Mag-log inMalam itu Safitri berada di kamarnya, dia membuka tas ransel dan memasukkan beberapa pakaian termasuk beberapa setel pakaian dalam. Mbok Yem yang baru pulang dari menjenguk tetangga yang sakit melihat apa yang dilakukan putrinya itu merasa penasaran.
"Kamu itu mau ke mana? Kok masukin baju ke tas, kaya mau merantau," ucap Mbok Yem berdiri di balik pintu. "Udah pulang ya, Mbok. Ini lho Juragan Yogi minta aku menginap di rumahnya," kata Safitri, dia menoleh sebentar dan kembali memasukkan pakaian terakhirnya ke dalam tas. Mbok Yem yang semula berdiri di depan pintu mulai melangkah masuk dan duduk di tepi ranjang, ia mengerutkan kening seperti berharap anaknya memberikan penjelasan tambahan. "Jarak rumah ini ke warung tidak lebih dari dua setengah kilometer, naik sepeda sebentar juga sampai lantas mengapa harus menginap? Kalau kamu enggak di rumah aku pasti repot," ujar Mbok Yem. "Aku juga berpikir begitu, Mbok tetapi juragan Yogi itu kesehariannya tidak berada di sana. Dia menyerahkan urusan warung padaku, toh juga ada tambahan uang kalau mau menginap di sana, lumayan kan?" "Kamu ini gadis perawan, Simbok kuatir di sana ada yang menggoda, takut ada yang berbuat nekat. Keluarga simbok cuma kamu aja," "Hahaha, simbok ini berlebihan. Cuma sini situ aja bisa hampir setiap hari pulang menjenguk. Sudahlah, Mbok ... aku enggak apa-apa setiap hari nengok ke sini, lagian siapa yang mau berbuat nekat sebab warung itu juga termasuk desa yang sama dengan desa kita hampir semua yang berbelanja itu tetangga sendiri, paling jauh ya tetangga desa," Safitri tertawa geli, tak biasanya Mbok Pariyem - ibunya terlihat begitu kuatir melebihi saat dia bekerja di luar kota dulu. Mbok Yem keluar kamar dengan langkah gontai, perempuan paruh baya itu berpegangan pada dinding dan duduk di ruang tamu dengan pandangan kosong ke depan. Seperti ada kecemasan tersendiri yang tidak bisa dia ungkapkan pada anak gadis semata wayangnya itu. Selesai beberes Safitri kemudian menyusul. Dia memegang tangan ibunya yang mulai berkeriput. "Kamu sama Handoko kapan nikah? Kalian sudah sama-sama dewasa, jika sudah sama-sama cocok sebaiknya langsung menikah aja. Enggak perlu pesta atau lamaran berlebihan, penting sah agama sah negara," tutur Mbok Yem mengalihkan pembicaraan. "Aku dan Mas Handoko cuma teman biasa, Mbok. Aku juga masih muda, terlalu dini jika harus memikirkan berumahtangga. Cita-cita aku membahagiakan Simbok belum terlaksana, doakan saja biar pekerjaanku lancar ya, Mbok," "Bahagia yang seperti apa lagi? Mbok sudah tua, sudah pingin kaya orang-orang menimang cucu, toh Handoko itu pria baik. Biar dia bisa jagain kamu kalau sewaktu-waktu Mbok dipanggil Yang Maha Kuasa," imbuh Mbok Yem lagi. "Mbok, jangan bicara begitu aku malah jadi sedih," Safitri merasa tak enak hati menjawab keinginan ibunya itu, tapi menikah di usian belia (sembilan belas tahun) akan jadi benturan bagi dia bekerja dan mencari pengalaman hidup sementara di sisi lain dia tak tega melihat ibunya bekerja siang malam demi mencukupi kebutuhan mereka. Mau tak mau Mbok Yem harus merelakan Safitri bekerja dan menginap di rumah majikannya. Mbok Yem juga tidak bisa memaksa agar Safitri lekas menikah dengan Handoko - pria yang ditenggarai memiliki kedekatan khusus dengan Safitri. Pagi hari menjelang, Safitri sudah rapi dan lekas berpamitan dengan ibunya. Memakai celana jins, kaos berwarna putih dan tas ransel pada punggung, gadis itu itu mulai mengayuh sepeda menuju tempat kerja melewati jalanan cor di antara pemukiman warga dan persawahan yang luas. "Assalamualaikum, Mbak ... Mas," sapa Safitri di depan pintu rumah Yogi Bramasta yang pintunya terbuka. "Masuk," sahut Erna Wulandari istri dari Yogi Bramasta, Safitri segera melepas alas kaki dan mengikuti Erna duduk di ruang tamu. "Kamarmu di sini, setiap keluar dari rumah jangan lupa pintunya di kunci ya, terus satu lagi ... jangan masuk ke ruangan itu, banyak tikusnya," ucap Erna Wulandari. "Iya, Mbak, siap," "Satu hal lagi, jangan lupa setiap habis magrib kamu nyalakan dupa dan menyan di meja itu," Erna Wulandari menunjuk pada sebuah meja yang berdempetan dengan dinding. Di meja tersebut terdapat beberapa jenis makanan, segelas teh, kopi, rokok, tembakau dan juga kembang setaman seperti tempat yang digunakan untuk berdoa bagi umat agama tertentu namun Erna Wulandari dan suaminya merupakan orang Jawa yang masih mengikuti tradisi lama seperti selamatan, membuat sesaji, melakukan banyak ritual kejawen. Safitri tak berpikir macam-macam sebab hal seperti itu masih banyak dilakukan oleh warga sekitar yakni melestarikan apa yang diajarkan oleh para leluhur. "Apakah semuanya sudah jelas?" tanya Yogi Bramasta yang baru datang dari ruangan belakang. "Su--sudah, Mas," "Bagus kalau begitu. Kebetulan hari kami sudah mulai kembali ke tempat kami yang lain, jadi semua urusan di sini aku serahkan padamu. Terkait sesaji itu biasanya kami pulang seminggu sekali untuk menggantinya dengan yang baru, yang penting kamu jangan lupa menyalakan menyan dan dupa di meja tersebut habis magrib. Ada sepeda motor di sana, bisa kamu pakai untuk keperluan bepergian jika diperlukan daripada naik sepeda," "Iya, Mas. Saya paham," balas Safitri. "Bagus kalau begitu. Kami pamit dulu ya, permisi," Yogi Bramasta dan istrinya lalu keluar dari ruang tamu menuju mobil kijang milik mereka yang terparkir di halaman depan. Safitri menunggu keduanya benar-benar pergi dahulu, setelah dirasa sudah menjauh kemudian Safitri masuk ke kamar yang disediakan untuknya di rumah tersebut. "Rumah sebentar dan sebagus ini dibiarkan kosong, hmmm," Safitri bergumam sendiri, ia menarik nafas dalam-dalam lalu melangkah mendekati jendela kamar yang masih tertutup rapat. "Uuugh!" Safitri mendorong keras jendela tersebut, sepertinya engselnya berkarat akibat terlalu lama dibiarkan tertutup sehingga macet ketika dibuka. Braaak! Daun jendela terhempas keras, Safitri kaget sambil menutup telinga. Debu-debu di sisi jendela berterbangan hingga Safitri terpaksa menjauh sesaat. Kamar seluas empat kali lima meter dengan ranjang jati berukir indah, di bagian atas tempat tidur terdapat kelambu yang diikat ke tiang penyangga. Kesan kuno sangat terasa di dalam ruangan tersebut, mewah, sejuk dan bikin merinding. Di dekat tempat tidur terdapat sebuah meja rias dengan cermin yang buram, Safitri terpaksa mengambil lap dan membersihkannya hingga tampak kinclong. "Sayang sekali perabotan sebagus ini tidak dirawat," gumamnya. Safitri tak bisa tinggal diam, dia terus membersihkan kamar tersebut dari debu dan juga mengganti sprei lama dengan sprei baru yang dia ambil dari dalam lemari. "Ah, beres juga akhirnya," Safitri yang baru saja selesai membersihkan kamar tersebut lantas melempar dirinya ke atas kasur empuk untuk beristirahat barang sejenak. Matanya terpejam merasakan nyamannya berada di ruangan tersebut tapi sesuatu yang aneh terjadi, tangan kiri Safitri tanpa sengaja menyentuh sesuatu yang basah dan lengket di atas sprei, spontan dia menarik tangan tersebut dan memperhatikan bahwa jemarinya terdapat bercak darah. "Da--darah?!" Safitri langsung mengendus bercak kemerahan di jemarinya itu. "Amis, i--ini beneran bercak darah," seketika Safitri bangkit dari posisi rebahan, dia duduk dan memeriksa sekitar sprei namun tak ada apapun yang dia temukan. Sprei itu masih bersih, ketika melihat lagi ke tangannya bercak darah tadi juga lenyap tanpa berbekas. "Astaghfirullah, apa aku berhalusinasi?"Malam itu Safitri menginap di rumah Mas Parjo, dia takut terjadi teror lanjutan karena telah mengetahui secara gamblang bahwa majikannya seorang pelaku pesugihan yang menumbalkan nyawa karyawati yang bekerja di sana. Di dalam rumah itu, tepatnya pada sebuah kamar terlarang yang tidak boleh dimasuki siapapun kecuali Erna Wulandari dan Yogi Bramasta terdapat sebuah makam. Kondisi kamar itu berupa ruangan seluas empat kali lima meter, semua bagian lantai di keramik hanya tersisa sekitar 1,5 meter kali 2 meter persegi yang digunakan sebagai makam dengan gundukan tanah.Kini Safitri paham mengapa tak ada perempuan muda yang betah bekerja di sana, hanya mas Parjo sendiri yang telah bekerja cukup lama meski anaknya telah menjadi tumbal pesugihan di rumah tersebut oleh Yogi Bramasta yang tak lain masih memiliki hubungan kekerabatan dengannya."Mbak, Mas, sebaiknya apa aku berhenti bekerja saja?" tanya Safitri pagi itu ketika sarapan pagi di rumah Mas Parjo."Itu semua terserah kamu saja. Jika
Malam itu hujan deras kembali turun seperti malam-malam sebelumnya, Safitri duduk di ruang tamu sembari menghitung uang penjualan hari itu. Dia mencocokkan penghitungan yang dilakukan Mas Parjo dengan nilai yang seharusnya, sebab Safitri sendiri sempat datang terlambat sehingga tidak mencatatkan semua hasil penjualan.Wuuush ....Angin berhembus dari luar, mendorong pintu hingga terbuka. Udara dingin yang menusuk kulit membuat Safitri lekas bangkit untuk menutup pintu.Claaap! Selangkah sebelum daun pintu ia raih, tiba-tiba listrik di rumah tersebut berkedip nyaris padam. Pandangan Safitri tertuju pada samping kiri rumah tepatnya pada kebun yang ditanami pohon pisang. Ada sesuatu bergerak-gerak di sana, seperti kain putih di antara daun-daun pisang yang tertiup angin. Ada aroma anyir yang tercium semakin kuat seperti aroma nanah atau bangkai yang membusuk."A--apa itu?!" Gadis cantik itu berjalan lebih dekat, sosok putih tadi masih ada di sana seperti menggelengkan kepalanya ke kiri
Safitri kembali ke warung mengendarai sepeda motor, dia diiringi dari belakang oleh Tejo dengan mobilnya. Ada perasaan tak enak hati, sebab seharusnya dia yang membayar biaya pengobatan, perbaikan body sisi kiri mobil yang penyok dan tergores namun meski dia bekerja di sana setahun belum tentu uang yang terkumpul cukup untuk membayarnya. "Untunglah dia orang baik, sehingga aku terbebas dari ganti rugi. Sudah baik ganteng pula," gumam Safitri sambil melirik ke arah spion mobil Tiiin!Klakson ditekan mobil yang dikendarai Tejo, Safitri memperlambat laju sepeda motornya dan membiarkan pria tampan itu berjalan menyalip dari kanan."Aku pergi dulu, lain kali hati-hati ya. Jika masih terasa sakit, langsung cari aku biar aku periksakan lagi," ujar Tejo dengan senyum manisnya."I--iya, Mas ... terimakasih," sahut Safitri sambil menganggukkan kepala. Mobil Tejo langsung tancap gas.Beberapa menit kemudian Safitri telah tiba di warung, dia melihat ke warung yang ramai. Buru-buru dia turun dar
Berita tentang kematian Thole anaknya Mas Wandi membuat Safitri terkejut, entah mengapa gadis cantik itu merasa bersalah atas peristiwa tersebut meskipun belum tentu kematian bocah itu akibat tumbal dari uang dari majikanku yang Safitri berikan padanya. Apalagi saat tidur tadi Safitri juga mengalami peristiwa tak masuk akal seperti tindihan. Padahal jelas-jelas dia merasakan tangan kasar yang dingin dengan kuku panjang menyentuh pipinya.Safitri masuk kembali ke kamar, mengganti daster dengan kaos dan celana panjang lalu sweater lalu menyusul Mbok Yem mendatangi rumah Mas Wandi. Di halaman dan ruang tamu rumah Mas Wandi masih sepi, hanya ada beberapa orang warga desa terdekat yang datang untuk membantu proses pengurusan jenazah maklum belum ada jam tiga pagi jadi mungkin orang-orang masih tidur di rumah mereka masing-masing."Mbok, mana Thole?" tanya Safitri saat bertemu ibunya di ambang pintu. "Masih di kamar, kamu bantu di sini dulu ya. Simbok mau ambil kain kafan di rumah untuk s
Hujan gerimis mulai turun lebih deras dari sebelumnya, Safitri mempercepat laju sepeda motornya hingga tiba di rumah sebelum hujannya turun lebih deras. Tok tok tok!"Mbok, Simbok," seru Safitri di depan pintu rumahnya, tak lama berselang pintu itu dibuka dari dalam."Lho ada apa kok pulang mendadak? Kamu dipecat?" tanya Mbok Yem kaget melihat kedatangan anaknya malam-malam. Safitri tidak menjawab, dia langsung masuk mengambil handuk dan mengusap wajah serta rambutnya yang basah akibat paparan hujan. "Enggak dipecat. Majikanku - Mbak Erna istrinya juragan Yogi menginap di sana dan meminta aku pulang malam ini, besok lagi ke sana sekitar jam sepuluh," jelas Safitri."Beneran enggak dipecat kan? Atau kamu buat kesalahan sehingga majikan kamu murka," cecar Mbok Yem sekali lagi."Tidak, Mbok. Kenapa mikir begitu? Majikanku baik kok, sebentar aku ganti daster dulu," Safitri masuk ke kamarnya, berganti pakaian basah dengan pakaian harian berupa daster motif batik berwarna biru. Gadis itu
Ritual aneh Hari berlalu, Safitri mulai beradaptasi dengan baik di tempat itu. Tidak terasa kini dia sudah bekerja di sana selama enam bulan. Sejak Safitri bekerja di sana, kondisi warung itu semakin hari semakin ramai. Jika dulu omset harian di bawah lima ratus ribu sekarang sudah mencapai lima juta kotor perhari. Itu omset yang lumayan besar untuk ukuran warung kelontong di kampung. Safitri yang ramah dan pandai bergaul membuat pembeli nyaman berada di sana dengan pelayanan yang dia berikan. Pernah suatu hari ada pembeli yang kelebihan uang, Safitri yang jujur tetap mengatakan hal itu apa adanya meskipun pembeli tersebut tidak menyadari jika dalam uang yang dia lipat berlebih. Kerja sama antara dirinya dengan Mas Parjo selaku teman kerjanya juga bisa menyesuaikan diri dengan Safitri yang usianya jauh lebih muda. Mereka jarang berbincang, hanya seperlunya saja. Jika warung ramai mereka sibuk dengan pekerjaan masing-masing, ketika sudah selesai Mas Parjo langsung pulang ke rumahny







