Home / Romansa / Gairah Cinta Sang CEO / Bab 4 Topeng Kemunafikan

Share

Bab 4 Topeng Kemunafikan

Author: Author92
last update Petsa ng paglalathala: 2025-11-25 17:35:50

Dirga tiba di restoran mewah itu, lampu kota berkelap-kelip seperti bintang jatuh. Tapi di hatinya, hanya ada dingin dan gelap. Prisil sudah menunggunya, tersenyum manis. Topeng yang menjijikkan.

Dirga duduk di hadapannya tanpa basa-basi, tatapannya tajam dan menusuk. "Kau memintaku datang ke sini, Prisil. Katakan apa yang sebenarnya ingin kau katakan," ucap Dirga dengan nada dingin, seperti bongkahan es yang membeku. Aku tidak punya waktu untuk permainanmu.

Prisil menghela napas dramatis. "Dirga, aku sangat khawatir padamu semalam. Kau menghilang tiba-tiba setelah minum koctail yang kubuatkan. Aku mencarimu ke mana-mana, takut kau diculik atau terjadi sesuatu yang buruk padamu."

Dirga menatap Prisil dengan tatapan menyelidik. "Kau mencariku? Tapi mengapa aku tidak melihatmu? Kau tahu betul aku tidak suka dibohongi, Prisil." Kau pikir aku bodoh?

"Aku sudah mencarimu di seluruh pesta, bahkan sampai ke toilet dan taman," jawab Prisil dengan nada meyakinkan, tapi matanya tidak berani menerima tatapan Dirga. "Aku benar-benar panik, Dirga. Aku tidak tahu apa yang harus kulakuan. Aku bahkan hampir menelepon polisi. Untung asistenmu mengatakan kau sudah pulang karena tidak enak badan."

Dirga terdiam. Ia mencoba mencerna kata-kata Prisil, tapi ada sesuatu yang terasa janggal. Ia merasa ada yang disembunyikan oleh Prisil, seperti ada kebohongan yang terselubung di balik kata-katanya yang manis. Mungkinkah Prisil lebih terlibat dari yang ia kira? Dia pasti tahu sesuatu.

"Aku ingin percaya padamu, Prisil," ucap Dirga akhirnya, tapi nadanya tidak meyakinkan. "Tapi aku ingin kau jujur padaku. Apa kau melihat sesuatu yang mencurigakan semalam? Seseorang yang mungkin sengaja mencampurkan sesuatu ke dalam minumanku?"

Prisil berpikir sejenak, seolah sedang mengingat-ingat sesuatu. "Aku ingat melihat seorang pria menyenggolmu saat kau mengambil minuman. Tapi aku tidak terlalu memperhatikannya. Aku pikir itu hanya kecelakaan biasa."

"Pria itu seperti apa?" tanya Dirga dengan nada tertarik, tapi ia sudah menduga bahwa Prisil tidak akan memberikan jawaban yang memuaskan. Dia pasti berbohong.

"Aku tidak terlalu ingat. Dia memakai jas hitam dan topi," jawab Prisil, tapi suaranya bergetar, seolah sedang menyembunyikan sesuatu. "Maaf, Dirga. Aku tidak bisa memberikan informasi yang lebih detail. Aku benar-benar tidak ingat."

Dirga menghela napas. Informasi yang diberikan Prisil tidak terlalu membantu, bahkan cenderung mencurigakan. Ia merasa seolah sedang dipermainkan oleh Prisil, seolah ia sedang mencoba mengulur waktu atau menyembunyikan sesuatu yang penting. Aku akan mencari tahu kebenarannya, Prisil. Dan kau akan menyesal telah berbohong padaku.

Dirga berdiri dari kursinya, membuat Prisil terkejut. "Aku tidak punya waktu untuk permainanmu, Prisil," ucap Dirga dengan nada dingin. "Aku pergi."

"Dirga, tunggu!" seru Prisil, berusaha menghentikannya. "Apa maksudmu? Kau tidak percaya padaku?"

Dirga berhenti sejenak dan menatap Prisil dengan tatapan kekecewaan. "Aku tidak tahu apa yang harus kupercaya, Prisil. Tapi satu hal yang pasti, aku tidak bisa membuang waktuku bersamamu. Kau hanya membuang waktuku."

Dirga berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan Prisil yang терцenung di mejanya. Ia merasa telah membuang waktu berharganya untuk bertemu dengan wanita yang penuh dengan kepalsuan itu. Dia akan membayar mahal atas kebohongannya.

Saat Dirga berjalan keluar dari restoran, ia merasa jika ada mata yang mengawasinya dari kejauhan. Ia menoleh ke belakang, tapi tidak melihat siapa pun yang mencurigakan. Ia merasa seolah sedang diawasi, seakan ada bahaya yang mengintai di sekitarnya. Aku harus berhati-hati. Seseorang sedang mengawasiku.

Sementara itu, di apartemennya yang sederhana, Delisa sedang merasakan keterpurukan yang mendalam. Dinding-dinding apartemen seolah semakin mendekat, membuatnya merasa terperangkap dan sesak. Ia tidak bisa tidur nyenyak semalam, bayangan tentang kejadian memalukan itu terus menghantuinya, seolah hantu yang tak bisa diusir. Ia merasa seolah seluruh tubuhnya kotor dan ternoda, seperti ia telah melakukan sesuatu yang sangat buruk dan tidak bisa dimaafkan. Aku telah menghancurkan diriku sendiri.

Ia mencoba mencari pekerjaan baru, berharap bisa melupakan kejadian itu dan memulai hidupnya dari awal. Tapi setiap kali ia mengirimkan lamaran, ia selalu ditolak. Ia tahu bahwa reputasinya telah hancur setelah dipecat dari pekerjaannya. Mantan kekasihnya telah berhasil menghancurkan hidupnya, merenggut segala yang berharga baginya. Aku akan membalas dendam pada mereka, gumamnya.

Tiba-tiba, teleponnya berdering, memecah kesunyian apartemen. Sebuah pesan masuk dari grup WA tempat ia pernah bekerja, grup yang seharusnya menjadi tempat berbagi informasi dan dukungan, tapi kini menjadi sumber rasa sakit dan malu. Delisa ragu-ragu untuk membukanya, seperti akan membuka kotak Pandora yang penuh dengan kejahatan. Tapi rasa penasarannya mengalahkan rasa takutnya, mendorongnya untuk menghadapi kenyataan yang pahit. Aku harus menghadapi mereka.

Ia membuka pesan itu dengan tangan gemetar, dan terkejut melihat foto dirinya yang diambil secara diam-diam saat keluar dari hotel. Foto itu diambil dari kejauhan, tapi cukup jelas untuk menunjukkan wajahnya yang pucat dan pakaiannya yang berantakan. Foto itu seolah bukti tak terbantahkan tentang apa yang telah terjadi, bukti yang akan menghantuinya selamanya. Mereka telah menghancurkan harga diriku.

Di bawah foto itu, ada berbagai macam komentar pedas dan menghina, seperti pisau yang menusuk-nusuk hatinya.

Santi: "Lihatlah Delisa, keluar dari hotel dengan wajah kusut dan pakaian acak-acakan. Habis ngapain ya semalam? 🤭"

Budi: "Pantesan dipecat, ternyata kelakuannya menjijikkan. Pantas saja Andre selingkuh."

Mira: "Kasihan sih, tapi ya…"

Apartemen Delisa terasa seperti penjara yang semakin sempit. Foto dirinya yang beredar di grup WA seperti membakar harga dirinya menjadi abu. Ia tidak bisa lagi hanya diam dan meratapi nasib. Ia harus melakukan sesuatu. Aku tidak akan membiarkan mereka menginjak-injakku.

Setelah membaca semua komentar menjijikkan itu, amarah Delisa memuncak. Ia tidak menyangka teman-teman kerjanya, yang dulu selalu tertawa bersamanya, kini tega menusuknya dari belakang. Tapi ada satu nama yang paling membuatnya geram: Andre, mantan kekasihnya yang telah menghancurkan hidupnya. Dia akan membayar mahal atas perbuatannya.

Delisa mengepalkan tangannya erat-erat. Ia tidak akan membiarkan Andre terus menginjak-injaknya. Ia akan membalas semua perbuatan jahatnya. Aku akan menghancurkannya.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Gairah Cinta Sang CEO   Bab 65

    Dua tahun berlalu begitu cepat. Banyak hal berubah di rumah besar itu. Dulu rumah ini penuh dengan pertengkaran, kebohongan, dan kesedihan. Sekarang, rumah itu berubah menjadi tempat yang paling damai dan hangat di dunia. Tidak ada lagi kehadiran orang-orang berniat jahat seperti Clarisa atau Reno—mereka kini membusuk di penjara, menyesali perbuatan mereka yang membawa kehancuran bagi diri sendiri. Rio masih setia bekerja di sana, menjadi sahabat sekaligus saksi bisu kebangkitan cinta sejati kedua tuannya.Dirga kini bukan lagi sekadar suami, ia adalah pelindung sejati, sahabat terbaik, dan pria yang paling berbakti pada istrinya. Ia tidak pernah sekali pun mengulangi kesalahan masa lalunya. Ia tidak pernah lagi membiarkan Delisa merasa diabaikan, tidak berharga, atau sendirian. Di mata seluruh orang yang mengenal mereka, Dirga adalah contoh suami sempurna yang rela berlutut demi istrinya. Segala keinginan Delisa, sekecil apa pun, akan segera ia penuhi. Jika Delisa ingin pe

  • Gairah Cinta Sang CEO   Bab 64

    Hari-hari berlalu sejak kejadian itu, dan benar-benar terlihat perubahan besar yang nyata dan terukur dari diri Dirga. Setelah sembuh dari demamnya, Dirga tidak kembali menjadi Dirga yang dulu. Ia tetap menjadi pria yang rendah hati, penuh perhatian, dan rela berkorban. Ia tidak pernah lagi memerintah atau bersikap otoriter, baik pada Delisa maupun pada siapa pun di rumah itu. Ia seolah menjadi bayangan yang selalu mengikuti Delisa, namun kali ini bukan untuk mengintimidasi, melainkan untuk melayani dan menjaga.Setiap pagi, Dirga bangun jauh lebih awal dari siapa pun. Ia sendiri yang menyiapkan sarapan sederhana yang ia tahu disukai Delisa. Ia belajar memasak dari para koki rumah, mencoba berulang kali hingga rasanya pas, meski tangannya sering tergores pisau atau terbakar wajan. Ia ingin membuktikan bahwa ia mampu melakukan hal-hal kecil, hal-hal yang dulu ia anggap remeh dan rendah. Saat sarapan tiba, ia akan meletakkan piring di meja, menarikkan kursi untuk Delisa berdi

  • Gairah Cinta Sang CEO   Bab 63

    Keesokan harinya, hujan sudah berhenti menyisakan udara yang sejuk dan tanah yang basah. Dirga terbaring lemah di tempat tidurnya, demam tinggi menyerang tubuhnya akibat berjam-jam berdiri di tengah guyuran air dingin kemarin malam.Wajahnya pucat pasi, keringat dingin membasahi dahinya, dan sesekali ia mengigau memanggil nama Delisa dengan suara yang sangat lirih. Rio dan beberapa staf rumah tangga sibuk mengurusnya, mengganti kompres, memberikan obat, dan memantau kondisinya dengan cemas. Seluruh isi rumah tahu betapa berubahnya tuan muda mereka, dan betapa besar rasa cintanya pada Nyonya Delisa.Berita tentang kondisi Dirga dengan cepat sampai ke telinga Delisa. Wanita itu mendengarnya dengan diam, wajahnya tetap datar dan sulit dibaca, tapi langkah kakinya yang terhenti sesaat saat mendengar kabar itu mengungkapkan segalanya. Rasa khawatir, rasa cemas, dan rasa sayang yang belum sepenuhnya hilang dari lubuk hatinya terdalam kembali bergejolak hebat. Ia berusaha

  • Gairah Cinta Sang CEO   Bab 62

    Hari itu, langit di luar sana terlihat begitu kelabu, berat, dan seolah menahan tangis yang akan meledak kapan saja. Angin bertiup kencang menggoyangkan dahan-dahan pohon besar di halaman rumah, membawa aroma tanah basah yang khas. Tak lama kemudian, butiran air mulai jatuh perlahan, lalu berubah menjadi hujan deras yang turun bagai ditumpahkan dari langit, membasahi seluruh permukaan bumi tanpa ampun.Di dalam rumah, suasana hening dan sepi seperti biasa. Delisa duduk di dekat jendela besar di ruang tengah, matanya menatap keluar, membiarkan pandangannya kabur oleh derasnya air hujan yang menuruni kaca jendela. Pikirannya melayang ke mana-mana, penuh keraguan, ketakutan, namun juga ada rasa harap yang mencoba tumbuh meski ia berusaha mati-matian mematikannya.Tiba-tiba, pandangan Delisa tertuju pada satu sosok yang berdiri diam di teras depan, tepat di bawah guyuran air hujan yang sangat deras. Jantungnya seakan berhenti berdetak sesaat saat ia mengenali siapa ora

  • Gairah Cinta Sang CEO   Bab 61

    Semua kekuasaan, kekayaan, dan kesombongan yang dulu begitu dibanggakan Dirga kini terasa hambar dan tak berarti. Sejak kebenaran terungkap dan kejahatan Reno serta Clarisa terbongkar, dunia Dirga seolah runtuh dan dibangun kembali dengan wujud yang jauh berbeda. Pria yang dulu dikenal dingin, angkuh, mudah menghakimi, dan selalu merasa paling benar, kini lenyap tak berbekas. Yang tersisa hanyalah sosok pria yang hancur, penuh penyesalan, dan rela melakukan apa saja hanya demi mendapatkan satu pandangan lembut dari wanita yang pernah ia sakiti sedemikian rupa.Dirga sadar sepenuhnya bahwa ia adalah "si bodoh" yang buta oleh kebohongan, yang membuang permata berharga hanya demi sebutir kaca palsu yang berkilau sesaat.Kini, satu-satunya tujuan hidup Dirga bukan lagi perusahaan besarnya, bukan lagi ambisi bisnis, dan bukan lagi gengsi. Tujuannya hanya satu: Delisa.Wanita yang selama ini ada di sisinya, yang setia, yang tulus, yang bekerja keras,

  • Gairah Cinta Sang CEO   Bab 60

    Setelah mengetahui kebenaran terakhir itu, perubahan pada diri Dirga semakin nyata dan semakin ekstrem. Jika sebelumnya ia berubah menjadi pria yang penyesalan dan berjuang, kini ia berubah menjadi pria yang hidup sepenuhnya untuk Delisa, seolah ia adalah abdi yang setia kepada tuannya. Rasa malu dan rasa bersalah yang baru ia temukan itu membuatnya semakin tidak berani menuntut apa pun, semakin tidak berani berharap banyak, dan semakin rela melakukan apa saja demi sedikit saja kenyamanan hati istrinya.Setiap kali melihat Delisa berjalan melewati lorong rumah, atau melihat Delisa tersenyum kecil pada bunga-bunga di taman, hati Dirga selalu diremas rasa sakit yang tajam. Di matanya, Delisa kini tampak lebih suci, lebih murni, dan jauh lebih berharga daripada apa pun di dunia ini. Wanita itu telah menanggung beban yang bukan miliknya. Wanita itu telah menerima hukuman yang seharusnya tidak pernah ia terima. Wanita itu diam saja, tersakiti, dan tetap bertahan, tanpa pernah seka

  • Gairah Cinta Sang CEO   Bab 2 Mimpi Buruk Delisa

    Delisa menggeliat, berusaha melepaskan diri dari mimpi buruk yang mencengkeramnya. Kepalanya berdenyut, ribuan jarum menusuk otaknya. Ia membuka mata, terkejut. Kamar asing. Bukan apartemennya yang sederhana, bukan pula kamar kos sahabatnya. Mewah, antik, lukisan mahal. Tapi kemewahan itu justru me

  • Gairah Cinta Sang CEO   Bab 1 Pagi yang Janggal

    Sinar mentari pagi, alih-alih menghangatkan, justru terasa seperti pisau yang menusuk mata Dirga. Ia menggeliat di ranjang yang berantakan, denyutan di kepalanya berpacu dengan detak jantungnya yang semakin cepat. Bukan hanya karena alkohol. Ada sesuatu yang salah. Kamar ini bukan miliknya. Terlalu

  • Gairah Cinta Sang CEO   Bab 5 Mencari Pekerjaan

    Namun, sebelum membalas dendam pada Andre, ia harus menghadapi dulu teman-teman kerjanya yang telah menyebarkan aibnya. Ia membuka kembali grup WA dan mulai mengetik pesan. Saatnya menunjukkan pada mereka siapa aku sebenarnya.Delisa:"Kalian semua puas sekarang? Sudah puas menghina dan merendahkan

  • Gairah Cinta Sang CEO   Bab 3 Jejak Yang Hilang

    Dirga kembali ke kantor pagi itu dengan perasaan lega sekaligus bingung. Efek obat perangsang sudah hilang, menyisakan rasa lelah dan sedikit mual. Tapi yang lebih mengganggunya adalah bayangan wanita di kamar hotel itu. Ia mencoba melupakannya, menganggapnya sebagai kesalahan satu malam yang tidak

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status