LOGINSafitri sampai berdiri dan beranjak dari ranjang, matanya belum rabun jelas-jelas dia tadi mera_ba bercak darah yang bewarna merah kehitaman dengan aroma anyir yang menyengat tapi ketika dia perhatikan dengan seksama bercak darah itu raib tanpa jejak.
Dak dak dak! Nyaris saja Safitri meloncat kaget ketika pintu kamar yang berada di belakangnya diketuk, jantung Safitri berdebar kencang dan akhirnya memberanikan diri untuk membuka pintu kamar. "Mas Parjo? Bikin kaget saja," ucap Safitri sembari mengelus dada yang jantungnya masih berdegup kencang. "Sudah jam delapan lewat, kamu enggak buka warung?" ucap pria berperawakan jangkung yang rambutnya beruban sebagian. "I--iya, maaf," gadis itu merapikan rambut dan pakaian, Mas Parjo langsung membalikkan badan pergi ke warung depan. Cuma dia teman kerja Safitri di sini, Mas Parjo ini masih kerabat dari Yogi Bramasta. Dia bertugas bagian angka-angkat barang, berkemas dan mengatur belanja masuk warung. Dia membantu Safitri dalam banyak hal. Pria empat puluhan tahun itu sedikit bicara dan wajahnya sering terlihat murung. Saat jam dua belas siang waktu isoma (istirahat , solat dan makan siang) Mas Parjo pulang ke rumahnya lalu kembali lagi jam satu siang. "Sudah hampir beberapa bulan warung ini sepi pembeli, namun sejak kamu di sini jadi ramai," ucap Mas Parjo saat pembeli mulai berangsur sepi. "Iya, Mas ... syukurlah kalau rame, aku juga pasti enggak enak hati kalau warungnya sepi," balas Safitri merasa senang. Tak terasa waktu cepat berlalu, sudah jam empat sore namun pembeli masih berdesakan. Mas Parjo terlihat maju ke depan dan menutup pintu warung separuh. "Belanja besok lagi ya, warung mau tutup. Kami butuh istirahat," kata Mas Parjo pada beberapa pelanggan. "Mas, biarin aja ... toh aku enggak apa-apa melayani pembeli, tinggal empat orang lagi, kasian jika mereka harus balik dengan tangan kosong," bisik Safitri, Mas Parjo hanya melirik dan mundur beberapa langkah membiarkan para pembeli menyelesaikan belanjaannya. Hingga pembeli terakhir seorang ibu-ibu memberikan uangnya sembari mendekatkan wajahnya ke arah Safitri. "Kamu anaknya Mbok Yem, kan?" "Iya, Bu, baru dua hari ini bekerja di sini," ucap Safitri sambil tersenyum. "Hati-hati, jika kamu diminta Menginap jangan mau. Bahaya," ucap ibu itu dengan suara lirih, matanya sesekali melirik ke arah Mas yang berada di luar warung sambil merokok. "Bahaya kenapa, Bu? Ah, bikin takut aja," ujar Safitri yang mengira ibu tadi bergurau. Perempuan itu tak melanjutkan omongannya, dia berlalu dengan sekantung barang belanjaan. Ucapan ibu tadi membuat Safitri bergidik, dia orang pertama yang meminta gadis itu waspada bekerja di tempat ini. "Sudah? Ayo kita tutup besok lagi, bayarannya enggak seberapa jangan sampai lembur karena lembur juga enggak di bayar di sini," ujar Mas Parjo kembali merampungkan menutup pintu warung. Dia memasukkan beberapa barang melalui pintu samping, membantu menghitung uang dan menyerahkan uang tersebut pada Safitri. "Ini ... simpan baik-baik ya, jangan lupa brangkas dikunci," ujarnya seraya pergi berlalu meninggalkan Safitri sendirian di warung. Gadis itu hanya memandang bingung, dia sendiri tak paham maksud ucapan pria jangkung barusan, tentu karena dia kerabat Mas Yogi seharusnya dia memiliki loyalitas kerja lebih baik dari Safitri namun selama dua hari di sini dia hanya bekerja sewajarnya termasuk datang dan pulang tepat waktu. Sepeninggalan Mas Parjo Safitri kembali menghitung tumpukan uang tersebut, totalnya ada tiga juta empat ratus. Lantas uang itu ia pilah sesuai nominal yang masing-masing dan disimpan di brankas yang ada di dalam rumah. Setelah itu Safitri masih melanjutkan membereskan sampah berupa kardus, botol dan tali rafia yang berserak di luar warung baru kemudian masuk lagi ke rumah dan mandi. Adzan magrib berkumandang dari kejauhan, hari ini bertepatan dengan datangnya menstruasi sehingga Safitri tak sholat. Dia hanya duduk-duduk di sekitar teras atau ruang tamu. Saat berada di ruang tamu dia meraba remot tv lalu menekan tombol merah pada remot tersebut. "Batrenya habis atau mungkin remotnya rusak," televisi itu tidak menyala, Safitri sampai membongkar dan memasang batre remote tersebut tapi hasilnya sama saja. Tak tak tak! Gadis cantik itu mengetuk remote dengan telapak tangan berharap bisa menyala, matanya tanpa sengaja tertuju pada meja persembahan yang ada di ruang utama. "Oh iya, aku ingat pesan Mas Yogi supaya menyalakan dupa dan menyan itu setelah magrib," dia mengambil korek lalu menyalakan dupa dan menyan tersebut, aroma wangi dupa mulai menusuk hidung, Safitri yang tak terbiasa dengan aroma dan asap sampai terbatuk. Clap! Televisi di ruang tamu menyala sendiri, namun tak ada tayangan sama sekali hanya berupa gambar bintik-bintik di layarnya. "Tv itu model lama, mungkin juga sudah waktunya di ganti," gumam Safitri, dia menekan remot di tangannya untuk memendamkan televisi namun tak bisa, gadis berambut lurus berwarna pekat itu memutar badan hendak menarik kabel penghubung arus dengan colokan listrik. "Astaghfirullah!" Safitri terkejut sebab kabel tersebut tak terhubung sama sekali dengan colokan padahal televisi masih menyala. Safitri yang ketakutan lekas beranjak keluar sambil setengah berlari. Dia diam di teras rumah sambil menunggu televisi itu padam dengan sendirinyaPerasaan rindu menyelimuti hati Safitri sepanjang siang dan malam, sebuah perasaan yang tidak biasa dan tak pernah terjadi sebelumnya. Bahkan rasa yang kini membelenggu hatinya pun mengalahkan perasaannya pada Handoko dulu, entah mengapa pengorbanan lelaki miskin itu kini seolah tak ada artinya lagi di hati Safitri.Kriiing!Ponsel berdering, sepatah kata terlontar dari lawan bicara membuat hati Safitri berbunga meskipun perempuan cantik itu dengan logika yang ada telah menyangkal bahwa apa yang dia rasakan merupakan perasaan cinta. Safitri duduk di teras luar, dia pandangi hamparan sawah luas di seberang warung, menikmati embusan angin yang menyibak rambut panjangnya bergelayut tersapu angin sembari membayangkan belain lembut itu datang dari jemari Den Mas Tejo - pria tampan anak juragan beras."Safitri, kenapa kamu duduk di luar?" sapa Mbak Astri yang berjalan kaki dengan Mas Parjo - suaminya."Eh, Mbak Astri. Enggak apa-apa, Mbak. Gerah di dalam," balas Safitri dengan senyum mereka
Pagi hari berikutnya sekitar jam tujuh pagi, Safitri berjalan duluan ke toko sedangkan Mas Parjo masih ada pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Sesampainya di rumah Erna Wulandari terlihat seorang gadis muda berdiri di teras rumah, dia terlihat bingung dan hanya duduk di emperan. Ada sebuah koper besar dan satu tas ransel diletakkan di depan tempat dia duduk, sedangkan di tangannya tergenggam satu plastik teh hangat."Cari siapa, Mbak?" sapa Safitri."Nyari Mbak Safitri, katanya dia tinggal di rumah ini. Tapi kok saya ketuk pintunya berkali-kali enggak keluar ya," balas perempuan muda itu."Ada perlu apa emangnya?""Ehm, ini saya mau kerja di sini. Kata juragan Yogi, saya diminta nyari Mbak Safitri,""Wah jadi kamu karyawati baru itu, ayo masuk. Perkenalkan aku Safitri, emang aku penjaga rumah di sini sekaligus penjaga warung tapi tadi habis dari sana jalan-jalan sebentar, ayo masuk," ajak Safitri ke dalam rumah. Dia sempat was-was jika kondisi di dalam rumah tersebut tidak sepert
Malam itu Safitri menginap di rumah Mas Parjo, dia takut terjadi teror lanjutan karena telah mengetahui secara gamblang bahwa majikannya seorang pelaku pesugihan yang menumbalkan nyawa karyawati yang bekerja di sana. Di dalam rumah itu, tepatnya pada sebuah kamar terlarang yang tidak boleh dimasuki siapapun kecuali Erna Wulandari dan Yogi Bramasta terdapat sebuah makam. Kondisi kamar itu berupa ruangan seluas empat kali lima meter, semua bagian lantai di keramik hanya tersisa sekitar 1,5 meter kali 2 meter persegi yang digunakan sebagai makam dengan gundukan tanah.Kini Safitri paham mengapa tak ada perempuan muda yang betah bekerja di sana, hanya mas Parjo sendiri yang telah bekerja cukup lama meski anaknya telah menjadi tumbal pesugihan di rumah tersebut oleh Yogi Bramasta yang tak lain masih memiliki hubungan kekerabatan dengannya."Mbak, Mas, sebaiknya apa aku berhenti bekerja saja?" tanya Safitri pagi itu ketika sarapan pagi di rumah Mas Parjo."Itu semua terserah kamu saja. Jika
Malam itu hujan deras kembali turun seperti malam-malam sebelumnya, Safitri duduk di ruang tamu sembari menghitung uang penjualan hari itu. Dia mencocokkan penghitungan yang dilakukan Mas Parjo dengan nilai yang seharusnya, sebab Safitri sendiri sempat datang terlambat sehingga tidak mencatatkan semua hasil penjualan.Wuuush ....Angin berhembus dari luar, mendorong pintu hingga terbuka. Udara dingin yang menusuk kulit membuat Safitri lekas bangkit untuk menutup pintu.Claaap! Selangkah sebelum daun pintu ia raih, tiba-tiba listrik di rumah tersebut berkedip nyaris padam. Pandangan Safitri tertuju pada samping kiri rumah tepatnya pada kebun yang ditanami pohon pisang. Ada sesuatu bergerak-gerak di sana, seperti kain putih di antara daun-daun pisang yang tertiup angin. Ada aroma anyir yang tercium semakin kuat seperti aroma nanah atau bangkai yang membusuk."A--apa itu?!" Gadis cantik itu berjalan lebih dekat, sosok putih tadi masih ada di sana seperti menggelengkan kepalanya ke kiri
Safitri kembali ke warung mengendarai sepeda motor, dia diiringi dari belakang oleh Tejo dengan mobilnya. Ada perasaan tak enak hati, sebab seharusnya dia yang membayar biaya pengobatan, perbaikan body sisi kiri mobil yang penyok dan tergores namun meski dia bekerja di sana setahun belum tentu uang yang terkumpul cukup untuk membayarnya. "Untunglah dia orang baik, sehingga aku terbebas dari ganti rugi. Sudah baik ganteng pula," gumam Safitri sambil melirik ke arah spion mobil Tiiin!Klakson ditekan mobil yang dikendarai Tejo, Safitri memperlambat laju sepeda motornya dan membiarkan pria tampan itu berjalan menyalip dari kanan."Aku pergi dulu, lain kali hati-hati ya. Jika masih terasa sakit, langsung cari aku biar aku periksakan lagi," ujar Tejo dengan senyum manisnya."I--iya, Mas ... terimakasih," sahut Safitri sambil menganggukkan kepala. Mobil Tejo langsung tancap gas.Beberapa menit kemudian Safitri telah tiba di warung, dia melihat ke warung yang ramai. Buru-buru dia turun dar
Berita tentang kematian Thole anaknya Mas Wandi membuat Safitri terkejut, entah mengapa gadis cantik itu merasa bersalah atas peristiwa tersebut meskipun belum tentu kematian bocah itu akibat tumbal dari uang dari majikanku yang Safitri berikan padanya. Apalagi saat tidur tadi Safitri juga mengalami peristiwa tak masuk akal seperti tindihan. Padahal jelas-jelas dia merasakan tangan kasar yang dingin dengan kuku panjang menyentuh pipinya.Safitri masuk kembali ke kamar, mengganti daster dengan kaos dan celana panjang lalu sweater lalu menyusul Mbok Yem mendatangi rumah Mas Wandi. Di halaman dan ruang tamu rumah Mas Wandi masih sepi, hanya ada beberapa orang warga desa terdekat yang datang untuk membantu proses pengurusan jenazah maklum belum ada jam tiga pagi jadi mungkin orang-orang masih tidur di rumah mereka masing-masing."Mbok, mana Thole?" tanya Safitri saat bertemu ibunya di ambang pintu. "Masih di kamar, kamu bantu di sini dulu ya. Simbok mau ambil kain kafan di rumah untuk s







