LOGINMaira Catrina Mawardi tak menyangka jika pria yang dia kencani selama tiga tahun itu Om-nya sendiri. Meski begitu, Maira tak ingin melepaskan Nathan Arkana Prasetyo begitu saja karena dia sudah mengkhianatinya saat masih bersama. Akankah Maira mampu membalaskan dendamnya atau dia kembali menjalin hubungan dengan Om-nya sendiri?
View More“Kita putus.”
Maira diam terpaku menatap sosok pria yang sedang berdiri menatapnya. Entah berapa puluh kali dia meminta putus dengan berbagai alasan dan kini terulang lagi. “Kenapa lagi?” tanya Maira berusaha tetap tenang. “Aku bosan,” jawabnya enteng. “Hanya itu?” desaknya. Pria itu hanya mengedikkan kedua bahunya seolah menganggap semuanya itu mudah baginya. Wanita cantik bermata coklat itu pun menyeka rambutnya dan mulai frustasi. “Kenapa kamu mudah sekali mengatakan kata putus. Hanya karena bosan kamu membuangku?” “Iya, aku bosan memiliki hubungan dengan wanita yang kekanak-kanakan.” “Apa?” wanita itu pun berdecak tak percaya. “Kekanakan ... yang benar saja selama ini aku yang mengimbangi sikap egoismu itu. Aku yang selalu meminta maaf lebih dulu padahal kamu yang salah.” “Lihat kamu mengungkit semuanya. Apa kamu pikir aku bisa bertahan dengan wanita yang selalu mengoceh hanya karena hal-hal kecil. Kamu selalu marah kalau aku telat mengabari dan aku benci selalu mengikuti kemanapun kamu pergi. Wanita dewasa tak seperti itu Maira. Aku benar-benar sudah lelah dengan sikapmu itu jadi, kita putus saja.” Setelah mengatakan itu Nathan pun beranjak pergi meninggalkan Maira. “Tunggu, Nathan Arkana Prasetyo.” Langkahnya terhenti lalu berbalik. Sesaat keduanya saling bertatapan. “Setelah ini jangan pernah membujukku untuk kembali lagi.” “Nggak akan, aku pastikan ini yang terakhir dan aku nggak akan pernah menemuimu lagi.” Setelah mengatakan itu pria itu pun pergi. Maira hanya bisa diam memandangi punggung kekasihnya yang semakin lama menghilang. Baginya keputusan sepihak ini cukup membuatnya sakit hati, tanpa sebab dia di campakan begitu saja. “Sial, dia benar-benar pergi.” Dengan kasar Maira menyeka air matanya sambil mengejar pujaan hatinya. Sekuat tenaga dia berlari ke basement, tapi sayangnya Nathan sudah masuk ke dalam mobil. “Nathan, TUNGGU!” Tepat saat mobil Nathan berjalan melewatinya, Maira pun sengaja merentangkan tangannya mencoba menghalangi. “KELUAR … Aku bilang KELUAR!” Maira memukul kap mobil dengan kencang seolah meluapkan kekesalannya. Nathan pun keluar dari dalam mobil menghampiri Maira. “Nggak perlu berteriak!” hardik Nathan. “Beri aku alasan kenapa kamu memutuskan hubungan kita begitu saja?" "Nggak bisakah kamu bersikap dewasa Maira, aku sudah muak dengan hubungan kita. Hubungan ini sudah berakhir jadi berhentilah seolah kamu yang paling tersakiti.” “Apa? Dengar Nathan kalau kamu memutuskan aku karena hal lain mungkin aku bisa terima, tapi kamu memutuskan hubungan kita disaat semuanya baik-baik saja." “Cukup Maira! Aku sudah bosan dengan hubungan kita, lagi pula usiaku sudah nggak muda lagi aku nggak mau bermain-main denganmu.” “Bermain-main, apa kamu pikir selama ini hubungan kita hanya main-main?” “Iya, karena kamu tak pantas untuk dijadikan istri." "Istri ... bukannya kamu yang selalu mengalihkan pembicaraan saat kita membahas pernikahan?" "Karena aku nggak mau menikah sama wanita sepertimu!" Suara tamparan terdengar begitu nyaring hingga membuat tangan Maira terasa kebas. “Brengsek, setelah apa yang aku lakukan untukmu, kamu membuangku begitu saja? Aku bersumpah kamu tak akan pernah bahagia dengan wanita manapun.” Tangan Maira terkepal dengan kuat. Setelah meluapkan emosinya Maira pun kembali masuk ke dalam apartemen tanpa menoleh sedikitpun. Sementara itu, Nathan masih diam berdiri di depan mobilnya seolah menenangkan pikirannya. *** Maira Catrina Mawardi terlahir sebagai anak tunggal dari keluarga Mawardi. Namun, sejak ibunya meninggal dan papanya menikah dengan wanita yang usianya tak beda jauh dengannya, Maira pun memilih kabur ke Singapura karena tak setuju dengan keputusan papanya itu. Namun, disinilah Maira sekarang, berdiri menatap rumah yang belum pernah dia datangi setelah ibu tirinya itu mengabari bahwa sang ayah kecelakaan. Meski awalnya enggan, akhirnya Maira memilih kembali ke Indonesia dan meninggalkan pekerjaan serta mimpinya di negeri orang. “Maira.” Suara wanita terdengar memanggil namanya. Dia pun berbalik, betapa terkejutnya Maira saat mendapati Mila yang tak lain ibu tirinya sedang berjalan ke arahnya. “Sial,” desisnya. “Terima kasih kamu sudah datang. Ayo masuk, Papamu ada di dalam.” Dengan kasar Maira menepis tangan wanita itu lalu masuk ke dalam rumah untuk menemui Papanya. Namun, keadaannya tak seperti yang dia bayangkan. “Kamu datang Maira, Papa sangat merindukanmu, Nak!” Pria paruh baya itu pun berlari ke hadapan Maira lalu memeluknya dengan erat. “Sepertinya kecelakaan itu hanya omong kosong belaka,” tutur Maira enggan membalas pelukan pria itu. Perlahan pria itu pun melepaskan pelukannya. “Papa benar-benar kecelakaan, tapi hanya luka ringan. Kenapa, apa kamu menyesal sudah datang ke sini?” Maira hanya berdecak lalu menepis tangan Toni Mawardi yang tak lain papanya itu. “Ehm, Papa memintamu datang karena Papa rindu sama kamu Maira. Apa Papa harus mati dulu agar kamu pulang menemui Papa?” Maira menghela napasnya, jujur sebenarnya dia sangat merindukan papanya. Namun, Maira harus menahan rasa itu karena tak suka dengan ibu tirinya. "Karena Papa baik-baik saja, sebaiknya aku pulang." “Tunggu dulu, ada yang ingin Papa bicarakan. Ikut Papa!” Maira pun berjalan mengikuti langkah Toni ke ruang kerjanya. "Tutup pintunya, Papa ingin bicara empat mata denganmu." Maira pun menurut lalu menghampiri meja kerja Toni. Di atas meja sudah ada berkas yang di simpan di sana. “Papa sudah mengalihkan semua saham atas nama kamu, jadi tetaplah disini dan urus semua perusahaan Papa. Untuk itu Papa ingin kamu belajar berbisnis dengan Om-mu.” Maira mengerutkan dahinya selama ini dia tak memiliki Om karena Papanya anak tunggal sama seperti dirinya, bahkan almarhum ibunya pun tak memiliki saudara. “Om?” “Iya, dia adik Mama Mila.” Argh sial, mendengar namanya disebut membuat Maira kesal. “Nggak usah, aku bisa sendiri.” “Kalau kamu nggak mau terpaksa Papa akan mengalihkan perusahaan atas nama Mamamu.” “Ap-apa? Yang benar saja, hanya masalah sepele seperti ini Papa ingin mengganti namaku dengan nama rubah betina itu!” “Suuuttt ... pelankan suaramu, dia bukan rubah betina tapi MAMA barumu. Pikirkan baik-baik, Papa yakin kamu akan setuju dengan keputusan Papa,” ucap Toni seolah mengerti apa yang ada di pikiran Maira. Toni yakin putrinya tak akan setuju jika semua aset miliknya atas nama istri barunya. “Oh ya, hari ini Om-mu akan datang atau mungkin dia sudah datang,” sambungnya melihat jam tangan. “Secepat ini?” tanya Maira terkejut. “Iya, Papa sudah mengatur pertemuan kalian. Bukankah lebih cepat lebih baik agar kamu segera mengurus perusahaan ini.” "Pah, aku—" Suara ketukan pintu mengalihkan perhatian keduanya. "Permisi Sayang.” Wajah Mila menyembul dari celah pintu. “Nathan sudah datang." Nathan, mendengar namanya sedikit membuat Maira tertegun sesaat "Baiklah, aku segera turun." Mata Toni kini beralih ke Maira. "Ayo, turun." Mau tidak mau dia harus mengikuti kemauan papanya dari pada kehilangan segalanya. "Bersikap baiklah, Papa tak mau namamu jelek di depan keluarga Mila." Maira hanya diam tak peduli dengan ucapan Toni karena selama ini dia membenci ibu tirinya itu. "Selamat datang Nathan." Langkah Maira terhenti, matanya pun fokus ke sosok yang tak asing baginya. "Nathan?"Tumpukan kertas memenuhi meja kerja Maira. Dia terus mengamati setiap dokumen yang ada di mejanya hingga tak sadar seseorang berdiri tepat di depan pintu ruangannya.“Sepertinya kamu sangat sibuk,” tutur Mila berjalan ke arah Maira.Wanita itu pun bergegas menutup dokumennya— menatap tajam ke arah ibu tirinya itu.Dengan santainya Mila duduk di kursi sambil menyilangkan kakinya.“Untuk apa kamu datang ke sini?” tanya Maira ketus.“Sepertinya kamu sudah tahu maksud dan tujuan aku datang ke sini. Bukannya Mas Toni dan Nathan sudah bicara denganmu?”Maira berdecak, sedikit menggeser kursinya. “Apa ini tentang kehamilan Selly?”Mila tak mengangguk atau menjawab ucapan Maira.Wanita itu pun beranjak dari kursinya— menyalakan pematik ke rokok yang terselip dibibirnya.“Apa kamu yakin itu anak Nathan?” tanya Maira tanpa menoleh.“Iya, aku sangat yakin itu anak Nathan. Perlu kamu ingat, Nathan dan Selly itu tinggal serumah.”“Hm, aku tahu. Tapi, aku yakin Nathan nggak mungkin menyentuh Selly.
Setiap perkataan yang keluar dari mulut Toni seperti belati yang menusuk tepat di hatinya.Maira mengalihkan pandangannya. Uap panas dari nasi goreng di hadapannya seolah menyesakkan napasnya. Matanya terasa perih, tapi dia memaksa agar air mata itu tak jatuh di depan Toni.“Aku nggak bisa, Pa…” suaranya lirih, nyaris tenggelam oleh suara kendaraan yang lalu-lalang. “Aku nggak bisa melepaskan Nathan. Kenapa hanya aku yang selalu mengalah?”Toni tak langsung menjawab. Pria itu menarik kursinya lebih dekat, menatap putrinya dengan sorot mata penuh penyesalan—penyesalan karena tak selalu ada di sisi Maira ketika luka-luka itu tercipta.“Maaf Maira, Papa tahu kamu sangat mencintai Nathan,” ucapnya pelan. “Dan karena itu Papa nggak mau kamu terus bertahan di tempat yang cuma menguras hatimu. Di sini hanya kamu yang akan dibuang oleh keadaan.”Maira tersenyum pahit. “Aku bisa melewati semuanya dengan Nathan, Pa.”“Kalau kamu bertahan,” Toni menimpali, “kamu kehilangan dirimu sendiri.”Kalim
Kabar kehamilan Selly menyebar secepat kilat. Maira yang tak ikut berkumpul di acara keluarga pun tahu tentang kabar tersebut dan membuatnya kesal setengah mati ke Nathan.“Sial, dia benar-benar menyentuh wanita itu,” gumam Maira.Kakinya tak bisa berhenti, mondar-mandir di balkon menampakkan kegelisahannya.Beberapa kali jemari Maira mengetik— mencoba mengirimkan pesan ke Nathan, tapi setelah siap dikirim dihapusnya begitu saja.Status Mila di aplikasi hijau cukup membuat Maira kesal karena ibu tirinya itu menuliskan kata-kata selamat untuk kehamilan Selly.Tak lama Maira mendengar suara bel berbunyi. Seketika rasa kesalnya mereda, dia yakin Nathan tak akan menghamili Selly.Namun, saat Maira membuka pintu, dia terkejut karena yang berdiri disana bukanlah Nathan melainkan Toni.“Papa,” ucapnya.“Bisa kita bicara?”Perlahan Maira membuka pintunya dengan lebar.“Kita bicara di luar saja. Papa sudah lama nggak pernah jalan bareng sama kamu,” ungkapnya sembari menyunggingkan tersenyum.
Rumah keluarga besar itu tiba-tiba seperti medan perang tanpa suara. Semua orang berkumpul di ruang tamu. Paras tegang, saling berbisik, dan menatap Nathan dengan campuran marah, kecewa, serta tidak percaya.Di tengah ruangan, Nathan berdiri tegak.Terlihat jelas dia sudah siap diserang dari segala arah.Sementara Selly hanya diam, duduk di ujung kursi. Dia tahu kekacauan ini pasti ulah Selly, ternyata dia bergerak lebih cepat sebelum Nathan sendiri yang mengumumkan batalnya pertunangan mereka.“Apa kamu serius membatalkan pertunangan kalian?” tanya Adam meyakinkan diri jika calon menantunya itu benar-benar membatalkan pertunangan mereka.“Iya,” jawab Nathan datar.Hal itu memicu reaksi dari keluarga kedua belah pihak.“Jadi benar kalau kamu selingkuh dengan wanita lain?” selidik Adam.Nathan tak bergeming hingga suara lantang Mila mengalihkan perhatian mereka.“Nathan, apa yang kamu pikirkan?!” serunya.“Kamu bukan hanya membatalkan pertunangan, kamu mempermalukan keluarga kita di de






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews