LOGIN"Kalau aku yang pijat, aku nggak jamin kamu bisa tidur nyenyak setelah ini, Kar.” Dimas membalikkan badan menghadap Karina. Wanita itu tertawa kecil, lalu melatakkan kedua tangannya di atas pundak Dimas.“Sejak awal aku memang nggak berniat tidur siang, Dim.” Karina berbisik dengan senyum lembut yang samar, menyiratkan godaan. Suaranya jernih namun sarat akan undangan.Dimas menelan ludah. Rasa pening akibat mendengar kabar dari Jimmy tadi seolah menguap, digantikan oleh debar yang jauh lebih kencang di dadanya. Perlahan, Dimas menggerakkan tangannya ke bahu Karina. Jemarinya meraba tekstur kain piyama wanita itu sebelum akhirnya menyentuh kulit lehernya yang hangat.“Oke. kamu yang minta ya.” gumam Dimas. Matanya kini terpaut pada kulit mulus Karina yang bagian dadanya hampir separuh terbuka. Napasnya mulai memburu. Agar lebih nyaman, Dimas pindah ke belakang tubuh Karina. Pria itu mulai memijat perlahan pundak sang wanita. Dia berusaha fokus pada otot-otot yang tegang. Namun setap
Dimas menatap layar ponselnya yang menunjukkan panggilan ke nomor Agus tak terjawab.Pesannya sejak tadi juga belum dibalas.Setelah sebuah hembusan napas berat, Dimas menekan tombol untuk melakukan panggilan ke nomor Jimmy.Hanya dalam hitungan detik, nada sambung di seberang bersambut suara bernada tinggi khas Jimmy.“Halo.” “Halo, Jim? Gimana di sana?” Dimas merasakan Karina yang sejak tadi memijat pundaknya dari belakang tiba-tiba bersandar total. Kedua tangan wanita itu kini melingkari lehernya dari belakang sambil wajahnya merapat ke satu sisi wajah Dimas.“Agus kayaknya marah, Dim. Soalnya … Caca jadi salah paham sama dia.”Dimas mengerutkan kening. “Caca salah paham gimana?” “Tadi itu, Agus kepergok waktu ngambil foto cowok yang lagi sama Nita. Blitz-nya nyala, anjir.”Dimas memejamkan mata erat, tangannya menepuk dahi hingga terdengar suara ‘plak’ nyaring.“Terus Agus di mana sekarang? Masih sama lo di situ?”“Nggak. Tadi dia ngejar Caca. Caca juga kayaknya balik duluan. Gu
[ Dimas : Agus lo keluar dari kamar itu sekarang! ]Agus mendongak, menatap Nita yang kini menatapnya tajam.“Siapa?” Nita melipat lengan di depan dada. “Dari Dimas?”Buru-buru Agus menggelengkan kepala. “Bu-bukan Mbak! Ini … iklan dari operator!” bantahnya. Namun wajah panik Agus sama sekali tidak bisa berbohong.“Bilang apa dia?” Nita bertanya dengan nada dingin. Wanita itu bangkit dan berjalan mendekat. Sontak Agus beringsut mundur. “Mbak Nita.” Agus menggeser badannya, jaraknya semakin menjauhi Nita. “Saya tadi ambil foto benar-benar untuk memastikan kalau orang tadi teman saya atau bukan Mbak. Saya bukannya mau berniat mengambil foto Mbak Nita. Saya minta maaf kalau Mbak Nita jadi salah paham.”“Kenapa kamu sebegitu ingin tahunya? Kalau memang dia temanmu lalu kamu mau apa?” Nita berhenti mendekati Agus yang semakin menjauh. Bruk!Punggung Agus menabrak jendela kaca yang dilapisi gorden. Bibirnya mencebik dengan suara rintihan tangis yang dibuat-buat. ‘Harus gimana aku ini?’“
Di dalam lift yang hening, hanya ada Agus dan Nita yang berdiri bersisian. Aroma parfum Nita yang menyengat sekaligus memabukan membuat Agus merinding seketika.Melalui sudut matanya, Agus melirik kaku ke arah Nita. Tak dapat disangkal—terlepas alami atau bukan, kemolekan tubuh Nita yang ‘berisi’ di tempat-tempat yang seharusnya, sangat menggoda fantasi liarnya.Mata Agus tak dapat berkedip memandangi tubuh Nita yang baginya sampai ke level ‘gila’.Agus masih berdiri kaku bagai patung selamat datang. Matanya lurus menatap angka lantai yang terus bergerak naik.“Kok diem?” Nita bersuara, memecah sunyi. Wanita itu bersandar di dinding lift, menatap pantulan Agus di panel pintu. “Tadi di bawah kayaknya semangat banget mau antri.”Agus terbatuk keras, tersedak napasnya sendiri.“A-anu … ini saya lagi fokus Mbak. Fokus menghitung … budget.”Nita tertawa kecil. Tawa yang kali ini terdengar dingin. Ting! Pintu lift terbuka di lantai dua belas.Nita melangkah keluar, menarik tangan Agus meny
Lampu flash kamera yang berkedip bagai pemicu bagi tatapan seluruh orang-orang untuk tertuju pada Agus—pria berkulit gelap yang kini memperbaiki posisi kacamatanya dengan tangan gemetar. Nita, dan juga pria beraura mewah yang berada beberapa meter di depan Agus kini menatap Agus dengan alis bertaut penuh tanya. “Kamu duluan.” ucap Nita pada pria itu sebelum kakinya melangkah cepat menghampiri Agus. Sang pria pun pergi, setelah sempat melayangkan tatapan sinis pada Agus. Melihat Nita berjalan ke arahnya, Agus meneguk ludah. Pandangannya bergeser turun. ‘Mati aku.’ “Ngapain kamu di sini? Foto-foto saya sembarangan kayak gitu. Dikirim Dimas, kamu?” Agus yang panik menggoyangkan telapak tangannya. “Ng-nggak begitu, Mbak. Saya ini … terpesona sama Mbak Nita yang … anu … itu Mbak … ‘berisi’.” Jauh di sudut ruangan, terdengar suara Jimmy yang hampir menyemburkan tawa. “Ja-jadi … saya ke sini ngikutin Mbak Nita ini … memang karena mau … anu Mbak. Mau … antri.” Nita mengernyit
Setelah melalui pemeriksaan di pintu masuk hotel, Agus melangkah tenang masuk ke area lobby. Tampak di depan meja front office, Nita dan pasangannya sedang melakukan cek in.Agus meneguk ludah keras-keras sebelum kemudian berjalan tenang ke dinding di samping meja resepsionis. Pria berkacamata itu berusaha menghampiri sudut yang mudah terlihat seperti sedang mengawasi area meja secara alami.Begitu Agus bersandar ke dinding, sayangnya, Nita dan pasangannya berbalik karena sudah selesai cek in. “Waduh! Malah pergi.” Agus menutup mulutnya panik. Gegas dia mengeluarkan ponsel dan menekan tombol untuk melakukan panggilan ke nomor Jimmy.“Koh, dia masuk ke dalam lift!” Agus memanjangkan leher, melihat Nita baru saja menghilang ke dalam ruang lift.“Yah, nggak gercep sih lo. Ya udah gue ke situ.” Jimmy menutup panggilan. Agus menatap ponselnya sebentar, lalu memeluk benda itu erat-erat. Mulutnya mengerucut, mengekspresikan rasa kecewa atas kegagalannya.Begitu Jimmy masuk ke lobby hotel,
“Woy.” Dimas tersentak. “Malah bengong. Dari mana lo? Keringetan banget begitu, abis dikejar setan?” Jimmy mendekat hingga kini berdiri persis di depan Dimas. Dimas berdehem kecil, mencoba mengenyahkan gugup yang mencekik, “Dari bawah, habis naik turun tangga, tadi … kunci laci gue kayaknya ja
Aroma gurih sup ayam mengudara, tercium samar di antara aroma tanah yang tersapu hujan.“Mbak Karina masak nih. Hujan-hujan seperti ini dibarengi wangi kaldu ayam, duh …” Agus menjilat bibir, kepalanya digelengkan sembari jakunnya naik turun.Tiba-tiba, sosok yang dibicarakan muncul dari tangga bel
Setelah satu minggu berlalu, Dimas akhirnya mulai menyesuaikan diri dengan ritme kerja di malam hari, dan tidur di siang hari. Sambil menatap bayangan diri pada cermin besar yang menyatu dengan lemari pakaian, Dimas memasukkan lengan ke dalam jaket berkerah andalannya. Malam ini, sesuai janji, Di
“Kamu nggak perlu bertanggung jawab menikahiku kalau kamu nggak mau.” Gemuruh di dada Dimas terasa memuncak. Dia bergerak maju mendaratkan bibirnya di bibir Karina. Ciuman itu dalam, lembut, tenang, namun di sana, Dimas ingin menunjukkan. Perasaannya pada Karina bukan hal yang bisa diremehkan.







