LOGIN
Sinar mentari pagi, alih-alih menghangatkan, justru terasa seperti pisau yang menusuk mata Dirga. Ia menggeliat di ranjang yang berantakan, denyutan di kepalanya berpacu dengan detak jantungnya yang semakin cepat. Bukan hanya karena alkohol. Ada sesuatu yang salah. Kamar ini bukan miliknya. Terlalu klasik, terlalu... asing. Semalam adalah kekacauan, kabur oleh pengaruh obat perangsang.
Di sampingnya, seorang wanita meringkuk di bawah selimut. Wajahnya tersembunyi, namun Dirga merasakan aura yang aneh. Bukan aura wanita bayaran. Melainkan... kepolosan? Kerentanan? Kontras yang mengganggu.
Dirga menghela napas tajam, menggeleng. Ia bangkit, berusaha tidak membangunkannya. Kakinya menapak lantai dingin. Ia melihat bercak darah di seprai. Alisnya berkerut tajam. Mustahil. Wanita penghibur perawan? Itu dongeng. Ini pasti jebakan. Tapi jebakan yang dirancang untuk apa?
Ia tidak mau ambil pusing. Rio salah pesan. Kesalahan identitas. Atau wanita itu penipu ulung. Ia terlalu sibuk untuk sandiwara murahan. Perusahaan, kesepakatan, musuh yang mengintai di setiap sudut. Ia mengambil dompetnya, mengeluarkan beberapa lembar uang, dan meletakkannya di meja samping tempat tidur. Harga untuk kebingungan dan penyesalan yang akan segera kutuntut balas.
Sebelum pergi, Dirga menatap punggung wanita itu. Kulitnya putih bersih, dengan tanda lahir bulan sabit di sisi kanan. Jantungnya berdebar aneh. Sesuatu berkelebat di benaknya. Kenangan masa kecil yang terkubur, terlalu dalam untuk diingat. Ia menggelengkan kepala, mengenyahkan pikiran itu. Tidak mungkin. Kebetulan yang menggelikan dan berbahaya.
Tiba-tiba, ingatan malam sebelumnya menyerbu benaknya. Pesta Tuan Harsono. Lampu kristal, musik merdu, wajah palsu. Prisil, anak Tuan Harsono, menempelinya seperti lintah. Senyumnya... senyum yang sekarang terasa seperti deklarasi perang. Ia ingat minuman yang diberikan Prisil. "Koctail spesial," katanya. Racun yang dibungkus dengan gula.
"Sial," desisnya. Ia dijebak. Obat perangsang. Prisil terlibat? Atau hanya pion bodoh? Siapa dalangnya? Dan apa tujuannya? Menjatuhkannya? Menguasai perusahaannya? Atau ada motif lain yang lebih dalam, lebih menjijikkan?
"Anggap saja ini permulaan," gumamnya sebelum menutup pintu kamar hotel dengan pelan. Ia harus mencari tahu kebenaran. Dendamnya dingin, mematikan. Mereka akan menyesal telah membangunkanku dari tidur panjang. Mereka akan menyesal telah bernapas.
Dirga keluar dari kamar hotel dan segera menghubungi Rio, asistennya yang begitu setia bekerja dengannya delapan tahun terakhir.
"Rio, ini aku," ucap Dirga dengan suara berat, berusaha menyembunyikan emosinya.
"Pak Dirga? Ada yang bisa saya bantu?" jawab Rio dengan nada sedikiit khawatir, merasakan ada sesuatu yang tidak beres.
"Wanita yang kau pesankan semalam... jelaskan padaku, sekarang," perintah Dirga.
"Saya... saya tidak mengerti, Pak. Saya sendiri yang memesannya. Dia salah satu yang terbaik. Apa ada masalah?" tanya Rio dengan nada bingung.
Dirga menghela napas. "Dia perawan, Rio. Pe-ra-wan. Apa kau mengerti betapa anehnya itu?"
Terdengar suara Rio yang tercekat di seberang telepon. "Pe-perawan, Pak? Tapi... tapi wanita yang saya pesan juga sudah pasti tidak perawan Pak, karena sudah terbiasa melayani orang – orang besar, lagian dia juga katanya tidak bisa masuk kamar Bapak. Pintunya tidak dibuka-buka saat ia mengetuknya. Saya bahkan harus membayar lebih karena dia marah-marah dan mengancam akan melaporkan saya ke polisi, karena tuduhan penipuan."
Dirga terdiam, otaknya seperti berhenti berfungsi selama beberapa detik. "Apa maksudmu?"
Terdengar keheningan sesaat. "Ya Tuhan... itu tidak mungkin, Pak! Saya... saya akan cari tahu, Pak. Pasti ada kesalahan," jawab Rio dengan nada panik.
"Kesalahan? Atau pengkhianatan?" tanya Dirga, suaranya berubah dingin sedingin es.
"Tidak, Pak! Saya tidak akan pernah mengkhianati Bapak!" bantah Rio dengan nada gemetar.
"Lalu, siapa wanita itu?" tanya Dirga, suaranya mengancam.
"Saya beneran tidak tahu, Pak. Saya hanya menjalankan perintah Bapak. Saya pastikan wanita itu datang ke hotel dan menunggu di depan kamar Bapak, tapi saya tidak tahu apa yang terjadi setelah itu," jelas Rio dengan nada panik, berusaha untuk membela diri.
Dirga menghela napas panjang. Semakin rumit saja. Ia merasa sudah terperangkap dalam jaring laba-laba yang semakin lama semakin mengikatnya. " Lupakan wanita itu. Pastikan tidak ada yang tahu tentang kejadian semalam. Serta selidiki siapa wanita yang bersamaku tadi malam. Jangan sampai dia penyusup yang sengaja disiapkan musuh untuk menjeratku. Jika benar dia suruhan dari musuhku, segera bereskan! Paham?"
"Paham, Pak," jawab Rio cepat.
"Dan Rio, cari tahu siapa yang memberiku minuman di pesta Tuan Harsono. Aku ingin tahu segalanya." tambah Dirga dengan nada dingin.
"Jika kau tahu sesuatu dan kau menyembunyikannya, aku akan membuatmu menyesal telah dilahirkan. Aku akan membuatmu berharap kau tidak pernah ada," ancam Dirga dengan nada dingin yang menusuk tulang.
"Saya bersumpah, Pak! Saya tidak tahu apa-apa! Saya akan melakukan apa saja untuk membuktikan kesetiaan saya!" jawab Rio dengan nada gemetar yang menyedihkan.
Dirga mematikan telepon. Ia merasa seperti terjebak dalam jaring laba-laba yang semakin mengencang. Siapa wanita itu? Mengapa ia ada di kamarnya? Dan mengapa Rio tidak tahu apa-apa? Ia harus berhati-hati. Seseorang sedang bermain-main dengannya, dan taruhannya adalah segalanya. Permainan baru saja dimulai, dan aku akan memenangkannya. Atau aku akan menghancurkan semua yang ada di sekitarku.
Dua tahun berlalu begitu cepat. Banyak hal berubah di rumah besar itu. Dulu rumah ini penuh dengan pertengkaran, kebohongan, dan kesedihan. Sekarang, rumah itu berubah menjadi tempat yang paling damai dan hangat di dunia. Tidak ada lagi kehadiran orang-orang berniat jahat seperti Clarisa atau Reno—mereka kini membusuk di penjara, menyesali perbuatan mereka yang membawa kehancuran bagi diri sendiri. Rio masih setia bekerja di sana, menjadi sahabat sekaligus saksi bisu kebangkitan cinta sejati kedua tuannya.Dirga kini bukan lagi sekadar suami, ia adalah pelindung sejati, sahabat terbaik, dan pria yang paling berbakti pada istrinya. Ia tidak pernah sekali pun mengulangi kesalahan masa lalunya. Ia tidak pernah lagi membiarkan Delisa merasa diabaikan, tidak berharga, atau sendirian. Di mata seluruh orang yang mengenal mereka, Dirga adalah contoh suami sempurna yang rela berlutut demi istrinya. Segala keinginan Delisa, sekecil apa pun, akan segera ia penuhi. Jika Delisa ingin pe
Hari-hari berlalu sejak kejadian itu, dan benar-benar terlihat perubahan besar yang nyata dan terukur dari diri Dirga. Setelah sembuh dari demamnya, Dirga tidak kembali menjadi Dirga yang dulu. Ia tetap menjadi pria yang rendah hati, penuh perhatian, dan rela berkorban. Ia tidak pernah lagi memerintah atau bersikap otoriter, baik pada Delisa maupun pada siapa pun di rumah itu. Ia seolah menjadi bayangan yang selalu mengikuti Delisa, namun kali ini bukan untuk mengintimidasi, melainkan untuk melayani dan menjaga.Setiap pagi, Dirga bangun jauh lebih awal dari siapa pun. Ia sendiri yang menyiapkan sarapan sederhana yang ia tahu disukai Delisa. Ia belajar memasak dari para koki rumah, mencoba berulang kali hingga rasanya pas, meski tangannya sering tergores pisau atau terbakar wajan. Ia ingin membuktikan bahwa ia mampu melakukan hal-hal kecil, hal-hal yang dulu ia anggap remeh dan rendah. Saat sarapan tiba, ia akan meletakkan piring di meja, menarikkan kursi untuk Delisa berdi
Keesokan harinya, hujan sudah berhenti menyisakan udara yang sejuk dan tanah yang basah. Dirga terbaring lemah di tempat tidurnya, demam tinggi menyerang tubuhnya akibat berjam-jam berdiri di tengah guyuran air dingin kemarin malam.Wajahnya pucat pasi, keringat dingin membasahi dahinya, dan sesekali ia mengigau memanggil nama Delisa dengan suara yang sangat lirih. Rio dan beberapa staf rumah tangga sibuk mengurusnya, mengganti kompres, memberikan obat, dan memantau kondisinya dengan cemas. Seluruh isi rumah tahu betapa berubahnya tuan muda mereka, dan betapa besar rasa cintanya pada Nyonya Delisa.Berita tentang kondisi Dirga dengan cepat sampai ke telinga Delisa. Wanita itu mendengarnya dengan diam, wajahnya tetap datar dan sulit dibaca, tapi langkah kakinya yang terhenti sesaat saat mendengar kabar itu mengungkapkan segalanya. Rasa khawatir, rasa cemas, dan rasa sayang yang belum sepenuhnya hilang dari lubuk hatinya terdalam kembali bergejolak hebat. Ia berusaha
Hari itu, langit di luar sana terlihat begitu kelabu, berat, dan seolah menahan tangis yang akan meledak kapan saja. Angin bertiup kencang menggoyangkan dahan-dahan pohon besar di halaman rumah, membawa aroma tanah basah yang khas. Tak lama kemudian, butiran air mulai jatuh perlahan, lalu berubah menjadi hujan deras yang turun bagai ditumpahkan dari langit, membasahi seluruh permukaan bumi tanpa ampun.Di dalam rumah, suasana hening dan sepi seperti biasa. Delisa duduk di dekat jendela besar di ruang tengah, matanya menatap keluar, membiarkan pandangannya kabur oleh derasnya air hujan yang menuruni kaca jendela. Pikirannya melayang ke mana-mana, penuh keraguan, ketakutan, namun juga ada rasa harap yang mencoba tumbuh meski ia berusaha mati-matian mematikannya.Tiba-tiba, pandangan Delisa tertuju pada satu sosok yang berdiri diam di teras depan, tepat di bawah guyuran air hujan yang sangat deras. Jantungnya seakan berhenti berdetak sesaat saat ia mengenali siapa ora
Semua kekuasaan, kekayaan, dan kesombongan yang dulu begitu dibanggakan Dirga kini terasa hambar dan tak berarti. Sejak kebenaran terungkap dan kejahatan Reno serta Clarisa terbongkar, dunia Dirga seolah runtuh dan dibangun kembali dengan wujud yang jauh berbeda. Pria yang dulu dikenal dingin, angkuh, mudah menghakimi, dan selalu merasa paling benar, kini lenyap tak berbekas. Yang tersisa hanyalah sosok pria yang hancur, penuh penyesalan, dan rela melakukan apa saja hanya demi mendapatkan satu pandangan lembut dari wanita yang pernah ia sakiti sedemikian rupa.Dirga sadar sepenuhnya bahwa ia adalah "si bodoh" yang buta oleh kebohongan, yang membuang permata berharga hanya demi sebutir kaca palsu yang berkilau sesaat.Kini, satu-satunya tujuan hidup Dirga bukan lagi perusahaan besarnya, bukan lagi ambisi bisnis, dan bukan lagi gengsi. Tujuannya hanya satu: Delisa.Wanita yang selama ini ada di sisinya, yang setia, yang tulus, yang bekerja keras,
Setelah mengetahui kebenaran terakhir itu, perubahan pada diri Dirga semakin nyata dan semakin ekstrem. Jika sebelumnya ia berubah menjadi pria yang penyesalan dan berjuang, kini ia berubah menjadi pria yang hidup sepenuhnya untuk Delisa, seolah ia adalah abdi yang setia kepada tuannya. Rasa malu dan rasa bersalah yang baru ia temukan itu membuatnya semakin tidak berani menuntut apa pun, semakin tidak berani berharap banyak, dan semakin rela melakukan apa saja demi sedikit saja kenyamanan hati istrinya.Setiap kali melihat Delisa berjalan melewati lorong rumah, atau melihat Delisa tersenyum kecil pada bunga-bunga di taman, hati Dirga selalu diremas rasa sakit yang tajam. Di matanya, Delisa kini tampak lebih suci, lebih murni, dan jauh lebih berharga daripada apa pun di dunia ini. Wanita itu telah menanggung beban yang bukan miliknya. Wanita itu telah menerima hukuman yang seharusnya tidak pernah ia terima. Wanita itu diam saja, tersakiti, dan tetap bertahan, tanpa pernah seka
Delisa menggeliat, berusaha melepaskan diri dari mimpi buruk yang mencengkeramnya. Kepalanya berdenyut, ribuan jarum menusuk otaknya. Ia membuka mata, terkejut. Kamar asing. Bukan apartemennya yang sederhana, bukan pula kamar kos sahabatnya. Mewah, antik, lukisan mahal. Tapi kemewahan itu justru me
Keesokan harinya Dirga duduk di kursinya, menatap dokumen di mejanya. Hana masih bekerja, menunggu penggantinya. Tapi mencari pengganti yang sepadan ternyata lebih sulit dari yang ia kira.Pintu ruangannya terbuka. Rio masuk dengan wajah lesu."Pak, saya punya kabar buruk," ujar Rio
Delisa melangkah dengan penuh semangat ke kantor Jaya Sentosa. Panggilan wawancara ini bagaikan setitik cahaya di tengah kegelapan yang melandanya. Ia berharap, pekerjaan ini akan menjadi jembatan menuju kesuksesan, membuktikan bahwa ia mampu bangkit dari keterpurukan dan meraih impiannya.Semalam,
Namun, sebelum membalas dendam pada Andre, ia harus menghadapi dulu teman-teman kerjanya yang telah menyebarkan aibnya. Ia membuka kembali grup WA dan mulai mengetik pesan. Saatnya menunjukkan pada mereka siapa aku sebenarnya.Delisa:"Kalian semua puas sekarang? Sudah puas menghina dan merendahkan







