แชร์

bab 5

ผู้เขียน: Jagad
last update วันที่เผยแพร่: 2026-05-01 23:55:31

Safitri sampai berdiri dan beranjak dari ranjang, matanya belum rabun jelas-jelas dia tadi mera_ba bercak darah yang bewarna merah kehitaman dengan aroma anyir yang menyengat tapi ketika dia perhatikan dengan seksama bercak darah itu raib tanpa jejak.

Dak dak dak!

Nyaris saja Safitri meloncat kaget ketika pintu kamar yang berada di belakangnya diketuk, jantung Safitri berdebar kencang dan akhirnya memberanikan diri untuk membuka pintu kamar.

"Mas Parjo? Bikin kaget saja," ucap Safitri sembari mengelus dada yang jantungnya masih berdegup kencang.

"Sudah jam delapan lewat, kamu enggak buka warung?" ucap pria berperawakan jangkung yang rambutnya beruban sebagian.

"I--iya, maaf," gadis itu merapikan rambut dan pakaian, Mas Parjo langsung membalikkan badan pergi ke warung depan.

Cuma dia teman kerja Safitri di sini, Mas Parjo ini masih kerabat dari Yogi Bramasta. Dia bertugas bagian angka-angkat barang, berkemas dan mengatur belanja masuk warung. Dia membantu Safitri dalam banyak hal. Pria empat puluhan tahun itu sedikit bicara dan wajahnya sering terlihat murung. Saat jam dua belas siang waktu isoma (istirahat , solat dan makan siang) Mas Parjo pulang ke rumahnya lalu kembali lagi jam satu siang.

"Sudah hampir beberapa bulan warung ini sepi pembeli, namun sejak kamu di sini jadi ramai," ucap Mas Parjo saat pembeli mulai berangsur sepi.

"Iya, Mas ... syukurlah kalau rame, aku juga pasti enggak enak hati kalau warungnya sepi," balas Safitri merasa senang.

Tak terasa waktu cepat berlalu, sudah jam empat sore namun pembeli masih berdesakan. Mas Parjo terlihat maju ke depan dan menutup pintu warung separuh.

"Belanja besok lagi ya, warung mau tutup. Kami butuh istirahat," kata Mas Parjo pada beberapa pelanggan.

"Mas, biarin aja ... toh aku enggak apa-apa melayani pembeli, tinggal empat orang lagi, kasian jika mereka harus balik dengan tangan kosong," bisik Safitri, Mas Parjo hanya melirik dan mundur beberapa langkah membiarkan para pembeli menyelesaikan belanjaannya.

Hingga pembeli terakhir seorang ibu-ibu memberikan uangnya sembari mendekatkan wajahnya ke arah Safitri.

"Kamu anaknya Mbok Yem, kan?"

"Iya, Bu, baru dua hari ini bekerja di sini," ucap Safitri sambil tersenyum.

"Hati-hati, jika kamu diminta Menginap jangan mau. Bahaya," ucap ibu itu dengan suara lirih, matanya sesekali melirik ke arah Mas yang berada di luar warung sambil merokok.

"Bahaya kenapa, Bu? Ah, bikin takut aja," ujar Safitri yang mengira ibu tadi bergurau. Perempuan itu tak melanjutkan omongannya, dia berlalu dengan sekantung barang belanjaan. Ucapan ibu tadi membuat Safitri bergidik, dia orang pertama yang meminta gadis itu waspada bekerja di tempat ini.

"Sudah? Ayo kita tutup besok lagi, bayarannya enggak seberapa jangan sampai lembur karena lembur juga enggak di bayar di sini," ujar Mas Parjo kembali merampungkan menutup pintu warung. Dia memasukkan beberapa barang melalui pintu samping, membantu menghitung uang dan menyerahkan uang tersebut pada Safitri.

"Ini ... simpan baik-baik ya, jangan lupa brangkas dikunci," ujarnya seraya pergi berlalu meninggalkan Safitri sendirian di warung.

Gadis itu hanya memandang bingung, dia sendiri tak paham maksud ucapan pria jangkung barusan, tentu karena dia kerabat Mas Yogi seharusnya dia memiliki loyalitas kerja lebih baik dari Safitri namun selama dua hari di sini dia hanya bekerja sewajarnya termasuk datang dan pulang tepat waktu.

Sepeninggalan Mas Parjo Safitri kembali menghitung tumpukan uang tersebut, totalnya ada tiga juta empat ratus. Lantas uang itu ia pilah sesuai nominal yang masing-masing dan disimpan di brankas yang ada di dalam rumah. Setelah itu Safitri masih melanjutkan membereskan sampah berupa kardus, botol dan tali rafia yang berserak di luar warung baru kemudian masuk lagi ke rumah dan mandi.

Adzan magrib berkumandang dari kejauhan, hari ini bertepatan dengan datangnya menstruasi sehingga Safitri tak sholat. Dia hanya duduk-duduk di sekitar teras atau ruang tamu. Saat berada di ruang tamu dia meraba remot tv lalu menekan tombol merah pada remot tersebut.

"Batrenya habis atau mungkin remotnya rusak," televisi itu tidak menyala, Safitri sampai membongkar dan memasang batre remote tersebut tapi hasilnya sama saja.

Tak tak tak!

Gadis cantik itu mengetuk remote dengan telapak tangan berharap bisa menyala, matanya tanpa sengaja tertuju pada meja persembahan yang ada di ruang utama.

"Oh iya, aku ingat pesan Mas Yogi supaya menyalakan dupa dan menyan itu setelah magrib," dia mengambil korek lalu menyalakan dupa dan menyan tersebut, aroma wangi dupa mulai menusuk hidung, Safitri yang tak terbiasa dengan aroma dan asap sampai terbatuk.

Clap!

Televisi di ruang tamu menyala sendiri, namun tak ada tayangan sama sekali hanya berupa gambar bintik-bintik di layarnya.

"Tv itu model lama, mungkin juga sudah waktunya di ganti," gumam Safitri, dia menekan remot di tangannya untuk memendamkan televisi namun tak bisa, gadis berambut lurus berwarna pekat itu memutar badan hendak menarik kabel penghubung arus dengan colokan listrik.

"Astaghfirullah!"

Safitri terkejut sebab kabel tersebut tak terhubung sama sekali dengan colokan padahal televisi masih menyala. Safitri yang ketakutan lekas beranjak keluar sambil setengah berlari. Dia diam di teras rumah sambil menunggu televisi itu padam dengan sendirinya

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Gagal Menikah Akibat Guna-guna    Bab 28

    Mbok Yem menatap kepergian Safitri dengan mata berkaca-kaca, dia membayangkan perasaan Handoko ketika nanti tahu apa yang akan terjadi pada hubungan mereka (Safitri dan Handoko) yang kandas karena Safitri lebih memilih Tejo daripada Handoko."Apa yang harus aku lakukan? Aku merasa gagal sebagai orang tua, Handoko pasti akan sangat hancur hatinya," ucap Mbok Yem lirih, perempuan paruh baya itu membalikkan badannya menuju ke dalam dengan langkah gemetar."Mbok Yem," sapa seseorang dari luar, Mbok Yem sangat hafal dengan suara tersebut. Dia duduk terlebih dahulu dan menatap pria tampan yang mengikutinya masuk sampai ke ruang tamu."Aku bawakan bubur, beras dan telur, Mbok. Persiapan untuk sahur nanti, kan sepuluh hari lagi sudah mulai puasa," Handoko menaruh barang-barang ke meja sementara Mbok Yem masih terdiam dengan hati yang porak-poranda."Tadi ada mobil ke sini, mobil siapa, Mbok? Pasti mobil Mbak Erna Wulandari (majikan Safitri) ya?" susul Handoko.Tak ada jawaban, Handoko merasa

  • Gagal Menikah Akibat Guna-guna    Bab 27

    Niat untuk mengembalikan uang warung yang dipinjam dari Cahyani pun dia urungkan, Safitri bingung mau ke mana dan akhirnya menggunakan uang tersebut untuk perpanjang sewa kamar penginapan langganannya."Aku akan menunggu dia tiga hari di sini, jika tidak aku akan bertindak lebih berani lagi," cetus Safitri saat membuka pintu kamar penginapan."Tapi ... aku kehabisan pakaian bersih. Sebaiknya aku pulang ke rumah Mbak Erna Wulandari saja sebentar lalu ke sini lagi," Safitri yang baru masuk dan duduk di tempat tidur kembali berdiri. Dia ambil tasnya lalu berjalan menuju tangga lke lantai satu untuk mengambil sepeda motor yang dia parkir di bawah."Fit, ngapain kamu di sini?" sapa seseorang yang keluar dari sebuah kamar, Safitri grogi dia kaget tak menyangka bertemu seseorang yang dia kenal di sini."Mas Kus, a--aku ... aku baru jenguk teman kerjaku di jakarta dulu. Dia menginap di kamar atas," ujar Safitri."Benarkah? Aku sama istriku, kebetulan sedang bulan madu. Maklum pengantin baru,"

  • Gagal Menikah Akibat Guna-guna    Bab 26

    "Maaf, Bu ... saya ke sini untuk mencari Mas Tejo, ada yang ingin saya sampaikan," ucap Safitri setelah dipersilahkan duduk."Hmmm, heran aku anak jaman sekarang. Dulu pria mencari dan berkunjung ke rumah wanita, sekarang sudah berbalik ... wanita yang datang ke rumah pria. Hampir setiap beberapa hari sekali banyak perempuan mencari anakku, entah mau apa. Ya sudah kamu pulang dulu, nanti ibu sampaikan kalau dia pulang," ucap ibunya Tejo dengan sambil geleng-geleng kepala."Bu, mohon maaf jika lancang. Saya dan Tejo punya hubungan dekat, dan ...," Safitri sebenarnya hendak menyampaikan bahwa dirinya hamil, tapi melihat situasi yang tak memungkinkan dan belum cukup bukti kedekatan dirinya dan Tejo untuk ditunjukkan pada ibunya maka Safitri mengurungkan niatnya dan akhirnya pergi dari sana dengan tangan hampa.Pikiran Safitri tertuju pada uang satu juta yang dia pinjam dari Cahyani, uang itu telah berkurang beberapa ratus ribu. Kini langkahnya gontai menuju warung, entah alasan apa yang

  • Gagal Menikah Akibat Guna-guna    Bab 25

    Safitri tersinggung, niatnya untuk membeli alat tes kehamilan pun dia urungkan. Buru-buru dia kembali ke warung tempat dia bekerja, seperti biasanya Safitri datang terlambat di saat pembeli ramai dan dua temannya kerepotan. Bukannya membantu dia justru masuk ke kamar, mengunci pintu dan berbaring. Badannya terasa amat letih, dia tak bersemangat untuk bekerja.Dak dak dak!Pintu digedor kuat dari luar, Safitri yang baru saja terpejam langsung bangkit siap menumpahkan kemarahannya."Yani, kamu tau aku capek!" ujarnya sambil menarik tuas pintu, namun yang berdiri di sana bukan Cahyani ataupun Mas Parjo melainkan Mbak Erna Wulandari."Apa yang kamu lakukan di dalam sini? Kamu enak-enakan sementara yang lain sedang kerja, hah?! Kalau sudah tak mau bekerja di sini, sebaiknya berhenti saja," ujar juragan warung kelontong memasang muka marah. Seketika emosi di hati Safitri meredup, dia tak mungkin akan melawan Erna tanya sebab posisinya yang salah."Mbak, Safitri sedang sakit," bela Mas Parjo

  • Gagal Menikah Akibat Guna-guna    Bab. 24

    "Hoeeek!" Safitri merasa mual, keringat dingin mengucur deras di kening dan lehernya. Gadis itu lekas mengunci pintu kamar kuatir ibunya masuk ke dalam.Perlahan dia lepaskan semua pakaian, berdiri di cermin kusam lemari usang memandang tubuhnya dari atas sampai bawah. "Aku kok tambah gemuk dan tubuhku tak indah lagi," keluhnya sambil meraba pa-yu dara yang mulai turun mengendur, perutnya juga terlihat berbeda meski jika itu sebuah kehamilan baru berjalan lima bulan. Dia lupa kapan terakhir membeli pembalut saat menstimulasi, rasanya sudah cukup lama sekali."Nduk Fitri, kamu kenapa?" tanya Mbok Yem yang berdiri di balik pintu, dia mencoba mendorong tapi pintu itu terkunci, di dalam sana Safitri terdiam. Dia takut bukan main dan lekas memakai bajunya kembali."Safitri, buka ... biar Mbok kerokin kamu," desak sang ibu."Aku enggak apa-apa, sudah aku mau balik kerja dulu," setelah membuka pintu Safitri langsung pergi, dia tak hiraukan sang ibu yang coba menahannya.Gadis itu bergegas m

  • Gagal Menikah Akibat Guna-guna    Bab. 23

    Cahyani masih mengalami peristiwa buruk di tempat Erna Wulandari, dia tidak sekedar mimpi buruk tapi mahluk pesugihan itu sudah sering menampakkan diri dan berisi mencelakakan dirinya. Cahyani takut dan cemas akan nasibnya. Pagi itu dia sudah berkemas, siap meninggalkan tempat tersebut untuk berhenti bekerja namun baru hendak menutup pintu Safitri datang dari arah berbeda turun dari mobil yang dikemudikan Tejo. Mobil itu langsung pergi setelah menurunkan Safitri di sana."Eeeh, kamu mau ke mana? Kok berkemas begitu," tegur Safitri."Dia beberapa hari sakit, sudah tak tahan bekerja di sini. Hari ini dia mau pamitan ke rumah Mbak Erna Wulandari," kata Mas Parjo membantu menaruh ransel besar untuk ditaruh di bagian depan sepeda motornya."Kamu itu masih muda, jangan mudah mengeluh dan menyerah. Apalagi cuma berasal dari keluarga pas-pasan, sebaiknya bertahan di sini paling tidak satu tahun biar punya pengalaman," imbuh Safitri berkata nyinyir pada Retno Cahyani."Mbak, sepertinya rumah i

  • Gagal Menikah Akibat Guna-guna    bab 4

    Malam itu Safitri berada di kamarnya, dia membuka tas ransel dan memasukkan beberapa pakaian termasuk beberapa setel pakaian dalam. Mbok Yem yang baru pulang dari menjenguk tetangga yang sakit melihat apa yang dilakukan putrinya itu merasa penasaran."Kamu itu mau ke mana? Kok masukin baju ke tas,

  • Gagal Menikah Akibat Guna-guna    bab 2

    Cerita bermula sekitar dua tahun lalu, waktu itu Safitri baru menginjak sembilan belas tahun. Wajahnya yang cantik, putih, berambut panjang, memiliki tinggi sekitar seratus enam puluh centimeter dengan berat badan empat puluh delapan kilogram menjadikan perawakan Safitri ideal. Tutur katanya lembut

  • Gagal Menikah Akibat Guna-guna    Bab 1

    Safitri menggeliat, ia merasakan sensasi geli luar biasa di sekujur tubuhnya. Belaian lembut pada bagian paling sensitif itu membuatnya tersengal-sengal dengan mata sesekali terpejam. Keringat mengucur dari dahi dan leher, gerakan lincah pria perkasa yang memompa secara perlahan membuatnya benar-ben

  • Gagal Menikah Akibat Guna-guna    bab 3

    Hari yang dijanjikan tiba, Safitri sudah bersiap untuk berangkat kerja. Dengan berdandan sederhana hanya memakai bedak tanpa gincu, rok panjang dan kaos oblong berwarna krem Safitri mengayuh sepedanya menuju warung kelontong milik Yogi Bramasta, jarak yang jauh tetap membuatnya bersemangat untuk le

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status