MasukDirga kembali ke kantor pagi itu dengan perasaan lega sekaligus bingung. Efek obat perangsang sudah hilang, menyisakan rasa lelah dan sedikit mual. Tapi yang lebih mengganggunya adalah bayangan wanita di kamar hotel itu. Ia mencoba melupakannya, menganggapnya sebagai kesalahan satu malam yang tidak perlu dipikirkan lebih lanjut. Tapi bayangan tanda lahir berbentuk bulan sabit di punggung wanita itu terus menghantuinya, muncul setiap kali ia mencoba memejamkan mata. Mengapa tanda itu terasa begitu familiar?
Salahnya memang yang langsung menarik wanita itu saat berdiri di depan kamarnya. Efek obat perangsang mengalir deras dalam darahnya, mengalahkan logika dan akal sehatnya. Ia tidak memberi wanita itu kesempatan untuk berbicara, tidak bertanya siapa namanya, tidak peduli siapa dia sebenarnya. Ia hanya tahu bahwa ia membutuhkan penawar, dan wanita itu ada di sana, siap untuk dijadikan pelampiasan.
"Pak Dirga?" suara Rio membuyarkan lamunannya. "Anda baik-baik saja? Anda tampak linglung sejak tadi."
Dirga menghela napas. "Aku baik-baik saja, Rio. Hanya sedikit lelah. Ada apa?"
"Saya hanya ingin memastikan Anda tidak sakit," jawab Rio dengan nada khawatir. "Anda tidak pernah terlihat seperti ini sebelumnya."
Dirga tersenyum tipis. "Terima kasih atas perhatianmu, Rio. Aku hanya butuh kopi yang kuat."
"Baik, Pak. Saya akan minta OB buatkan," kata Rio sambil beranjak pergi.
"Tunggu, Rio," panggil Dirga. "Soal wanita yang bersamaku semalam... apa kau sudah mencari tahu identitasnya?"
Rio berhenti dan menatap Dirga dengan ekspresi bersalah. "Maaf, Pak. Saya sudah mencoba, tapi saya tidak berhasil menemukan informasi apa pun tentangnya."
"Apa maksudmu?" tanya Dirga dengan nada tidak sabar. Seseorang pasti menyembunyikan sesuatu.
Rio menghela napas. "Saya sudah memeriksa rekaman CCTV hotel, tapi ternyata CCTV di koridor kamar Anda sedang rusak," jelas Rio. "Saya juga sudah bertanya pada staf hotel, tapi tidak ada yang mengenalinya. Ciri-ciri yang Anda berikan juga terlalu minim, Pak. Wanita itu berambut hitam, bertubuh langsing, dan memiliki kulit putih bersih. Itu terlalu umum, Pak."
Dirga menggeram frustrasi. "Lalu apa yang kau lakukan?"
"Saya sudah menghubungi semua kenalan saya di dunia hiburan malam, Pak. Tapi tidak ada yang mengenalinya," jawab Rio. "Tapi satu hal yang pasti, Pak. Wanita itu bukan pesanan dari musuh Anda."
"Bagaimana kau bisa yakin?" tanya Dirga dengan skeptis.
"Saya sudah menyelidiki semua musuh Anda, Pak. Tidak ada yang memesan wanita penghibur di hotel itu semalam," jelas Rio. "Kemungkinan besar, wanita itu adalah pengunjung hotel biasa yang kebetulan berada di sekitar kamar Anda."
Dirga terdiam. Ia merasa kejadian itu sedang berputar-putar tanpa menemukan jalan keluar. Ia tidak tahu siapa wanita itu, mengapa ia berada di kamarnya, dan mengapa ia merasa begitu terobsesi untuk menemukannya. Ini bukan kebetulan. Tidak mungkin.
"Teruslah mencari, Rio," perintah Dirga dengan nada tegas. "Aku ingin tahu siapa wanita itu. Aku ingin tahu segalanya tentangnya. Aku ingin tahu mengapa dia ada di sana."
"Baik, Pak," jawab Rio dengan patuh.
"Dan satu lagi, Rio," tambah Dirga dengan nada serius. "Rahasiakan semua ini. Jangan sampai ada yang tahu, terutama musuh-musuhku. Aku tidak ingin mereka memanfaatkan situasi ini untuk menyerangku."
"Tentu, Pak. Saya mengerti," jawab Rio. "Saya akan menjaga rahasia ini dengan nyawa saya."
"Selain itu, aku ingin kau segera mencari tahu siapa yang sudah memasukkan obat ke dalam minumanku semalam," perintah Dirga. "Aku ingin tahu siapa yang berani menjebakku. Aku ingin tahu motifnya."
"Baik, Pak. Saya akan segera menyelidikinya," jawab Rio.
Setelah Rio pergi, Dirga kembali duduk di kursinya dan menatap keluar jendela. Pikirannya berkecamuk, dipenuhi dengan pertanyaan-pertanyaan yang tak terjawab. Siapa wanita itu? Mengapa ia merasa begitu tertarik padanya? Siapa yang ingin menjebaknya? Dan apa yang akan terjadi jika ia berhasil mengungkap kebenaran? Aku akan mencari tahu kebenaran, meskipun harus membakar seluruh dunia.
Tiba-tiba, telepon di mejanya berdering. Dirga mengangkatnya dengan malas.
"Dirga, ini aku, Prisil," suara Prisil terdengar manja di seberang telepon. "Aku ingin bertemu denganmu. Ada yang ingin kubicarakan."
Dirga menghela napas. "Aku sedang sibuk, Prisil. Bisakah kita bicara nanti?"
"Tidak, Dirga. Ini penting. Ini tentang kejadian semalam," jawab Prisil dengan nada misterius. Nada yang membuat bulu kuduknya meremang.
Dirga terdiam. Apa yang sebenarnya terjadi semalam? Dan mengapa Prisil tahu tentang hal itu? Apakah benar dia terlibat?
"Baiklah, Prisil. Kita bisa bertemu," jawab Dirga dengan nada dingin. "Tapi jangan harap aku akan bersikap manis padamu. Aku sedang tidak berminat dengan permainanmu."
"Aku mengerti, Dirga. Aku akan menunggumu di tempat biasa," jawab Prisil sebelum menutup telepon.
Dirga merasa ada sesuatu yang tidak beres. Ia merasa kalau dirinya sedang memasuki sarang lebah, dan ia tidak tahu apa yang akan terjadi di sana.Tapi aku siap untuk menyengat balik.
Saat Delisa berjalan menuju meja akad, jantung Reno berdegup kencang. Ia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Wanita yang selama ini ia cintai akan menjadi kakak iparnya. Sungguh ironi takdir yang tak terduga. Reno yang berusaha keras mendekati Delisa, namun Dirga yang menikahinya."Tidak mungkin," gumam Reno dalam hati. "Ini pasti mimpi buruk."Reno merasakan dadanya sesak. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Ia merasa sangat terpukul dan hancur. Ia merasa semua usahanya untuk mendekati Delisa selama ini sia-sia belaka. Ia merasa takdir begitu kejam kepadanya.Ia ingat bagaimana dulu ia selalu berusaha mencari perhatian Delisa. Ia selalu berusaha membuat Delisa tertawa. Ia selalu berusaha membantu Delisa dalam segala hal. Namun, semua usahanya itu tidak pernah membuahkan hasil.Delisa selalu menganggapnya hanya sebagai teman biasa. Tidak lebih.Dan sekarang, Delisa akan menjadi istri kakaknya. Delisa akan menjadi bagian dari keluarg
Hari ini, pernikahan Dirga dan Delisa akhirnya dilaksanakan di kediaman orang tua Dirga. Suasana rumah itu terasa suram dan tegang. Tidak ada dekorasi mewah atau pesta meriah. Hanya ada beberapa anggota keluarga inti yang hadir, itupun dengan wajah yang muram dan tanpa senyum.Lima ratus juta rupiah. Angka yang tertera dalam buku nikah itu terasa seperti vonis hukuman seumur hidup bagi Delisa. Di antara gemerlap dekorasi pernikahan yang dipaksakan, ia merasa seperti tahanan yang dipaksa menikah dengan algojonya.Winata Adiwangsa, sang patriark keluarga, duduk di kursi roda, matanya memancarkan kesedihan yang mendalam. "Maafkan Papa, " bisiknya lirih, "Papa hanya ingin yang terbaik untuk kalian." Namun, kata-kata itu terasa hampa di telinga Dirga.Di hadapan meja akad, Dirga Adiwangsa duduk dengan wajah sekeras batu. Jas hitam yang dikenakannya terasa seperti baju besi yang melindungi hatinya dari sentuhan apa pun.Delisa, batinnya berteriak,
Setelah pertemuan yang menyesakkan dengan Dirga di rumah sakit siang tadi, Delisa memutuskan untuk mampir ke sebuah kafe sepulang dari kantor. Ia berharap secangkir kopi dan suasana yang tenang dapat membantu menjernihkan pikirannya yang kalut. Namun, sepertinya dewi fortuna enggan berpihak padanya.Saat Delisa tengah menikmati kopinya, matanya menangkap sosok yang sangat familiar. Sosok itu adalah Andre, mantan kekasihnya yang telah mengkhianatinya dengan sahabatnya sendiri, Sandra. Jantung Delisa berdegup kencang, dadanya terasa sesak. Ia berusaha untuk tidak memperdulikan keberadaan Andre dan fokus pada kopinya.Namun, sepertinya takdir sedang mempermainkannya. Delisa melihat Andre berlutut di hadapan Sandra, mengeluarkan sebuah kotak kecil berisi cincin berlian. Delisa tersentak kaget. Ia tidak menyangka jika Andre akan melamar Sandra di kafe ini, di tempat yang sama di mana dulu mereka sering menghabiskan waktu bersama.Suasana di kafe itu tiba-tiba berubah
Delisa terdiam sejenak di taman rumah sakit, menimbang-nimbang permintaan Dirga. Permintaan untuk merahasiakan pernikahan mereka. Ia merasa ada yang janggal, tapi ia tak punya pilihan. "Baiklah," ucap Delisa dengan nada pasrah. "Saya mengerti. Saya berjanji, saya tidak akan memberitahukan pernikahan ini kepada siapa pun."Dirga mengangguk, merasa sedikit lega. Beban di pundaknya seakan sedikit terangkat. "Terima kasih," ucap Dirga singkat. "Saya tahu, saya dapat mengandalkan kamu." Ia menatap Delisa, tatapan yang sulit diartikan. Ada rasa bersalah, tapi juga ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang bahkan Dirga sendiri tidak bisa pahami.Delisa balas menatap Dirga, tatapannya penuh tanya. "Saya hanya ingin mengetahui satu hal," ucap Delisa lirih. "Apakah... apakah Bapak akan mencintai saya?"Dirga terdiam. Pertanyaan itu membuatnya kalut. Ia tidak punya jawaban. Ia tidak punya keinginan untuk mencintai Delisa, tapi ia juga tidak ingin menyakiti wanita itu lebih jauh.
Keesokan hari, Winata akhirnya menunjukkan tanda-tanda kesadaran. Ia membuka matanya perlahan dan menatap sekeliling dengan pandangan lemah."Papa!" seru Karina dengan nada lega, menggenggam erat tangan suaminya. "Syukurlah, Papa sudah sadar. Bagaimana perasaan Papa?"Winata tersenyum tipis dan berusaha berbicara, namun suaranya sangat lemah. "Aku... baik-baik saja," ucap Winata dengan terbata-bata. "Apa kamu sudah memberitahukan Dewi? Di mana Dirga?"Dirga segera mendekat ke sisi ranjang ayahnya. "Aku di sini, Papa, Tante Dewi sudah ku hubungi dan sebentar lagi dia datang." ucap Dirga cemas. "Bagaimana perasaan Papa? Apa ada yang sakit?"Winata menatap Dirga dengan tatapan serius. "Dirga, ada yang ingin Papa bicarakan padamu," ucap Winata dengan suara lemah, namun penuh dengan penekanan.Karina mengerutkan kening. "Papa, jangan bicara yang berat-berat dulu," ucap Karina dengan k
Helen tersenyum sinis. "Cinta?" ucap Helen. "Apa kau tahu apa arti cinta? Cinta itu adalah kesetiaan, kejujuran, dan kepercayaan. Kau tidak memiliki semua itu, Dirga. Kau hanya memiliki kebohongan dan pengkhianatan."Helen berbalik dan berjalan menuju pintu keberangkatan internasional. Didalam taksi tadi dia sudah memesan tiket untuk kembali ke luar negeri, beruntung dia mendapatkannya di detik-detik terakhir keberangkatan. Ia tidak menoleh ke belakang. Ia tidak ingin melihat Dirga lagi.Dirga berusaha mengejar Helen, namun langkahnya terhenti. Ia merasa kakinya lemas dan tidak bisa bergerak. Ia hanya bisa terpaku di tempatnya, menatap Helen yang semakin menjauh."Helen! Jangan pergi!" teriak Dirga putus asa.Namun, Helen tidak menghiraukannya. Ia terus berjalan menuju pintu keberangkatan internasional, meninggalkan Dirga yang terpaku dalam penyesalan.Dirga berlutut di lantai de







