Home / Mafia / Dalam Kuasa Tuan Mafia / bab3. apakah aku akan mati

Share

bab3. apakah aku akan mati

Author: Rentya Karin
last update Last Updated: 2025-07-19 08:27:08

"Apakah aku akan mati? Apakah aku akan terlahir kembali? Bagaimana kalau aku mati tapi aku tidak terlahir kembali? Sial! Aku tidak boleh mati, saat ini hanya pria dingin ini yang bisa menyelamatkan aku dari kejaran bos Lin itu." pikiran Clarissa terus berkecamuk, antara takut, khawatir, panik bertumpu menjadi satu.

"Jangan berpikiran yang aneh-aneh, kau tidak akan mati disini! Jadi, tetap ikuti aku, aku tidak akan membiarkan orang lain membunuhmu!" suara pria di sampingnya membuyarkan imajinasi mengerikan Clarissa. Gadis itu seketika menoleh, menatap Leo dari samping. "Aku tahu, kalau aku ini tampan, jadi kau tidak perlu menatapku seperti itu," kata laki-laki itu seperti cenayang. Padahal, tatapan matanya terus lurus ke depan, namun dia bisa tahu jika Clarissa sedang menatapnya. Ini benar-benar membuat Clarissa merasa malu sekaligus jengkel.

"Kau terlalu kepedean, tuan mafia! Aku sama sekali tidak menatapmu!" sungut Clarissa dengan berani. Entahlah rasa takut yang ia rasakan sedari tadi, kini mulai hilang setelah ia mendengar ucapan pria yang dia anggap sangat dingin dan menyeramkan itu.

Tidak ada lagi percakapan antar kedua mahluk Tuhan tersebut. Kali ini keduanya fokus melarikan diri dari kejaran para musuh, atau lebih tepatnya dari orang-orang yang menginginkan Clarissa.

Dan Clarissa mulai tersadar, jika pria berdarah dingin ini, adalah satu-satunya pelindung yang ia miliki sekarang. Jadi, untuk saat ini, Clarissa tidak akan kabur dari pria itu. Karena jika dia kabur, bisa saja dia malah tertangkap oleh orang bernama bos Lin itu. Dan hidupnya mungkin saja akan jauh lebih menyeramkan, atau mungkin dia akan langsung mati di tangan bos Lin.

***

Mereka akhirnya tiba di sebuah vila tersembunyi, jauh di luar kota. Bangunannya megah, tapi dijaga seperti benteng militer. Leo mengganti bajunya yang basah, sementara Clarissa diberi handuk dan pakaian ganti.

Saat malam mulai larut, Clarissa berdiri di balkon kamar yang dipaksa menjadi tempat tidurnya. Angin malam menerpa wajahnya yang cantik alami tanpa polesan make up sedikit pun, namun pikirannya justru penuh dengan kebingungan dan sosok pria bernama Leonardo De Luca. Pria yang menculiknya.

"Takdir macam apa ini? Kenapa aku harus di hadapkan dengan situasi yang seperti ini?" batin Clarissa sambil menatap langit malam yang hitam.

Clarissa masih tidak menyangka jika dirinya akan hidup dalam kegelapan seperti ini. Tidak tenang, tidak aman dan pastinya ia tidak akan bisa bebas dari cengkraman tuan Mafia.

Tidak lama, pintu yang terbuat dari kaca itu terbuka dengan pelan. Leonardo masuk, tanpa suara. Ia hanya mengenakan kaus hitam polos dan celana panjang, lebih santai daripada biasanya.

Berdiri di samping Clarissa, membuat Clarissa langsung tersadar dari lamunannya.

“Kenapa kau belum tidur?” tanya Leo sembari menatap gadis itu dari samping.

Clarissa menoleh, sejenak ia terdiam, terkesima dengan wajah tampan laki-laki itu. Namun sedetik kemudian, Clarissa pun tersadar dan berkata. "Bagaimana aku bisa tidur disaat hidupku bisa berakhir kapan saja?" sambil memalingkan wajahnya dan kembali menatap langit hitam.

Leo menghela nafas panjang, tatapan matanya masih tertuju pada sang gadis yang telah menarik perhatiannya itu. "Justru karena itu, tidurlah. Di tempat ini… aku yang akan menjamin hidupmu. Kau tidak akan mati!" Ucapnya membuat Clarissa kembali menoleh ke arah nya.

"Kenapa kau perduli dengan kehidupanku? Bukankah kamu membawaku kesini karena kamu ingin mengetahui kenyataan tentang kejadian malam itu? Sungguh, aku benar-benar tidak sengaja melewati jalan itu. Percayalah dan bebaskan aku dari sini," kata Clarissa memohon.

Ia kembali meminta untuk di bebaskan, ia benar-benar tidak ingin hidup terkurung di Vila ini. Namun, sebenarnya gadis itu juga takut untuk pergi dari sana. Takut jika dia bertemu dengan orang yang bernama bos Lin.

"Aku belum puas bermain denganmu, bagaimana mungkin aku akan membebaskanmu," Leo menjeda ucapannya sejenak, kemudian ia pun berkata lagi. "Dan aku akan mencari tahunya sendiri, bukan dari mulutmu. Kau mengerti!" tegas tak terbantahkan.

Clarissa harus menarik nafasnya beberapa kali, menghadapi laki-laki dingin ini, memang harus memiliki kesabaran dan juga mental yang kuat.

Dia tidak boleh takut lagi, atau dia akan terus di permainkan oleh laki-laki ini.

"Jika seperti itu, lebih baik kau bunuh saja aku, tuan!" seru Clarissa dengan amarah yang mulai menggebu-gebu. Akhirnya setelah sekian lama, keluar juga ucapan itu dari mulut Clarissa. Ya meskipun sebenarnya Clarissa sendiri merasa takut jika laki-laki itu akan benar-benar membunuhnya. Namun demi menunjukkan keberaniannya, Clarissa pun akhirnya mengucapkannya.

Pria itu tidak menjawab. Ia hanya mendekat hingga jaraknya membuat Clarissa mundur perlahan, hingga punggungnya menyentuh dinding balkon.

Leonardo menyentuh wajah Clarissa dengan lembut. Tatapan matanya sangat dalam. "Aku tidak tahu… apakah aku harus membunuhmu, menyelamatkanmu, atau... memilikimu." Bisiknya membuat bulu kuduk Clarissa langsung berdiri.

Mata mereka saling menatap. Nafas Clarissa memburu, jantungnya berdetak tak karuan.

Tangan Leo mulai menelusuri wajah cantik itu, hidungnya, matanya, alisnya dan terakhir bibir berwarna pink yang terlihat sangat menggoda. Namun, sebelum pria itu sempat menyentuh bibir pink itu, Clarissa membuang muka dan berkata dengan suara pelan, "Kalau kau punya niat lain... bunuh saja aku sekarang."

Leonardo terdiam sesaat. Lalu ia tertawa kecil, tapi tawa itu terdengar sangat dingin dan menakutkan.

"Kau bukan tipe wanita yang mudah dijinakkan. Tapi itu justru... yang membuat aku makin ingin memiliki hatimu." Kata Leo berterus terang, tidak ada yang ia tutup tutupi sama sekali.

Dia ingin memliki gadis itu, ingin membuat gadis itu jatuh cinta dan terus berada di sampingnya. Dia tidak akan membiarkan gadis itu pergi dari hidupnya.

Entah ramuan apa yang Clarissa gunakan sehingga membuat tuan Mafia berdarah dingin ini langsung tertarik pada dirinya. Bahkan bukan hanya sekedar rasa tertarik saja, tetapi Leo juga memiliki perasaan lain.

"Good night baby," bisik Leo, kemudian pergi meninggalkan Clarissa yang kini mulai di selimuti oleh berbagai pertanyaan tentang laki-laki berdarah dingin itu.

"Dia... Dia sudah gila!" teriak Clarissa yang masih dapat di dengar oleh Leo.

Leo hanya terkekeh mendengar teriakan gadis itu, lalu sedetik kemudian wajahnya pun berubah menjadi dingin dan menyeramkan. Entah apa yang ada dalam pikiran laki-laki itu, hanya dirinya sendiri yang mengetahuinya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dalam Kuasa Tuan Mafia   137 selama aku ada

    Pagi datang dengan suara langkah kecil di koridor rumah.Clarissa terbangun bukan karena mimpi buruk, melainkan karena aroma roti panggang yang samar masuk ke kamarnya.Ia membuka mata perlahan.Tidak ada Leo di kursi dekat jendela.Jantungnya langsung berdebar.“Leo…?” panggilnya pelan.Tidak ada jawaban.Clarissa bangkit dari ranjang dan membuka pintu kamar, kemudian ia melangkah keluar dan menuruni anak tangga. Di dapur, Leo berdiri dengan celemek sederhana yang jelas tidak cocok dengan tubuh tinggi dan wajah dinginnya. Tangannya sibuk membalik roti di atas wajan.Clarissa terpaku beberapa detik.Ketua De Lucas Syndicate… memasak sarapan.“Kamu sudah bangun, sayang," kata Leo tanpa menoleh. “Aku hampir selesai.”Clarissa mendekat pelan.“Kamu… masak?”Leo mengangkat bahu.“Aku mencoba.”Clarissa tersenyum kecil.“Ini pertama kalinya

  • Dalam Kuasa Tuan Mafia   136 apakah kita bergerak

    Pagi datang dengan langkah pelan.Tidak membawa suara sirene. Tidak membawa pesan ancaman. Tidak membawa darah atau jeritan.Hanya cahaya matahari yang masuk melalui celah tirai dan aroma kopi dari dapur.Clarissa membuka mata perlahan.Hal pertama yang ia lihat adalah punggung Leo di kursi dekat jendela. Seperti biasa, laki-laki itu terjaga lebih dulu. Jaket hitamnya tergantung di sandaran kursi, kemejanya sedikit kusut karena semalaman tidak benar-benar tidur.“Leo…” panggil Clarissa lirih.Leo langsung menoleh.“Kamu sudah bangun?” tanyanya lembut. Clarissa mengangguk sambil duduk di ranjang. “Kamu lagi-lagi tidak tidur.”Leo berjalan mendekat.“Aku tidur sedikit, sayang. Itu sudah cukup."Clarissa menyentuh wajahnya.“Kamu bohong. Matamu lelah.”Leo menangkap tangan Clarissa dan menempelkannya ke dadanya.“Aku baik-baik saja selama kamu di sini.”Clarissa terd

  • Dalam Kuasa Tuan Mafia   135 kau tidak cocok di dunia normal

    Malam turun dengan cepat, membawa udara yang terasa lebih berat dari biasanya.Clarissa duduk di sofa rumahnya, kedua tangannya saling menggenggam erat. Matanya menatap pintu depan, seolah berharap Gio masuk kapan saja sambil tersenyum dan berkata semuanya hanya salah paham.Namun pintu itu tidak pernah terbuka.Leo berdiri di dekat jendela, ponsel di telinganya, suaranya dingin dan terkontrol.“Cari semua kamera di sekitar kampus. Jangan ada satu sudut pun yang terlewat.”Ia memutus sambungan, lalu menoleh ke arah Clarissa.“Kita akan menemukan Gio.”Clarissa berdiri.“Jangan dengan cara lama, Leo.”Leo menatapnya.“Aku belum melakukan apa pun.”“Tapi aku tahu matamu,” ucap Clarissa lirih. “Kalau kamu marah seperti itu… dunia di sekitarmu bisa hancur.”Leo berjalan mendekat.“Mereka menyentuh orangku.”Clarissa mengangkat wajah.“Dan aku takut mereka ingin kamu kembali jadi seperti dulu.”Leo terdiam.“Aku tidak mau kamu kehilangan dirimu karena aku,” lanjut Clarissa.Leo memegang ba

  • Dalam Kuasa Tuan Mafia   134 benar-benar di mulai

    Pagi itu terasa berbeda.Bukan karena hujan, bukan karena langit, tapi karena udara di sekitar Clarissa terasa… waspada.Ia berdiri di depan cermin, merapikan rambutnya, sementara Leo duduk di kursi dekat pintu kamar. Sejak kejadian di kampus kemarin, Leo tidak lagi menyembunyikan kegelisahannya."Kamu benar-benar mau kembali ke kampus hari ini?" tanya Leo untuk ketiga kalinya.Clarissa menghela napas kecil."Leo… kalau aku berhenti sekarang, mereka menang."Leo menatapnya lama."Aku tidak peduli siapa yang menang. Aku hanya peduli kamu pulang hidup-hidup."Clarissa berjalan mendekat dan berdiri di antara kedua lutut Leo."Kamu tidak bisa melindungiku dengan cara mengurungku lagi."Leo mengangkat wajahnya."Aku tidak mengurungmu lagi.""Kamu menjagaku seperti dunia ini hanya milikmu."Leo terdiam sesaat."Karena memang begitu."Clarissa tersenyum tipis."Itu manis… tapi juga menakutkan."Leo menarik Clarissa ke dalam pelukan."Dengarkan aku. Mulai hari ini, kamu belajar menjaga dirimu

  • Dalam Kuasa Tuan Mafia   133 bab baru sudah di mulai

    Hujan turun sejak subuh.Langit abu-abu menggantung rendah di atas rumah Clarissa, seolah ikut menyimpan sesuatu yang tidak diucapkan.Clarissa berdiri di depan cermin, mengenakan jaket tipis dan merapikan rambutnya. Hari ini ia tidak merasa setenang kemarin. Ada perasaan aneh di dadanya… seperti sedang diawasi.Ia melirik ke jendela.Kosong.Namun perasaan itu tidak hilang.Pintu kamar diketuk."Clarissa," suara Leo terdengar dari luar. "Sarapan sudah siap."Clarissa membuka pintu.Leo berdiri dengan kemeja hitam dan mantel panjang. Wajahnya terlihat serius, jauh lebih dingin dari biasanya."Kamu mimpi buruk?" tanya Clarissa.Leo menggeleng pelan. "Tidak. Aku cuma tidak suka hujan."Clarissa tersenyum kecil. "Mafia takut hujan?""Hujan membuat semua jejak jadi samar," jawab Leo datar. "Dan aku tidak suka hal yang tidak bisa kulihat."Clarissa mena

  • Dalam Kuasa Tuan Mafia   132 tidak berjalan mulus

    Pagi berikutnya datang dengan udara yang lebih sibuk dari biasanya.Clarissa berdiri di depan cermin, merapikan rambutnya dengan sedikit gugup. Seragam kampusnya kembali melekat di tubuhnya setelah sekian lama hanya mengenakan pakaian rumah.Ia menarik napas panjang."Hari pertama lagi…" gumamnya.Pintu kamar diketuk pelan."Masuk," ucap Clarissa.Leo muncul di ambang pintu. Ia mengenakan kemeja hitam sederhana, tanpa jas mafia, tanpa aura mengintimidasi seperti biasanya. Tapi tatapannya tetap tajam… hanya saja lembut saat melihat Clarissa."Kamu cantik," katanya datar tapi jujur.Clarissa tersenyum kecil. "Aku cuma mau ke kampus.""Justru itu," jawab Leo. "Dunia luar tidak pantas melihatmu sembarangan."Clarissa memutar bola mata. "Tuan mafia posesif banget."Leo mendekat, berdiri tepat di belakangnya, menatap pantulan mereka di cermin."Kau tahu apa yang paling kutakutkan?"Clarissa menoleh. "Apa?""Kau menemukan dunia yang tidak membutuhkanku lagi."Clarissa terdiam sesaat, lalu me

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status