分享

Chapter 2

last update publish date: 2026-05-11 14:21:21

Di dalam rumah besar itu, Azalea berdiri di depan wastafel kamar Carlos, menatap bayangannya sendiri di cermin dengan wajah kesal. Tanpa ragu, ia langsung membasuh bibirnya berkali-kali, seolah ingin menghapus jejak yang barusan terjadi.

“Gila…” gumamnya pelan, tangannya menggosok bibirnya lebih keras dari yang seharusnya. “Kenapa sih harus lo yang ambil bibir suci gue!”

Ia menghela napas panjang, masih diliputi rasa jengkel. Dalam kepalanya, ia terus memaki Carlos yang bahkan tidak sadar sudah melakukan hal yang membuatnya kacau seperti ini.

Setelah beberapa saat, Azalea mematikan keran dan melangkah keluar dari kamar mandi. Matanya langsung tertuju pada Carlos yang sudah terbaring di atas ranjang, tertidur lelap tanpa beban. Nafasnya teratur, wajahnya terlihat tenang seolah tidak terjadi apa-apa.

Melihat itu, rasa kesal Azalea justru semakin memuncak.

“Enak banget lo tidur!” gerutunya.

Ia berjalan mendekat, meraih bantal di samping Carlos, lalu tanpa ragu memukulkannya ke wajah pria itu.

“Nyebelin banget sih lo!” kesalnya pelan.

Carlos hanya bergumam tidak jelas, sedikit menggeser posisi tidurnya tanpa benar-benar terbangun.

Azalea mendengus, lalu menjatuhkan kembali bantal itu dengan kesal. Ia menatap Carlos beberapa detik, sebelum akhirnya menggeleng pelan dan berbalik pergi.

Ia membuka pintu kamar dan melangkah keluar.

Di luar kamar, terlihat seorang wanita paruh baya yang langsung menoleh saat melihat Azalea keluar.

“Tante…” sapa Azalea singkat.

Tante Sisca langsung tersenyum lega. “Azalea, terima kasih ya sudah cariin Carlos,” ucapnya hangat. “Tante dari tadi khawatir banget.”

Azalea hanya mengangguk kecil. “Dia udah tidur di kamar,” jawabnya singkat.

Tante Sisca menghela napas lega. “Syukurlah. Besok hari penting… kalau dia nggak pulang, bisa-bisa papanya marah besar.”

Azalea tidak banyak bicara, hanya mengangguk lagi tanda mengerti.

“Sebentar ya,” ujar Tante Sisca, lalu berjalan ke arah meja dan mengambil sebuah kotak. Ia kembali dan menyerahkannya pada Azalea. “Ini, kue lapis. Tolong kasih ke mama kamu, ya. Tante baru bikin tadi.”

Azalea menerima kotak itu. “Iya, Tante. Nanti aku kasih ke Mama.”

“Salam ya buat Rose,” tambah Tante Sisca dengan senyum hangat.

“Iya,” jawab Azalea singkat.

Tanpa banyak basa-basi, Azalea pun pamit dan melangkah keluar dari rumah besar itu.

***

Rumah Azalea berdiri tepat di samping rumah Carlos. Ia membuka pintu pelan, disambut suasana hening yang menenangkan. Lampu ruang tamu redup, menandakan orangtuanya sudah beristirahat.

Azalea melangkah masuk tanpa suara, menaruh kotak kue dari Tante Sisca di atas meja. Ia langsung berjalan menuju kamarnya.

Begitu pintu terbuka, aroma khas buku langsung menyambutnya. Rak-rak penuh buku berjajar rapi, meja belajar dipenuhi catatan. Azalea menjatuhkan tubuhnya ke kursi, menghembuskan napas panjang. Tangannya terangkat tanpa sadar, menyentuh bibirnya sendiri.

Seketika, bayangan kejadian tadi muncul begitu jelas. Tubuhnya yang jatuh. Jarak yang terlalu dekat. Dan bibirnya yang menyentuh bibir Carlos. Hangat, lembut dan begitu mendebarkan.

Ia langsung menegakkan tubuhnya.

“Ah, sial…” gumamnya pelan, wajahnya memanas. Ia menggeleng keras, berusaha mengusir pikiran itu, tapi justru semakin terasa nyata.

Azalea berdiri, berjalan mondar-mandir kecil di kamarnya dengan gelisah. “Itu kecelakaan. Cuma kecelakaan,” katanya meyakinkan diri sendiri.

Namun entah kenapa, jantungnya masih berdetak tidak beraturan. Ia berhenti, menatap kosong ke arah meja, lalu perlahan wajah kesalnya kembali muncul.

“Berani banget dia…” gerutunya.

Tangannya mengepal kuat, matanya menyipit penuh tekad.

“Besok gue harus bales dia,” lanjutnya penuh amarah.

Azalea menarik napas dalam, lalu menjatuhkan dirinya ke tempat tidur. Ia menatap langit-langit kamar, mencoba menenangkan pikirannya. Tapi dia hanya bisa menendang-nendang udara melampiaskan kekesalannya.

***

Paginya, Carlos masih terlelap, tapi senyum tipis terukir di wajahnya. Dalam tidurnya, ia merasakan sesuatu yang lembut menyentuh bibirnya, ringan seperti kapas, hangat, dan entah kenapa terasa nyata.

Aroma asing yang samar memenuhi indra penciumannya. Bukan parfum yang biasa ia kenal, bukan juga aroma dari siapa pun yang pernah dekat dengannya. Sesuatu yang sederhana, tapi justru membekas.

Lalu, di dalam mimpinya, muncul wajah Azalea. Carlos semakin tenggelam dalam sensasi itu, tanpa sadar membalas sentuhan yang terasa begitu nyata.

Namun seketika, matanya terbuka. Ia terbangun dengan napas sedikit memburu, menatap langit-langit kamar dengan bingung. Beberapa detik berlalu sebelum ia mengerjap cepat, mencoba mencerna apa yang baru saja ia alami.

“Apaan barusan…” gumamnya pelan.

Carlos langsung duduk, mengusap wajahnya kasar, lalu menepuk-nepuk pipinya sendiri.

“Bangun, bego… sadar…” katanya pada dirinya sendiri, mencoba menghilangkan bayangan yang masih tersisa.

Ia menggeleng pelan, tapi wajah Azalea justru semakin jelas terlintas di kepalanya. Membuatnya semakin tidak nyaman.

Belum sempat ia berpikir lebih jauh, suara ketukan pintu terdengar.

Tok tok tok.

“Carlos?” suara Sisca terdengar dari luar. “Bangun! Cepat siap-siap. Acaranya sebentar lagi mulai!”

Carlos menghela napas panjang, lalu menjawab dengan suara setengah malas, “Iya, Ma… aku bangun!”

***

Halaman rumah Carlos siang itu menjelma menjadi area pesta yang memancarkan kemewahan tanpa cela. Taman luas dengan rumput hijau terawat dipadukan dengan dekorasi elegan. Meja-meja panjang berlapis taplak putih premium, rangkaian bunga segar berwarna lembut di setiap sudut. Para pelayan berseragam rapi bergerak sigap, membawa nampan berisi hidangan kelas atas dan minuman eksklusif untuk para tamu.

Bukan tamu sembarangan yang hadir. Satu per satu mobil mewah berhenti di depan gerbang, menurunkan para pengusaha ternama, pejabat penting, hingga relasi bisnis kelas atas yang datang dengan penampilan berkelas. Percakapan yang terdengar bukan sekadar basa-basi, melainkan diskusi ringan tentang bisnis, investasi, dan kerja sama besar.

Carlos duduk di salah satu meja, memegang cangkir teh madu yang sesekali ia teguk pelan. Wajahnya masih sedikit pucat, sisa mabuk semalam belum sepenuhnya hilang. Meski begitu, ia tetap terlihat rapi dalam kemeja formal yang pas di tubuhnya.

“Kenapa sih gue minum segitu banyak semalam,” gumamnya pelan, memijat pelipisnya.

Tak lama, perhatian Carlos teralihkan ketika ia melihat keluarga yang sangat familiar memasuki halaman. Rose dan Bryan melangkah masuk dengan sikap sederhana namun tetap berkelas. Bryan menghampiri Tommy dengan senyum hormat, menjabat tangannya dengan hangat.

“Selamat ulang tahun, Presdir,” ucap Bryan sopan.

Tommy langsung tertawa kecil, menggeleng pelan sambil menepuk bahu Bryan. “Ah, sudah-sudah, Bryan. Di sini nggak usah pakai panggilan begitu,” katanya santai. “Kita ini teman, bukan atasan dan bawahan.”

Bryan tersenyum, sedikit mengangguk mengerti. “Baik… Tommy,” balasnya, meski tetap terdengar canggung.

Di belakang mereka Azalea mengenakan gaun selutut yang sederhana namun manis, memperlihatkan sisi feminin yang jarang terlihat. Rambut pendeknya bahkan dihiasi pita kecil, membuat penampilannya terasa berbeda.

Carlos hampir saja tersedak teh yang diminumnya. Ia menatapnya beberapa detik, lalu tiba-tiba tertawa kecil.

Azalea yang menyadari itu langsung melotot tajam ke arahnya. “Apaan sih lo?” bisiknya kesal saat mendekat.

Carlos masih menahan tawa. “Lo… pake pita?” katanya setengah tidak percaya.

“Diam lo,” balas Azalea cepat, menahan kesal. “Terpaksa tau!”

Carlos menggeleng pelan, masih tersenyum. “Aneh aja liatnya.”

Azalea mendengus, lalu duduk di kursi dekat meja itu tanpa peduli lagi pada komentar Carlos. Ia mengambil sepotong cake dari meja dan mulai memakannya dengan santai.

Carlos memperhatikannya tanpa sadar. Ada sesuatu yang terasa berbeda. Bukan cuma penampilannya, tapi cara ia melihat Azalea hari itu.

Azalea menggigit sedikit cake dengan krim di atasnya. Tanpa ia sadari, sedikit krim tertinggal di sudut bibirnya.

Carlos yang melihat itu mengangkat alis. Ia tidak mengatakan apa-apa. Tanpa berpikir panjang, ia mengulurkan tangannya.

Dengan santai, ibu jarinya menyentuh sudut bibir Azalea, menghapus krim yang tertinggal di sana.

Sentuhan itu singkat. Namun cukup untuk membuat waktu terasa berhenti. Azalea langsung terpaku, matanya melebar. Tubuhnya kaku, napasnya tertahan.

Carlos juga terdiam. Baru beberapa detik setelahnya ia menyadari apa yang ia lakukan. Jempolnya masih menyentuh bibir Azalea. Keduanya saling menatap dalam diam. Entah kenapa tiba-tiba ada perasaan yang terasa berbeda.

在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP

最新章節

  • Gadis Tomboy Incaran CEO Playboy   Chapter 5

    Carlos makin mendekatkan wajahnya. Tatapannya turun ke bibir Azalea yang langsung membuat Azalea salah tingkah sendiri. Jantungnya mulai nggak karuan. Entah kenapa, dia nggak tahu harus ngomong apa. Napas Carlos terasa dekat banget. Azalea bahkan tanpa sadar mulai memejamkan mata pelan. Tapi… Bukannya mencium, Carlos malah berhenti. “Lo belum pernah pacaran sebelumnya, kan?” tanyanya tiba-tiba dengan nada santai. Azalea langsung buka mata. Carlos masih menatap dia sambil senyum tipis penuh godaan. “Berarti…” Carlos mendekat sedikit lagi. “Gue first kiss lo?” Wajah Azalea langsung merah padam. Bruk! Dia langsung mendorong dada Carlos kuat-kuat. “Jangan pernah sentuh gue lagi!” bentaknya malu sekaligus kesal. Carlos malah ketawa kecil melihat reaksinya. Azalea langsung pergi cepat ke kamar mandi sambil menutup pintu cukup keras. Begitu masuk, dia langsung nyender di wastafel sambil napas buru-buru. Tangannya cepat nyalain air lalu membasuh wajahnya sendiri. “Sadarlah, Azalea

  • Gadis Tomboy Incaran CEO Playboy   Chapter 4

    Hari pernikahan pun tiba, Azalea duduk diam di depan meja rias dengan gaun putih sederhana yang membalut tubuhnya. Rambut pendeknya ditata, dan wajahnya dipoles makeup tipis yang membuat sisi feminin dalam dirinya terlihat semakin jelas.Namun, di balik penampilannya, pikirannya terasa kacau. Ucapan kedua orang tuanya semalam terus terngiang di kepalanya.“Orang tua Carlos sudah banyak membantu keluarga kita. Papa cuma minta kali ini aja… tolong penuhi permintaan Om Tommy.”Azalea menghela napas panjang. Ia tahu benar bagaimana keluarga Rigel selalu membantu mereka selama bertahun-tahun. Mulai dari masa sulit usaha pertanian ayahnya hingga biaya rumah sakit neneknya dulu. Karena itu, ia tidak punya keberanian untuk benar-benar menolak permintaan terakhir Tommy.Tangannya perlahan mengambil buket bunga putih kecil yang terletak di sisi meja rias. Tiba-tiba, suara pintu terbuka. Azalea menoleh.Carlos masuk ke dalam ruangan dengan setelan jas hitam yang pas di tubuhnya. Rambutnya sudah

  • Gadis Tomboy Incaran CEO Playboy   Chapter 3

    Suara musik lembut mengalun pelan, sementara para pelayan berdiri rapi di sisi ruangan terbuka. Di depan, Tommy berdiri dengan setelan jas elegan, memegang mikrofon dengan senyum hangat yang selama ini begitu dikenal banyak orang.“Terima kasih karena sudah datang,” ucap Tommy tenang, pandangannya menyapu para tamu yang hadir.“Saya benar-benar menghargai semua hubungan baik yang sudah berjalan selama ini.”Para tamu memperhatikan dengan hormat. Beberapa mengangkat gelas mereka, tersenyum mendengar sambutan pria yang dikenal sebagai salah satu CEO paling berpengaruh itu.Carlos berdiri tidak jauh dari sana bersama dengan Azalea yang langsung menjaga jarak setelah kejadian barusan.Namun beberapa detik kemudian, suara Tommy tiba-tiba melemah. Pria itu berhenti bicara. Tangannya perlahan memegang dada kirinya.Wajahnya berubah pucat.“Papa?” gumam Carlos pelan, alisnya langsung berkerut.Tommy mencoba berdiri tegak, tetapi napasnya mulai tersengal. Mikrofon di tangannya terjatuh dengan

  • Gadis Tomboy Incaran CEO Playboy   Chapter 2

    Di dalam rumah besar itu, Azalea berdiri di depan wastafel kamar Carlos, menatap bayangannya sendiri di cermin dengan wajah kesal. Tanpa ragu, ia langsung membasuh bibirnya berkali-kali, seolah ingin menghapus jejak yang barusan terjadi.“Gila…” gumamnya pelan, tangannya menggosok bibirnya lebih keras dari yang seharusnya. “Kenapa sih harus lo yang ambil bibir suci gue!”Ia menghela napas panjang, masih diliputi rasa jengkel. Dalam kepalanya, ia terus memaki Carlos yang bahkan tidak sadar sudah melakukan hal yang membuatnya kacau seperti ini.Setelah beberapa saat, Azalea mematikan keran dan melangkah keluar dari kamar mandi. Matanya langsung tertuju pada Carlos yang sudah terbaring di atas ranjang, tertidur lelap tanpa beban. Nafasnya teratur, wajahnya terlihat tenang seolah tidak terjadi apa-apa.Melihat itu, rasa kesal Azalea justru semakin memuncak.“Enak banget lo tidur!” gerutunya.Ia berjalan mendekat, meraih bantal di samping Carlos, lalu tanpa ragu memukulkannya ke wajah pria

  • Gadis Tomboy Incaran CEO Playboy   Chapter 1

    Carlos melepaskan ciumannya dengan napas yang masih memburu. Ia menatap Raisa sekilas, lalu mengusap tengkuknya sendiri dengan ekspresi datar. Ada sesuatu yang terasa kurang, tapi ia sendiri tidak tahu apa.Raisa yang masih bersandar manja di dada Carlos, mengerutkan kening. “Lo kenapa sih akhir-akhir ini?” tanyanya pelan, jemarinya bermain di dada bidang Carlos.Carlos menghela napas pendek. “Nggak kenapa-kenapa. Cuma… bosan aja,” jawabnya.Raisa langsung mengangkat wajahnya, sedikit tidak percaya. “Bosan? Sama gue?”Carlos hanya mengangkat bahu, tidak benar-benar menjawab. Kamar apartemen itu tampak berantakan, baju berserakan, gelas kosong di meja, dan lampu yang hanya menyala setengah membuat suasana terasa sumpek.Raisa bangkit dari posisi tidurnya, meraih pakaiannya yang tergeletak di kursi, lalu memakainya perlahan.“Kalau gitu kita ganti suasana, gimana?” katanya sambil tersenyum menggoda. “Mungkin ke hotel… atau ke pantai? Biar nggak monoton.”Ia kembali mendekat, memeluk tub

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status