Home / Mafia / Dalam Kuasa Tuan Mafia / bab5 Apa lagi ini

Share

bab5 Apa lagi ini

Author: Rentya Karin
last update Last Updated: 2025-07-19 21:49:33

"Apa lagi ini? Seberapa banyak musuh laki-laki dingin itu? Oh Tuhan.... Kenapa aku harus berada dalam situasi seperti ini? Tidak bisakah aku seperti dulu lagi?" batin Clarissa sembari menatap Leo yang sudah menghilang dari balik pintu.

Satu hal yang yang ia sadari, hidupnya benar-benar telah berubah total. Dia tidak akan bisa kembali ke masa, dimana ia menjalani kehidupannya dengan tenang dan damai.

Duaaaar....

Ledakan pertama terdengar begitu keras hingga kaca jendela vila retak. Clarissa menjerit kecil dan menunduk, tubuhnya gemetar hebat. Dia tak tahu siapa yang menyerang atau berapa banyak orang yang datang. Tapi dia tahu satu hal, Leonardo berada di luar sana, melawan para musuh yang mungkin menginginkan nyawa lelaki itu.

Tembakan demi tembakan menggema di halaman depan vila. Raungan senapan mesin dan jeritan menyayat membuat udara pagi berubah jadi medan perang. Asap dan bau mesiu menyeruak lewat celah-celah pintu dan jendela.

Clarissa merayap ke balik sofa, mencoba mengatur napasnya. Matanya menatap ke sekeliling ruangan, berharap menemukan sesuatu yang bisa ia gunakan untuk bertahan. Tapi tak ada. Yang ada hanya dirinya dan rasa takut yang membara.

Tiba-tiba, suara pintu dibuka paksa dari luar. Seorang pria berbadan besar dengan wajah penuh tato masuk membawa pistol.

"Mereka bilang gadis itu harus di tangkap hidup-hidup!" serunya pada dua pria lain di belakangnya. "Jika kita mendapatkan gadis itu sudah mati, si bos akan marah besar. Bisa-bisa nyawa kita jadi taruhannya." Lanjut pria bertubuh besar itu sambil berjalan dengan ekor mata bergerak kesana kemari, mencari sosok gadis yang di incar oleh bosnya tersebut.

Sementara Clarissa, ia menggigit bibir bawahnya. Ia baru sadar, ternyata mereka datang untuk menangkap dirinya, bukan untuk mengambil nyawa si pria dingin itu.

"Ternyata mereka mengincar ku? Nasibku benar-benar sial." Batin Clarissa sambil menutup mulutnya, dan bersembunyi di balik kursi sofa.

Langkah kaki mereka terdengar semakin mendekat, membuat tubuh Clarissa tidak berhenti bergetar karena rasa takut yang kian membara.

Namun, tepat saat pria bertato itu berjalan menuju Clarissa, tiba-tiba saja terdengar suara tembakkan.

DOR!

Sebuah peluru menembus kepala pria itu, membuat tubuhnya terhuyung lalu jatuh ke lantai tanpa suara. Dua pria lain panik, tapi tembakan berikutnya melesat cepat dan presisi, menumbangkan mereka sebelum sempat bereaksi.

Dari balik bayangan lorong, Leonardo muncul dengan wajah dingin, pistol masih berasap di tangannya. Tubuhnya basah oleh keringat dan darah musuh. Tapi mata tajamnya langsung tertuju pada Clarissa yang muncul dari balik kursi sofa tersebut.

"Kau baik-baik saja?" tanyanya sambil melangkah mendekat. Tersirat sebuah rasa khawatir dari wajahnya yang dingin itu.

Clarissa hanya mengangguk kaku, tidak bisa berkata-kata, mungkin itu karena rasa takut yang masih menyelimuti dirinya.

Leonardo langsung mengulurkan tangan pada Clarissa. Jemari mereka bersentuhan, dan untuk sesaat, waktu seolah-olah berhenti berputar.

Hingga beberapa detik kemudian, Leo mengangkat Clarissa berdiri, lalu menatap mata gadis itu dalam-dalam. "Kau tidak bisa tinggal di sini lagi. Mereka sudah tahu lokasimu." Kata Leo berat.

"Apakah mereka itu orang-orang bos Lin?" tanya Clarissa sangat penasaran.

"Ya, mereka tidak akan melepaskanmu, baby." Jawab Leo masih terdengar berat.

"Lalu aku harus pergi ke mana?" Clarissa kembali bertanya, suaranya terdengar lirih dan gemetar. Clarissa tahu hidupnya dalam bahaya, dan yang bisa melindunginya saat ini hanyalah Leo sang pemimpin mafia berdarah dingin ini.

Leonardo menghela napas dalam, lalu menjawab pelan. "Ke tempat yang lebih aman. Tempat yang tidak pernah kuceritakan pada siapa pun." Setelah mengatakan itu, Leo pun langsung melangkahkan kedua kakinya, keluar dari Vila tersebut.

Clarissa tidak lagi berbicara ataupun sekedar bertanya dimana tempat itu? Yang ada dalam otak Clarissa hanyalah lari dan bersembunyi dari orang-orang yang ingin menangkapnya.

Sementara di tempat lain...

Praaaang....

Suara pecahan terdengar begitu menggema di dalam ruangan bercat hitam abu-abu.

Seorang pria terlihat sedang melampiaskan amarahnya, para anak yang berada di dalam ruangan itu semuanya menunduk, ketakutan.

Ini bukan pertama kalinya mereka melihat bosnya marah besar, tetapi tetap saja mereka di landa rasa takut yang luar biasa.

"Kami tidak bisa membawanya, tuan. Dia di lindungi oleh..."

"Aku tahu. Aku tidak bisa meremehkan dia. Tapi tetap saja kalian bodoh!" potong pria itu dingin dan menusuk. "Pergi! Sebelum kepala kalian aku penggal!" titahnya geram.

Para anak buahnya langsung berdiri, mereka pergi meninggalkan ruangan bosnya tersebut.

Setelah kepergian anak buahnya, pria itu tersenyum licik. "Sepertinya ini akan sangat menarik. Dia melindungi perempuan itu, itu artinya dia tertarik." Gumam pria itu seraya meraih segelas wine, lalu meneguknya dengan perlahan. Matanya yang tajam, menatap lurus ke depan, sementara otaknya mulai berputar, membuat rencana yang hanya dia sendiri yang tahu.

***

Mobil hitam dengan kaca gelap melaju menembus jalanan pegunungan, jauh dari kota. Clarissa duduk di kursi penumpang dengan kepala bersandar pada jendela. Luka dan trauma dari pagi tadi masih saja menghantui pikirannya. Tapi di antara semua itu, ada sesuatu yang lebih sulit diabaikan, rasa hangat yang muncul tiap kali Leonardo menoleh ke arahnya.

"Aku tidak mengerti…" gumam Clarissa, tanpa memandang ke arah Leo. "Kenapa kamu mempertaruhkan nyawamu untukku? Aku bukan siapa-siapa." Lanjutnya lagi pelan.

Clarissa sangat penasaran, sebenarnya apa yang dinginkan oleh pria dingin itu dari dirinya? Apakah pria itu jatuh cinta pada pandangan pertama? Sepertinya itu tidak mungkin.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dalam Kuasa Tuan Mafia   137 selama aku ada

    Pagi datang dengan suara langkah kecil di koridor rumah.Clarissa terbangun bukan karena mimpi buruk, melainkan karena aroma roti panggang yang samar masuk ke kamarnya.Ia membuka mata perlahan.Tidak ada Leo di kursi dekat jendela.Jantungnya langsung berdebar.“Leo…?” panggilnya pelan.Tidak ada jawaban.Clarissa bangkit dari ranjang dan membuka pintu kamar, kemudian ia melangkah keluar dan menuruni anak tangga. Di dapur, Leo berdiri dengan celemek sederhana yang jelas tidak cocok dengan tubuh tinggi dan wajah dinginnya. Tangannya sibuk membalik roti di atas wajan.Clarissa terpaku beberapa detik.Ketua De Lucas Syndicate… memasak sarapan.“Kamu sudah bangun, sayang," kata Leo tanpa menoleh. “Aku hampir selesai.”Clarissa mendekat pelan.“Kamu… masak?”Leo mengangkat bahu.“Aku mencoba.”Clarissa tersenyum kecil.“Ini pertama kalinya

  • Dalam Kuasa Tuan Mafia   136 apakah kita bergerak

    Pagi datang dengan langkah pelan.Tidak membawa suara sirene. Tidak membawa pesan ancaman. Tidak membawa darah atau jeritan.Hanya cahaya matahari yang masuk melalui celah tirai dan aroma kopi dari dapur.Clarissa membuka mata perlahan.Hal pertama yang ia lihat adalah punggung Leo di kursi dekat jendela. Seperti biasa, laki-laki itu terjaga lebih dulu. Jaket hitamnya tergantung di sandaran kursi, kemejanya sedikit kusut karena semalaman tidak benar-benar tidur.“Leo…” panggil Clarissa lirih.Leo langsung menoleh.“Kamu sudah bangun?” tanyanya lembut. Clarissa mengangguk sambil duduk di ranjang. “Kamu lagi-lagi tidak tidur.”Leo berjalan mendekat.“Aku tidur sedikit, sayang. Itu sudah cukup."Clarissa menyentuh wajahnya.“Kamu bohong. Matamu lelah.”Leo menangkap tangan Clarissa dan menempelkannya ke dadanya.“Aku baik-baik saja selama kamu di sini.”Clarissa terd

  • Dalam Kuasa Tuan Mafia   135 kau tidak cocok di dunia normal

    Malam turun dengan cepat, membawa udara yang terasa lebih berat dari biasanya.Clarissa duduk di sofa rumahnya, kedua tangannya saling menggenggam erat. Matanya menatap pintu depan, seolah berharap Gio masuk kapan saja sambil tersenyum dan berkata semuanya hanya salah paham.Namun pintu itu tidak pernah terbuka.Leo berdiri di dekat jendela, ponsel di telinganya, suaranya dingin dan terkontrol.“Cari semua kamera di sekitar kampus. Jangan ada satu sudut pun yang terlewat.”Ia memutus sambungan, lalu menoleh ke arah Clarissa.“Kita akan menemukan Gio.”Clarissa berdiri.“Jangan dengan cara lama, Leo.”Leo menatapnya.“Aku belum melakukan apa pun.”“Tapi aku tahu matamu,” ucap Clarissa lirih. “Kalau kamu marah seperti itu… dunia di sekitarmu bisa hancur.”Leo berjalan mendekat.“Mereka menyentuh orangku.”Clarissa mengangkat wajah.“Dan aku takut mereka ingin kamu kembali jadi seperti dulu.”Leo terdiam.“Aku tidak mau kamu kehilangan dirimu karena aku,” lanjut Clarissa.Leo memegang ba

  • Dalam Kuasa Tuan Mafia   134 benar-benar di mulai

    Pagi itu terasa berbeda.Bukan karena hujan, bukan karena langit, tapi karena udara di sekitar Clarissa terasa… waspada.Ia berdiri di depan cermin, merapikan rambutnya, sementara Leo duduk di kursi dekat pintu kamar. Sejak kejadian di kampus kemarin, Leo tidak lagi menyembunyikan kegelisahannya."Kamu benar-benar mau kembali ke kampus hari ini?" tanya Leo untuk ketiga kalinya.Clarissa menghela napas kecil."Leo… kalau aku berhenti sekarang, mereka menang."Leo menatapnya lama."Aku tidak peduli siapa yang menang. Aku hanya peduli kamu pulang hidup-hidup."Clarissa berjalan mendekat dan berdiri di antara kedua lutut Leo."Kamu tidak bisa melindungiku dengan cara mengurungku lagi."Leo mengangkat wajahnya."Aku tidak mengurungmu lagi.""Kamu menjagaku seperti dunia ini hanya milikmu."Leo terdiam sesaat."Karena memang begitu."Clarissa tersenyum tipis."Itu manis… tapi juga menakutkan."Leo menarik Clarissa ke dalam pelukan."Dengarkan aku. Mulai hari ini, kamu belajar menjaga dirimu

  • Dalam Kuasa Tuan Mafia   133 bab baru sudah di mulai

    Hujan turun sejak subuh.Langit abu-abu menggantung rendah di atas rumah Clarissa, seolah ikut menyimpan sesuatu yang tidak diucapkan.Clarissa berdiri di depan cermin, mengenakan jaket tipis dan merapikan rambutnya. Hari ini ia tidak merasa setenang kemarin. Ada perasaan aneh di dadanya… seperti sedang diawasi.Ia melirik ke jendela.Kosong.Namun perasaan itu tidak hilang.Pintu kamar diketuk."Clarissa," suara Leo terdengar dari luar. "Sarapan sudah siap."Clarissa membuka pintu.Leo berdiri dengan kemeja hitam dan mantel panjang. Wajahnya terlihat serius, jauh lebih dingin dari biasanya."Kamu mimpi buruk?" tanya Clarissa.Leo menggeleng pelan. "Tidak. Aku cuma tidak suka hujan."Clarissa tersenyum kecil. "Mafia takut hujan?""Hujan membuat semua jejak jadi samar," jawab Leo datar. "Dan aku tidak suka hal yang tidak bisa kulihat."Clarissa mena

  • Dalam Kuasa Tuan Mafia   132 tidak berjalan mulus

    Pagi berikutnya datang dengan udara yang lebih sibuk dari biasanya.Clarissa berdiri di depan cermin, merapikan rambutnya dengan sedikit gugup. Seragam kampusnya kembali melekat di tubuhnya setelah sekian lama hanya mengenakan pakaian rumah.Ia menarik napas panjang."Hari pertama lagi…" gumamnya.Pintu kamar diketuk pelan."Masuk," ucap Clarissa.Leo muncul di ambang pintu. Ia mengenakan kemeja hitam sederhana, tanpa jas mafia, tanpa aura mengintimidasi seperti biasanya. Tapi tatapannya tetap tajam… hanya saja lembut saat melihat Clarissa."Kamu cantik," katanya datar tapi jujur.Clarissa tersenyum kecil. "Aku cuma mau ke kampus.""Justru itu," jawab Leo. "Dunia luar tidak pantas melihatmu sembarangan."Clarissa memutar bola mata. "Tuan mafia posesif banget."Leo mendekat, berdiri tepat di belakangnya, menatap pantulan mereka di cermin."Kau tahu apa yang paling kutakutkan?"Clarissa menoleh. "Apa?""Kau menemukan dunia yang tidak membutuhkanku lagi."Clarissa terdiam sesaat, lalu me

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status