LOGINGagal Menikah Akibat Guna-guna Sinopsis: Rencana pernikahan itu kandas. Handoko melabuhkan pengharapan pada gadis yang dia cintai harus menerima kenyataan pahit, jika kekasihnya lebih memilih lelaki lain. Lebih kaya dan terpandang. Hanya tertinggal rasa benci dan dendam. "Kamu tidak akan pernah mendapatkan kebahagiaanmu Safitri!" Dan dendam itu akan terus berjalan. Tinggal menunggu waktu, merambat menyusuri aliran darah yang menggelegak. Sampai Handoko memastikan, bahwa gadis itu tidak akan pernah mendapatkan pernikahannya dengan siapa pun. Selain hanya kegilaan yang dia rasakan!
View MoreDengan langkah tertatih seorang perempuan paruh baya berjalan ke belakang rumah melewati kebun singkong yang ditumbuhi semak belukar, tangannya membawa sepiring nasi berisi sayur dan lauk, sementara tangan lainnya membawa segelas air putih. Namanya Mbok Pariyem, atau biasa dipanggil Mbok Yem oleh warga sekitarnya. Keseharian Mbok Yem bekerja sebagai buruh tandur (tanam) di sawah, itupun jika musim tanam tiba jika tidak dia akan menerimanya pekerjaan apapun yang diberikan tetangga untuknya seperti menggembalakan ternak, mencari rumput atau memomong bocah - anak dari tetangga. Hal itu dia kerjakan seorang diri sejak suaminya Meninggal dua puluh tahun silam.
Sinar mentari mulai meninggi, Mbok Yem berjalan menghampiri sebuah gubuk kayu dengan atap rumbai kelapa yang di dalamnya seorang gadis duduk bersimpuh sambil berbicara seorang diri, sesekali dia tertawa dan menangis tanpa sebab. Sebuah belenggu terpasang di kaki kirinya hingga membuat pergelangan kakinya berkoreng, mata gadis itu sayu dan tubuhnya sangat kotor. Bahkan dari jarak sepuluh meteran saja bau pesing sudah tercium karena gadis itu tak waras pikirannya sehingga buang air sesuka hati. "Nduk, makan dulu ... biar ibu suapin," perempuan paruh baya itu mendekati dan membuka pintu yang terbuat dari seng. "Mas Tejo belum pulang, Mbok?" sahut perempuan muda tersenyum memandang kedatangan ibunya. "Sudahlah, Nduk. Kamu tak mungkin sembuh jika terus mengingat pria itu. Eling, Nduk ... dia bukan jodohmu," "Aku enggak sakit, Mbok ... aku waras. Sebentar lagi hari pernikahanku bukan?Dia janji akan melamar aku," raut muka gadis muda itu berubah sendu. "Duh Gusti, paringono sabar. Sampai kapan Engkau uji hamba-Mu seperti ini?' gumam Mbok Yem sembari mengusap peluh pada dahi dan leher putrinya. Ibu tetaplah seorang ibu, bagaimana pun kondisi anaknya dia tetap menyayangi sepenuh hati. Andai saja dulu Safitri menuruti ucapannya, tentu dia tak akan jadi seperti sekarang. Nasi telah menjadi bubur, Mbok Yem harus tabah atas apa yang menimpa dirinya. Safitri bangkit dari duduknya, dia mematut diri depan cermin sambil memakai make up secara ngawur. Wajahnya yang cantik terlihat aneh, bahkan lipstik mewarnai sesuatu yang tak seharusnya. "Aku cantik kan, Mbok?" tanya Safitri dengan senyum yang dipaksakan. "Yah, kamu cantik, Nduk," jawab Mbok Yem dengan senyum getir. Perempuan paruh baya itu menyeka butiran air mata yang jatuh di pipi keriputnya. "Setelah aku nikah, kita akan jadi orang kaya. Tak ada lagi orang yang meremehkan kita, Mbok. Hahahaaha!" Safitri tertawa lebar dengan mulut menyeringai. "Eling, Nduk ... eling," dengan suara parau Mbok Yem coba menyadarkan putrinya. "Duh Gusti, dosa apa yang telah kami lakukan sehingga kami mendapatkan ganjaran seperti ini," Mbok Yem menatap langit-langit kamarnya yang berlubang, seolah ia sedang berbicara dengan Tuhan. Di usianya yang senja, harusnya dia bahagia seperti orang-orang. Tapi keadaan Safitri yang memburuk akan jadi penutup masa tuanya yang kelabu. Sudah delapan bulan Safitri seperti itu, dia depresi karena pernikahannya dengan Tejo Gumilar anak juragan beras di kampungnya batal dilangsungkan. Kata orang Safitri begitu karena guna-guna dari calon mertua yang tak merestui hubungan dua kasta berbeda itu. Siapa yang tidak kenal Safitri, gadis cantik kembang desa anak Mbok Yem. Gadis berambut panjang berwarna pekat dan berkulit putih itu selalu menjadi dambaan banyak pria dari yang lajang sampai yang sudah beranak -isteri.Sebenarnya Safitri sendiri telah menjalin hubungan dengan Handoko, pemuda desa yang bekerja sebagai kuli angkut pasar. Handoko seorang pria baik, rajin bekerja dan sudah mempunyai rumah sendiri meskipun hanya rumah kayu sederhana di lahan yang sempit. Rupanya ketampanan wajah Handoko dan semua kebaikan yang melekat padanya tak cukup membuat Safitri benar-benar mampu bertahan lama dalam hubungan tersebut, apalagi kondisi Handoko yang miskin tak jauh beda dengan kehidupan Safitri Dan Mbok Yem itu sendiri. Sebagai perempuan normal tentu Safitri menghendaki memiliki calon suami yang mapan, apalagi dengan banyaknya rayuan datang padanya membuat kesetiaan Safitri pada Handoko menjadi sesuatu yang sulit untuk dipegang. Semua bermula ketika Tejo, pemuda kaya di desanya terpikat oleh kecantikan Safitri. Seperti gayung bersambut, Safitri dan Tejo pun akhirnya menjalani hubungan rahasia hingga sesuatu yang tidak diinginkan terjadi, Safitri mengandung anak dari hubungan di luar nikah. Panik dan marah, Safitri menuntut Tejo untuk bertanggung jawablah jika tidak maka akan melaporkan hal tersebut pada kepala desa, tentu Tejo tak ingin nama baik keluarganya tercemar. Dengan berbagai siasat Tejo berhasil meredam amarah Safitri dengan cara menjanjikan akan dinikahi. Masalah berlanjut lebih parah, Tejo menyampaikan hal itu pada ibunya. Sang ibu pun meminta agar Safitri menggugurkan kandungannya terlebih dahulu sebelum melangsungkan pernikahan. Dengan penuh keterpaksaan Safitri menyanggupi, bahkan dia sempat mengalami pendarahan hebat yang nyaris merenggut nyawanya. Rasa cinta yang besar pada Tejo membuat Safitri terus menerus dalam kendali Tejo dan keluarganya. Sampai akhirnya waktu yang dijanjikan pun tiba, namun keluarganya menolak untuk memberikan restu akan pernikahan yang dianggap sebagai sebuah aib. Sejak saat itu Safitri sering mengurung diri di kamarnya, bahkan semakin hari kondisinya semakin parah. Dia mengamuk, mencaci dengan umpatan kotor, merusak apa yang ada di sekelilingnya dan yang paling parah mencoba mengakhiri hidupnya sendiri. Untuk mencegah hal itu terjadi, Mbok Yem atas bantuan warga akhirnya memasung Safitri di gubuk belakang rumah. Berbagai upaya telah Mbok Yem lakukan demi kesembuhan putrinya, kata orang pintar dia terkena guna-guna atau pelet tingkat tinggi yang disebut puter-giling.Ada yang janggal di rumah Juragan Yogi Bramasta, rumah Jawa kuno yang mewah dan elegan itu seperti diselimuti hawa magis yang begitu kuat setiap sudut ruangan. Demi pekerjaan Safitri tetap berusaha untuk tenang. Gadis itu keluar dari rumah melihat kondisi di luar."Mendung banget," ucapnya memandang langit yang gelap tanpa bintang, dia masuk lagi dan duduk di ruang tamu. Di tangannya menggenggam teh hangat yang baru saja dia buat untuk diminum.Dari dalam ruang tamu yang pintunya masih terbuka Safitri melihat paparan cahaya petir dari kejauhan, dia hanya menghela nafas panjang. Sebenarnya jika dalam kondisi seperti ini dia telah terbiasa berada di rumah sendiri, namun karena ini malam pertama dia mulai menginap di juragan Yogi jadi terkesan menakutkan apalagi di rumah itu hanya ada dia sendiri dan bangunannya terpisah jauh dari pemukiman warga lainnya.Malam itu hujan deras, mendung gelap yang sedari tadi sore menaungi desa itu berganti guyuran hujan bak anak panah yang disertai angin
Safitri sampai berdiri dan beranjak dari ranjang, matanya belum rabun jelas-jelas dia tadi mera_ba bercak darah yang bewarna merah kehitaman dengan aroma anyir yang menyengat tapi ketika dia perhatikan dengan seksama bercak darah itu raib tanpa jejak.Dak dak dak!Nyaris saja Safitri meloncat kaget ketika pintu kamar yang berada di belakangnya diketuk, jantung Safitri berdebar kencang dan akhirnya memberanikan diri untuk membuka pintu kamar."Mas Parjo? Bikin kaget saja," ucap Safitri sembari mengelus dada yang jantungnya masih berdegup kencang."Sudah jam delapan lewat, kamu enggak buka warung?" ucap pria berperawakan jangkung yang rambutnya beruban sebagian."I--iya, maaf," gadis itu merapikan rambut dan pakaian, Mas Parjo langsung membalikkan badan pergi ke warung depan. Cuma dia teman kerja Safitri di sini, Mas Parjo ini masih kerabat dari Yogi Bramasta. Dia bertugas bagian angka-angkat barang, berkemas dan mengatur belanja masuk warung. Dia membantu Safitri dalam banyak hal. Pri
Malam itu Safitri berada di kamarnya, dia membuka tas ransel dan memasukkan beberapa pakaian termasuk beberapa setel pakaian dalam. Mbok Yem yang baru pulang dari menjenguk tetangga yang sakit melihat apa yang dilakukan putrinya itu merasa penasaran."Kamu itu mau ke mana? Kok masukin baju ke tas, kaya mau merantau," ucap Mbok Yem berdiri di balik pintu."Udah pulang ya, Mbok. Ini lho Juragan Yogi minta aku menginap di rumahnya," kata Safitri, dia menoleh sebentar dan kembali memasukkan pakaian terakhirnya ke dalam tas.Mbok Yem yang semula berdiri di depan pintu mulai melangkah masuk dan duduk di tepi ranjang, ia mengerutkan kening seperti berharap anaknya memberikan penjelasan tambahan."Jarak rumah ini ke warung tidak lebih dari dua setengah kilometer, naik sepeda sebentar juga sampai lantas mengapa harus menginap? Kalau kamu enggak di rumah aku pasti repot," ujar Mbok Yem."Aku juga berpikir begitu, Mbok tetapi juragan Yogi itu kesehariannya tidak berada di sana. Dia menyerahkan u
Hari yang dijanjikan tiba, Safitri sudah bersiap untuk berangkat kerja. Dengan berdandan sederhana hanya memakai bedak tanpa gincu, rok panjang dan kaos oblong berwarna krem Safitri mengayuh sepedanya menuju warung kelontong milik Yogi Bramasta, jarak yang jauh tetap membuatnya bersemangat untuk lekas tiba demi hari pertamanya bekerja."Eeh, pagi-pagi kok sudah sampai sini, masih setengah tujuh ini," sapa Yogi Bramasta yang masih berada di teras memakai sarung dan kaos sisa semalam. Seperti warga pedesaan pada umumnya Yogi kala itu sedang mengangkat kandang burung untuk dijemur di halaman. Kedatangan Safitri yang terlalu pagi membuatnya sedikit kaget sekaligus senang."Iya, Mas. Hari pertama butuh adaptasi, biar belajar dulu pelan-pelan," sahut Safitri sambil menyandarkan sepeda di pagar rumah. "Ya sudah, kamu tunggu sebentar aku mau mandi," Yogi Bramasta meletakkan kandang burung terakhirnya di halaman, dia kembali masuk untuk membersihkan diri. Saat Safitri duduk di kursi teras men
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.