Mag-log inMaira hanya diam menatap pemandangan Ibu kota yang begitu cerah nan bising. Selama tinggal di Singapura dia tak pernah merasakan sesepi ini karena ada Nathan. Namun, semuanya berubah saat pria yang begitu dia percaya ternyata meminta mengakhiri hubungannya secara sepihak.
“Selamat pagi,” sapa Devan sembari membawakan kopi dan sandwich ke atas mejanya. “Kamu pasti belum makan, jadi aku beli sarapan untukmu.” “Terima kasih, jadi berapa totalnya?” Seketika raut wajah Devan berubah. “Apa aku terlihat seperti pengemis? Aku memberikan ini untukmu karena buy one get one.” “Oh, terima kasih. Tapi kamu nggak perlu repot-repot seperti ini.” “Sama sekali nggak merepotkan,” tuturnya sambil menggeser kursi. “Aku dengar dulu kamu juga bekerja sebagai sekretaris di perusahaan besar?” “Hm,” jawab Maira singkat sambil menikmati sandwichnya. “Apa kamu sudah punya pacar?” Seketika Maira tersedak makanannya, dia lalu meraih botol minumannya— menelan habis sisa makanan yang ada di mulutnya. “Kenapa kamu terus bertanya soal pacar, penasaran sekali dengan kehidupan pribadiku?” Devan menyandarkan punggungnya di kursi. “Aku hanya memastikan kalau wanita yang aku incar belum ada yang punya. Sepertinya aku menyukaimu.” Maira tertawa terbahak-bahak. “Sayangnya aku nggak tertarik sama kamu.” "Benarkah, memangnya kamu suka pria yang seperti apa?" Maira terdiam sejenak, dibenaknya hanya ada Nathan dan dia masih berharap bisa kembali dengan mantan kekasihnya itu. Ya, meskipun dia harus berpura-pura tak menginginkan dia. "Nggak ada kriteria khusus, aku hanya suka pria yang membuat jantungku berdegup kencang." Sesaat keduanya saling memandang sebelum akhirnya perlahan Devan mendekatkan wajahnya ke wajah Maira. Hangatnya nafas Devan bisa Maira rasakan, tapi sama sekali tak ada getaran di dadanya. "Gimana, apa jantungmu berdegup kencang?" "Nafasmu terlalu dekat." Seketika Devan bungkam mendengar penuturan Maira yang cukup menusuk hatinya. Tanpa mereka sadari ada sepasang mata sedang memperhatikan interaksi keduanya. “Ehm, bukannya sudah waktunya kerja?” Devan mendongak, mendapati Nathan yang sedang berdiri di depan meja Maira. “Nanti siang kita makan bareng ya,” bisik Devan beranjak dari kursinya— berlalu meninggalkan mereka berdua. Maira pun mengabaikan Nathan dan memilih sibuk dengan sarapannya. “Antarkan berkas yang harus aku tandatangani,” ucapnya. “Semua berkas yang harus ditandatangani sudah aku siapkan di meja dan hari ini tidak ada jadwal apapun.” Nathan hanya diam memandangi Maira yang tak sedikit pun mengangkat kepalanya. “Tak bisakah kamu bersikap profesional?” “Apa?” tanya Maira reflek mengangkat kepalanya. “Aku harap kamu mengenyampingkan masa lalu kita, di sini aku atasanmu jadi kamu harus menghormatiku.” Sesaat Maira tertegun mendengar ucapan Nathan. Dia sadar betul menghindari Nathan hanya untuk menjaga harga dirinya. Pria itu pun masuk ke dalam ruangannya membuat selera makan Maira hilang seketika. Kali ini matanya pun fokus ke pesan yang baru saja masuk. [Papa : Nanti sore ada acara makan bersama dengan keluarga Mama Mila. Papa harap kamu datang.] Maira hanya menghela nafasnya, dia tak berniat membalas pesan dari Papanya hingga akhirnya pesan pun kembali masuk. [Ingat, kalau kamu nggak datang Papa akan memberikan warisanmu untuk Mila.] Ancaman demi ancaman yang selalu Maira terima dari Toni. Dia tahu betul kelemahannya hingga membuat Maira tak bisa berkutik. [Aku usahakan untuk datang.] Tulisnya lalu mengabaikan pesan yang masuk ke ponselnya. Ini kali pertama dia bertemu dengan keluarga ibu tirinya. Maira yakin mantan kekasihnya pun akan ikut datang ke acara itu. *** Sore harinya, Devan sudah berdiri di depan meja seolah menunggu Maira pulang atau mungkin dia sudah tahu kalau dia akan hadir ke acara keluarga mereka. “Ini sudah jam 5, waktunya pulang.” “Pekerjaanku belum selesai,” kilah Maira. Tak lama pintu ruangan Nathan pun terbuka. “Hari ini ada acara keluarga, apa kamu ikut?” tanya Devan menghentikan langkan Nathan. “Ak-” “Aku sudah selesai,” tutur Maira beranjak dari kursinya. Dia berjalan lebih dulu lalu sedikit membungkuk saat melewati Nathan. “Maira, tunggu. Gimana kalau kamu naik mobilku saja?” “Aku bawa mobil sendiri.” Ketiganya masuk ke dalam lift yang sama. Nathan terus memperhatikan interaksi Maira dan juga Devan melalui pantulan dinding. Keduanya terlihat asyik berbincang seolah tak menganggapnya ada. “Kamu langsung ke rumah Nenek atau mau jemput tunanganmu?” Nathan sedikit melirik ke arah Maira yang masih fokus ke ponselnya. “Aku datang sendiri.” “Kenapa? Bukannya kamu dan Selly akan segera menikah?” Nathan pun bungkam, dia tak berani menjawab ucapan Devan. Hingga pintu lift terbuka, Maira hanya diam seolah tak mendengar pembicaraan mereka. “Maira, kita ke rumah Nenek sama-sama, kamu kan belum tau rumah Nenek?” desak Devan mengikuti Maira ke mobilnya. “Aku bisa sendiri.” Maira pun masuk ke dalam mobilnya. Pikirannya terus berputar memikirkan tentang kandasnya hubungan dirinya dan juga Nathan. “Jadi dia memutuskan hubungan kita karena wanita lain?” Maira pun tertawa terbahak-bahak, dia tak menyangka jika Nathan memutuskan hubungan mereka karena wanita lain. “Brengsek, ternyata dia hanya mempermainkan perasaanku."Tumpukan kertas memenuhi meja kerja Maira. Dia terus mengamati setiap dokumen yang ada di mejanya hingga tak sadar seseorang berdiri tepat di depan pintu ruangannya.“Sepertinya kamu sangat sibuk,” tutur Mila berjalan ke arah Maira.Wanita itu pun bergegas menutup dokumennya— menatap tajam ke arah ibu tirinya itu.Dengan santainya Mila duduk di kursi sambil menyilangkan kakinya.“Untuk apa kamu datang ke sini?” tanya Maira ketus.“Sepertinya kamu sudah tahu maksud dan tujuan aku datang ke sini. Bukannya Mas Toni dan Nathan sudah bicara denganmu?”Maira berdecak, sedikit menggeser kursinya. “Apa ini tentang kehamilan Selly?”Mila tak mengangguk atau menjawab ucapan Maira.Wanita itu pun beranjak dari kursinya— menyalakan pematik ke rokok yang terselip dibibirnya.“Apa kamu yakin itu anak Nathan?” tanya Maira tanpa menoleh.“Iya, aku sangat yakin itu anak Nathan. Perlu kamu ingat, Nathan dan Selly itu tinggal serumah.”“Hm, aku tahu. Tapi, aku yakin Nathan nggak mungkin menyentuh Selly.
Setiap perkataan yang keluar dari mulut Toni seperti belati yang menusuk tepat di hatinya.Maira mengalihkan pandangannya. Uap panas dari nasi goreng di hadapannya seolah menyesakkan napasnya. Matanya terasa perih, tapi dia memaksa agar air mata itu tak jatuh di depan Toni.“Aku nggak bisa, Pa…” suaranya lirih, nyaris tenggelam oleh suara kendaraan yang lalu-lalang. “Aku nggak bisa melepaskan Nathan. Kenapa hanya aku yang selalu mengalah?”Toni tak langsung menjawab. Pria itu menarik kursinya lebih dekat, menatap putrinya dengan sorot mata penuh penyesalan—penyesalan karena tak selalu ada di sisi Maira ketika luka-luka itu tercipta.“Maaf Maira, Papa tahu kamu sangat mencintai Nathan,” ucapnya pelan. “Dan karena itu Papa nggak mau kamu terus bertahan di tempat yang cuma menguras hatimu. Di sini hanya kamu yang akan dibuang oleh keadaan.”Maira tersenyum pahit. “Aku bisa melewati semuanya dengan Nathan, Pa.”“Kalau kamu bertahan,” Toni menimpali, “kamu kehilangan dirimu sendiri.”Kalim
Kabar kehamilan Selly menyebar secepat kilat. Maira yang tak ikut berkumpul di acara keluarga pun tahu tentang kabar tersebut dan membuatnya kesal setengah mati ke Nathan.“Sial, dia benar-benar menyentuh wanita itu,” gumam Maira.Kakinya tak bisa berhenti, mondar-mandir di balkon menampakkan kegelisahannya.Beberapa kali jemari Maira mengetik— mencoba mengirimkan pesan ke Nathan, tapi setelah siap dikirim dihapusnya begitu saja.Status Mila di aplikasi hijau cukup membuat Maira kesal karena ibu tirinya itu menuliskan kata-kata selamat untuk kehamilan Selly.Tak lama Maira mendengar suara bel berbunyi. Seketika rasa kesalnya mereda, dia yakin Nathan tak akan menghamili Selly.Namun, saat Maira membuka pintu, dia terkejut karena yang berdiri disana bukanlah Nathan melainkan Toni.“Papa,” ucapnya.“Bisa kita bicara?”Perlahan Maira membuka pintunya dengan lebar.“Kita bicara di luar saja. Papa sudah lama nggak pernah jalan bareng sama kamu,” ungkapnya sembari menyunggingkan tersenyum.
Rumah keluarga besar itu tiba-tiba seperti medan perang tanpa suara. Semua orang berkumpul di ruang tamu. Paras tegang, saling berbisik, dan menatap Nathan dengan campuran marah, kecewa, serta tidak percaya.Di tengah ruangan, Nathan berdiri tegak.Terlihat jelas dia sudah siap diserang dari segala arah.Sementara Selly hanya diam, duduk di ujung kursi. Dia tahu kekacauan ini pasti ulah Selly, ternyata dia bergerak lebih cepat sebelum Nathan sendiri yang mengumumkan batalnya pertunangan mereka.“Apa kamu serius membatalkan pertunangan kalian?” tanya Adam meyakinkan diri jika calon menantunya itu benar-benar membatalkan pertunangan mereka.“Iya,” jawab Nathan datar.Hal itu memicu reaksi dari keluarga kedua belah pihak.“Jadi benar kalau kamu selingkuh dengan wanita lain?” selidik Adam.Nathan tak bergeming hingga suara lantang Mila mengalihkan perhatian mereka.“Nathan, apa yang kamu pikirkan?!” serunya.“Kamu bukan hanya membatalkan pertunangan, kamu mempermalukan keluarga kita di de
Lantunan musik terdengar begitu melow membuat suasana hati Selly semakin tak karuan.Wanita cantik itu pun meraih minuman yang ada di depannya— meneguk, membasahi kerongkongannya yang terasa kering.“Sudah lama menunggu,” ucap Mila menarik kursi yang ada di depan Selly “Ah, baru tiga puluh menit yang lalu,” jelasnya dengan sedikit senyuman.Mila mengangkat tangannya untuk memanggil staf yang berjaga sementara Selly terlihat begitu gugup berhadapan dengan calon kakak iparnya itu.“Kamu nggak pesan makanan?” tanya Mila.“Aku masih kenyang,” jawabnya menolak dengan lembut.Mila kembali fokus ke pembicaraan setelah memesan makanan.“Jadi, apa keputusanmu?”Mata Selly tak berkedip menatap Mila. “Aku akan mempertahankan Nathan.”Mila berdecak lalu berkata, “Apa kamu yakin? Nathan itu nggak pernah ingkar akan ucapannya, sekali dia menolakmu, selamanya dia nggak akan pernah membuka hati untukmu.”“Karena itu aku membutuhkanmu, Mbak.”Sudut bibir Mila terangkat.“Hubungan Nathan dan Maira itu
Suasana terasa dingin, kini hanya tersisa Nathan dan Ami di meja makan.Namun, sedetik kemudian wanita paruh baya itu pun beranjak dari kursinya.“Ma …,” panggil Nathan.Wanita itu diam sesaat sebelum akhirnya berbalik menatap wajah putra kesayangannya.“Kamu sudah tahu konsekuensinya bukan?” tanyanya menatap tegas Nathan.“Iya, aku sudah mempertimbangkan semuanya dan aku juga sudah yakin dengan keputusanku.”“Lalu bagaimana dengan Maira, apa dia sudah berbicara dengan Toni? Ah … melihat keterkejutan Mila, Mama yakin dia masih belum memberitahu keluarganya,” sambung Ami.“Aku sendiri yang akan bicara dengan Mas Toni,” ungkap Nathan penuh keyakinan.Ami berdecak seraya kembali berjalan meninggalkan Nathan. “Ma, Mama percaya sama pilihanku bukan?” rengek Nathan. Sudah sekian lama anak yang Ami pikir sudah dewasa ternyata masih menyusahkannya.“Kamu tahu kan seperti apa dulu Mila memaksa Mama menyetujui pernikahannya dengan Toni. Dia kaya, bahkan setara dengan keluarga kita tapi status







