Share

239. Ancaman

Author: Lil Seven
last update Last Updated: 2025-08-23 19:28:06

“Riel.”

Suara Rigen terdengar berat, tegas, tapi berbalut kelembutan yang menyesakkan. Ariella yang sedang menunduk di sofa langsung mendongak, menatap pria itu dengan bingung. Ia sadar Jovian berada di ruangan yang sama, berdiri tak jauh dari meja kerja Rigen, menata dokumen dengan wajah datar—namun ketegangan halus jelas terasa.

“Ada apa?”

Ariella mencoba terdengar biasa.

Rigen berjalan pelan, langkahnya mantap. Pria itu berhenti tepat di hadapan istrinya.

“Kemarilah.”

Ariella menoleh sekilas ke arah Jovian, seolah meminta kepastian. Tapi sebelum sempat bergerak, Rigen sudah menarik pergelangan tangannya dan mendudukkannya ke pangkuannya.

“Rigen!” bisik Ariella panik. Pipi merahnya kontras dengan gaun putih tipis yang dikenakannya.

Jovian refleks menoleh sekilas, lalu buru-buru kembali menunduk ke dokumen. Namun tangannya sedikit gemetar, matanya tak bisa sepenuhnya fokus pada kertas di hadapannya.

“Aku sedang bicara serius denganmu.”

Rigen merundukkan kepala,
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Gairah Berbahaya sang CEO: Ciumanku Membuatnya Bangun dari Koma   255. Istrimu Diculik!

    Suara teriakan pria sekarat bercampur dengan bau amis darah menyesaki udara malam di pelabuhan tua itu. Lampu sorot yang redup menyorot tubuh-tubuh yang tergeletak, beberapa masih bergerak, sebagian sudah kaku. Gelombang laut yang menghantam dermaga seolah menjadi latar musik dari simfoni kematian yang Rigen Ataraka ciptakan malam itu. Tubuhnya berlumuran darah musuh, sebagian bukan miliknya. Wajahnya dingin, tatapannya tajam. Dua bilah pisau yang baru saja ia cabut dari dada lawannya masih meneteskan darah segar. “Buang mereka ke laut.” Suaranya berat, penuh wibawa. Anak buahnya segera menarik mayat-mayat yang berserakan, menyeret tanpa belas kasihan. Air laut menerima semuanya, menelan nyawa-nyawa yang sudah tak berguna. Rigen melangkah pelan, setiap langkahnya menimbulkan suara seretan sepatu berlumur darah. Di balik tenangnya tatapan, pikirannya terus berputar pada wajah satu orang—Ariella. Bayangan Ariella dengan senyum kecil, helai rambut yang selalu jatuh ke pipinya, dan

  • Gairah Berbahaya sang CEO: Ciumanku Membuatnya Bangun dari Koma   254. Jebakan.

    Jovian tersenyum tipis, hampir seperti menahan sesuatu. “Ah, maaf, mungkin salah berkas. Izinkan saya mengambil yang benar.” Ia meraih map itu kembali dengan gerakan terlalu cepat. Ariella menatapnya dengan dahi berkerut. Ada hawa yang tidak nyaman mengelilinginya. Sebelum ia sempat bertanya lebih jauh, suara lain menyusup dari balik pintu yang terbuka. “Kamu terlalu ceroboh, Jovian.” Ariella menoleh kaget. Seorang lelaki muda dengan wajah tegas dan sorot mata penuh rasa percaya diri melangkah masuk. Tubuhnya tegap, rahang kokoh, dan senyum sinis di bibirnya menambah kesan angkuh. Ariella mengingat wajah itu—Jason Ataraka, keponakan jauh Rigen, yang sempat ditemuinya beberapa hari lalu. “Jason?” Ariella refleks berdiri. “Apa yang kamu lakukan di sini tanpa izin Rigen?” Jason tertawa rendah. “Paman Rigen terlalu sibuk dengan urusan kotornya di luar sana. Dan aku pikir… aku bisa menjaga istrinya dengan lebih baik sementara waktu.” Nada bicaranya membuat darah Ariella berdesir

  • Gairah Berbahaya sang CEO: Ciumanku Membuatnya Bangun dari Koma   253. Kamu Hanya Milikku

    “Aku tak peduli siapa yang mencoba mendekatimu, Riel.” Suara Rigen terdengar berat, dingin tapi penuh bara. Tubuhku sudah terjepit di dinding ruang pribadinya, matanya tajam menusuk seolah ingin merobek segala keraguanku. “Kamu hanya milikku. Dan aku akan memastikan Jason maupun Jovian mengerti itu dengan sangat jelas.” Ariella enelan ludah. Nafasnya tercekat melihat tatapan itu. Tangan Rigen yang kasar akibat darah misi semalam kini sudah bersih, tapi genggamannya tetap keras di pinggangku. “Rigen…” bisik Ariella pelan, mencoba meredam ketegangannya. Rigen mendengus pelan, kemudian wajahnya semakin dekat. “Tidak. Jangan coba-coba melunakkan aku, sayang. Kamu harus lihat sendiri bagaimana aku menandaimu… bagaimana aku memastikan setiap detik kamu hanya mengingatku.” Tangannya tiba-tiba menyusuri pahaku, mengangkat gaun tipis yang kupakai. Aku terperangkap, tak ada celah untuk kabur. “Di ruangan ini?” tanya Ariella, gemetar. “Di ruangan ini.” Jawaban Rigen tegas, nyaris

  • Gairah Berbahaya sang CEO: Ciumanku Membuatnya Bangun dari Koma   252. Peringatan.

    “Apa kau pikir aku buta?” Suara Rigen pecah di ruang kerjanya yang sunyi. Jason yang baru saja duduk di sofa tegak seketika, matanya sempat melirik sekilas pada Jovian yang berdiri kaku di sisi meja. “Apa maksud Paman?” Jason berusaha tenang, meski jemarinya yang mengepal di lutut menunjukkan kegelisahan. Rigen berdiri, setelan jas hitamnya kontras dengan tatapan mata tajam penuh ancaman. Tangannya menekan meja, kemudian ia melangkah pelan ke arah Jason. “Kamu datang kemari bukan sekadar menjenguk keluarga,” ucap Rigen, mendesis rendah. “Kamu menatap istriku terlalu lama, Jason. Dan aku benci tatapan itu.” Jason menelan ludah. “Aku… aku hanya—” “Jangan berani berdusta.” Rigen langsung menyela, suaranya dingin dan menusuk. “Kamu pikir aku tidak tahu cara seorang lelaki memandang perempuan yang ia inginkan? Aku bisa membedakan tatapan hormat, tatapan penasaran, dan tatapan kotor.” Ariella, yang sejak tadi duduk di sudut ruangan, spontan menegang. Ia mencoba menundu

  • Gairah Berbahaya sang CEO: Ciumanku Membuatnya Bangun dari Koma   251. Si Licik Datang

    Suasana rumah besar keluarga Ataraka pagi itu tampak tenang. Tenang dari luar—tapi di dalam, riak-riak licik mulai terbentuk. Jovian berdiri di depan kaca ruang tamu sambil merapikan kemeja hitamnya. Matanya sesekali melirik ke arah koridor menuju kamar utama, tempat Ariella baru saja lewat dengan gaun rumah sederhana berwarna pastel. Bukan sesuatu yang vulgar, tapi justru kesederhanaannya membuat dada Jovian terasa mengencang. Ia meneguk ludah, buru-buru mengalihkan pandangan saat suara langkah lain terdengar. Seorang pria dengan jas rapi, senyum tipis, dan sorot mata penuh perhitungan masuk ke ruangan. “Jason Ataraka,” gumam Jovian pelan, sedikit menunduk. Jason—keponakan jauh Rigen—mengangkat dagunya. “bertemu lagi denganmu, sekretaris pribadi Paman Rigen.” Suaranya tenang, tapi setiap kata seperti ada racun yang disembunyikan. Jovian menegakkan tubuh. “Benar. Aku Jovian.” Jason tersenyum, seolah sudah menilai pria di depannya hanya dari sekali tatap. “Yah. A

  • Gairah Berbahaya sang CEO: Ciumanku Membuatnya Bangun dari Koma   250. Obsesi

    Suasana sore di rumah besar Ataraka terasa tenang. Cahaya matahari menyusup melalui kaca jendela tinggi, menimpa ruang keluarga yang lapang. Ariella duduk di sofa sambil membaca majalah tipis, sementara Jovian berdiri tidak jauh, pura-pura memeriksa beberapa berkas di tangannya. Namun dari sudut matanya, ia terus saja mencuri pandang. Tatapannya menelusuri wajah lembut Ariella, rambut panjangnya yang jatuh natural, hingga senyum samar yang muncul setiap kali ia menemukan sesuatu menarik dalam bacaan. 'Aku tahu ini salah…,' batin Jovian, tapi ia tak bisa berhenti. Ada daya tarik yang membakar sabarnya setiap kali berada di dekat perempuan itu. “Jovian.” Ariella menoleh, tersenyum kecil. “Kamu sudah lama di situ? Dari tadi tidak pergi-pergi. Ada yang ingin kamu sampaikan?” Jovian kaget, buru-buru menunduk. “Ah, tidak, Nyonya. Saya hanya… memastikan semua dokumen beres sebelum saya serahkan ke Tuan Rigen.” Ariella mengangguk pelan. “Kamu rajin sekali. Tidak semua orang bisa sepr

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status