登入
Carlos melepaskan ciumannya dengan napas yang masih memburu. Ia menatap Raisa sekilas, lalu mengusap tengkuknya sendiri dengan ekspresi datar. Ada sesuatu yang terasa kurang, tapi ia sendiri tidak tahu apa.
Raisa yang masih bersandar manja di dada Carlos, mengerutkan kening. “Lo kenapa sih akhir-akhir ini?” tanyanya pelan, jemarinya bermain di dada bidang Carlos.
Carlos menghela napas pendek. “Nggak kenapa-kenapa. Cuma… bosan aja,” jawabnya.
Raisa langsung mengangkat wajahnya, sedikit tidak percaya. “Bosan? Sama gue?”
Carlos hanya mengangkat bahu, tidak benar-benar menjawab. Kamar apartemen itu tampak berantakan, baju berserakan, gelas kosong di meja, dan lampu yang hanya menyala setengah membuat suasana terasa sumpek.
Raisa bangkit dari posisi tidurnya, meraih pakaiannya yang tergeletak di kursi, lalu memakainya perlahan.
“Kalau gitu kita ganti suasana, gimana?” katanya sambil tersenyum menggoda. “Mungkin ke hotel… atau ke pantai? Biar nggak monoton.”
Ia kembali mendekat, memeluk tubuh Carlos yang masih tanpa atasan. Tangannya menyentuh perut sixpack Carlos mencoba untuk membuat Carlos bergairah lagi. Carlos hanya diam, tidak menolak, tapi juga tidak benar-benar merespons.
Tiba-tiba, suara pintu apartemen terbuka memecah suasana. Keduanya menoleh bersamaan.
Seorang gadis dengan kaos oversize dan rambut bondol berdiri di ambang pintu. Wajahnya datar, nyaris tanpa ekspresi, matanya menatap lurus ke arah mereka berdua yang masih dalam posisi terlalu dekat.
“Azalea?” gumam Carlos menatap sahabatnya itu.
Raisa langsung menarik diri, memperbaiki posisi duduknya dengan wajah kesal.
Azalea hanya menghela napas pendek. “Sorry,” ucapnya singkat, nada suaranya datar tanpa rasa canggung. “Gue mau pinjem tablet.”
Tanpa menunggu respons, ia melangkah masuk seolah pemandangan di depannya bukan hal yang perlu diperhatikan.
Raisa menatapnya tidak percaya. “Sepertinya lo terlalu bebas masuk ke apartemen pacar orang?”
Azalea tidak berhenti. Ia terus berjalan melewati mereka, bahkan tidak menoleh sedikit pun. Seolah suara Raisa hanya angin lalu. Ia langsung menuju meja dapur kecil, meraih tablet yang memang tergeletak di sana.
Carlos memperhatikan dalam diam. Entah kenapa, kehadiran Azalea selalu terasa berbeda. Tidak ada canggung, tidak ada basa-basi. Selalu seperti itu sejak dulu.
“Lusa gue balikin,” ujar Azalea singkat, masih tanpa melihat ke arah mereka.
Raisa berdiri, kesabarannya mulai habis. “Hei! Gue lagi ngomong sama lo!”
Azalea akhirnya berhenti sebentar di dekat pintu, tapi tetap tidak menoleh. “Gue denger,” jawabnya dingin. “Cuma nggak penting buat dijawab.”
Ucapan itu membuat Raisa semakin kesal. Ia melangkah cepat, seolah ingin mengejar Azalea keluar.
Namun sebelum sempat melangkah lebih jauh, tangan Carlos menahan pergelangannya.
“Udah,” kata Carlos santai, tapi tegas. “Nggak usah ditanggepin.”
Raisa menoleh tajam. “Lo serius? Dia masuk seenaknya, terus lo bela?”
Carlos menghela napas pelan. “Dia anak teman mama gue,” jawabnya singkat. “Udah biasa keluar masuk sini.”
Raisa terdiam, masih jelas tidak terima. “Tetap aja—”
“Raisa,” potong Carlos, kali ini menatapnya langsung. “Udah, ya. Gue anterin lo pulang.”
***
Lampu klub malam berpendar redup dengan dentuman musik yang menggema di seluruh ruangan. Carlos menenggak segelas bir tanpa jeda, menaruhnya kembali ke meja dengan sedikit keras. Wajahnya terlihat datar, tapi jelas ada sesuatu yang mengganjal.
Alex yang duduk di seberangnya mengangkat alis, lalu tertawa kecil. “Kenapa lo kayak bete gitu?” tanyanya santai sambil memutar gelas di tangannya.
Carlos menghela napas panjang, menyandarkan tubuhnya ke sofa. “Gue udah lima kali gonta-ganti pacar semester ini,” katanya jenuh. “Tapi kenapa nggak ada yang bisa bikin gue puas? Semuanya… hambar. Biasa aja.”
Alex langsung tertawa lebih keras, seolah itu hal yang menghibur. “Sejak kapan lo udah nidurin cewek?” ejeknya. “Pas kuliah doang? Atau dari zaman SMA? Jangan-jangan SMP?”
Carlos mendengus. “Gila aja gue begituan pas SMP,” balasnya cepat. “SMA lah. Gue masih inget pertama kali… gue malah bingung sendiri. Padahal udah sering nonton film biru, tapi pas ngalamin langsung beda.”
Ia berhenti sebentar, lalu tersenyum tipis mengingat masa lalu. “Dan mantan gue itu… ya, bisa dibilang jago. Kayak udah biasa.”
Alex mengangguk pelan, lalu menyandarkan tubuhnya. “Nah itu dia masalahnya,” katanya santai. “Lo kebiasaan sama yang kayak gitu. Yang udah nggak perawan, jadinya nggak ada rasa baru lagi.”
Carlos menoleh, sedikit tertarik. “Terus?”
Alex menyeringai, matanya penuh ide iseng. “Coba lo cari cewek yang perawan,” ucapnya. “Yang belum pernah main-main kayak yang lain. Pasti rasanya beda banget.”
Carlos langsung menggeleng sambil terkekeh. “Nggak mungkin lah. Zaman sekarang mana ada yang kayak gitu? Kalaupun ada, pasti ribet.”
Alex meraih dompetnya, mengeluarkan beberapa lembar uang, lalu meletakkannya di atas meja di antara mereka. “Ayo taruhan,” katanya santai tapi penuh tantangan. “Lo pasti ketagihan.”
Carlos menatap uang itu sekilas, lalu kembali menatap Alex. “Ketagihan apaan?”
“Rasanya,” jawab Alex singkat. “Sensasi yang beda. Bukan cuma soal fisik, tapi saat mulai pertama jebol perawan. Itu yang bikin nagih.”
Carlos terdiam sejenak. Ia mengambil gelasnya lagi, memutar isinya sebelum akhirnya meneguknya perlahan. Matanya tampak berpikir, mengingat-ingat sesuatu.
“Cewek suci, ya…” gumamnya pelan.
Entah kenapa, satu nama langsung terlintas di pikirannya.
Azalea.
Carlos mengerutkan kening, sedikit menggeleng seolah menepis pikiran itu. “Nggak mungkin,” katanya lagi.
Alex memperhatikan ekspresinya dan tersenyum tipis. “Kenapa? Udah kepikiran, kan?”
Carlos tidak langsung menjawab. Ia hanya menyandarkan tubuhnya lagi, menatap keramaian di depan dengan pandangan kosong.
Tiba-tiba, di tengah kerumunan yang padat, muncul sosok yang sama sekali tidak cocok dengan tempat itu. Azalea. Wajahnya terlihat kesal, alisnya berkerut tajam. Ia berjalan cepat, sesekali menghindar dari pria-pria yang mencoba mendekatinya.
“Hey, cantik—”
“Woi, minggir,” potong Azalea dingin tanpa menoleh.
Beberapa pria mencoba menyentuh lengannya, tapi Azalea dengan sigap menepis dan terus melangkah. Pandangannya fokus mencari satu orang.
Dan saat akhirnya ia menemukan Carlos dalam kondisi berantakan seperti itu, kesabarannya benar-benar habis.
Tanpa basa-basi, Azalea mendekat lalu menepak keras kepala Carlos.
Plak!
Carlos mengerjap, sedikit tersentak. “Eh…” gumamnya bingung.
“Ayo pulang!” kata Azalea tegas. “Mama lo udah nyariin dari tadi!”
Carlos menyipitkan mata, mencoba fokus. Begitu mengenali wajah di depannya, ekspresinya langsung berubah.
“Azalea…” katanya lirih, lalu tiba-tiba tersenyum lebar.
Tanpa peringatan, ia langsung merentangkan tangan dan memeluk Azalea erat. “Gendong…” rengeknya manja, suaranya terdengar seperti anak kecil. “Gue capek…”
Azalea langsung mendorong kepalanya dengan kesal. “Ih, apaan sih! Jangan nempel-nempel!” Ia menoyor kepala Carlos pelan, tapi jelas jengkel.
Kini keduanya udah di luar club, Azalea terpaksa membopong Carlos, menahan tubuhnya agar tidak jatuh.
“Bisa nggak sih lo jalan yang bener?” gerutunya.
Carlos hanya menggumam tidak jelas, kepalanya hampir jatuh ke bahu Azalea.
Azalea menghela napas panjang, lalu mengangkat tangan mencoba menghentikan taksi yang lewat. “Taksi!” panggilnya beberapa kali.
Namun satu per satu kendaraan berlalu tanpa berhenti.
“Duh, kenapa sih penuh semua…” keluhnya kesal.
Di saat yang sama, Carlos mulai kehilangan keseimbangan. Tubuhnya oleng ke samping, dan sebelum Azalea sempat mengantisipasi Carlos jatuh, dan tanpa sengaja menarik Azalea bersamanya.
Azalea tidak sempat menahan diri. Tubuhnya ikut terjatuh, tepat di atas Carlos. Untuk sesaat, dunia terasa diam. Wajah mereka sangat dekat. Dan tanpa disengaja, bibir mereka bertemu.
Azalea membeku, matanya melebar. Jantungnya seolah berhenti berdetak. Carlos pun terdiam, meski kesadarannya samar, ia tetap merasakan momen itu.
Carlos makin mendekatkan wajahnya. Tatapannya turun ke bibir Azalea yang langsung membuat Azalea salah tingkah sendiri. Jantungnya mulai nggak karuan. Entah kenapa, dia nggak tahu harus ngomong apa. Napas Carlos terasa dekat banget. Azalea bahkan tanpa sadar mulai memejamkan mata pelan. Tapi… Bukannya mencium, Carlos malah berhenti. “Lo belum pernah pacaran sebelumnya, kan?” tanyanya tiba-tiba dengan nada santai. Azalea langsung buka mata. Carlos masih menatap dia sambil senyum tipis penuh godaan. “Berarti…” Carlos mendekat sedikit lagi. “Gue first kiss lo?” Wajah Azalea langsung merah padam. Bruk! Dia langsung mendorong dada Carlos kuat-kuat. “Jangan pernah sentuh gue lagi!” bentaknya malu sekaligus kesal. Carlos malah ketawa kecil melihat reaksinya. Azalea langsung pergi cepat ke kamar mandi sambil menutup pintu cukup keras. Begitu masuk, dia langsung nyender di wastafel sambil napas buru-buru. Tangannya cepat nyalain air lalu membasuh wajahnya sendiri. “Sadarlah, Azalea
Hari pernikahan pun tiba, Azalea duduk diam di depan meja rias dengan gaun putih sederhana yang membalut tubuhnya. Rambut pendeknya ditata, dan wajahnya dipoles makeup tipis yang membuat sisi feminin dalam dirinya terlihat semakin jelas.Namun, di balik penampilannya, pikirannya terasa kacau. Ucapan kedua orang tuanya semalam terus terngiang di kepalanya.“Orang tua Carlos sudah banyak membantu keluarga kita. Papa cuma minta kali ini aja… tolong penuhi permintaan Om Tommy.”Azalea menghela napas panjang. Ia tahu benar bagaimana keluarga Rigel selalu membantu mereka selama bertahun-tahun. Mulai dari masa sulit usaha pertanian ayahnya hingga biaya rumah sakit neneknya dulu. Karena itu, ia tidak punya keberanian untuk benar-benar menolak permintaan terakhir Tommy.Tangannya perlahan mengambil buket bunga putih kecil yang terletak di sisi meja rias. Tiba-tiba, suara pintu terbuka. Azalea menoleh.Carlos masuk ke dalam ruangan dengan setelan jas hitam yang pas di tubuhnya. Rambutnya sudah
Suara musik lembut mengalun pelan, sementara para pelayan berdiri rapi di sisi ruangan terbuka. Di depan, Tommy berdiri dengan setelan jas elegan, memegang mikrofon dengan senyum hangat yang selama ini begitu dikenal banyak orang.“Terima kasih karena sudah datang,” ucap Tommy tenang, pandangannya menyapu para tamu yang hadir.“Saya benar-benar menghargai semua hubungan baik yang sudah berjalan selama ini.”Para tamu memperhatikan dengan hormat. Beberapa mengangkat gelas mereka, tersenyum mendengar sambutan pria yang dikenal sebagai salah satu CEO paling berpengaruh itu.Carlos berdiri tidak jauh dari sana bersama dengan Azalea yang langsung menjaga jarak setelah kejadian barusan.Namun beberapa detik kemudian, suara Tommy tiba-tiba melemah. Pria itu berhenti bicara. Tangannya perlahan memegang dada kirinya.Wajahnya berubah pucat.“Papa?” gumam Carlos pelan, alisnya langsung berkerut.Tommy mencoba berdiri tegak, tetapi napasnya mulai tersengal. Mikrofon di tangannya terjatuh dengan
Di dalam rumah besar itu, Azalea berdiri di depan wastafel kamar Carlos, menatap bayangannya sendiri di cermin dengan wajah kesal. Tanpa ragu, ia langsung membasuh bibirnya berkali-kali, seolah ingin menghapus jejak yang barusan terjadi.“Gila…” gumamnya pelan, tangannya menggosok bibirnya lebih keras dari yang seharusnya. “Kenapa sih harus lo yang ambil bibir suci gue!”Ia menghela napas panjang, masih diliputi rasa jengkel. Dalam kepalanya, ia terus memaki Carlos yang bahkan tidak sadar sudah melakukan hal yang membuatnya kacau seperti ini.Setelah beberapa saat, Azalea mematikan keran dan melangkah keluar dari kamar mandi. Matanya langsung tertuju pada Carlos yang sudah terbaring di atas ranjang, tertidur lelap tanpa beban. Nafasnya teratur, wajahnya terlihat tenang seolah tidak terjadi apa-apa.Melihat itu, rasa kesal Azalea justru semakin memuncak.“Enak banget lo tidur!” gerutunya.Ia berjalan mendekat, meraih bantal di samping Carlos, lalu tanpa ragu memukulkannya ke wajah pria
Carlos melepaskan ciumannya dengan napas yang masih memburu. Ia menatap Raisa sekilas, lalu mengusap tengkuknya sendiri dengan ekspresi datar. Ada sesuatu yang terasa kurang, tapi ia sendiri tidak tahu apa.Raisa yang masih bersandar manja di dada Carlos, mengerutkan kening. “Lo kenapa sih akhir-akhir ini?” tanyanya pelan, jemarinya bermain di dada bidang Carlos.Carlos menghela napas pendek. “Nggak kenapa-kenapa. Cuma… bosan aja,” jawabnya.Raisa langsung mengangkat wajahnya, sedikit tidak percaya. “Bosan? Sama gue?”Carlos hanya mengangkat bahu, tidak benar-benar menjawab. Kamar apartemen itu tampak berantakan, baju berserakan, gelas kosong di meja, dan lampu yang hanya menyala setengah membuat suasana terasa sumpek.Raisa bangkit dari posisi tidurnya, meraih pakaiannya yang tergeletak di kursi, lalu memakainya perlahan.“Kalau gitu kita ganti suasana, gimana?” katanya sambil tersenyum menggoda. “Mungkin ke hotel… atau ke pantai? Biar nggak monoton.”Ia kembali mendekat, memeluk tub







