MasukDelisa menggeliat, berusaha melepaskan diri dari mimpi buruk yang mencengkeramnya. Kepalanya berdenyut, ribuan jarum menusuk otaknya. Ia membuka mata, terkejut. Kamar asing. Bukan apartemennya yang sederhana, bukan pula kamar kos sahabatnya. Mewah, antik, lukisan mahal. Tapi kemewahan itu justru membuatnya merasa semakin asing dan takut.
Ia mencoba mengingat. Bayangan itu datang sedikit demi sedikit, seperti kepingan puzzle. Bir beberapa gelas di bar hotel, berusaha melupakan pengkhianatan mantan kekasih dan sahabatnya. Memesan kamar hotel. Resepsionis memberinya kunci kamar 272. Berjalan menyusuri koridor, langkah sempoyongan.
Tiba-tiba, ia tersentak. Bukan 272. Melainkan 222. Ia salah kamar!
Jantungnya berhenti berdetak. Air mata mengalir deras. Bukan hanya sakit dan kehilangan, tapi juga malu dan penyesalan. Ia telah melakukan kesalahan yang tak termaafkan. Menyerahkan keperawanannya pada orang asing, bukan karena paksaan, melainkan karena kelalaiannya sendiri.
Sakit menusuk di antara kakinya. Ia meraba seprai putih, menemukan bercak darah merah pekat. Ia tidak bisa menyalahkan siapa pun kecuali dirinya sendiri.
Kemudian, sentuhan pria itu menghantuinya. Ciuman kasar, tangan yang menjelajahi tubuhnya dengan liar. Ia seharusnya merasa jijik, tapi mengapa ia juga merasakan sesuatu yang lain? Sesuatu yang... menyenangkan?
Wajah Delisa memerah padam. Ia melenguh keenakan saat pria itu menyentuhnya, membalas ciumannya dengan penuh nafsu. Ia kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Bahkan tidak bisa melihat wajah pria itu, karena kamar yang remang-remang.
"Tidak mungkin," bisiknya, menyangkal segala bayangan itu. "Aku tidak mungkin menginginkannya."
Tapi bayangan itu terus berputar, membuatnya semakin malu dan bingung. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Tidak bisa membalas dendam pada pria itu, karena ia sendiri yang bersalah. Tidak bisa melupakan kejadian ini, karena bayangan panas itu akan terus menghantuinya.
Dengan sisa tenaga, ia bangkit dan memunguti pakaiannya yang berserakan, lalu mengenakannya secepat mungkin. Ia menatap dirinya di cermin, melihat seorang wanita asing, terluka, hancur, dan penuh rasa malu. Bukan lagi Delisa yang ceria dan penuh harapan, melainkan seorang wanita yang kehilangan segalanya, termasuk harga dirinya.
Ia melihat tumpukan uang di meja samping tempat tidur. Bayaran untuk kejadian yang memalukan. Pria itu pasti menganggapnya sebagai wanita bayaran. Ia tidak lagi merasa marah, melainkan jijik pada dirinya sendiri. Ia meraih uang itu dengan tangan gemetar, dan melemparkannya ke lantai dengan sekuat tenaga.
"Sialan aku!" teriaknya sambil menangis tersedu-sedu. "Sialan aku yang telah menghancurkan hidupku sendiri! Apa yang sudah aku lakukan, ahh…." Delisa menjabak kasar rambutnya.
Namun, sebelum melangkah keluar dari kamar itu, Delisa berhenti sejenak. Ia menatap uang yang berserakan di lantai. Sejenak, ia merasa jijik dan ingin meninggalkannya begitu saja. Tapi kemudian, kenyataan hidup menghantamnya dengan keras. Ia baru saja kehilangan keperawanannya, ia merasa malu dan hancur, dan ia juga... sedang tidak punya uang.
Ia ingat dipecat dari pekerjaannya beberapa hari yang lalu, setelah itu mantan kekasihnya membuat sahabatnya menggantikan posisinya. Ia ingat berusaha membuktikan bahwa ia tidak bersalah, tapi tidak ada satu orang pun yang percaya padanya. Ia ingat merasa putus asa dan tidak tahu harus bagaimana.
Uang itu tentu tidak akan mengembalikan keperawanannya, tidak akan menghapus segala jejak yang memalukan, dan tidak akan mengembalikan pekerjaannya. Tapi setidaknya, uang itu bisa membantunya bertahan hidup untuk sementara waktu. Setidaknya, uang itu bisa ia gunakan untuk membayar sewa apartemen yang akan jatuh tempo, membeli makanan, dan mencari pekerjaan baru.
Delisa menghela napas panjang. Ia tidak ingin merasa seperti wanita bayaran, tapi ia juga tidak ingin mati kelaparan. Ia memunguti uang itu satu per satu, dan memasukkannya kedalam tas miliknya. Ia tahu bahwa ia tidak akan pernah bisa melupakan kejadian ini, tapi ia juga tahu bahwa ia harus move on dan mulai melanjutkan hidupnya.
"Ini bukan berarti harga diriku bisa dibeli dengan uang," gumamnya pada dirinya sendiri. "Ini hanya ganti rugi atas kekecewaanku."
Dengan langkah gontai, Delisa keluar dari kamar hotel, meninggalkan sejuta kenangan yang memalukan di belakangnya. Ia tidak tahu apa yang menantinya di masa depan, tapi ia bertekad untuk menghadapi semuanya dengan berani.
Di tengah rasa sakit dan keputusasaan yang menyertai dirinya, Delisa berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan membalas dendam pada mantan kekasih dan juga sahabatanya itu. Ia akan membuatnya membayar atas apa yang telah mereka lakukan padanya.
Sesampainya di apartemen, Delisa langsung merebahkan diri di ranjang. Air matanya sudah kering, tapi hatinya masih terasa sakit. Ia menatap langit-langit kamar, berusaha mencari kekuatan untuk menghadapi hari esok.
Tiba-tiba, ponselnya berdering. Ia meraih ponselnya dan melihat nama yang tertera di layar. "Reno," gumamnya lirih. Jantungnya berdebar sedikit lebih cepat.
Ia menghela napas panjang, lalu mengangkat teleponnya. "Halo," ucapnya dengan suara serak.
"Delisa, ini aku, Reno," jawab suara di seberang telepon. "Aku tahu apa yang telah terjadi padamu di…."
Delisa terkejut mendengar perkataan Reno dan langsung memotongnya. "Apa maksudmu?" tanyanya dengan nada curiga.
"Aku tahu tentang kejadian semalam," jawab Reno dengan nada serius.
Jantung Delisa berdegup kencang. "Bagaimana kau bisa tahu?" tanyanya dengan nada gemetar.
"Itu tidak penting," jawab Reno. "Yang penting adalah aku tahu kau telah disakiti. Dan aku akan membantumu."
"Membantu apa?" tanya Delisa dengan nada bingung.
"Membantu membalas dendam," jawab Reno dengan nada penuh tekad. "Aku tahu siapa yang telah menjebakmu di perusahaan dan merencanakan semua ini."
Jantung Delisa berdegup kencang. "Jadi kau sedang tidak membicarakan kejadian yang di Hotel?” jawab Delisa merasa lega karena Reno tidak mengetahui kejadian yang menimpanya semalam.
Reno bertanya merasa aneh dengan jawaban Delisa. “Hotel? Tentu tidak adap apa dengan kejadian di Hotel?”
Delisa terdiam, dia gugup untuk menjelaskan.” Maksudku Siapa yang menjebakku? Karena kejadian itu aku harus menginap semalaman di hotel untuk menenangkan diri." Jawabnya berasalan agar terdengar masuk akal, bagaimanapun dia tidak mungkin menceritakan kejadian yang menimpanya pada Reno. "Siapa yang tega melakukan ini padaku?"
"Oh begitu, Itu tidak penting sekarang," jawab Reno. "Yang penting adalah aku tahu kau tidak bersalah. Dan aku akan membantumu memulihkan nama baikmu."
Delisa terdiam sejenak, air mata kembali menggenang di pelupuk matanya. "Bagaimana caranya?" bisiknya. "Tidak ada yang percaya padaku."
"Aku percaya padamu, Delisa," jawab Reno dengan nada lembut. "Dan aku akan membuktikan pada semua orang bahwa kau tidak bersalah. Aku akan mencari bukti, aku akan mengungkap kebenaran. Aku janji."
"Mengapa kau melakukan ini untukku, Reno?" tanya Delisa dengan nada bingung.
"Karena aku peduli padamu, Delisa," jawab Reno. "Aku selalu peduli padamu. Dan aku tidak bisa membiarkan mereka menghancurkanmu."
Delisa terdiam sejenak, lalu menjawab dengan nada penuh harap, "Aku akan membalas dendam pada mereka. Aku akan membuat mereka membayar atas apa yang telah mereka lakukan padaku. Tapi aku tidak tahu bagaimana caranya."
"Kau tidak perlu melakukan apa-apa," jawab Reno. "Biarkan aku yang melakukan semuanya. Kau hanya perlu percaya padaku. Nanti aku akan mengirimpakan sebagian buktinya padamu."
Saat Delisa berjalan menuju meja akad, jantung Reno berdegup kencang. Ia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Wanita yang selama ini ia cintai akan menjadi kakak iparnya. Sungguh ironi takdir yang tak terduga. Reno yang berusaha keras mendekati Delisa, namun Dirga yang menikahinya."Tidak mungkin," gumam Reno dalam hati. "Ini pasti mimpi buruk."Reno merasakan dadanya sesak. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Ia merasa sangat terpukul dan hancur. Ia merasa semua usahanya untuk mendekati Delisa selama ini sia-sia belaka. Ia merasa takdir begitu kejam kepadanya.Ia ingat bagaimana dulu ia selalu berusaha mencari perhatian Delisa. Ia selalu berusaha membuat Delisa tertawa. Ia selalu berusaha membantu Delisa dalam segala hal. Namun, semua usahanya itu tidak pernah membuahkan hasil.Delisa selalu menganggapnya hanya sebagai teman biasa. Tidak lebih.Dan sekarang, Delisa akan menjadi istri kakaknya. Delisa akan menjadi bagian dari keluarg
Hari ini, pernikahan Dirga dan Delisa akhirnya dilaksanakan di kediaman orang tua Dirga. Suasana rumah itu terasa suram dan tegang. Tidak ada dekorasi mewah atau pesta meriah. Hanya ada beberapa anggota keluarga inti yang hadir, itupun dengan wajah yang muram dan tanpa senyum.Lima ratus juta rupiah. Angka yang tertera dalam buku nikah itu terasa seperti vonis hukuman seumur hidup bagi Delisa. Di antara gemerlap dekorasi pernikahan yang dipaksakan, ia merasa seperti tahanan yang dipaksa menikah dengan algojonya.Winata Adiwangsa, sang patriark keluarga, duduk di kursi roda, matanya memancarkan kesedihan yang mendalam. "Maafkan Papa, " bisiknya lirih, "Papa hanya ingin yang terbaik untuk kalian." Namun, kata-kata itu terasa hampa di telinga Dirga.Di hadapan meja akad, Dirga Adiwangsa duduk dengan wajah sekeras batu. Jas hitam yang dikenakannya terasa seperti baju besi yang melindungi hatinya dari sentuhan apa pun.Delisa, batinnya berteriak,
Setelah pertemuan yang menyesakkan dengan Dirga di rumah sakit siang tadi, Delisa memutuskan untuk mampir ke sebuah kafe sepulang dari kantor. Ia berharap secangkir kopi dan suasana yang tenang dapat membantu menjernihkan pikirannya yang kalut. Namun, sepertinya dewi fortuna enggan berpihak padanya.Saat Delisa tengah menikmati kopinya, matanya menangkap sosok yang sangat familiar. Sosok itu adalah Andre, mantan kekasihnya yang telah mengkhianatinya dengan sahabatnya sendiri, Sandra. Jantung Delisa berdegup kencang, dadanya terasa sesak. Ia berusaha untuk tidak memperdulikan keberadaan Andre dan fokus pada kopinya.Namun, sepertinya takdir sedang mempermainkannya. Delisa melihat Andre berlutut di hadapan Sandra, mengeluarkan sebuah kotak kecil berisi cincin berlian. Delisa tersentak kaget. Ia tidak menyangka jika Andre akan melamar Sandra di kafe ini, di tempat yang sama di mana dulu mereka sering menghabiskan waktu bersama.Suasana di kafe itu tiba-tiba berubah
Delisa terdiam sejenak di taman rumah sakit, menimbang-nimbang permintaan Dirga. Permintaan untuk merahasiakan pernikahan mereka. Ia merasa ada yang janggal, tapi ia tak punya pilihan. "Baiklah," ucap Delisa dengan nada pasrah. "Saya mengerti. Saya berjanji, saya tidak akan memberitahukan pernikahan ini kepada siapa pun."Dirga mengangguk, merasa sedikit lega. Beban di pundaknya seakan sedikit terangkat. "Terima kasih," ucap Dirga singkat. "Saya tahu, saya dapat mengandalkan kamu." Ia menatap Delisa, tatapan yang sulit diartikan. Ada rasa bersalah, tapi juga ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang bahkan Dirga sendiri tidak bisa pahami.Delisa balas menatap Dirga, tatapannya penuh tanya. "Saya hanya ingin mengetahui satu hal," ucap Delisa lirih. "Apakah... apakah Bapak akan mencintai saya?"Dirga terdiam. Pertanyaan itu membuatnya kalut. Ia tidak punya jawaban. Ia tidak punya keinginan untuk mencintai Delisa, tapi ia juga tidak ingin menyakiti wanita itu lebih jauh.
Keesokan hari, Winata akhirnya menunjukkan tanda-tanda kesadaran. Ia membuka matanya perlahan dan menatap sekeliling dengan pandangan lemah."Papa!" seru Karina dengan nada lega, menggenggam erat tangan suaminya. "Syukurlah, Papa sudah sadar. Bagaimana perasaan Papa?"Winata tersenyum tipis dan berusaha berbicara, namun suaranya sangat lemah. "Aku... baik-baik saja," ucap Winata dengan terbata-bata. "Apa kamu sudah memberitahukan Dewi? Di mana Dirga?"Dirga segera mendekat ke sisi ranjang ayahnya. "Aku di sini, Papa, Tante Dewi sudah ku hubungi dan sebentar lagi dia datang." ucap Dirga cemas. "Bagaimana perasaan Papa? Apa ada yang sakit?"Winata menatap Dirga dengan tatapan serius. "Dirga, ada yang ingin Papa bicarakan padamu," ucap Winata dengan suara lemah, namun penuh dengan penekanan.Karina mengerutkan kening. "Papa, jangan bicara yang berat-berat dulu," ucap Karina dengan k
Helen tersenyum sinis. "Cinta?" ucap Helen. "Apa kau tahu apa arti cinta? Cinta itu adalah kesetiaan, kejujuran, dan kepercayaan. Kau tidak memiliki semua itu, Dirga. Kau hanya memiliki kebohongan dan pengkhianatan."Helen berbalik dan berjalan menuju pintu keberangkatan internasional. Didalam taksi tadi dia sudah memesan tiket untuk kembali ke luar negeri, beruntung dia mendapatkannya di detik-detik terakhir keberangkatan. Ia tidak menoleh ke belakang. Ia tidak ingin melihat Dirga lagi.Dirga berusaha mengejar Helen, namun langkahnya terhenti. Ia merasa kakinya lemas dan tidak bisa bergerak. Ia hanya bisa terpaku di tempatnya, menatap Helen yang semakin menjauh."Helen! Jangan pergi!" teriak Dirga putus asa.Namun, Helen tidak menghiraukannya. Ia terus berjalan menuju pintu keberangkatan internasional, meninggalkan Dirga yang terpaku dalam penyesalan.Dirga berlutut di lantai de







