Compartilhar

bab 4

Autor: Jagad
last update Data de publicação: 2026-05-01 23:54:23

Malam itu Safitri berada di kamarnya, dia membuka tas ransel dan memasukkan beberapa pakaian termasuk beberapa setel pakaian dalam. Mbok Yem yang baru pulang dari menjenguk tetangga yang sakit melihat apa yang dilakukan putrinya itu merasa penasaran.

"Kamu itu mau ke mana? Kok masukin baju ke tas, kaya mau merantau," ucap Mbok Yem berdiri di balik pintu.

"Udah pulang ya, Mbok. Ini lho Juragan Yogi minta aku menginap di rumahnya," kata Safitri, dia menoleh sebentar dan kembali memasukkan pakaian terakhirnya ke dalam tas.

Mbok Yem yang semula berdiri di depan pintu mulai melangkah masuk dan duduk di tepi ranjang, ia mengerutkan kening seperti berharap anaknya memberikan penjelasan tambahan.

"Jarak rumah ini ke warung tidak lebih dari dua setengah kilometer, naik sepeda sebentar juga sampai lantas mengapa harus menginap? Kalau kamu enggak di rumah aku pasti repot," ujar Mbok Yem.

"Aku juga berpikir begitu, Mbok tetapi juragan Yogi itu kesehariannya tidak berada di sana. Dia menyerahkan urusan warung padaku, toh juga ada tambahan uang kalau mau menginap di sana, lumayan kan?"

"Kamu ini gadis perawan, Simbok kuatir di sana ada yang menggoda, takut ada yang berbuat nekat. Keluarga simbok cuma kamu aja,"

"Hahaha, simbok ini berlebihan. Cuma sini situ aja bisa hampir setiap hari pulang menjenguk. Sudahlah, Mbok ... aku enggak apa-apa setiap hari nengok ke sini, lagian siapa yang mau berbuat nekat sebab warung itu juga termasuk desa yang sama dengan desa kita hampir semua yang berbelanja itu tetangga sendiri, paling jauh ya tetangga desa," Safitri tertawa geli, tak biasanya Mbok Pariyem - ibunya terlihat begitu kuatir melebihi saat dia bekerja di luar kota dulu.

Mbok Yem keluar kamar dengan langkah gontai, perempuan paruh baya itu berpegangan pada dinding dan duduk di ruang tamu dengan pandangan kosong ke depan. Seperti ada kecemasan tersendiri yang tidak bisa dia ungkapkan pada anak gadis semata wayangnya itu. Selesai beberes Safitri kemudian menyusul. Dia memegang tangan ibunya yang mulai berkeriput.

"Kamu sama Handoko kapan nikah? Kalian sudah sama-sama dewasa, jika sudah sama-sama cocok sebaiknya langsung menikah aja. Enggak perlu pesta atau lamaran berlebihan, penting sah agama sah negara," tutur Mbok Yem mengalihkan pembicaraan.

"Aku dan Mas Handoko cuma teman biasa, Mbok. Aku juga masih muda, terlalu dini jika harus memikirkan berumahtangga. Cita-cita aku membahagiakan Simbok belum terlaksana, doakan saja biar pekerjaanku lancar ya, Mbok,"

"Bahagia yang seperti apa lagi? Mbok sudah tua, sudah pingin kaya orang-orang menimang cucu, toh Handoko itu pria baik. Biar dia bisa jagain kamu kalau sewaktu-waktu Mbok dipanggil Yang Maha Kuasa," imbuh Mbok Yem lagi.

"Mbok, jangan bicara begitu aku malah jadi sedih," Safitri merasa tak enak hati menjawab keinginan ibunya itu, tapi menikah di usian belia (sembilan belas tahun) akan jadi benturan bagi dia bekerja dan mencari pengalaman hidup sementara di sisi lain dia tak tega melihat ibunya bekerja siang malam demi mencukupi kebutuhan mereka.

Mau tak mau Mbok Yem harus merelakan Safitri bekerja dan menginap di rumah majikannya. Mbok Yem juga tidak bisa memaksa agar Safitri lekas menikah dengan Handoko - pria yang ditenggarai memiliki kedekatan khusus dengan Safitri.

Pagi hari menjelang, Safitri sudah rapi dan lekas berpamitan dengan ibunya. Memakai celana jins, kaos berwarna putih dan tas ransel pada punggung, gadis itu itu mulai mengayuh sepeda menuju tempat kerja melewati jalanan cor di antara pemukiman warga dan persawahan yang luas.

"Assalamualaikum, Mbak ... Mas," sapa Safitri di depan pintu rumah Yogi Bramasta yang pintunya terbuka.

"Masuk," sahut Erna Wulandari istri dari Yogi Bramasta, Safitri segera melepas alas kaki dan mengikuti Erna duduk di ruang tamu.

"Kamarmu di sini, setiap keluar dari rumah jangan lupa pintunya di kunci ya, terus satu lagi ... jangan masuk ke ruangan itu, banyak tikusnya," ucap Erna Wulandari.

"Iya, Mbak, siap,"

"Satu hal lagi, jangan lupa setiap habis magrib kamu nyalakan dupa dan menyan di meja itu," Erna Wulandari menunjuk pada sebuah meja yang berdempetan dengan dinding.

Di meja tersebut terdapat beberapa jenis makanan, segelas teh, kopi, rokok, tembakau dan juga kembang setaman seperti tempat yang digunakan untuk berdoa bagi umat agama tertentu namun Erna Wulandari dan suaminya merupakan orang Jawa yang masih mengikuti tradisi lama seperti selamatan, membuat sesaji, melakukan banyak ritual kejawen. Safitri tak berpikir macam-macam sebab hal seperti itu masih banyak dilakukan oleh warga sekitar yakni melestarikan apa yang diajarkan oleh para leluhur.

"Apakah semuanya sudah jelas?" tanya Yogi Bramasta yang baru datang dari ruangan belakang.

"Su--sudah, Mas,"

"Bagus kalau begitu. Kebetulan hari kami sudah mulai kembali ke tempat kami yang lain, jadi semua urusan di sini aku serahkan padamu. Terkait sesaji itu biasanya kami pulang seminggu sekali untuk menggantinya dengan yang baru, yang penting kamu jangan lupa menyalakan menyan dan dupa di meja tersebut habis magrib. Ada sepeda motor di sana, bisa kamu pakai untuk keperluan bepergian jika diperlukan daripada naik sepeda,"

"Iya, Mas. Saya paham," balas Safitri.

"Bagus kalau begitu. Kami pamit dulu ya, permisi," Yogi Bramasta dan istrinya lalu keluar dari ruang tamu menuju mobil kijang milik mereka yang terparkir di halaman depan. Safitri menunggu keduanya benar-benar pergi dahulu, setelah dirasa sudah menjauh kemudian Safitri masuk ke kamar yang disediakan untuknya di rumah tersebut.

"Rumah sebentar dan sebagus ini dibiarkan kosong, hmmm," Safitri bergumam sendiri, ia menarik nafas dalam-dalam lalu melangkah mendekati jendela kamar yang masih tertutup rapat.

"Uuugh!" Safitri mendorong keras jendela tersebut, sepertinya engselnya berkarat akibat terlalu lama dibiarkan tertutup sehingga macet ketika dibuka.

Braaak!

Daun jendela terhempas keras, Safitri kaget sambil menutup telinga. Debu-debu di sisi jendela berterbangan hingga Safitri terpaksa menjauh sesaat.

Kamar seluas empat kali lima meter dengan ranjang jati berukir indah, di bagian atas tempat tidur terdapat kelambu yang diikat ke tiang penyangga. Kesan kuno sangat terasa di dalam ruangan tersebut, mewah, sejuk dan bikin merinding.

Di dekat tempat tidur terdapat sebuah meja rias dengan cermin yang buram, Safitri terpaksa mengambil lap dan membersihkannya hingga tampak kinclong.

"Sayang sekali perabotan sebagus ini tidak dirawat," gumamnya. Safitri tak bisa tinggal diam, dia terus membersihkan kamar tersebut dari debu dan juga mengganti sprei lama dengan sprei baru yang dia ambil dari dalam lemari.

"Ah, beres juga akhirnya," Safitri yang baru saja selesai membersihkan kamar tersebut lantas melempar dirinya ke atas kasur empuk untuk beristirahat barang sejenak. Matanya terpejam merasakan nyamannya berada di ruangan tersebut tapi sesuatu yang aneh terjadi, tangan kiri Safitri tanpa sengaja menyentuh sesuatu yang basah dan lengket di atas sprei, spontan dia menarik tangan tersebut dan memperhatikan bahwa jemarinya terdapat bercak darah.

"Da--darah?!" Safitri langsung mengendus bercak kemerahan di jemarinya itu.

"Amis, i--ini beneran bercak darah," seketika Safitri bangkit dari posisi rebahan, dia duduk dan memeriksa sekitar sprei namun tak ada apapun yang dia temukan. Sprei itu masih bersih, ketika melihat lagi ke tangannya bercak darah tadi juga lenyap tanpa berbekas.

"Astaghfirullah, apa aku berhalusinasi?"

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Gagal Menikah Akibat Guna-guna    Bab 28

    Mbok Yem menatap kepergian Safitri dengan mata berkaca-kaca, dia membayangkan perasaan Handoko ketika nanti tahu apa yang akan terjadi pada hubungan mereka (Safitri dan Handoko) yang kandas karena Safitri lebih memilih Tejo daripada Handoko."Apa yang harus aku lakukan? Aku merasa gagal sebagai orang tua, Handoko pasti akan sangat hancur hatinya," ucap Mbok Yem lirih, perempuan paruh baya itu membalikkan badannya menuju ke dalam dengan langkah gemetar."Mbok Yem," sapa seseorang dari luar, Mbok Yem sangat hafal dengan suara tersebut. Dia duduk terlebih dahulu dan menatap pria tampan yang mengikutinya masuk sampai ke ruang tamu."Aku bawakan bubur, beras dan telur, Mbok. Persiapan untuk sahur nanti, kan sepuluh hari lagi sudah mulai puasa," Handoko menaruh barang-barang ke meja sementara Mbok Yem masih terdiam dengan hati yang porak-poranda."Tadi ada mobil ke sini, mobil siapa, Mbok? Pasti mobil Mbak Erna Wulandari (majikan Safitri) ya?" susul Handoko.Tak ada jawaban, Handoko merasa

  • Gagal Menikah Akibat Guna-guna    Bab 27

    Niat untuk mengembalikan uang warung yang dipinjam dari Cahyani pun dia urungkan, Safitri bingung mau ke mana dan akhirnya menggunakan uang tersebut untuk perpanjang sewa kamar penginapan langganannya."Aku akan menunggu dia tiga hari di sini, jika tidak aku akan bertindak lebih berani lagi," cetus Safitri saat membuka pintu kamar penginapan."Tapi ... aku kehabisan pakaian bersih. Sebaiknya aku pulang ke rumah Mbak Erna Wulandari saja sebentar lalu ke sini lagi," Safitri yang baru masuk dan duduk di tempat tidur kembali berdiri. Dia ambil tasnya lalu berjalan menuju tangga lke lantai satu untuk mengambil sepeda motor yang dia parkir di bawah."Fit, ngapain kamu di sini?" sapa seseorang yang keluar dari sebuah kamar, Safitri grogi dia kaget tak menyangka bertemu seseorang yang dia kenal di sini."Mas Kus, a--aku ... aku baru jenguk teman kerjaku di jakarta dulu. Dia menginap di kamar atas," ujar Safitri."Benarkah? Aku sama istriku, kebetulan sedang bulan madu. Maklum pengantin baru,"

  • Gagal Menikah Akibat Guna-guna    Bab 26

    "Maaf, Bu ... saya ke sini untuk mencari Mas Tejo, ada yang ingin saya sampaikan," ucap Safitri setelah dipersilahkan duduk."Hmmm, heran aku anak jaman sekarang. Dulu pria mencari dan berkunjung ke rumah wanita, sekarang sudah berbalik ... wanita yang datang ke rumah pria. Hampir setiap beberapa hari sekali banyak perempuan mencari anakku, entah mau apa. Ya sudah kamu pulang dulu, nanti ibu sampaikan kalau dia pulang," ucap ibunya Tejo dengan sambil geleng-geleng kepala."Bu, mohon maaf jika lancang. Saya dan Tejo punya hubungan dekat, dan ...," Safitri sebenarnya hendak menyampaikan bahwa dirinya hamil, tapi melihat situasi yang tak memungkinkan dan belum cukup bukti kedekatan dirinya dan Tejo untuk ditunjukkan pada ibunya maka Safitri mengurungkan niatnya dan akhirnya pergi dari sana dengan tangan hampa.Pikiran Safitri tertuju pada uang satu juta yang dia pinjam dari Cahyani, uang itu telah berkurang beberapa ratus ribu. Kini langkahnya gontai menuju warung, entah alasan apa yang

  • Gagal Menikah Akibat Guna-guna    Bab 25

    Safitri tersinggung, niatnya untuk membeli alat tes kehamilan pun dia urungkan. Buru-buru dia kembali ke warung tempat dia bekerja, seperti biasanya Safitri datang terlambat di saat pembeli ramai dan dua temannya kerepotan. Bukannya membantu dia justru masuk ke kamar, mengunci pintu dan berbaring. Badannya terasa amat letih, dia tak bersemangat untuk bekerja.Dak dak dak!Pintu digedor kuat dari luar, Safitri yang baru saja terpejam langsung bangkit siap menumpahkan kemarahannya."Yani, kamu tau aku capek!" ujarnya sambil menarik tuas pintu, namun yang berdiri di sana bukan Cahyani ataupun Mas Parjo melainkan Mbak Erna Wulandari."Apa yang kamu lakukan di dalam sini? Kamu enak-enakan sementara yang lain sedang kerja, hah?! Kalau sudah tak mau bekerja di sini, sebaiknya berhenti saja," ujar juragan warung kelontong memasang muka marah. Seketika emosi di hati Safitri meredup, dia tak mungkin akan melawan Erna tanya sebab posisinya yang salah."Mbak, Safitri sedang sakit," bela Mas Parjo

  • Gagal Menikah Akibat Guna-guna    Bab. 24

    "Hoeeek!" Safitri merasa mual, keringat dingin mengucur deras di kening dan lehernya. Gadis itu lekas mengunci pintu kamar kuatir ibunya masuk ke dalam.Perlahan dia lepaskan semua pakaian, berdiri di cermin kusam lemari usang memandang tubuhnya dari atas sampai bawah. "Aku kok tambah gemuk dan tubuhku tak indah lagi," keluhnya sambil meraba pa-yu dara yang mulai turun mengendur, perutnya juga terlihat berbeda meski jika itu sebuah kehamilan baru berjalan lima bulan. Dia lupa kapan terakhir membeli pembalut saat menstimulasi, rasanya sudah cukup lama sekali."Nduk Fitri, kamu kenapa?" tanya Mbok Yem yang berdiri di balik pintu, dia mencoba mendorong tapi pintu itu terkunci, di dalam sana Safitri terdiam. Dia takut bukan main dan lekas memakai bajunya kembali."Safitri, buka ... biar Mbok kerokin kamu," desak sang ibu."Aku enggak apa-apa, sudah aku mau balik kerja dulu," setelah membuka pintu Safitri langsung pergi, dia tak hiraukan sang ibu yang coba menahannya.Gadis itu bergegas m

  • Gagal Menikah Akibat Guna-guna    Bab. 23

    Cahyani masih mengalami peristiwa buruk di tempat Erna Wulandari, dia tidak sekedar mimpi buruk tapi mahluk pesugihan itu sudah sering menampakkan diri dan berisi mencelakakan dirinya. Cahyani takut dan cemas akan nasibnya. Pagi itu dia sudah berkemas, siap meninggalkan tempat tersebut untuk berhenti bekerja namun baru hendak menutup pintu Safitri datang dari arah berbeda turun dari mobil yang dikemudikan Tejo. Mobil itu langsung pergi setelah menurunkan Safitri di sana."Eeeh, kamu mau ke mana? Kok berkemas begitu," tegur Safitri."Dia beberapa hari sakit, sudah tak tahan bekerja di sini. Hari ini dia mau pamitan ke rumah Mbak Erna Wulandari," kata Mas Parjo membantu menaruh ransel besar untuk ditaruh di bagian depan sepeda motornya."Kamu itu masih muda, jangan mudah mengeluh dan menyerah. Apalagi cuma berasal dari keluarga pas-pasan, sebaiknya bertahan di sini paling tidak satu tahun biar punya pengalaman," imbuh Safitri berkata nyinyir pada Retno Cahyani."Mbak, sepertinya rumah i

  • Gagal Menikah Akibat Guna-guna    bab 5

    Safitri sampai berdiri dan beranjak dari ranjang, matanya belum rabun jelas-jelas dia tadi mera_ba bercak darah yang bewarna merah kehitaman dengan aroma anyir yang menyengat tapi ketika dia perhatikan dengan seksama bercak darah itu raib tanpa jejak.Dak dak dak!Nyaris saja Safitri meloncat kaget

  • Gagal Menikah Akibat Guna-guna    bab 3

    Hari yang dijanjikan tiba, Safitri sudah bersiap untuk berangkat kerja. Dengan berdandan sederhana hanya memakai bedak tanpa gincu, rok panjang dan kaos oblong berwarna krem Safitri mengayuh sepedanya menuju warung kelontong milik Yogi Bramasta, jarak yang jauh tetap membuatnya bersemangat untuk le

  • Gagal Menikah Akibat Guna-guna    bab 2

    Cerita bermula sekitar dua tahun lalu, waktu itu Safitri baru menginjak sembilan belas tahun. Wajahnya yang cantik, putih, berambut panjang, memiliki tinggi sekitar seratus enam puluh centimeter dengan berat badan empat puluh delapan kilogram menjadikan perawakan Safitri ideal. Tutur katanya lembut

  • Gagal Menikah Akibat Guna-guna    Bab 1

    Safitri menggeliat, ia merasakan sensasi geli luar biasa di sekujur tubuhnya. Belaian lembut pada bagian paling sensitif itu membuatnya tersengal-sengal dengan mata sesekali terpejam. Keringat mengucur dari dahi dan leher, gerakan lincah pria perkasa yang memompa secara perlahan membuatnya benar-ben

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status