. Pria itu berhenti bicara. Tangannya perlahan memegang dada kirinya.

Wajahnya berubah pucat.

“Papa?” gumam Carlos pelan, alisnya langsung berkerut.

Tommy mencoba berdiri tegak, tetapi napasnya mulai tersengal. Mikrofon di tangannya terjatuh dengan suara nyaring yang langsung membuat suasana mendadak hening.

Tubuh Tommy ambruk ke lantai. Suasana pesta berubah kacau dalam hitungan detik.

“PAPA!” Carlos langsung berlari menghampiri.

Ia berlutut di samping Tommy dengan wajah panik yang belum pernah terlihat sebelumnya. Tangannya mengguncang tubuh ayahnya pelan.

“Papa! Pa, buka mata!” suara Carlos meninggi.

Para tamu mulai berdiri dari kursi mereka. Beberapa orang panik, beberapa lainnya buru-buru memanggil bantuan.

Sisca yang melihat itu langsung menjerit kecil dan berlari mendekat. “Tommy!” suaranya bergetar.

Carlos menoleh cepat dengan napas memburu. “Panggil ambulans sekarang!” teriaknya keras pada para pelayan.

Untuk pertama kalinya, wajah tengil dan santai Carlos benar-benar hilang. Tidak ada senyum malas, tidak ada sikap bermain-main. Yang terlihat hanya kepanikan seorang anak yang takut kehilangan ayahnya.

Tangannya bahkan sedikit gemetar saat memegang Tommy. Sisca mulai menangis panik di samping suaminya, sementara orang-orang di sekitar mencoba membantu sebisa mungkin.

Di sisi lain halaman, Azalea berdiri terpaku. Matanya tertuju pada Carlos tanpa berkedip. Ia terbiasa melihat Carlos sebagai pria menyebalkan, santai, dan selalu bermain-main dengan hidupnya. Tapi sekarang, pria itu terlihat sangat berbeda.

Carlos dengan susah payah mengangkat tubuh Tommy ke dalam gendongannya. Jas mahal yang ia kenakan mulai berantakan, napasnya memburu, tapi ia tidak peduli sedikit pun.

“Buka jalan!” teriak salah satu pelayan panik saat ambulans akhirnya tiba di depan rumah.

Carlos langsung melangkah cepat membawa Tommy keluar dari kerumunan. Sisca mengikuti di belakang dengan wajah pucat dan air mata yang terus jatuh tanpa henti.

“Tommy…” lirihnya gemetar.

Di sisi lain, Rose dan Bryan ikut bergerak cepat mengikuti Carlos menuju ambulans. Para tamu mulai saling berbisik panik, suasana pesta yang tadi mewah kini berubah kacau total.

Setelah Tommy dipindahkan ke atas brankar ambulans, Carlos berdiri diam beberapa detik di depan pintu kendaraan itu. Wajahnya terlihat kosong dan bingung. Tatapannya beralih pada halaman rumah yang masih dipenuhi tamu-tamu penting, para relasi bisnis ayahnya, dan acara yang kini berantakan.

Untuk sesaat, Carlos terlihat seperti kehilangan arah. Bryan yang berdiri di dekatnya mengerti kebingungan itu. Ia menepuk pelan bahu Carlos.

“Carlos, pergilah! Biar Om yang urus acara di sini,” ucap Bryan mencoba menenangkan.

Carlos mengangguk kecil. “Iya… makasih, Om,” gumamnya pelan.

Tanpa berpikir panjang lagi, Carlos langsung masuk ke dalam ambulans menemani Tommy dan Sisca.

Pintu ambulans tertutup. Bryan menghela napas panjang sambil memperhatikan kendaraan itu perlahan pergi meninggalkan rumah.

Lalu ia menoleh ke belakang.

“Rose, kalian ikut ke rumah sakit,” ujar Bryan cepat. “Temenin Sisca sama Carlos.” panggilnya.

Rose yang sejak tadi terlihat cemas langsung mengangguk, bersama Azalea mereka menaiki mobil menyusul ke rumah sakit.

***

Esok harinya, Carlos sudah berada di gedung perusahaan milik ayahnya. Ia duduk di ruangan rapat utama yang begitu besar dan terasa menyesakkan. Meja panjang mengilap terbentang di tengah ruangan, dikelilingi para eksekutif dan petinggi perusahaan yang mengenakan setelan formal rapi.

Namun di tengah suasana serius itu, Carlos hanya duduk diam dengan kepala tertunduk. Suara bisikan para eksekutif terdengar samar di telinganya.

“Bagaimana kondisi Presdir?”

“Apa Carlos siap mengambil alih sementara?”

“Proyek bulan depan bagaimana?”

Semua percakapan itu terdengar asing bagi Carlos. Istilah bisnis, laporan, angka, dan strategi yang mereka bicarakan terasa seperti bahasa lain yang tidak pernah ingin ia pelajari.

Tangannya mengepal pelan di bawah meja.

Bayu, asisten pribadi Tommy yang selama ini selalu berada di sisi ayahnya, mengetuk meja Carlos.

“Tuan Carlos,” panggilnya hati-hati.

Carlos mengangkat wajah perlahan.

“Kita harus memutuskan langkah perusahaan sekarang.”

Carlos hanya memandangnya kosong.

“Beberapa proyek membutuhkan persetujuan. Investor juga mulai bertanya tentang kondisi Tuan Tommy,” lanjut Bayu pelan. “Apa yang harus kita lakukan sekarang?”

Ruangan kembali hening. Semua mata tertuju pada Carlos, menunggu jawabannya. Namun Carlos justru merasa semakin sesak. Ia tidak mengerti apa pun tentang tempat ini. Tentang perusahaan. Tentang tanggung jawab besar yang tiba-tiba dilemparkan kepadanya begitu saja.

Carlos menunduk lagi, mengusap wajahnya kasar. Namun, detik berikutnya tatapan mata Carlos perlahan berubah serius. Ia mengangkat kepalanya lalu menatap para eksekutif di ruangan itu.

“Bagaimana kalau beberapa proyek baru ditunda terlebih dahulu? Dan fokus ke hal-hal yang urgent sampai kondisi Presdir membaik.”

Ruangan mendadak hening, sementara Bayu mulai memperhatikan Carlos dengan berbeda.

***

Carlos mendorong pelan pintu ruang rawat VVIP itu. Penampilannya berantakan, kemejanya kusut, rambutnya tak beraturan, dan wajahnya terlihat lelah setelah seharian berada di perusahaan lalu langsung kembali ke rumah sakit.

Di dalam ruangan, Sisca duduk di samping ranjang Tommy dengan mata sembab, sementara Bryan dan Rose berdiri tidak jauh dari sana. Azalea juga ada di ruangan itu, berdiri diam sambil memandang Tommy yang baru dua jam lalu selesai menjalani operasi.

Begitu melihat Carlos masuk, Sisca langsung berdiri. “Carlos…”

Carlos berjalan cepat mendekati ranjang ayahnya. Tatapannya langsung tertuju pada Tommy yang terlihat jauh lebih lemah dari sebelumnya.

“Gimana kabar Papa?” tanyanya pelan.

Tommy tersenyum tipis meski wajahnya pucat. Tangannya perlahan terangkat, menggenggam tangan Carlos dengan lemah.

“Papa udah dengar ... Kamu berhasil pimpin rapat hari ini.”

Carlos langsung menggeleng pelan. “Jangan pikirin perusahaan dulu,” katanya cepat. “Papa fokus sembuh aja.”

Tommy hanya tersenyum kecil. Tatapannya kemudian bergeser pelan ke arah Azalea yang berdiri di sudut ruangan.

“Ada satu permintaan lagi…” ucap Tommy perlahan.

Semua orang langsung terdiam. Tommy menarik napas pelan sebelum kembali bicara.

“Papa nggak tahu umur Papa bakal sampai kapan.”

“Jangan ngomong gitu,” potong Sisca dengan suara bergetar.

Namun Tommy tetap melanjutkan. Tatapannya kembali pada Carlos.

“Menikahlah dengan Azalea.”

Carlos membeku di tempatnya. Sementara Azalea yang sejak tadi diam langsung mengangkat wajahnya cepat. Matanya melebar menatap Carlos dengan keterkejutan yang jelas terlihat.

Jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat. Tak ada seorang pun yang menyangka permintaan itu akan keluar dari mulut Tommy.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (259)
goodnovel comment avatar
Razi Maulidi
bagaimana rasa emosi tokoh dengan sikap begini...suka banget...
goodnovel comment avatar
mayasaryi246
Bab ini sukses membuat rasa penasaran meningkat berkali-kali lipat
goodnovel comment avatar
sintaparilia56
Cerita menjadi semakin menarik karena keputusan yang harus mereka ambil tidaklah mudah
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Gadis Tomboy Incaran CEO Playboy   Chapter 82

    Di dalam mobil, suasana langsung berubah sunyi. Carlos fokus menyetir, sementara Azalea duduk di sampingnya sambil memandang keluar jendela.Lampu-lampu jalan berlalu begitu saja. Hingga akhirnya Azalea mendengus pelan."Ngapain sih lo ke sana?"Carlos melirik sekilas."Jemput istri gue lah."Azalea langsung menoleh dengan wajah kesal."Istri? Bukannya lo lagi seneng-seneng sama cewek-cewek bule di Bali?"Carlos justru tersenyum kecil."Oh... Kirain lo nggak lihat semua foto dan video yang gue kirim."Azalea mendengus lagi."Gue sibuk. Jadi nggak sempat lihat semuanya. Kalau lo mau seneng-seneng ya seneng-seneng aja. Nggak usah nyepam kayak

  • Gadis Tomboy Incaran CEO Playboy   Chapter 81

    Carlos berjalan santai menghampiri Mike yang masih berdiri. Wajahnya tampak tenang, tetapi sorot matanya tetap tajam. Ia melirik ke sekeliling kebun yang mulai sepi lalu bertanya dengan nada santai,"Pestanya udah selesai?"Mike memasukkan kedua tangannya ke saku celana."Udah."Lalu ia balik bertanya,"Untuk apa lo ke sini?"Carlos tersenyum tipis."Kenapa? Gue nggak boleh datang?"Mike tidak menjawab. Carlos lalu menambahkan sambil mengangkat bahu,"Lagi pula Azalea itu anak teman nyokap gue. Nggak aneh kalau gue datang."Mike menatap Carlos beberapa detik. Tatapannya jelas tidak bersahabat."Cuma sayangnya.""Apa?""Azalea nggak bisa ketemu lo."Carlos mengangkat sebelah alis."Siapa lo ngatur-ngatur Azalea?"Nada suaranya berubah dingin. Mike langsung menatap balik."Gue cuma nggak mau Azalea terluka."Kalimat itu membuat Carlos tersenyum miring."

  • Gadis Tomboy Incaran CEO Playboy   Chapter 80

    Senja mulai turun ketika pesta rakyat akhirnya selesai.Lampu-lampu gantung yang dipasang sejak pagi mulai menyala satu per satu, menerangi kebun yang kini perlahan kembali sepi.Anak-anak sudah pulang bersama orang tua mereka. Tenda-tenda mulai dibongkar. Beberapa warga masih membantu membereskan meja dan kursi.Sementara itu, Rose dan Bryan tampak sibuk membagikan hasil panen kepada warga yang masih mengantre.Bryan terlihat sangat bahagia."Ambil yang banyak ya! Tahun ini panen kita luar biasa!" serunya sambil tertawa.Rose ikut tersenyum melihat suaminya yang begitu bersemangat. Sedangkan di sisi lain, Azalea masih membantu membereskan sisa-sisa makanan bersama Mike.Namun sejak pagi tadi, tubuhnya terasa semakin tidak nyaman. Perutn

  • Gadis Tomboy Incaran CEO Playboy   Chapter 79

    Carlos akhirnya tiba di kamar hotel saat matahari mulai tenggelam di ufuk Bali. Begitu pintu kamar terbuka, Sintia yang sejak tadi berjalan di belakangnya langsung ikut melangkah maju."Pak Carlos, kalau ada yang perlu saya bantu—""Nggak usah."Carlos langsung memotong.Sintia berhenti. "Tapi kita bisa berbagi kehangatan—""Lain kali aja."Carlos membuka pintu lebih lebar lalu menatap sekretarisnya."Gue mau istirahat."Sintia tampak kecewa. Ia sebenarnya berharap bisa menghabiskan lebih banyak waktu berdua dengan Carlos, apalagi mereka sedang berada di luar kota.Namun tatapan dingin pria itu membuatnya tidak berani membantah."Baik, Pak."Carlos mengangguk singkat. Lalu menutup pintu.Klik.Kamar hotel yang luas itu langsung terasa sunyi. Carlos melemparkan kartu kamar ke atas meja. Kemudian ia menjatuhkan tubuhnya ke ranjang besar.Matanya menatap langit-langit.A

  • Gadis Tomboy Incaran CEO Playboy   Chapter 78

    Matahari Bali bersinar terik ketika Carlos berdiri di depan bangunan resort yang masih setengah jadi.Debu konstruksi beterbangan tertiup angin.Beberapa pekerja masih terlihat mondar-mandir, namun jumlahnya jauh lebih sedikit dibanding laporan yang pernah ia terima beberapa bulan lalu.Carlos memasukkan kedua tangan ke saku celananya sambil memperhatikan area proyek yang terbengkalai itu.Semakin lama ia melihatnya, semakin banyak hal yang terasa tidak masuk akal."Masih aneh," gumamnya.Sintia yang berdiri di sampingnya menoleh."Apa yang aneh, Pak?"Carlos menghela napas."Kalau klien memang mau menghentikan proyek, kenapa menunggu sampai pembangunan sejauh ini?"Sintia ikut memandang bangunan tersebut."Kemungkinan masalah dana?"Carlos menggeleng."Kalau masalah dana, mereka nggak mungkin berani mulai proyek sebesar ini."Ia menyipitkan mata."Ada sesuatu yang belum kita tah

  • Gadis Tomboy Incaran CEO Playboy   Chapter 77

    Pagi itu langit masih berwarna abu-abu ketika Carlos sudah berada di terminal keberangkatan bandara. Matanya tampak lelah. Ia bahkan masih mengenakan pakaian yang sama seperti semalam.Kemeja yang sedikit kusut. Jas yang digantung asal di lengan. Dan aroma alkohol yang masih menempel samar di tubuhnya.Carlos duduk di ruang tunggu VIP sambil menatap landasan pacu di balik jendela besar. Sudah sejak dini hari ia berada di sana.Dan sejak semalam pula ia tidak kembali ke apartemen. Ponselnya tergeletak di meja. Layar gelap.Tidak ada satu pun pesan yang ia kirim. Tidak ada satu pun telepon yang ia lakukan. Beberapa saat kemudian langkah sepatu hak tinggi mendekat.Sintia datang sambil membawa koper kecil dan beberapa kantong pakaian. Begitu mendekat, wanita itu langsung mengernyit."Pak Carlos..."Carlos melirik sekilas."Hm?"Sintia meletakkan kantong pakaian di sampingnya."Bapak nggak pulang ke rumah?"Car

  • Gadis Tomboy Incaran CEO Playboy   Chapter 2

    Di dalam rumah besar itu, Azalea berdiri di depan wastafel kamar Carlos, menatap bayangannya sendiri di cermin dengan wajah kesal. Tanpa ragu, ia langsung membasuh bibirnya berkali-kali, seolah ingin menghapus jejak yang barusan terjadi.“Gila…” gumamnya pelan, tangannya menggosok bibirnya lebih ke

  • Gadis Tomboy Incaran CEO Playboy   Chapter 5

    Carlos makin mendekatkan wajahnya. Tatapannya turun ke bibir Azalea yang langsung membuat Azalea salah tingkah sendiri. Jantungnya mulai nggak karuan. Entah kenapa, dia nggak tahu harus ngomong apa. Napas Carlos terasa dekat banget. Azalea bahkan tanpa sadar mulai memejamkan mata pelan. Tapi… Bukan

  • Gadis Tomboy Incaran CEO Playboy   Chapter 4

    Hari pernikahan pun tiba, Azalea duduk diam di depan meja rias dengan gaun putih sederhana yang membalut tubuhnya. Rambut pendeknya ditata, dan wajahnya dipoles makeup tipis yang membuat sisi feminin dalam dirinya terlihat semakin jelas. Namun, di balik penampilannya, pikirannya terasa kacau. Ucapa

  • Gadis Tomboy Incaran CEO Playboy   Chapter 1

    Carlos melepaskan ciumannya dengan napas yang masih memburu. Ia menatap Raisa sekilas, lalu mengusap tengkuknya sendiri dengan ekspresi datar. Ada sesuatu yang terasa kurang, tapi ia sendiri tidak tahu apa.Raisa yang masih bersandar manja di dada Carlos, mengerutkan kening. “Lo kenapa sih akhir-ak

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status