LOGINHari itu berjalan jauh lebih baik daripada yang Clarissa bayangkan.Ia mengikuti kelas. Mencatat. Berbicara dengan beberapa teman lama. Bahkan tertawa ketika salah satu temannya menceritakan kejadian lucu di kelas.Untuk beberapa jam, Clarissa benar-benar lupa bahwa hidupnya pernah dipenuhi ketakutan.Saat jam istirahat, ia duduk sendirian di kantin. Seorang perempuan menghampirinya."Kamu Clarissa, kan?"Clarissa mengangkat wajah. "Iya.""Aku duduk di sini boleh?"Clarissa tersenyum. "Tentu."Perempuan itu duduk di depannya. "Aku Naya.""Clarissa.""Aku tahu."Clarissa tertawa kecil. "Kok kamu tahu?""Karena kamu dulu sering dibicarakan di kampus."Clarissa mengerutkan kening. "Sering dibicarakan?"Naya mengangguk. "Tapi jangan khawatir. Bukan hal buruk."Clarissa tersenyum. Mereka berbicara cukup lama.Tentang kuliah. Tentang dosen. Tentang tugas. Hal-hal sederhana yang selama ini tidak bisa dilakukan Clarissa.Namun ketika Naya tiba-tiba bertanya, "Kamu sekarang tinggal sama keluar
Pagi berikutnya datang tanpa membawa ancaman.Matahari bersinar cukup cerah, membuat rumah keluarga Clarissa terasa jauh lebih hangat daripada hari-hari sebelumnya.Clarissa berdiri di depan cermin sambil merapikan rambutnya. Hari ini adalah hari keduanya kembali ke kampus setelah sekian lama.Ia mengenakan blouse putih sederhana, celana panjang hitam, dan membawa tas kecil di bahunya. Untuk pertama kalinya, ia merasa seperti gadis biasa. Tidak ada rasa takut.Tidak ada keinginan untuk terus melihat ke belakang.Namun ketika Clarissa membuka pintu kamar, ia langsung menemukan Leo berdiri di depan pintu.Laki-laki itu sudah rapi dengan kemeja hitam dan celana panjang gelap.Clarissa mengangkat alis. "Kamu lagi?"Leo memasukkan kedua tangannya ke saku celana."Aku mengantar."Clarissa tersenyum geli. "Aku cuma kuliah, Leo. Bukan pergi perang.""Aku tahu.""Lalu kenapa wajahmu seperti mau pergi perang?"Leo menatapnya dari atas sampai bawah. "Karena kamu terlalu cantik."Clarissa langsun
Pagi datang dengan suara langkah kecil di koridor rumah.Clarissa terbangun bukan karena mimpi buruk, melainkan karena aroma roti panggang yang samar masuk ke kamarnya.Ia membuka mata perlahan.Tidak ada Leo di kursi dekat jendela.Jantungnya langsung berdebar.“Leo…?” panggilnya pelan.Tidak ada jawaban.Clarissa bangkit dari ranjang dan membuka pintu kamar, kemudian ia melangkah keluar dan menuruni anak tangga. Di dapur, Leo berdiri dengan celemek sederhana yang jelas tidak cocok dengan tubuh tinggi dan wajah dinginnya. Tangannya sibuk membalik roti di atas wajan.Clarissa terpaku beberapa detik.Ketua De Lucas Syndicate… memasak sarapan.“Kamu sudah bangun, sayang," kata Leo tanpa menoleh. “Aku hampir selesai.”Clarissa mendekat pelan.“Kamu… masak?”Leo mengangkat bahu.“Aku mencoba.”Clarissa tersenyum kecil.“Ini pertama kalinya
Pagi datang dengan langkah pelan.Tidak membawa suara sirene. Tidak membawa pesan ancaman. Tidak membawa darah atau jeritan.Hanya cahaya matahari yang masuk melalui celah tirai dan aroma kopi dari dapur.Clarissa membuka mata perlahan.Hal pertama yang ia lihat adalah punggung Leo di kursi dekat jendela. Seperti biasa, laki-laki itu terjaga lebih dulu. Jaket hitamnya tergantung di sandaran kursi, kemejanya sedikit kusut karena semalaman tidak benar-benar tidur.“Leo…” panggil Clarissa lirih.Leo langsung menoleh.“Kamu sudah bangun?” tanyanya lembut. Clarissa mengangguk sambil duduk di ranjang. “Kamu lagi-lagi tidak tidur.”Leo berjalan mendekat.“Aku tidur sedikit, sayang. Itu sudah cukup."Clarissa menyentuh wajahnya.“Kamu bohong. Matamu lelah.”Leo menangkap tangan Clarissa dan menempelkannya ke dadanya.“Aku baik-baik saja selama kamu di sini.”Clarissa terd
Malam turun dengan cepat, membawa udara yang terasa lebih berat dari biasanya.Clarissa duduk di sofa rumahnya, kedua tangannya saling menggenggam erat. Matanya menatap pintu depan, seolah berharap Gio masuk kapan saja sambil tersenyum dan berkata semuanya hanya salah paham.Namun pintu itu tidak pernah terbuka.Leo berdiri di dekat jendela, ponsel di telinganya, suaranya dingin dan terkontrol.“Cari semua kamera di sekitar kampus. Jangan ada satu sudut pun yang terlewat.”Ia memutus sambungan, lalu menoleh ke arah Clarissa.“Kita akan menemukan Gio.”Clarissa berdiri.“Jangan dengan cara lama, Leo.”Leo menatapnya.“Aku belum melakukan apa pun.”“Tapi aku tahu matamu,” ucap Clarissa lirih. “Kalau kamu marah seperti itu… dunia di sekitarmu bisa hancur.”Leo berjalan mendekat.“Mereka menyentuh orangku.”Clarissa mengangkat wajah.“Dan aku takut mereka ingin kamu kembali jadi seperti dulu.”Leo terdiam.“Aku tidak mau kamu kehilangan dirimu karena aku,” lanjut Clarissa.Leo memegang ba
Pagi itu terasa berbeda.Bukan karena hujan, bukan karena langit, tapi karena udara di sekitar Clarissa terasa… waspada.Ia berdiri di depan cermin, merapikan rambutnya, sementara Leo duduk di kursi dekat pintu kamar. Sejak kejadian di kampus kemarin, Leo tidak lagi menyembunyikan kegelisahannya."Kamu benar-benar mau kembali ke kampus hari ini?" tanya Leo untuk ketiga kalinya.Clarissa menghela napas kecil."Leo… kalau aku berhenti sekarang, mereka menang."Leo menatapnya lama."Aku tidak peduli siapa yang menang. Aku hanya peduli kamu pulang hidup-hidup."Clarissa berjalan mendekat dan berdiri di antara kedua lutut Leo."Kamu tidak bisa melindungiku dengan cara mengurungku lagi."Leo mengangkat wajahnya."Aku tidak mengurungmu lagi.""Kamu menjagaku seperti dunia ini hanya milikmu."Leo terdiam sesaat."Karena memang begitu."Clarissa tersenyum tipis."Itu manis… tapi juga menakutkan."Leo menarik Clarissa ke dalam pelukan."Dengarkan aku. Mulai hari ini, kamu belajar menjaga dirimu







