LOGINBagaimana jika kecantikan yang diidamkan banyak perempuan justru menjadi petaka? Itulah yang dialami Safitri, kembang desa yang hidupnya menderita bahkan dijauhi banyak pria. Bukan karena ia tak lagi cantik, tapi karena dia mengalami gangguan kejiwaan sejak bekerja pada seorang juragan kaya. Bisa karena ia dijadikan tumbal atau karena guna-guna.
View MoreSafitri menggeliat, ia merasakan sensasi geli luar biasa di sekujur tubuhnya. Belaian lembut pada bagian paling sensitif itu membuatnya tersengal-sengal dengan mata sesekali terpejam. Keringat mengucur dari dahi dan leher, gerakan lincah pria perkasa yang memompa secara perlahan membuatnya benar-benar melayang.
"Kamu hebat, Mas ... rasanya penuh di sini," ungkap Safitri tersenyum sambil memeluk erat pria itu, ia merasakan sesuatu memancar deras dan hangat di dalam sana membuatnya semakin basah dengan rasa berdenyut yang tak terkias oleh kata. Semakin lama, semakin luar biasa rasanya. Pada saat ini cinta tidak lah penting selama pria yang sedang bergumul dengannya itu bisa mengobati candu b1r4h1 yang sedang bergejolak. Dari satu pelukan pria ke pria lain, dari satu ranjang ke ranjang yang lain. Setiap permainan menjadi kenikmatan tersendiri. Dari situlah penyakit itu bermula, ia tak sekedar gila tapi juga merana jika tak terpenuhinya h4sr4tnya. _________ Bulan berganti tahun, hingga hari itu .... Dengan langkah tertatih seorang perempuan paruh baya berjalan ke belakang rumah melewati kebun singkong yang ditumbuhi semak belukar, tangannya membawa sepiring nasi berisi sayur dan lauk, sementara tangan lainnya membawa segelas air putih. Namanya Mbok Pariyem, atau biasa dipanggil Mbok Yem oleh warga sekitarnya. Keseharian Mbok Yem bekerja sebagai buruh tandur (tanam) di sawah, itupun jika musim tanam tiba jika tidak dia akan menerimanya pekerjaan apapun yang diberikan tetangga untuknya seperti menggembalakan ternak, mencari rumput atau memomong bocah - anak dari tetangga. Hal itu dia kerjakan seorang diri sejak suaminya Meninggal dua puluh tahun silam. Sinar mentari mulai meninggi, Mbok Yem berjalan menghampiri sebuah gubuk kayu dengan atap rumbai kelapa yang di dalamnya seorang gadis duduk bersimpuh sambil berbicara seorang diri, sesekali dia tertawa dan menangis tanpa sebab. Sebuah belenggu terpasang di kaki kirinya hingga membuat pergelangan kakinya berkoreng, mata gadis itu sayu dan tubuhnya sangat kotor. Bahkan dari jarak sepuluh meteran saja bau pesing sudah tercium karena gadis itu tak waras pikirannya sehingga buang air sesuka hati. "Nduk, makan dulu ... biar ibu suapin," perempuan paruh baya itu mendekati dan membuka pintu yang terbuat dari seng. "Mas Tejo belum pulang, Mbok?" sahut perempuan muda tersenyum memandang kedatangan ibunya. "Sudahlah, Nduk. Kamu tak mungkin sembuh jika terus mengingat pria itu. Eling, Nduk ... dia bukan jodohmu," "Aku enggak sakit, Mbok ... aku waras. Sebentar lagi hari pernikahanku bukan?Dia janji akan melamar aku," raut muka gadis muda itu berubah sendu. "Duh Gusti, paringono sabar. Sampai kapan Engkau uji hamba-Mu seperti ini?' gumam Mbok Yem sembari mengusap peluh pada dahi dan leher putrinya. Ibu tetaplah seorang ibu, bagaimana pun kondisi anaknya dia tetap menyayangi sepenuh hati. Andai saja dulu Safitri menuruti ucapannya, tentu dia tak akan jadi seperti sekarang. Nasi telah menjadi bubur, Mbok Yem harus tabah atas apa yang menimpa dirinya. Safitri bangkit dari duduknya, dia mematut diri depan cermin sambil memakai make up secara ngawur. Wajahnya yang cantik terlihat aneh, bahkan lipstik mewarnai sesuatu yang tak seharusnya. "Aku cantik kan, Mbok?" tanya Safitri dengan senyum yang dipaksakan. "Yah, kamu cantik, Nduk," jawab Mbok Yem dengan senyum getir. Perempuan paruh baya itu menyeka butiran air mata yang jatuh di pipi keriputnya. "Setelah aku nikah, kita akan jadi orang kaya. Tak ada lagi orang yang meremehkan kita, Mbok. Hahahaaha!" Safitri tertawa lebar dengan mulut menyeringai. "Eling, Nduk ... eling," dengan suara parau Mbok Yem coba menyadarkan putrinya. "Duh Gusti, dosa apa yang telah kami lakukan sehingga kami mendapatkan ganjaran seperti ini," Mbok Yem menatap langit-langit kamarnya yang berlubang, seolah ia sedang berbicara dengan Tuhan. Di usianya yang senja, harusnya dia bahagia seperti orang-orang. Tapi keadaan Safitri yang memburuk akan jadi penutup masa tuanya yang kelabu. Sudah delapan bulan Safitri seperti itu, dia depresi karena pernikahannya dengan Tejo Gumilar anak juragan beras di kampungnya batal dilangsungkan. Kata orang Safitri begitu karena guna-guna dari calon mertua yang tak merestui hubungan dua kasta berbeda itu. Siapa yang tidak kenal Safitri, gadis cantik kembang desa anak Mbok Yem. Gadis berambut panjang berwarna pekat dan berkulit putih itu selalu menjadi dambaan banyak pria dari yang lajang sampai yang sudah beranak -isteri.Sebenarnya Safitri sendiri telah menjalin hubungan dengan Handoko, pemuda desa yang bekerja sebagai kuli angkut pasar. Handoko seorang pria baik, rajin bekerja dan sudah mempunyai rumah sendiri meskipun hanya rumah kayu sederhana di lahan yang sempit. Rupanya ketampanan wajah Handoko dan semua kebaikan yang melekat padanya tak cukup membuat Safitri benar-benar mampu bertahan lama dalam hubungan tersebut, apalagi kondisi Handoko yang miskin tak jauh beda dengan kehidupan Safitri Dan Mbok Yem itu sendiri. Sebagai perempuan normal tentu Safitri menghendaki memiliki calon suami yang mapan, apalagi dengan banyaknya rayuan datang padanya membuat kesetiaan Safitri pada Handoko menjadi sesuatu yang sulit untuk dipegang. Semua bermula ketika Tejo, pemuda kaya di desanya terpikat oleh kecantikan Safitri. Seperti gayung bersambut, Safitri dan Tejo pun akhirnya menjalani hubungan rahasia hingga sesuatu yang tidak diinginkan terjadi, Safitri mengandung anak dari hubungan di luar nikah. Panik dan marah, Safitri menuntut Tejo untuk bertanggung jawablah jika tidak maka akan melaporkan hal tersebut pada kepala desa, tentu Tejo tak ingin nama baik keluarganya tercemar. Dengan berbagai siasat Tejo berhasil meredam amarah Safitri dengan cara menjanjikan akan dinikahi. Masalah berlanjut lebih parah, Tejo menyampaikan hal itu pada ibunya. Sang ibu pun meminta agar Safitri menggugurkan kandungannya terlebih dahulu sebelum melangsungkan pernikahan. Dengan penuh keterpaksaan Safitri menyanggupi, bahkan dia sempat mengalami pendarahan hebat yang nyaris merenggut nyawanya. Rasa cinta yang besar pada Tejo membuat Safitri terus menerus dalam kendali Tejo dan keluarganya. Sampai akhirnya waktu yang dijanjikan pun tiba, namun keluarganya menolak untuk memberikan restu akan pernikahan yang dianggap sebagai sebuah aib. Sejak saat itu Safitri sering mengurung diri di kamarnya, bahkan semakin hari kondisinya semakin parah. Dia mengamuk, mencaci dengan umpatan kotor, merusak apa yang ada di sekelilingnya dan yang paling parah mencoba mengakhiri hidupnya sendiri. Untuk mencegah hal itu terjadi, Mbok Yem atas bantuan warga akhirnya memasung Safitri di gubuk belakang rumah. Berbagai upaya telah Mbok Yem lakukan demi kesembuhan putrinya, kata orang pintar dia terkena guna-guna atau pelet tingkat tinggi yang disebut puter-giling."Maaf, Bu ... saya ke sini untuk mencari Mas Tejo, ada yang ingin saya sampaikan," ucap Safitri setelah dipersilahkan duduk."Hmmm, heran aku anak jaman sekarang. Dulu pria mencari dan berkunjung ke rumah wanita, sekarang sudah berbalik ... wanita yang datang ke rumah pria. Hampir setiap beberapa hari sekali banyak perempuan mencari anakku, entah mau apa. Ya sudah kamu pulang dulu, nanti ibu sampaikan kalau dia pulang," ucap ibunya Tejo dengan sambil geleng-geleng kepala."Bu, mohon maaf jika lancang. Saya dan Tejo punya hubungan dekat, dan ...," Safitri sebenarnya hendak menyampaikan bahwa dirinya hamil, tapi melihat situasi yang tak memungkinkan dan belum cukup bukti kedekatan dirinya dan Tejo untuk ditunjukkan pada ibunya maka Safitri mengurungkan niatnya dan akhirnya pergi dari sana dengan tangan hampa.Pikiran Safitri tertuju pada uang satu juta yang dia pinjam dari Cahyani, uang itu telah berkurang beberapa ratus ribu. Kini langkahnya gontai menuju warung, entah alasan apa yang
Safitri tersinggung, niatnya untuk membeli alat tes kehamilan pun dia urungkan. Buru-buru dia kembali ke warung tempat dia bekerja, seperti biasanya Safitri datang terlambat di saat pembeli ramai dan dua temannya kerepotan. Bukannya membantu dia justru masuk ke kamar, mengunci pintu dan berbaring. Badannya terasa amat letih, dia tak bersemangat untuk bekerja.Dak dak dak!Pintu digedor kuat dari luar, Safitri yang baru saja terpejam langsung bangkit siap menumpahkan kemarahannya."Yani, kamu tau aku capek!" ujarnya sambil menarik tuas pintu, namun yang berdiri di sana bukan Cahyani ataupun Mas Parjo melainkan Mbak Erna Wulandari."Apa yang kamu lakukan di dalam sini? Kamu enak-enakan sementara yang lain sedang kerja, hah?! Kalau sudah tak mau bekerja di sini, sebaiknya berhenti saja," ujar juragan warung kelontong memasang muka marah. Seketika emosi di hati Safitri meredup, dia tak mungkin akan melawan Erna tanya sebab posisinya yang salah."Mbak, Safitri sedang sakit," bela Mas Parjo
"Hoeeek!" Safitri merasa mual, keringat dingin mengucur deras di kening dan lehernya. Gadis itu lekas mengunci pintu kamar kuatir ibunya masuk ke dalam.Perlahan dia lepaskan semua pakaian, berdiri di cermin kusam lemari usang memandang tubuhnya dari atas sampai bawah. "Aku kok tambah gemuk dan tubuhku tak indah lagi," keluhnya sambil meraba pa-yu dara yang mulai turun mengendur, perutnya juga terlihat berbeda meski jika itu sebuah kehamilan baru berjalan lima bulan. Dia lupa kapan terakhir membeli pembalut saat menstimulasi, rasanya sudah cukup lama sekali."Nduk Fitri, kamu kenapa?" tanya Mbok Yem yang berdiri di balik pintu, dia mencoba mendorong tapi pintu itu terkunci, di dalam sana Safitri terdiam. Dia takut bukan main dan lekas memakai bajunya kembali."Safitri, buka ... biar Mbok kerokin kamu," desak sang ibu."Aku enggak apa-apa, sudah aku mau balik kerja dulu," setelah membuka pintu Safitri langsung pergi, dia tak hiraukan sang ibu yang coba menahannya.Gadis itu bergegas m
Cahyani masih mengalami peristiwa buruk di tempat Erna Wulandari, dia tidak sekedar mimpi buruk tapi mahluk pesugihan itu sudah sering menampakkan diri dan berisi mencelakakan dirinya. Cahyani takut dan cemas akan nasibnya. Pagi itu dia sudah berkemas, siap meninggalkan tempat tersebut untuk berhenti bekerja namun baru hendak menutup pintu Safitri datang dari arah berbeda turun dari mobil yang dikemudikan Tejo. Mobil itu langsung pergi setelah menurunkan Safitri di sana."Eeeh, kamu mau ke mana? Kok berkemas begitu," tegur Safitri."Dia beberapa hari sakit, sudah tak tahan bekerja di sini. Hari ini dia mau pamitan ke rumah Mbak Erna Wulandari," kata Mas Parjo membantu menaruh ransel besar untuk ditaruh di bagian depan sepeda motornya."Kamu itu masih muda, jangan mudah mengeluh dan menyerah. Apalagi cuma berasal dari keluarga pas-pasan, sebaiknya bertahan di sini paling tidak satu tahun biar punya pengalaman," imbuh Safitri berkata nyinyir pada Retno Cahyani."Mbak, sepertinya rumah i
Berita tentang kematian Thole anaknya Mas Wandi membuat Safitri terkejut, entah mengapa gadis cantik itu merasa bersalah atas peristiwa tersebut meskipun belum tentu kematian bocah itu akibat tumbal dari uang dari majikanku yang Safitri berikan padanya. Apalagi saat tidur tadi Safitri juga mengalam
Ritual aneh Hari berlalu, Safitri mulai beradaptasi dengan baik di tempat itu. Tidak terasa kini dia sudah bekerja di sana selama enam bulan. Sejak Safitri bekerja di sana, kondisi warung itu semakin hari semakin ramai. Jika dulu omset harian di bawah lima ratus ribu sekarang sudah mencapai lima
Dengan napas tersengal-sengal Safitri sampai juga di rumah Juragan Yogi sambil membawa payung, sebotol minyak goreng dan dua bungkus mi instan yang semalam Safitri berikan pada perempuan renta tersebut. Gadis berparas ayu itu langsung masuk ke kamar memeriksa kembali uang ratusan dan puluhan ribu y
Safitri sampai berdiri dan beranjak dari ranjang, matanya belum rabun jelas-jelas dia tadi mera_ba bercak darah yang bewarna merah kehitaman dengan aroma anyir yang menyengat tapi ketika dia perhatikan dengan seksama bercak darah itu raib tanpa jejak.Dak dak dak!Nyaris saja Safitri meloncat kaget
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews