LOGIN"Rekapitulasi data pengeluaran dan pemasukan perusahaan sudah aku selesaikan. Kau hanya tinggal menandatangani ini!"
Pria berjas hitam bernama Miko itu memberikan map yang berisi beberapa berkas laporan kepada lawan bicaranya yang bernama Tristan. Mereka duduk berhadapan. Hanya sebuah meja kerja yang membatasi jarak keduanya.
Tristan Satria Adinata adalah seorang pria yang merupakan atasan Miko. Dia menjabat sebagai Chief Executive Officer (CEO) di perusahaan yang dia pimpin, dan Miko adalah sekretaris kepercayaannya. Tak ada panggilan khusus untuk Tristan bagi Miko. Mereka saling memanggil dengan sebutan nama. Sebab mereka adalah sahabat sejati sejak duduk di bangku kuliah.
Miko sempat memanggil Tristan dengan sebutan Tuan, tapi Tristan menentangnya. Tristan tidak setuju Miko memanggilnya dengan sebutan itu. Sebab Tristan tidak ingin keakraban di antara mereka menjadi kaku hanya karena sebuah kedudukan yang berbeda. Hanya ketika mereka sedang menghadapi orang-orang penting saja barulah Tristan meminta Miko untuk memanggilnya dengan panggilan Tuan. Dan Miko menyetujuinya. Karena bagaimanapun, dia harus tetap bersikap profesional dalam pekerjaannya.
Tristan adalah seorang laki-laki tampan berusia tiga puluh lima tahun, berperawakan tinggi besar dengan lengan yang berotot. Bulu-bulu cambang yang menghiasi rahangnya membuat dirinya semakin terlihat jantan. Di usianya yang cukup matang, pria itu sama sekali belum mempunyai pasangan. Lain halnya dengan Miko yang sudah menikah dan memiliki seorang anak dari wanita yang dia nikahi.
Begitu tegasnya suara Miko tadi, namun sepertinya Tristan tidak menggubris apa yang diutarakan oleh Miko. Tristan malah fokus memandang ke luar pintu ruangan dengan tangan yang sibuk memutar-mutar bolpoin di samping dagu. Kebetulan pintu ruangan Tristan terbuat dari kaca. Pintu itu dapat melihat aktivitas di luar, tapi kalau dari luar, pintu kaca itu tidak dapat menembus pandang ke dalam.
"Tristan?" Miko menegur heran. Mengamati wajah Tristan dengan seksama.
Tristan tetap saja bergeming. Pandangannya lurus mengarah ke pintu. Matanya sama sekali tak berkedip. Dan itu membuat Miko penasaran. Memaksanya untuk mengikuti arah pandangan bosnya. Miko menoleh ke belakang. Mencari tahu apa yang dilihat oleh bosnya itu. Mencebik ketika melihat apa yang ada di luar ruangan.
Seorang gadis belia, berambut lurus sebahu dengan sebuah nampan di tangannya yang berisi beberapa cup minuman, tampak sibuk memberikan satu persatu minuman itu kepada karyawan yang sibuk di layar komputernya masing-masing. Gadis imut itu tersenyum manis kepada mereka yang mengucapkan terima kasih kepadanya.
Miko menghela nafas. Kembali ke posisi awal. Memandang Tristan yang masih termangu menyaksikan gerak gerik gadis belia itu dari balik pintu kaca. Miko menyeringai sambil menggelengkan kepalanya. Tidak habis pikir dengan sikap Tristan yang demikian. Miko tahu segalanya tentang Tristan. Begitu juga dengan Tristan. Diantara mereka tidak ada yang saling disembunyikan. Apapun itu.
"Apa kau masih merasakan hal yang sama seperti sebelumnya?" tanya Miko. Berharap Tristan tersentak dari lamunannya dan menjawab 'Tidak'.
"Ya!" jawab Tristan tanpa menoleh ke Miko.
Miko sampai terkesiap mendengar jawaban Tristan. Karena meskipun Tristan terlihat seperti orang yang sedang melamun, tapi dia dapat merespon apa yang Miko ucapkan. Tristan ternyata sadar. Dia tidak sedang berada di awang-awang.
"Lalu? Apa yang akan kau lakukan?" Miko bertanya lagi.
Tristan menilik rekan kerjanya tersebut. Sebab gadis yang dia perhatikan tadi sudah berlalu pergi. Pandangannya tak lagi mengarah ke pintu. Kini beralih pada dua bola mata Miko yang menatapnya penuh tanya. Terbit seringai tajam dari sudut bibir Tristan.
"Apa gadis itu sudah bisa aku nikahi?" celetuknya to the poin.
Kali ini Miko benar-benar ternganga. Tristan memang tidak pernah memikirkan terlebih dahulu apa yang ingin dia katakan. Tapi bukankah sifat temannya itu memang sudah seperti itu sejak dulu? Dan Miko tahu itu, sebab dia telah bersahabat dengan Tristan sejak lama.
"Jangan bercanda! Ini bukan lelucon!" pekik Miko dengan tegas.
Tristan menghempaskan tubuh ke senderan kursi kekuasaannya, lalu menghela nafas tanpa mengalihkan tatapan tajamnya dari Miko.
"Apa kau pernah melihatku bercanda? Dan kapan aku pernah melayangkan lelucon kepadamu?" Tristan mengunci kedua bola mata Miko dengan tatapannya. Jari-jarinya mengetuk-ngetuk pelan meja kerjanya. Seakan sedang menunggu jawaban dari bibir Miko.
Miko menundukkan pandangan. Tidak dapat menjawab. Sebab dia tahu Tristan bukanlah pria yang suka membual. Apa yang keluar dari mulut Tristan itu adalah benar. Dan Miko tahu jika Tristan sudah punya keinginan dia pasti akan membulatkan tekatnya. Tristan pasti akan berusaha sebisa mungkin untuk mendapatkan segala keinginannya. Tak peduli dengan cara apapun, Tristan tetap akan bertindak. Dia akan melakukan apa saja dan tidak akan peduli dengan pandangan orang lain.
"Tristan, aku tau kau tidak sedang bercanda. Itu sebabnya aku takut kau akan membuktikan kata-katamu! Gimana pun juga kau harus sadar, dia itu bukan gadis yang cocok untukmu. Baik dari segi usia, maupun dari kasta. Kalian berbeda jauh!" tekan Miko mengingatkan.
"Pernyataanmu itu tidak berarti apa-apa bagiku! Aku akan tetap menikahinya!" Tristan menjawab tegas.
"Tristan! Kau sudah gila?! Usianya baru lima belas tahun! Dia masih duduk di bangku sekolah. Sedangkan kau? Ah! Kau adalah seorang pria berusia tiga puluh lima tahun. Jarak usia kalian sangat jauh! Kau tidak dapat menikahi gadis di bawah umur seperti dia. Dan, aku yakin, orang tuanya juga tidak akan setuju dengan keinginanmu! Jadi ku mohon, lupakan dia!" kecam Miko sangar.
Miko tahu kritik dan saran yang keluar dari mulutnya akan sia-sia. Tristan pasti akan mencekalnya. Bukan Tristan namanya kalau dia ciut hanya karena pendapatnya ditentang oleh orang lain.
"Kau tau kan? Tidak ada seorang pun yang bisa mencegahku untuk mendapatkan apa yang aku inginkan!" jawab Tristan menantang.
"Ma-maksudmu? Kau ingin ...."
"Usianya memang jauh di bawahku. Dan aku tau dia masih sangat belia. Tapi, bukankah aku masih bisa menunggunya? Aku akan sabar menunggunya hingga dia benar-benar matang untuk aku nikahi."
Miko hanya bergeming mendengar penuturan bosnya itu. Dilihatnya Tristan yang menyeringai tajam. Menandakan adanya ancaman di setiap ucapannya.
"Tris, tolong pikirkan lagi." Kali ini dengan nada yang sedikit melemah, Miko kembali menahan Tristan agar tidak bertindak di luar nalar.
"Kau ini kenapa?" balas Tristan ketus. "Aku hanya ingin gadis itu menjadi milikku. Niatku hanya ingin menikah dan memilikinya seutuhnya. Bukan untuk aku permainkan seperti wanita-wanita lain!" tekan Tristan.
"Tapi aku tidak yakin orang tuanya akan setuju! Kau terlalu tua untuk anak mereka!"
"Sudah aku katakan, tak ada siapapun yang bisa menolak keinginanku! Bahkan orang tuanya saja dari dulu sudah bersender di punggungku!" ucap Tristan dengan angkuhnya. Cukup membuat Miko tersadar dari ingatan kalau ; gadis manis penjaga kantin itu adalah anak dari pasangan pria dan wanita paruh baya yang dari dulu sudah bekerja di kantin perusahaan yang Tristan pimpin. Dan dengan semua kenyataan yang ada, Miko sudah dapat menebak apa yang akan Tristan lakukan jika cintanya ditolak.
"Aku hanya mencoba menahanmu dari hasratmu yang aneh itu! Tris, kau bisa mendapatkan wanita manapun yang kau suka. Kenapa harus gadis belia itu yang kau kejar? Bahkan kau rela menunggunya sampai dia matang dan bisa kau pinang. Aku tidak habis pikir dengan sikapmu yang satu ini!"
"Itu juga tergantung!" sambung Tristan tersenyum sinis.
"Maksudmu?" Miko mulai merasakan gelagat mencurigakan dari ucapan sahabatnya itu.
"Aku tidak tau entah sampai kapan aku bisa menahan gairahku ini!"
"Tristan!"
"Jika aku tidak dapat menahan hasratku padanya, maka aku akan langsung memintanya agar mau menjadi istriku!"
Miko terkejut. Matanya membulat sempurna.
"Tristan, apa yang baru saja kau katakan?! Dia masih belia! Kau ini seperti seorang ...."
"Pedofilia? Begitu?" sambung Tristan.
Miko tidak menjawab. Hanya memandang Tristan lekat-lekat. Sementara Tristan terlihat santai. Dari sorot mata Miko, Tristan dapat memastikan kalau pria itu membenarkan tebakannya.
"Aku rasa begitu!" ucapnya lagi.
"Ya, Tuhan ... Tristan!!"
***
Ditengah-tengah kesibukan mengerjakan tugas kantor, tiba-tiba pintu ruang kerja Tristan diketuk dengan sangat pelan. “Masuk!” Tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptop di hadapannya, Tristan tetap melanjutkan pekerjaannya. Jemarinya masih bergerak lincah di atas papan ketik, sementara beberapa berkas penting terhampar rapi di atas meja kerjanya. Namun, beberapa detik kemudian, gerakan jemarinya perlahan terhenti. “Selamat siang, Tuan Tristan,” Lelaki itu mengangkat kepala. Sedikit terkejut mendengar suara yang tidak asing baginya. Ia sangat mengenali suara itu. Kedua alis Tristan sedikit bertaut ketika mendapati sosok wanita paruh baya berdiri di ambang pintu dengan kedua tangan saling menggenggam gelisah. “Why?” gumamnya bertanya pada diri sendiri. Nada suaranya terdengar datar, tetapi jelas menyiratkan keterkejutan. Selama ini, perempuan paruh baya itu tidak pernah datang ke ruangannya tanpa alasan yang berkaitan dengan pekerjaan. Biasanya, ia hanya masuk ketik
Di ruang kerja yang luas, Tristan berdiri menghadap dinding kaca sambil menikmati secangkir kopi hitam. Ia menatap lurus ke bawah sana, ke jalanan kota yang sudah biasa terlihat sibuk di siang hari seperti ini.Tak lama kemudian, terdengar suara ketukan pada pintu kaca ruang kerja Tristan. Kaca itu hanya tembus pandang dari sisi dalam, sedangkan dari luar, bagian dalam ruangan tidak dapat terlihat. “Masuk!” seru Tristan dari dalam Pintu terbuka perlahan. Menampilkan sosok lelaki yang tidak asing bagi Tristan. Miko melangkah masuk sambil membawa beberapa map berisi laporan perusahaan. Senyum tipis langsung menghiasi wajah Miko. Melihat sahabatnya telah kembali dan memutuskan untuk menetap lagi di Indonesia membuatnya happy. “Selamat siang, Tuan Tristan. Terima kasih telah kembali ke negara ini,” ucap Miko bergurau. Tristan menoleh sekilas. “Kau kerasasukan setan apa sampai mengatakan hal menjijikan seperti itu?” Miko terkekeh pelan. “Maaf, aku ingin terbiasa memanggilmu d
Koridor rumah sakit dipenuhi aroma obat-obatan dan langkah kaki para tenaga medis yang berlalu-lalang tanpa henti. Setiap langkah orang-orang di tempat itu tentu memiliki peranan dan artinya masing-masing. Bu Ambar duduk dengan kedua tangan saling menggenggam erat. Matanya terus menatap pintu ruang operasi yang sejak satu jam lalu belum juga terbuka. Di sampingnya, Stella berusaha tegar meskipun wajahnya tidak mampu menyembunyikan kepanikan. Bu Ambar terdiam termenung di depan ruang operasi dengan mata sembap. Berkali-kali perempuan paruh baya itu mengusap air matanya menggunakan ujung kerudung. Tak lama kemudian, seorang dokter keluar dari ruang operasi. “Keluarga Bapak Adi?” Ibu dan anak itu tersentak dan segera berdiri. “Iya, Dok,” jawab Bu Ambar dengan suara bergetar. Ia dan Stella berjalan mendekati dokter. Dokter melepaskan masker dari wajahnya. “Kondisi pasien sudah harus segera ditangani malam ini. Operasi tidak dapat ditunda lagi, Bu.” Bu Ambar dan Stella s
Hari berganti bulan, bulan berganti tahun. Waktu terus berjalan tanpa pernah menunggu siapa pun. Tiga tahun telah berlalu sejak berbagai peristiwa yang pernah mengguncang kehidupan Grizelle. Kini, gadis yang dahulu dikenal sebagai penjaga kantin sekolah itu telah tumbuh menjadi seorang perempuan muda yang anggun. Grizelle Lasmaya genap berusia delapan belas tahun. Ia baru saja menyelesaikan pendidikan di Sekolah Menengah Atas dan bertekad melanjutkan studinya ke perguruan tinggi. Impian itu tentu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Oleh sebab itu, di sela-sela waktu luangnya, Grizelle masih membantu ibunya bekerja demi menambah penghasilan keluarga. Wajahnya yang mungil dengan pesona baby face seolah tidak berubah dimakan waktu. Bahkan, kecantikannya kini semakin terpancar, memancarkan kesan lembut sekaligus menawan. Tak sedikit pria yang berusaha mendekatinya. Ada yang mengirimkan bunga, mengajaknya makan malam, hingga terang-terangan menyatakan perasaan. Namun, tidak
“Zel, tadi Ibu melihatmu duduk bersama Tuan Miko. Ada apa sebenarnya?” tanya Bu Ambar setelah selesai mengantarkan secangkir kopi pesanan Miko ke meja yang ditempatinya. Grizelle yang telah berganti pakaian kerja sedang merapikan tali celemek ke belakang pinggangnya. Jemarinya bergerak pelan, sementara ia menarik napas panjang sebelum akhirnya menjawab. “Tidak ada apa-apa, Bu,” ucapnya berusaha terdengar tenang. “Tuan Miko hanya menanyakan bagaimana perkembangan kafe ini. Dia hanya ingin tahu apakah kita mengalami kendala selama bekerja di sini atau ada hal-hal yang perlu diperbaiki. Dia bilang, masukan dari kita akan menjadi bahan pertimbangan agar perusahaan dapat menciptakan lingkungan kerja yang lebih nyaman buat para karyawan lainnya.” Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Grizelle. Ia sengaja menyembunyikan isi percakapannya dengan Miko yang sebenarnya. Bukan karena ingin membohongi ibunya, melainkan karena ia belum siap menjelaskan semua hal yang baru saja terjadi. “O
“Hei, tenanglah. Kau tidak perlu setegang itu. Aku hanya ingin berbicara santai denganmu.” Grizelle yang masih dikuasai rasa terkejut hanya mampu menatap Miko dalam diam. Jemarinya tanpa sadar memainkan ujung seragam sekolah yang masih melekat di tubuhnya, melintirnya berulang kali sebagai pelampiasan kegugupan. “Kemarilah,” ujar Miko sambil memberi isyarat dengan gerakan tangannya. Dengan ragu, Grizelle menarik kursi yang berada di hadapan pria itu. Ia kemudian duduk berhadapan dengan Miko, meski kecanggungan masih begitu jelas terlihat dari sikapnya. “Kau tidak perlu takut,” kata Miko dengan nada menenangkan. “Aku tidak akan mengatakan apa pun mengenai hubunganmu dengan Tristan.” “Maaf, Tuan,” akhirnya Grizelle membuka suara. Ia menegakkan punggungnya sebelum melanjutkan, “Saya memang tidak pernah memiliki hubungan apa pun dengannya.” Meskipun suaranya pelan, nada ketegasan dalam ucapannya tidak dapat disembunyikan. Miko mendadak merasa kikuk. Untuk kesekian kalinya, ia mera
Kantin sudah tutup. Grizelle, Stella dan dua orang pekerja lainnya bersiap-siap untuk pulang."Dek!" Stella menyapa Grizelle di tengah-tengah kesibukannya merapikan tas."Ya, Mbak?" sahut Grize
Di sebuah restoran yang cukup ternama di salah satu hotel berbintang lima, Tristan dan beberapa staf perusahaan, sedang sibuk membahas tentang apa saja yang menjadi target utama mereka dalam upaya pengembangan bisnis. Miko sebagai kaki tangan dan juru bicara Tristan, dengan lantang menerangkan da
"Hem—" Tristan menarik nafas dan membuangnya pelan. Ekspresi kerasnya sedikit memudar. Ia menatap gadis yang berdiri tak jauh darinya.
Pagi ini, Grizelle dan kakak perempuannya yang bernama Stella, tampak sibuk mondar-mandir melayani karyawan kantor yang sengaja mampir untuk makan atau sekedar memesan secangkir teh hangat atau kopi. Kedua gadis itu dengan cekatan menyiapkan berbagai menu yang dipesan







