LOGINRaga kembali ke rumah Tante Maya dengan pikiran masih penuh. Ia langsung masuk kamar dan mandi, membiarkan air mengalir agak lama seolah ingin menurunkan sisa tegang di kepalanya. Setelah itu, ia berganti baju dengan gerakan santai. Saat sedang merapikan kausnya, terdengar suara pintu rumah terbuka. Raga keluar kamar dan mendapati Laura baru saja masuk, masih membawa tas kecil di pundaknya. “Abis mandi, Ga?” tanya Laura sambil menutup pintu. “Iya. Kamu udah sarapan belum?” jawab Raga ringan. “Udah kok, tadi sama Cahya,” kata Laura, tersenyum. “Oh gitu. Bagus lah,” ucap Raga singkat. Laura melangkah lebih dekat. Senyumnya melebar, lalu ia berkata dengan nada santai yang terasa ganjil, “Enak ya, pagi-pagi keringetan terus langsung mandi.” Raga terdiam. Dadanya seperti ditekan halus oleh kalimat itu. “Maksud kamu?” tanyanya, menatap Laura. Laura berhenti tepat di depannya. Suaranya direndahkan, nyaris berbisik. “Pagi-pagi udah main di kamar Elistia,” ucapnya pelan. “K
Keesokan harinya, pagi itu halaman kosan masih basah sisa air semprot. Raga menyelesaikan sapuan terakhir, lalu menyandarkan sapu ke tembok dan melangkah masuk ke dapur. Ia berniat sekalian membersihkan lantai dapur sebelum aktivitas penghuni lain mulai ramai. Belum sempat mengambil lap pel, dari arah tangga terdengar langkah ringan. “Mas Ragaa…” suara Wulan terdengar memanjang, khas. Raga menoleh sambil mengangkat sedikit alisnya. “Iya, Lan. Kenapa?” Wulan turun sampai anak tangga terakhir, lalu berjalan ke dapur. Ia menarik kursi dan duduk, sikunya bertumpu di meja, wajahnya menghadap Raga dengan ekspresi ragu-ragu tapi santai. “Mas, nanti siang bisa anterin aku nggak?” tanyanya, nadanya dibuat ringan tapi matanya memperhatikan reaksi Raga. Raga menghentikan gerakannya sejenak, lap masih di tangannya. “Bisa,” jawabnya tanpa banyak pikir. “Emang mau ke mana kamu?” Wulan memiringkan kepala sedikit, jarinya mengetuk pelan permukaan meja. “Hmmm… aku ada urusan,” kata
Sekitar lima belas menit kemudian, pintu otomatis supermarket kembali terbuka. Vanya keluar membawa dua kantong belanjaan, langkahnya pelan. Dari kejauhan, raut wajahnya terlihat tidak tenang, seperti menyimpan rasa bersalah yang belum sempat ia ucapkan. Raga yang masih bersandar di motornya menoleh saat Vanya mendekat. Begitu tiba di samping Raga, Vanya langsung membuka suara, suaranya agak tertahan. “Jull… maafin aku ya,” ucapnya pelan. “Aku terpaksa.” Raga menatapnya sejenak. Ia menurunkan rokok dari bibir, melemparkannya ke aspal, lalu menginjaknya sampai padam. Setelah itu baru ia bicara, nadanya santai, nyaris tanpa beban. “Nggak apa-apa, Van,” katanya. “Santai aja.” Vanya tersenyum tipis, tapi jelas senyum itu dipaksakan. Tangannya mengeratkan pegangan kantong belanjaan. “Aku beneran ngerasa nggak enak, sama kamu.” katanya lagi. “Maaf ya.” Raga menghela napas pendek, lalu meraih helm dan mengenakannya. “Udah,” katanya singkat. “Nggak usah dipikirin.” Ia me
Saat tiba di supermarket, Raga memarkirkan motornya di area parkir depan. Vanya sudah lebih dulu turun dan langsung berjalan masuk tanpa menoleh ke belakang. Raga sempat memperhatikan punggung Vanya beberapa detik, lalu memilih tetap tinggal di luar. Ia merogoh saku jaketnya, mengeluarkan sebatang rokok, dan menjepitnya di bibir. “Ah, sial…” Tangannya berpindah dari satu saku ke saku lain. Korek tidak ada. Raga mendengus pelan, hampir saja rokok itu ia lepaskan. Tiba-tiba, dari arah samping, sebuah tangan menyodorkan korek yang sudah menyala tepat ke ujung rokoknya. Tanpa menoleh, Raga langsung menunduk sedikit dan menyalakan rokok itu. Ia menghisapnya sekali, dalam, baru kemudian menoleh ke arah pemilik tangan tersebut. Lucy berdiri di sampingnya. Wajah perempuan itu masih menyimpan sisa lebam di pipi dan pelipis, tidak terlalu parah, tapi cukup jelas bagi mata Raga. Raga menatapnya sekilas, lalu tersenyum singkat. “Kenapa muka kamu?” tanyanya santai. “Abis digebu
Setelah pagi yang menyisakan sisa hangat di udara, Raga keluar kamar lebih dulu. Ia mengenakan kaus tipis dan celana rumah, langsung menuju dapur tanpa banyak suara. Kompor dinyalakan pelan, wajan diletakkan, dan satu per satu nugget serta sosis masuk, disusul telur ceplok di sisi lain. Minyak mendesis pelan, memenuhi dapur dengan aroma sederhana yang akrab. Tak lama kemudian, Laura muncul. Rambutnya masih sedikit basah, ujungnya menempel di pundak. Ia menarik kursi meja makan dan duduk, menyandarkan dagu di telapak tangan. Pandangannya tak lepas dari punggung Raga yang sibuk di depan kompor. Beberapa detik berlalu sebelum Laura akhirnya membuka suara. “Kamu sadar nggak sih, Ga,” ucapnya pelan, nadanya santai tapi jelas, “akhir-akhir ini kamu kelihatan deket banget sama Wulan.” Raga menoleh sekilas tanpa menghentikan gerakan spatulanya. “Iya,” jawabnya ringan. “Aku tahu kok.” Ia membalik telur, lalu melirik Laura lagi. “Kenapa emangnya?” Laura tersenyum kecil.
Raga pulang ke rumah dalam keadaan sunyi. Ia langsung masuk kamar mandi, membiarkan air mengalir agak lama sebelum akhirnya keluar dengan rambut masih lembap dan kaus tipis menempel di punggungnya. Di dapur, ia menyiapkan kopi dengan tenang meski pikirannya sedang bercabang. Bubuk kopi masuk ke gelas, air panas disiram perlahan, sendok diaduk pelan sampai aroma pahit itu naik memenuhi ruangan. Raga membawa cangkir itu ke ruang tamu, lalu duduk di sofa. Ia menyalakan rokok, menghembuskan asap ke arah depan. Televisi di depannya mati, layar hitam itu memantulkan bayangan samar tubuhnya sendiri. “Benar dugaan gue,” gumam Raga pelan. “File itu udah di tangan Nyonya, untung aja gue udah suruh Indra minggat.” Raga kembali menghisap rokok, lalu meneguk kopi. Pahitnya tertinggal di lidah, membuatnya diam beberapa detik lebih lama dari biasanya. Punggungnya bersandar penuh ke sofa. Pandangannya turun ke lantai, lalu bergeser ke meja kecil di samping sofa. Di situ ponselnya tergel







