MasukBerita tentang kematian Thole anaknya Mas Wandi membuat Safitri terkejut, entah mengapa gadis cantik itu merasa bersalah atas peristiwa tersebut meskipun belum tentu kematian bocah itu akibat tumbal dari uang dari majikanku yang Safitri berikan padanya. Apalagi saat tidur tadi Safitri juga mengalami peristiwa tak masuk akal seperti tindihan. Padahal jelas-jelas dia merasakan tangan kasar yang dingin dengan kuku panjang menyentuh pipinya.Safitri masuk kembali ke kamar, mengganti daster dengan kaos dan celana panjang lalu sweater lalu menyusul Mbok Yem mendatangi rumah Mas Wandi. Di halaman dan ruang tamu rumah Mas Wandi masih sepi, hanya ada beberapa orang warga desa terdekat yang datang untuk membantu proses pengurusan jenazah maklum belum ada jam tiga pagi jadi mungkin orang-orang masih tidur di rumah mereka masing-masing."Mbok, mana Thole?" tanya Safitri saat bertemu ibunya di ambang pintu. "Masih di kamar, kamu bantu di sini dulu ya. Simbok mau ambil kain kafan di rumah untuk s
Hujan gerimis mulai turun lebih deras dari sebelumnya, Safitri mempercepat laju sepeda motornya hingga tiba di rumah sebelum hujannya turun lebih deras. Tok tok tok!"Mbok, Simbok," seru Safitri di depan pintu rumahnya, tak lama berselang pintu itu dibuka dari dalam."Lho ada apa kok pulang mendadak? Kamu dipecat?" tanya Mbok Yem kaget melihat kedatangan anaknya malam-malam. Safitri tidak menjawab, dia langsung masuk mengambil handuk dan mengusap wajah serta rambutnya yang basah akibat paparan hujan. "Enggak dipecat. Majikanku - Mbak Erna istrinya juragan Yogi menginap di sana dan meminta aku pulang malam ini, besok lagi ke sana sekitar jam sepuluh," jelas Safitri."Beneran enggak dipecat kan? Atau kamu buat kesalahan sehingga majikan kamu murka," cecar Mbok Yem sekali lagi."Tidak, Mbok. Kenapa mikir begitu? Majikanku baik kok, sebentar aku ganti daster dulu," Safitri masuk ke kamarnya, berganti pakaian basah dengan pakaian harian berupa daster motif batik berwarna biru. Gadis itu
Ritual aneh Hari berlalu, Safitri mulai beradaptasi dengan baik di tempat itu. Tidak terasa kini dia sudah bekerja di sana selama enam bulan. Sejak Safitri bekerja di sana, kondisi warung itu semakin hari semakin ramai. Jika dulu omset harian di bawah lima ratus ribu sekarang sudah mencapai lima juta kotor perhari. Itu omset yang lumayan besar untuk ukuran warung kelontong di kampung. Safitri yang ramah dan pandai bergaul membuat pembeli nyaman berada di sana dengan pelayanan yang dia berikan. Pernah suatu hari ada pembeli yang kelebihan uang, Safitri yang jujur tetap mengatakan hal itu apa adanya meskipun pembeli tersebut tidak menyadari jika dalam uang yang dia lipat berlebih.Kerja sama antara dirinya dengan Mas Parjo selaku teman kerjanya juga bisa menyesuaikan diri dengan Safitri yang usianya jauh lebih muda. Mereka jarang berbincang, hanya seperlunya saja. Jika warung ramai mereka sibuk dengan pekerjaan masing-masing, ketika sudah selesai Mas Parjo langsung pulang ke rumahnya y
Dengan napas tersengal-sengal Safitri sampai juga di rumah Juragan Yogi sambil membawa payung, sebotol minyak goreng dan dua bungkus mi instan yang semalam Safitri berikan pada perempuan renta tersebut. Gadis berparas ayu itu langsung masuk ke kamar memeriksa kembali uang ratusan dan puluhan ribu yang dia berikan semalam, namun hal aneh lainnya kembali terjadi."A--apa ini?" Tak ada uang kertas seperti tadi, semua berubah menjadi dedaunan kering dan serpihan kembang setaman. Hal itu membuat keringat dingin mengucur deras dari dahi dan leher dalam cuaca pagi yang sedingin ini.Dak dak dak!"Whuaaah!" Safitri melonjak kaget kala pintu kamar kembali di gedor. Spontanitas gadis itu mundur menjauh dari pintu."Safitri, ini aku," sapa pria bersuara serak parau yang tak lain adalah Mas Parjo pembantu warung di sini."Mas Parjo, kamu bikin kaget saja," ucap Safitri sembari membuka pintu dan mengelus dada karena rasa kaget beruntun."Ada apa? Wajahmu pucat begitu, kalau sakit istirahat saja, t
Ada yang janggal di rumah Juragan Yogi Bramasta, rumah Jawa kuno yang mewah dan elegan itu seperti diselimuti hawa magis yang begitu kuat setiap sudut ruangan. Demi pekerjaan Safitri tetap berusaha untuk tenang. Gadis itu keluar dari rumah melihat kondisi di luar."Mendung banget," ucapnya memandang langit yang gelap tanpa bintang, dia masuk lagi dan duduk di ruang tamu. Di tangannya menggenggam teh hangat yang baru saja dia buat untuk diminum.Dari dalam ruang tamu yang pintunya masih terbuka Safitri melihat paparan cahaya petir dari kejauhan, dia hanya menghela nafas panjang. Sebenarnya jika dalam kondisi seperti ini dia telah terbiasa berada di rumah sendiri, namun karena ini malam pertama dia mulai menginap di juragan Yogi jadi terkesan menakutkan apalagi di rumah itu hanya ada dia sendiri dan bangunannya terpisah jauh dari pemukiman warga lainnya.Malam itu hujan deras, mendung gelap yang sedari tadi sore menaungi desa itu berganti guyuran hujan bak anak panah yang disertai angin
Safitri sampai berdiri dan beranjak dari ranjang, matanya belum rabun jelas-jelas dia tadi mera_ba bercak darah yang bewarna merah kehitaman dengan aroma anyir yang menyengat tapi ketika dia perhatikan dengan seksama bercak darah itu raib tanpa jejak.Dak dak dak!Nyaris saja Safitri meloncat kaget ketika pintu kamar yang berada di belakangnya diketuk, jantung Safitri berdebar kencang dan akhirnya memberanikan diri untuk membuka pintu kamar."Mas Parjo? Bikin kaget saja," ucap Safitri sembari mengelus dada yang jantungnya masih berdegup kencang."Sudah jam delapan lewat, kamu enggak buka warung?" ucap pria berperawakan jangkung yang rambutnya beruban sebagian."I--iya, maaf," gadis itu merapikan rambut dan pakaian, Mas Parjo langsung membalikkan badan pergi ke warung depan. Cuma dia teman kerja Safitri di sini, Mas Parjo ini masih kerabat dari Yogi Bramasta. Dia bertugas bagian angka-angkat barang, berkemas dan mengatur belanja masuk warung. Dia membantu Safitri dalam banyak hal. Pri







