Share

bab4 satu hal

Penulis: Rentya Karin
last update Terakhir Diperbarui: 2025-07-19 19:06:58

Pagi menyingsing pelan di langit Jakarta. Langit masih kelabu, seolah ikut menyimpan kegelisahan yang tersisa sejak malam tadi. Clarissa terbangun dari tidur yang tak nyenyak, tubuhnya menggigil meski selimut tebal sudah membungkusnya semalam. Di luar jendela vila, kabut menggantung rendah di antara pepohonan.

Dia mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar mewah yang asing, dengan dinding-dinding putih bersih, aroma kayu manis samar, dan cahaya matahari yang mulai menembus tirai. Seharusnya ini seperti hotel bintang lima, tapi tidak, ini adalah penjara emas.

Clarissa duduk dan memeluk lututnya. Perasaannya kacau. Ia masih belum bisa mencerna semuanya. Bagaimana hidupnya berubah dalam hitungan jam. Dari sekadar sekretaris kantor ke dunia yang dipenuhi peluru, rahasia, dan pria seperti Leonardo De Luca.

"Aku pikir ini hanyalah mimpi, trnyata ini semua nyata. Aku benar-benar hidup dalam dunia yang penuh kegelapan. Apakah aku bisa bebas lagi seperti dulu?" lirih Clarissa sambil menatap ke arah tirai jendela yang memperlihatkan samar-samar pemandangan di luarnya.

Clarissa menghela nafasnya panjang, ingatannya kembali pada kejadian semalam, sungguh itu membuatnya bergidik ngeri. "Pria itu? Dia terlalu berbahaya. Aku harus segera pergi dari sini,,,, tapi bagaimana kalau aku bertemu dengan orang bernama bos Lin itu? Sepertinya bos Lin itu lebih berbahaya daripada pria dingin itu. Aaarghhh kenapa hidup ku jadi kacau seperti ini? Kenapa Tuhan tidak mau mengabulkan permintaanku?" Clarissa mulai merasa frustasi, dia mengacak-ngacak rambutnya hingga berantakan. Otaknya menyuruh untuk kabur, namun hatinya melarangnya.

"Oh sial!!! Apa yang aku pikirkan? Kenapa tiba-tiba wajah pria itu muncul dalam benak aku? Apakah aku sudah gila?" teriak Clarissa, sambil memukul kepalanya sendiri.

BRAK.

Pintu terbuka dengan tiba-tiba. Clarissa tersentak dan refleks menarik selimut ke dada.

Leonardo berdiri di ambang pintu, mengenakan kemeja putih dan celana panjang hitam. Rapi. Berwibawa. Menyeramkan dan… terlihat sangat menggoda. Tatapannya menyapu tubuh Clarissa yang masih duduk di tempat tidur.

"Kau masih hidup. Bagus," katanya datar. "Turun. Sarapan. Aku tak suka orang lemah." Lanjut laki-laki itu lagi.

Entah seperti apa sifat laki-laki ini sebenarnya, semalam dia terlihat sedikit lembut, namun sekarang terlihat sangat datar dan ucapannya sangat menyebalkan.

Clarissa mengepalkan tangannya, dia kesal sekaligus marah. "Aku bukan tahananmu."

Leonardo berjalan perlahan memasuki kamar itu dengan langkah tenang namun mengintimidasi. "Sayangnya, sebelum aku bosan, kau tetap tahananku, baby.... Ah maksudku kau tetap milikku!" ucapnya dengan seringai kecil, serta tatapan mata yang tidak lepas dari wajah Clarissa.

"Milikmu?" Clarissa mendengus. "Kau pikir aku barang?"

Leonardo berhenti tepat di hadapan gadis itu, ia sedikit membungkukkan tubuhnya, mempertemukan pandangan keduanya. "Tidak. Kau lebih dari itu. Kau... adalah teka-teki. Dan aku tak pernah meninggalkan teka-teki sebelum terpecahkan." Ucapnya pelan namun dingin. Clarissa tidak mengerti, namun sebelum ia berkata laki-laki itu sudah berbalik dan keluar tanpa kata lain.

Clarissa menggertakkan giginya. Amarah. Bingung. Dan ada sesuatu lagi... perasaan yang tak bisa ia jelaskan yang membuat jantungnya berdebar lebih cepat tiap kali pria itu menatapnya.

***

Beberapa menit kemudian

Clarissa duduk di meja makan panjang yang didominasi warna kayu gelap. Makanan tersaji lengkap, omelet, buah, roti panggang, dan teh hangat. Ia sama sekali tidak menyentuhnya.

Leonardo duduk di seberangnya, membaca koran sambil menyeruput espresso. Ia seperti pria biasa di pagi hari. Tapi Clarissa tahu, tangan itu bisa mencabut nyawa dalam satu tembakan.

"Kau bisa makan," kata Leo tanpa menoleh sedikitpun. "Aku tidak menaruh racun di situ. Setidaknya belum, karena aku masih ingin bermain-main denganmu." Lanjutnya sangat menyebalkan.

Clarissa mendengus kesal mendengar ucapan pria dingin itu. "Lucu sekali." Desis gadis cantik itu dengan tatapan tertuju pada laki-laki dingin yang penuh dengan misteri.

Leonardo melipat koran, ia mulai menatap gadis itu dengan serius. "Aku akan bicara terus terang. Seseorang sedang mengincarmu. Bukan aku. Tapi orang lain, lebih gila dari pada aku. Namanya Lin Ji. Bos dari kelompok Triad yang sedang berebut wilayah Jakarta." Kata pria itu penuh penekanan.

Clarissa meneguk ludah, sepertinya kali ini ia tidak bisa meremehkan ucapan laki-laki itu. "Bos Lin yang semalam? Kenapa mereka mengincarku?" tanyanya takut.

"Karena kamu melihat sesuatu. Dan... aku yakin kau menyimpan sesuatu." Leonardo mengeluarkan ponsel dari sakunya dan melemparnya ke atas meja. Layarnya memperlihatkan sebuah gambar, rekaman CCTV dari kejadian malam itu.

Di situ, Clarissa terekam jelas berdiri di ujung koridor saat tembakan dilepaskan.

"Kau bilang kau hanya ‘lewat’, tapi kenapa kau mengambil ponsel korban sebelum lari?" tanya Leonardo tajam dan penuh intimidasi.

Clarissa terdiam, wajahnya mulai pucat. Tangannya gemetar.

"Aku... aku hanya... takut. Aku pikir, mungkin aku bisa ponsel itu kasih kepada polisi." Jawabnya terbata-bata.

Leonardo tertawa pelan. Dia melipat kedua tangannya di dada. "Polisi? Di dunia ini, polisi lebih takut padaku daripada pada hukum." Ucapnya dingin dan menakutkan.

Ia menyender santai pada kepala kursi, matanya masih menatap wajah Clarissa yang nampak cantik tanpa riasan. "Clarissa, dengarkan aku baik-baik. Kau sudah masuk ke dalam dunia yang tidak punya jalan keluar. Dan satu-satunya alasan kau masih bisa bernapas adalah karena aku belum bosan denganmu." Lanjut pria itu lagi.

Kata-katanya mengiris seperti belati, membuat Clarissa langsung berdiri dengan tiba-tiba. "Kalau begitu, bunuh saja aku! Biar aku selesai dari semua ini!" ucapnya frustasi.

Leonardo menatapnya lagi. Dalam. Lama. Lalu berdiri, dan menghampiri gadis itu. Tanpa basa basi, Leo menarik lengan Clarissa dengan kasar, namun masih terkendali.

"Kau pikir aku belum pernah membunuh wanita sebelumnya?" ucap Leo dingin dan menusuk. "Tapi kenapa aku tidak bisa melakukannya padamu, hah?!" bisiknya penuh kemarahan. "Karena sialnya... tiap kali kulihat matamu, aku lupa siapa aku." Bisiknya lagi terdengar berat.

Clarissa membeku. Ada ledakan emosi yang mengguncang mereka berdua. Ketegangan di antara mereka seperti bara dalam sekam. Dan saat Leonardo perlahan mendekatkan wajahnya, nyaris menyentuh bibir wanita itu, Clarissa hanya bisa menutup mata...

Tapi suara letusan pistol di luar Villa memecah semuanya.

DOOOR!

Anak buah Leonardo berteriak dari luar. "Mereka datang, Boss! Ada penembak dari sisi timur!"

Leonardo langsung menarik Clarissa, mendorongnya ke belakang dinding. Ia mencabut pistolnya, matanya berubah tajam, wajahnya kembali menjadi sosok Tuan Mafia yang mematikan dan menakutkan.

"Kita akan bicara lagi nanti," katanya sambil melirik Clarissa, sebelum menghilang ke luar pintu.

Clarissa gemetar. Untuk pertama kalinya… bukan karena takut akan kematian, tapi karena ia baru menyadari satu hal.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Gairah Cinta Tuan Mafia   77. Pertanyaan yang sama

    Malam turun perlahan. Lampu-lampu rumah menyala satu per satu, menciptakan bayangan lembut di dinding.Clarissa duduk di lantai kamar, bersandar di sisi ranjang, selimut melingkari bahunya. Rambutnya masih setengah basah. Ia belum benar-benar tenang sejak sore tadi.Leo berdiri di ambang pintu, mengamati tanpa suara.Ada sesuatu yang aneh pada Clarissa malam ini.Lebih banyak diam, dan juga terlihat rapuh."Sayang, kamu kenapa?" tanya Leo pada akhirnya. Clarissa mengangkat wajahnya. Menatap Leo, dengan helaan nafas yang terdengar kasar. "Aku lagi memikirkan sesuatu.""Memikirkan sesuatu? Ulang Leo. " itu berbahaya," lanjut Leo setengah bercanda, lalu melangkah masuk.Clarissa tersenyum tipis. "Kamu takut aku memikirkan hal lain selain kamu?"Leo berlutut di depan Clarissa. Tatapan keduanya langsung bertemu. "Aku takut kamu memikirkan dunia ini bisa lebih baik tanpaku," jawabnya jujur.Clarissa terdiam beberapa saat, kemudian ia berkata pelan. "Aku takut… aku mulai butuh kamu."Leo m

  • Gairah Cinta Tuan Mafia   76. Tetap harus tinggal bersamaku

    Clarissa baru benar-benar merasa sendirian setelah pintu itu tertutup cukup lama.Rumah ini besar. Terlalu besar untuk cuma satu orang.Dan anehnya… baru sekarang ia sadar, selama ini Leo selalu jadi pengisi ruang kosong itu. Suara langkahnya, tatapan matanya, bahkan caranya berdiri diam pun terasa seperti kehadiran yang nyata.Clarissa berjalan ke arah jendela. Tirai sedikit terbuka. Langit siang kelabu.Ia memeluk lengannya sendiri. "Kamu keterlaluan," gumamnya lirih, entah pada Leo… atau justru pada dirinya sendiri.Clarissa kembali melangkahkan kedua kakinya menuju kursi sofa. Ia duduk di sofa itu, menatap ponselnya. Tidak ada pesan. Tidak ada panggilan. Leo benar-benar pergi tanpa meninggalkan jejak selain kalimat terakhirnya.'Kamu selalu menuruti permintaanku.'Clarissa mendesah kesal.Namun detik berikutnya, dadanya justru terasa… kosong.Ia menutup matanya, dan bersandar pada kepala kursi sofa itu.Dan tanpa sadar, pikirannya dipenuhi oleh Leo.Caranya menatap.Caranya memega

  • Gairah Cinta Tuan Mafia   75. Belum, aku masih menahan diri

    Leo menggeram pelan, menarik Clarissa ke tubuhnya. Pelukan itu erat. Terlalu erat untuk sekadar nyaman."Aku bisa hancur kalau kehilanganmu," bisiknya di telinga Clarissa. "Maka dari itu aku tidak akan mengambil risiko." Clarissa berbisik balik, suaranya terdengar sedikit gemetar. "Kamu membuatku takut… tapi aku juga tenang."Leo tersenyum tipis. "Cinta memang harusnya begitu."Ia menggendong Clarissa, membawanya menuju kursi sofa. Bukan tergesa. Tapi penuh kendali. Ia duduk, Clarissa di pangkuannya, dipeluk dari belakang."Dunia di luar sana tidak tahu caranya memelukmu," katanya pelan. "Aku tahu."Clarissa menyandarkan kepalanya pada bahu Leo. Jantungnya berdetak keras.Dan di dalam dadanya, ia sadar, Ia mulai berhenti bertanya, apakah ini benar atau salah.Yang ia tahu…ia tidak ingin dilepaskan.***"Sepertinya ada yang menginginkan gadis itu, selain kita. Hanya saja keinginan orang itu berbeda dengan keinginan kita," Amelia menyandarkan kepalanya di kursi kebesarannya, matanya

  • Gairah Cinta Tuan Mafia   74.Semakin mengurungku

    "Bagaimana? Apa kau berhasil?" tanya Bastian sambil menatap Arsen yang saat ini sedang berdiri di dekat jendela apartemennya. "Apa kau melihat keberadaan Assaku disini?" Arsen berbalik nanya, tanpa menoleh. Bastian menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, ia melangkah mendekati Arsen. "Tidak, dan itu artinya kau gagal?" katanya membuat Arsen kesal mendengarnya. "Bukan gagal, belum waktunya saja," ralat Arsen seraya berbalik dan melangkah melewati Bastian. "Tapi, aku akan berusaha untuk membawanya pergi. Aku yakin, aku pasti bisa membawanya pergi dari rumah itu." Lanjut Arsen lagi seraya menjatuhkan tubuhnya di atas kursi sofa. Bastian menghela nafasnya kasar, dia pun ikut melangkah, membawa kakinya menuju kursi sofa. Duduk, lalu berkata dengan pelan. "Seandainya kau membawanya ketika Assa masih berada di rumah sakit, mungkin saat ini Assa sudah benar-benar mengingatmu dan berada di sini, bersamamu." "Kau pikir itu mudah?" Arsen menatap Bastian kesal. "Leo... Dia memberik

  • Gairah Cinta Tuan Mafia   73. Mulai cemburu

    Clarissa baru sadar ada yang berubah…bukan dari Leo tapi dari dirinya sendiri.Ia berdiri di depan jendela kamar, menatap halaman rumah yang sepi. Ponselnya di tangan, layar menyala. Sebuah nomor tidak di kenal muncul menghubunginya. Clarissa mengernyitkan kening, menatap lama nomor asing itu. Di dorong oleh rasa penasaran, akhirnya Clarissa pun memutuskan untuk menjawab panggilan dari nomor asing tersebut. Namun belum sempat ia mengangkatnya, layar ponsel meredup. Sinyal di ponselnya menghilang.Clarissa kembali mengerutkan keningnya."Wi-Fi mati?" gumamnya."Tidak."Suara itu datang dari belakang. Tenang. Rendah. Terlalu dekat.Clarissa menoleh. Leo berdiri di ambang pintu, tangan berada di dalam saku celana, wajahnya terlihat datar. Tatapan matanya jatuh pada ponsel yang berada di tangan Clarissa, lalu naik ke wajah cantik gadis itu. "Aku yang matikan akses nomor itu," katanya santai.Clarissa terdiam beberapa saat, kemudian ia bertanya penasaran. "Kamu kenal nomor asing yang

  • Gairah Cinta Tuan Mafia   72. Terlalu kuat, terlalu dalam

    "Bagaimana, pah? Apakah sudah ada kabar tentang Raya? Perasaan mama kok gak enak, ya?" Merry melangkah mendekati suaminya. Wajahnya terlihat khawatir, karena anak angkatnya tidak ada kabar sampai detik ini juga. Bagaimana pun juga, Mery tidak tahu jika Raya adalah penyebab putrinya kecelakaan dan kehilangan ingatannya. Merry hanya tahu, jika Raya adalah gadis kecil yang menyelamatkan putrinya dulu, saat kebakaran. Ronald terlihat menghela nafasnya kasar, dia meraih secangkir kopi yang terlihat masih mengepulkan asapnya. "Belum, mah. Kita berdoa saja, semoga Raya baik-baik saja di sana," jawab Ronald, lalu menyesap kopi hitamnya perlahan. "Tapi, pah. Mama khawatir banget sama keadaan Raya. Mama takut Raya kenapa-kenapa," lirih Merry sembari memainkan jari jemarinya, berusaha untuk menghilangkan pikiran negatifnya tentang sang anak angkat. "Papa juga khawatir, mah. Tapi mau bagaimana lagi, anak buah papa belum bisa menemukan keberadaannya," kata Ronald seraya menatap istrinya. "Ja

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status