แชร์

bab 3

ผู้เขียน: Jagad
last update วันที่เผยแพร่: 2026-05-01 23:53:27

Hari yang dijanjikan tiba, Safitri sudah bersiap untuk berangkat kerja. Dengan berdandan sederhana hanya memakai bedak tanpa gincu, rok panjang dan kaos oblong berwarna krem Safitri mengayuh sepedanya menuju warung kelontong milik Yogi Bramasta, jarak yang jauh tetap membuatnya bersemangat untuk lekas tiba demi hari pertamanya bekerja.

"Eeh, pagi-pagi kok sudah sampai sini, masih setengah tujuh ini," sapa Yogi Bramasta yang masih berada di teras memakai sarung dan kaos sisa semalam. Seperti warga pedesaan pada umumnya Yogi kala itu sedang mengangkat kandang burung untuk dijemur di halaman. Kedatangan Safitri yang terlalu pagi membuatnya sedikit kaget sekaligus senang.

"Iya, Mas. Hari pertama butuh adaptasi, biar belajar dulu pelan-pelan," sahut Safitri sambil menyandarkan sepeda di pagar rumah.

"Ya sudah, kamu tunggu sebentar aku mau mandi," Yogi Bramasta meletakkan kandang burung terakhirnya di halaman, dia kembali masuk untuk membersihkan diri. Saat Safitri duduk di kursi teras menunggu, dari arah depan muncul istri Yoga Bramasta yang baru pulang belanja dari pasar.

"Mbak," sapa Safitri sambil menganggukkan kepala, istri Yogi Bramasta hanya tersenyum tipis. Dia tak menyahut sapaan itu dan malah masuk ke dalam rumah.

Kabar mengatakan kalau Erna Wulandari -istri Yogi Bramasta merupakan sosok perempuan pencemburu, dulu seringkali dia terlibat cekcok dengan karyawati di tempatnya bekerja lantaran suaminya terlalu akrab dengan karyawati penjaga warung. Mungkin itu juga yang membuat beberapa karyawati sering keluar masuk dari pekerjaan tersebut.

Sepuluh menitan berlalu Yogi Bramasta telah selesai mandi, dia lekas menemui Safitri yang masih duduk di teras sambil membawa kunci warung.

"Sudah sarapan?"

"Su--sudah, Mas,"

"Ayo masuk ke warung dulu," Yogi Bramasta melanjutkan berjalan ke arah warung sementara Safitri terus membuntuti dari belakang.

Warung itu terletak di pinggir jalan yang masih satu pekarangan dengan rumah milik Yogi Bramasta, antara warung dan rumah terdapat halaman luas yang biasanya dipakai untuk menjemur gambar. Rumah dengan arsitektur Jawa klasik dengan panjang dua belas meter dan lebar dua puluh meteran itu sangat luas, bahannya terbuat bata kombinasi kayu jati lawasan. Konon rumah tersebut sudah ada sejak beberapa generasi sebelumnya tanpa perubahan berarti.

"Jadi di pojok sana dekat meja ada daftar harganya, nanti lama-lama juga hapal. Nanti ada Mas Parjo yang bantu angkat-angkat atau kemas barang. Ini empat ratus ribu untuk persiapan kembalian kalau ada yang beli pake uang besar, semua transaksi dicatat. Itu ada buku catatan stok barang, kamu periksa kalau habis catat biar aku order-kan," Yogi menerangkan tentang warungnya termasuk menyerahkan beberapa kunci tempat penyimpanan uang.

"Baik, Mas," balas Safitri.

"Mas, jangan lupa kasih tau dia jangan masuk ke ruangan pojok dekat pintu ke dapur ya," celetuk Erna Wulandari dari belakang.

"Oh iya, karena kami tinggal di tempat berbeda dan hanya beberapa hari dalam sebulan di sini maka mulai besok kamu menginap di sini (rumah belakang warung), untuk kebutuhan belanja nanti yang atur Mas Parjo. Tugas kamu cuma bagian penjualan saja,"

"Me--menginap, Mas? Kemarin enggak bilang begitu," Safitri sedikit kaget mendengar bahwa dia diminta menginap di tempat tersebut.

"Aku lupa bilang kemarin, nanti ada tambahan tiga ratus ribu jadi total yang kamu terima sebulan satu juta seratus. Tujuan kami biar kamu biar enggak mondar-mandir dari rumah ke sini sama biar ada yang jaga di sini kuatir jika ada pencuri, tapi ingat jangan sekali-kali masuk ke kamar yang disebutkan istriku tadi ya," imbuh Yogi.

Safitri terdiam, dia berpikir sejenak. Awalnya juga kaget karena harus menginap di rumah tersebut tapi mendengar ada uang tambahan dia akhirnya mempertimbangkan ulang.

"Baik, Mas. Saya bersedia, tapi untuk hari ini saya pulang dulu dan mulai menginap besok. Saya perlu pamitan dengan Simbok,"

"Iya, enggak apa-apa. Ya sudah, ayo mulai kerja," Yogi beranjak berdiri setelah sedikit penjelasan itu dia membantu membuka pintu depan warung lebar-lebar, tak lama kemudian juga datang seorang pria berusia sekitar empat puluh tahunan yang bekerja di tempat yang sama dengan Safitri. Pria itu bernama Parjo, rumahnya sekitar dua ratus meter dari toko tersebut dan masih kerabat dari Yogi Bramasta. Tugas Parjo angka-angkat barang atau berkemas, dia juga mengatur pembelian barang masuk nantinya.

Waktu berlalu sangat cepat, waktu sudah menunjukkan jam empat sore Safitri bersiap menutup warung dan menyimpan uang ke brankas yang disediakan. Hari pertama dia berjalan lancar, tak ada kendala meski sedikit keteteran karena warungnya lumayan rame.

Dengan menggunakan sepeda kayuh dia pulang menyusuri jalanan desa seperti biasanya.

"Fitri, Fiiit!" Seru seseorang dari arah samping, perempuan muda itu menoleh dan menghentikan sepedanya.

"Mas Handoko, kok bisa ada di sini ngapain?'" sapa Safitri.

"Baru pulang kerja juga kok. Oh iya, kamu jadi berkerja di tempat juragan Yogi?"

"Jadi, Mas. Ini tadi udah masuk kerja,"

"Kalau begitu nanti malam aku ke rumah kamu ya. Sudah kangen," imbuh Handoko.

"Jangan, Mas ... lain kali saja soalnya mulai besok aku menginap di rumah Juragan Yogi, diminta begitu sekalian jaga rumah dan warung,"

"Menginap? Yang bener?" Handoko merasa kaget dan tak percaya, Safitri hanya mengangguk pelan lagipula jarak antara rumah Safitri dengan warung tak terlalu jauh kenapa harus menginap, begitu pikiran dia.

"Kabarnya warung itu punya pesugihan lho, sebaiknya kamu enggak menginap di sana," Handoko terlihat cemas.

"Halah, Mas. Bayarannya beda kok, dapat tambahan kan lumayan. Ya sudah, aku pulang dulu ya, assalamualaikum," ucap Safitri kembali naik ke atas sepeda, ia meninggalkan Handoko yang masih berdiri termangu memandangi kepergian kekasihnya itu.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Gagal Menikah Akibat Guna-guna    Bab 28

    Mbok Yem menatap kepergian Safitri dengan mata berkaca-kaca, dia membayangkan perasaan Handoko ketika nanti tahu apa yang akan terjadi pada hubungan mereka (Safitri dan Handoko) yang kandas karena Safitri lebih memilih Tejo daripada Handoko."Apa yang harus aku lakukan? Aku merasa gagal sebagai orang tua, Handoko pasti akan sangat hancur hatinya," ucap Mbok Yem lirih, perempuan paruh baya itu membalikkan badannya menuju ke dalam dengan langkah gemetar."Mbok Yem," sapa seseorang dari luar, Mbok Yem sangat hafal dengan suara tersebut. Dia duduk terlebih dahulu dan menatap pria tampan yang mengikutinya masuk sampai ke ruang tamu."Aku bawakan bubur, beras dan telur, Mbok. Persiapan untuk sahur nanti, kan sepuluh hari lagi sudah mulai puasa," Handoko menaruh barang-barang ke meja sementara Mbok Yem masih terdiam dengan hati yang porak-poranda."Tadi ada mobil ke sini, mobil siapa, Mbok? Pasti mobil Mbak Erna Wulandari (majikan Safitri) ya?" susul Handoko.Tak ada jawaban, Handoko merasa

  • Gagal Menikah Akibat Guna-guna    Bab 27

    Niat untuk mengembalikan uang warung yang dipinjam dari Cahyani pun dia urungkan, Safitri bingung mau ke mana dan akhirnya menggunakan uang tersebut untuk perpanjang sewa kamar penginapan langganannya."Aku akan menunggu dia tiga hari di sini, jika tidak aku akan bertindak lebih berani lagi," cetus Safitri saat membuka pintu kamar penginapan."Tapi ... aku kehabisan pakaian bersih. Sebaiknya aku pulang ke rumah Mbak Erna Wulandari saja sebentar lalu ke sini lagi," Safitri yang baru masuk dan duduk di tempat tidur kembali berdiri. Dia ambil tasnya lalu berjalan menuju tangga lke lantai satu untuk mengambil sepeda motor yang dia parkir di bawah."Fit, ngapain kamu di sini?" sapa seseorang yang keluar dari sebuah kamar, Safitri grogi dia kaget tak menyangka bertemu seseorang yang dia kenal di sini."Mas Kus, a--aku ... aku baru jenguk teman kerjaku di jakarta dulu. Dia menginap di kamar atas," ujar Safitri."Benarkah? Aku sama istriku, kebetulan sedang bulan madu. Maklum pengantin baru,"

  • Gagal Menikah Akibat Guna-guna    Bab 26

    "Maaf, Bu ... saya ke sini untuk mencari Mas Tejo, ada yang ingin saya sampaikan," ucap Safitri setelah dipersilahkan duduk."Hmmm, heran aku anak jaman sekarang. Dulu pria mencari dan berkunjung ke rumah wanita, sekarang sudah berbalik ... wanita yang datang ke rumah pria. Hampir setiap beberapa hari sekali banyak perempuan mencari anakku, entah mau apa. Ya sudah kamu pulang dulu, nanti ibu sampaikan kalau dia pulang," ucap ibunya Tejo dengan sambil geleng-geleng kepala."Bu, mohon maaf jika lancang. Saya dan Tejo punya hubungan dekat, dan ...," Safitri sebenarnya hendak menyampaikan bahwa dirinya hamil, tapi melihat situasi yang tak memungkinkan dan belum cukup bukti kedekatan dirinya dan Tejo untuk ditunjukkan pada ibunya maka Safitri mengurungkan niatnya dan akhirnya pergi dari sana dengan tangan hampa.Pikiran Safitri tertuju pada uang satu juta yang dia pinjam dari Cahyani, uang itu telah berkurang beberapa ratus ribu. Kini langkahnya gontai menuju warung, entah alasan apa yang

  • Gagal Menikah Akibat Guna-guna    Bab 25

    Safitri tersinggung, niatnya untuk membeli alat tes kehamilan pun dia urungkan. Buru-buru dia kembali ke warung tempat dia bekerja, seperti biasanya Safitri datang terlambat di saat pembeli ramai dan dua temannya kerepotan. Bukannya membantu dia justru masuk ke kamar, mengunci pintu dan berbaring. Badannya terasa amat letih, dia tak bersemangat untuk bekerja.Dak dak dak!Pintu digedor kuat dari luar, Safitri yang baru saja terpejam langsung bangkit siap menumpahkan kemarahannya."Yani, kamu tau aku capek!" ujarnya sambil menarik tuas pintu, namun yang berdiri di sana bukan Cahyani ataupun Mas Parjo melainkan Mbak Erna Wulandari."Apa yang kamu lakukan di dalam sini? Kamu enak-enakan sementara yang lain sedang kerja, hah?! Kalau sudah tak mau bekerja di sini, sebaiknya berhenti saja," ujar juragan warung kelontong memasang muka marah. Seketika emosi di hati Safitri meredup, dia tak mungkin akan melawan Erna tanya sebab posisinya yang salah."Mbak, Safitri sedang sakit," bela Mas Parjo

  • Gagal Menikah Akibat Guna-guna    Bab. 24

    "Hoeeek!" Safitri merasa mual, keringat dingin mengucur deras di kening dan lehernya. Gadis itu lekas mengunci pintu kamar kuatir ibunya masuk ke dalam.Perlahan dia lepaskan semua pakaian, berdiri di cermin kusam lemari usang memandang tubuhnya dari atas sampai bawah. "Aku kok tambah gemuk dan tubuhku tak indah lagi," keluhnya sambil meraba pa-yu dara yang mulai turun mengendur, perutnya juga terlihat berbeda meski jika itu sebuah kehamilan baru berjalan lima bulan. Dia lupa kapan terakhir membeli pembalut saat menstimulasi, rasanya sudah cukup lama sekali."Nduk Fitri, kamu kenapa?" tanya Mbok Yem yang berdiri di balik pintu, dia mencoba mendorong tapi pintu itu terkunci, di dalam sana Safitri terdiam. Dia takut bukan main dan lekas memakai bajunya kembali."Safitri, buka ... biar Mbok kerokin kamu," desak sang ibu."Aku enggak apa-apa, sudah aku mau balik kerja dulu," setelah membuka pintu Safitri langsung pergi, dia tak hiraukan sang ibu yang coba menahannya.Gadis itu bergegas m

  • Gagal Menikah Akibat Guna-guna    Bab. 23

    Cahyani masih mengalami peristiwa buruk di tempat Erna Wulandari, dia tidak sekedar mimpi buruk tapi mahluk pesugihan itu sudah sering menampakkan diri dan berisi mencelakakan dirinya. Cahyani takut dan cemas akan nasibnya. Pagi itu dia sudah berkemas, siap meninggalkan tempat tersebut untuk berhenti bekerja namun baru hendak menutup pintu Safitri datang dari arah berbeda turun dari mobil yang dikemudikan Tejo. Mobil itu langsung pergi setelah menurunkan Safitri di sana."Eeeh, kamu mau ke mana? Kok berkemas begitu," tegur Safitri."Dia beberapa hari sakit, sudah tak tahan bekerja di sini. Hari ini dia mau pamitan ke rumah Mbak Erna Wulandari," kata Mas Parjo membantu menaruh ransel besar untuk ditaruh di bagian depan sepeda motornya."Kamu itu masih muda, jangan mudah mengeluh dan menyerah. Apalagi cuma berasal dari keluarga pas-pasan, sebaiknya bertahan di sini paling tidak satu tahun biar punya pengalaman," imbuh Safitri berkata nyinyir pada Retno Cahyani."Mbak, sepertinya rumah i

  • Gagal Menikah Akibat Guna-guna    Bab 10

    Berita tentang kematian Thole anaknya Mas Wandi membuat Safitri terkejut, entah mengapa gadis cantik itu merasa bersalah atas peristiwa tersebut meskipun belum tentu kematian bocah itu akibat tumbal dari uang dari majikanku yang Safitri berikan padanya. Apalagi saat tidur tadi Safitri juga mengalam

  • Gagal Menikah Akibat Guna-guna    bab 7

    Dengan napas tersengal-sengal Safitri sampai juga di rumah Juragan Yogi sambil membawa payung, sebotol minyak goreng dan dua bungkus mi instan yang semalam Safitri berikan pada perempuan renta tersebut. Gadis berparas ayu itu langsung masuk ke kamar memeriksa kembali uang ratusan dan puluhan ribu y

  • Gagal Menikah Akibat Guna-guna    bab 5

    Safitri sampai berdiri dan beranjak dari ranjang, matanya belum rabun jelas-jelas dia tadi mera_ba bercak darah yang bewarna merah kehitaman dengan aroma anyir yang menyengat tapi ketika dia perhatikan dengan seksama bercak darah itu raib tanpa jejak.Dak dak dak!Nyaris saja Safitri meloncat kaget

  • Gagal Menikah Akibat Guna-guna    bab 4

    Malam itu Safitri berada di kamarnya, dia membuka tas ransel dan memasukkan beberapa pakaian termasuk beberapa setel pakaian dalam. Mbok Yem yang baru pulang dari menjenguk tetangga yang sakit melihat apa yang dilakukan putrinya itu merasa penasaran."Kamu itu mau ke mana? Kok masukin baju ke tas,

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status