LOGIN"Grizeeeelle ...."
Teriakkan seorang wanita paruh baya berpenampilan sederhana itu memekik telinga. Tersenyum melihat gadis yang sedang sibuk mengilap satu persatu meja dengan selembar kain di tangannya.
Gadis yang bernama Grizelle itu berbalik, mencari sumber suara yang meneriaki namanya. Ketika ia menoleh, semilir angin menghembus wajah dan rambutnya. Memperlihatkan lehernya yang jenjang dengan kulit sebening embun. Kedua mata bak kolam madu itu menyipit, memperhatikan siapa yang baru saja memanggil namanya. Dan ketika gadis itu tahu siapa orang yang memanggilnya, ia tersenyum manis.
"Ibu!" gumamnya. Menghentikan
aktivitasnya segera.
Lantas, kedua kaki jenjangnya mulai melangkah. Mendekati sang ibu yang menunggunya di balik steleng kaca. Baju kaos berwarna pink, dan rok abu-abu selutut masih menempel di tubuhnya. Sepatu kets dan kaos kaki putih yang panjangnya hampir selutut juga masih terpasang di kakinya yang ramping. Rambut panjangnya terurai indah, semakin memperlihatkan keanggunannya.
Sepulang sekolah, gadis belia itu selalu mampir ke cafe kecil yang dirintis orang tuanya. Seragam putihnya sengaja ia buka dan hanya memakai kaos dalam berwarna pink yang sudah ia pakai dari rumah.
"Bisa bantu Ibu gak?" tanya wanita paruh baya itu ketika Grizelle sudah tiba di depannya.
"Tentu, Bu! Aku akan melakukan apa saja yang Ibu inginkan," balasnya antusias.
"Gak lelah?" Ibunya memastikan.
"Enggak kok, Bu. Aku gak lelah! Aku masih punya banyak tenaga. Aku senang bisa membantu Ibu!" Gadis itu tersenyum. Tidak ada rasa keberatan yang tergambar di wajahnya. Baginya membantu kedua orang tua adalah kebanggaan tersendiri.
"Kamu belum istirahat sejak pulang sekolah tadi. Ibu takut kamu akan kelelahan. Tapi, Ibu sedang butuh bantuanmu saat ini."
"Aku tidak lelah, Bu! Emang Ibu mau aku bantu apa?"
Melihat semangat putrinya, wanita paruh baya itu memberikan sebuah nampan kepada Grizelle. Nampan itu berisi secangkir kopi latte panas yang harumnya
menyeruak kemana-mana.
Grizelle menerimanya. Memegang nampan itu erat-erat. Mengamati cangkir kopi yang berada di atas piring kecil.
"Bawa kopi ini ke ruangan Tuan Tristan Adinata!" titah Ibunya.
Grizelle terdongak. Menyorot wajah ibunya dalam-dalam. Terkesiap mendengar nama yang baru saja disebut ibunya.
'Tuan Tristan Adinata?!'
Gumamnya dalam hati.
'Bukankah dia adalah pemimpin di perusahaan ini? Yang selalu bersikap dingin kepada orang lain dan wajahnya selalu terlihat sangat menakutkan? Dan aku dengar, dia selalu bersikap arrogan kepada orang-orang. Selalu merasa benar dan gila hormat. Dan jika seseorang melakukan kesalahan padanya. Dia tidak akan segan-segan menunjukkan
sikap tempramentalnya.'
Grizelle menarik nafas dalam-dalam dan menghembusnya secara kasar.
"Ya Tuhan ... kenapa harus dia sih!" Tak sadar, Grizelle keceplosan. Membuat kelopak mata ibunya melebar.
"Ada apa, Nak? Kamu keberatan Ibu suruh ngantar kopi ke ruangan Tuan Tristan Adinata?" tanya ibunya heran.
Grizelle tersadar dari lamunanny.a.
"Ah, gak kok Bu! Aku gak keberatan. Maaf tadi aku ngelantur," elak Grizelle.
"Bener gak pa'pa?"
"Iyaa, gak pa'pa, Bu!" balas Grizelle meyakinkan.
"Ya, udah kamu antar gih minuman Tuan Tristan. Ntar keburu dingin!" usul ibunya.
"Baik, Bu!" jawab Grizelle patuh. Terpaksa melakukan tugas yang diperintahkan oleh ibunya meski terasa berat. Sebab ia tidak suka dengan pria si pemilik minuman itu.
Melihat pria itu sekilas saja ia sudah merasa muak, apalagi ketika berhadapan dengannya secara langsung.
Grizelle berbalik, menuntun langkahnya menuju ruangan yang dia tuju. Berusaha mengumpulkan keberanian untuk menghadap Tristan. Laki-laki yang menurutnya angkuh dan sangat dingin,
juga menakutkan.
Ketika Tristan sibuk di depan layar laptopnya, Grizelle dengan lembut mengetuk pintu ruangannya.
Tok! Tok Tok!
Tanpa melepas pandangan dari layar laptop, Tristan menyahut dari dalam.
"Masuk!"
Sahutan itu membuat Grizelle merasa semakin deg-degan. Ia menghela nafas panjang. Berdoa dalam hati, semoga tidak membuat kesalahan di depan pimpinan perusahaan yang akan dia hadapi itu. Mengumpulkan nyali yang selalu ciut ketika mendengar suara bariton Tristan. Setelah dirasa siap, barulah tangannya terulur, mendorong pintu kaca itu dengan hati-hati.
"Permisi, selamat siang Tuan! Maaf mengganggu." Suara lembut Grizelle menghentak Tristan yang sedang fokus pada pekerjaannya. Grizelle berucap dengan pandangan yang menunduk. Takut menatap mata pria yang sedang duduk di kursi kekuasaannya.
Tristan termangu melihat kehadiran gadis pujaannya. Mengabaikan laptopnya yang masih menyala. Tanpa kedip kedua manik matanya menyorot Grizelle yang berjalan pelan ke arahnya. Di mata Tristan, gadis itu terlihat anggun meski tengah membawa sebuah nampan
di tangannya.
Tristan tidak menyangka siang ini Grizelle yang akan mengantarkan kopi untuknya. Karena biasanya, tugas itu selalu dilakukan oleh ibu atau ayah Grizelle atau pekerja yang memang bekerja dengan orang tua Grizelle. Tapi apapun alasannya, ia sangat senang dengan kehadiran Grizelle ke ruangannya. Apalagi gadis itu mengantarkan kopi untuknya. Membuat Tristan merasa seperti diperhatikan, meski dia tahu, Grizelle begitu takut ketika berhadapan dengannya.
Tristan mengamati setiap inci tubuh Grizelle. Mulai dari ujung kaki sampai ujung rambut. Grizelle berjalan dengan takut-takut. Tristan dapat membaca gerakannya. Grizelle menunduk dan enggan memandang wajahnya.
"Ini kopinya, Tuan!" Grizelle mengangkat dan meletakkan cangkir yang berisi kopi itu ke meja Tristan dengan tangan yang gemetar. Hingga cangkir itu ikut bergetar dibuatnya.
Setelah meletakkan cangkir yang dibawanya, Grizelle segera bergerak pamit.
"Permisi, Tuan!" ucapnya mengalihkan badan.
"Tunggu!"
Langkah Grizelle terhenti. Suara bariton Tristan sukses membuat jantungnya serasa meluncur ke bawah. Grizelle menggigit bibir bawahnya. Pelan dia membalikkan badan. Menghadap Tristan yang sudah menatapnya serius. Grizelle tetap tak berani membalas tatapan mata Tristan yang baginya seperti seorang pembunuh. Maka, ia menunduk, memandang kakinya yang terbungkus sepatu berwarna putih.
"Iya, Tuan," sahutnya takut-takut.
"Siapa namamu!" tanya Tristan dengan intonasinya yang tegas.
"Gri-Grizelle, Tuan!" jawab gadis itu tercekat.
'Gila ya! Itu nanya atau ngancam? Kok bisa-bisanya dia bertanya dengan nada berat seperti itu!'
Batin Grizelle.
"Berapa usiamu?" tanya Tristan lagi. Masih tetap dengan nada yang sama.
"Lima belas tahun, Tuan."
"Masih sekolah?"
"Iya, Tuan. Saya masih sekolah. Kelas satu SMA," jawab Grizelle lagi.
"Hem, begitu!" Tristan manggut-manggut. "Ya, sudah. Pergi sana!" titahnya. Kembali memandang layar laptop.
Grizelle tercegang. Tak habis pikir dengan ucapan kasar Tristan.
"Baik, Tuan!"
Grizelle berbalik, lalu berjalan meninggalkan ruangan Tristan dengan wajahnya yang merengut. Mencibir dalam hati. Mengumpat Tristan dengan kesal.
"Apaan sih! Nanya-nanya nama dan usia segala! Kayak panitia lomba aja. Udah gitu, bukannya ngucapin terima kasih, eh malah ngusir! Emang gitu ya sifatnya orang berkuasa? Gak pernah menghargai orang lain yang berada di bawahnya. Huh! Menyebalkan!" umpat Grizelle saat ia sudah berada di luar ruangan Tristan. Berdiri kesal di balik pintu, kemudian beranjak dengan langkah cepat.
Tanpa Grizelle sadari, Tristan kembali mengamati pintu yang baru saja ia tutup. Menatap punggung Grizelle sejak tadi. Sudut bibir pria itu melengkung. Tersenyum seperti orang yang sedang memikirkan dan merencanakan sesuatu.
***
Grizelle terkesiap saat sebuah es krim cone rasa vanila tiba-tiba muncul di hadapannya. Ia kini tengah berada di sebuah taman kecil di pinggir kota. Ia duduk di bangku taman dengan wajah yang tidak bersemangat sejak tadi.Keningnya berkerut bingung. Sesaat ia menatap es krim berbentuk kerucut itu, sebelum akhirnya mengikuti arah tangan yang menyodorkannya.“Es krim untuk wanitaku yang manis,” ujar seseorang di sampingnya dengan nada jenaka. Tampak dua es krim dengan rasa yang sama di kedua tangannya.“Tian.” Senyum tipis mengembang di bibir Grizelle. Ia menerima es krim itu, lalu menatap pria tersebut penuh rasa penasaran. “Bukannya tadi kamu bilang mau ke toilet? Kok malah sempat beli es krim?”Tian terkekeh pelan. “Aku tahu kamu lagi butuh mood booster. Dan seperti biasanya, obat paling ampuh buat memperbaiki suasana hatimu ya es krim vanila ini.”Grizelle menatap es krim di tangannya sejenak, lalu kembali menoleh ke arah Tian. Senyumnya perlahan melebar, merasa tersentuh oleh perh
Grizelle terdiam sambil menatap cangkir di hadapannya. Namun, tatapan itu hanyalah kosong. Pikirannya sama sekali tidak berada di sana, melainkan sibuk mengurai kegelisahan yang sejak tadi mengusik hatinya.Ia kembali menegakkan tubuhnya, menghela nafas berat. Berusaha memperbaiki ekspresi galaunya agar terlihat biasa saja dihadapan Tristan. Lalu, gadis itu menoleh ke arah Tristan yang berdiri tegak di ujung sana yang sejak tadi memandangnya dengan wajah siluman.Grizelle berjalan dengan berusaha menyeimbangkan langkahnya agar tidak terlihat gontai.Jujur, sebenarnya ia sangat malas bertemu dengan pria yang saat ini sedang bersamanya di ruangan tersebut.“Tuan,” ucapnya memberanikan diri. “Ada yang ingin saya bicarakan pada Anda.”Tristan tidak menjawab. Ia diam menunggu kalimat selanjutnya yang ingin Grizelle ucapkan.“Bisa kah saya meminta waktu Anda sebentar?”Tristan tidak percaya kalau gadis pujaannya itu berkata demikian. Tadinya ia kira, Grizelle hanya ingin pamit darinya. Namu
Karena keadaan kedua orang tua yang tidak memungkinkan dirinya untuk kuliah, Grizelle terpaksa menunda keinginannya untuk mendaftarkan diri di Universitas yang sudah lama ia impikan. Untuk saat ini, ia memilih memusatkan perhatian pada kesehatan sang ayah sekaligus membantu memperbaiki kondisi ekonomi keluarganya yang terpuruk. Harapannya sederhana: sedikit demi sedikit, hutang piutang yang membelit kedua orang tuanya dapat segera terlunasi. Grizelle, gadis cantik yang kini mulai beranjak dewasa, terus memutar otak agar bisa memperoleh pekerjaan yang lebih layak. Ia ingin menjadi penopang keluarganya dan membebaskan kedua orang tuanya dari belenggu hutang yang selama ini menghimpit kehidupan mereka. Setidaknya, hutang piutang ayah dan ibunya bisa segera lunas. Pagi ini, seperti biasa, ia berada di cafe untuk melayani para karyawan dan pelanggan lainnya yang singgah di sana. Ia mengilap meja, memungut piring dan cup kopi yang ditinggal pelanggan di atas meja dan membawanya ke w
“Zel, kenapa wajahmu jadi murung seperti itu?” Tian melangkah mendekati Grizelle yang baru saja keluar dari ruang operasi. Gadis itu baru saja melihat kondisi ayahnya yang selesai menjalani tindakan medis. Meski operasi telah usai, raut wajahnya sama sekali tidak memperlihatkan kelegaan. Sorot matanya kosong, sementara langkah kakinya terasa berat seolah seluruh tenaganya telah terkuras. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Grizelle berjalan menuju bangku panjang yang berada di lorong rumah sakit. Ia kemudian menjatuhkan tubuhnya ke sana dan menundukkan kepala. Kedua telapak tangannya saling menggenggam erat di atas pangkuan, seakan berusaha menahan segala kegelisahan yang terus bergolak di dalam dada. Tian mengamati gadis itu dengan penuh perhatian. Ia dapat merasakan ada sesuatu yang mengusik pikiran Grizelle. Perlahan, ia ikut duduk di samping gadis tersebut dan memberinya ruang agar Grizelle tidak merasa tertekan. “Zel, ada apa?” tanyanya lembut. “Apa kondisi Ayah memburuk?” G
Ditengah-tengah kesibukan mengerjakan tugas kantor, tiba-tiba pintu ruang kerja Tristan diketuk dengan sangat pelan. “Masuk!” Tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptop di hadapannya, Tristan tetap melanjutkan pekerjaannya. Jemarinya masih bergerak lincah di atas papan ketik, sementara beberapa berkas penting terhampar rapi di atas meja kerjanya. Namun, beberapa detik kemudian, gerakan jemarinya perlahan terhenti. “Selamat siang, Tuan Tristan,” Lelaki itu mengangkat kepala. Sedikit terkejut mendengar suara yang tidak asing baginya. Ia sangat mengenali suara itu. Kedua alis Tristan sedikit bertaut ketika mendapati sosok wanita paruh baya berdiri di ambang pintu dengan kedua tangan saling menggenggam gelisah. “Why?” gumamnya bertanya pada diri sendiri. Nada suaranya terdengar datar, tetapi jelas menyiratkan keterkejutan. Selama ini, perempuan paruh baya itu tidak pernah datang ke ruangannya tanpa alasan yang berkaitan dengan pekerjaan. Biasanya, ia hanya masuk ketik
Di ruang kerja yang luas, Tristan berdiri menghadap dinding kaca sambil menikmati secangkir kopi hitam. Ia menatap lurus ke bawah sana, ke jalanan kota yang sudah biasa terlihat sibuk di siang hari seperti ini.Tak lama kemudian, terdengar suara ketukan pada pintu kaca ruang kerja Tristan. Kaca itu hanya tembus pandang dari sisi dalam, sedangkan dari luar, bagian dalam ruangan tidak dapat terlihat. “Masuk!” seru Tristan dari dalam Pintu terbuka perlahan. Menampilkan sosok lelaki yang tidak asing bagi Tristan. Miko melangkah masuk sambil membawa beberapa map berisi laporan perusahaan. Senyum tipis langsung menghiasi wajah Miko. Melihat sahabatnya telah kembali dan memutuskan untuk menetap lagi di Indonesia membuatnya happy. “Selamat siang, Tuan Tristan. Terima kasih telah kembali ke negara ini,” ucap Miko bergurau. Tristan menoleh sekilas. “Kau kerasasukan setan apa sampai mengatakan hal menjijikan seperti itu?” Miko terkekeh pelan. “Maaf, aku ingin terbiasa memanggilmu d
Kantin sudah tutup. Grizelle, Stella dan dua orang pekerja lainnya bersiap-siap untuk pulang."Dek!" Stella menyapa Grizelle di tengah-tengah kesibukannya merapikan tas."Ya, Mbak?" sahut Grize
Di sebuah restoran yang cukup ternama di salah satu hotel berbintang lima, Tristan dan beberapa staf perusahaan, sedang sibuk membahas tentang apa saja yang menjadi target utama mereka dalam upaya pengembangan bisnis. Miko sebagai kaki tangan dan juru bicara Tristan, dengan lantang menerangkan da
"Hem—" Tristan menarik nafas dan membuangnya pelan. Ekspresi kerasnya sedikit memudar. Ia menatap gadis yang berdiri tak jauh darinya.
Pagi ini, Grizelle dan kakak perempuannya yang bernama Stella, tampak sibuk mondar-mandir melayani karyawan kantor yang sengaja mampir untuk makan atau sekedar memesan secangkir teh hangat atau kopi. Kedua gadis itu dengan cekatan menyiapkan berbagai menu yang dipesan







