Masuk
Jam dinding menunjukkan pukul sebelas lewat sedikit. Kos putri berlantai dua itu sudah sunyi, hanya bunyi kipas angin yang berputar di ruang tengah. Semua pintu kamar tertutup rapat, seolah seluruh penghuni telah tenggelam dalam tidur.
Raga baru saja selesai mengepel lantai dapur dan membersihkan kamar mandi. Tangannya masih basah, aroma sabun pel masih menempel di hidungnya. Ia berencana mengecek keadaan mulai dari lantai bawah hingga ke lantai dua. Langkah kakinya tiba-tiba berhenti. Ada suara samar yang terdengar dari arah koridor lantai atas. Awalnya pelan, tapi cukup jelas untuk membuatnya menajamkan telinga. “Hmmm… jangan berhenti… Duh…” “Enak banget…” Suara desahan itu membuat dada Raga bergetar. Ia menoleh ke arah kamar nomor tiga. Itu kamar Maudy, mahasiswi dua puluh dua tahun yang baru sebulan lalu masuk kos. Ia berdiri terpaku di depan pintu, keringat dingin membasahi telapak tangannya. Raga tahu itu suara Maudy, tapi ada keanehan di sana—suara benda bergesekan pelan, seirama dengan Rintihannya. “Duh… lebih cepat… Hmmm…” “Ya Tuhan… aku nggak kuat…” Jantung Raga berdetak semakin cepat. Ia sadar Maudy sedang memuaskan dirinya sendiri. Sebagai pria, dorongan untuk tetap mendengar terasa begitu kuat, meski pikirannya berteriak bahwa ini salah. Tangannya sempat menyentuh gagang pintu, namun segera ditarik kembali. Malam yang tenang berubah panas, menjeratnya dalam situasi yang tak pernah ia bayangkan. Raga masih berdiri kaku di depan pintu itu. Napasnya berat, telinganya terus dipenuhi suara yang makin cepat dan panas. Setiap detik, tubuhnya terasa seperti ditarik lebih dekat. Rintihan Maudy semakin keras, terputus-putus di sela-sela helaan napasnya. Irama gesekan terdengar kian jelas, membuat imajinasi liar berkelebat di kepala Raga. Ia menutup mata, tapi justru bayangan itu semakin hidup. “… aku mau keluar… Hmmm… yaa…” “Astaga… rasanya… Duuuhh…” Raga menggigit bibirnya sendiri, mencoba menahan gelora yang mendesak dari dalam. Seandainya ada yang melihatnya sekarang, reputasinya sebagai penjaga kos bisa hancur seketika. Namun kakinya tak bisa bergerak meninggalkan tempat itu. Tiba-tiba, suara dari dalam kamar terhenti. Sunyi mendadak menggantung di koridor, membuat jantung Raga berdegup semakin kencang. Ia menelan ludah, bingung harus tetap diam atau segera pergi. Lalu terdengar bunyi klik dari arah gagang pintu. Raga terbelalak, tubuhnya kaku seolah tertangkap basah di tengah malam. Suara gagang pintu Maudy berhenti berputar, meninggalkan hening yang membuat Raga semakin tegang. Ia masih berdiri di sana, menimbang apakah harus segera kabur dari depan kamar. Namun langkah kaki dari bawah tangga lebih dulu memecah situasi. Seorang perempuan muncul dengan sandal rumah, rambut panjangnya terurai berantakan. Wulan, mahasiswi 22 tahun yang kamarnya tepat di sebelah Maudy. Matanya menyipit begitu melihat Raga berdiri kaku di lorong itu. “Mas Raga? Ngapain malam-malam di sini?” Raga tersentak, buru-buru menggaruk tengkuknya. “Aku… lagi ngecek keadaan kos aja. Biasanya aku keliling sebelum tidur.” Wulan melangkah lebih dekat, ekspresinya penuh curiga. “Jam segini? Emang gak capek?” Raga berusaha tetap tenang, meski wajahnya terasa memanas. “Aku udah biasa kok.” Belum sempat Wulan membalas, suara pintu berderit terbuka dari kamar sebelah. Maudy muncul dengan wajah merah padam, keringat masih menempel di pelipisnya. Tatapannya langsung tertuju pada Raga. “Mas… Raga?” Raga membeku di tempatnya, sementara Wulan menoleh dengan alis terangkat tinggi. Lorong itu mendadak sesak oleh keheningan dan tatapan yang saling bertubrukan. Lorong lantai dua itu jadi semakin tegang. Raga belum sempat menjawab tatapan Maudy, sementara Wulan berdiri di sampingnya dengan wajah penuh tanda tanya. Pintu kamar yang terbuka membuat udara dingin malam semakin menusuk. Maudy merapikan rambutnya cepat-cepat, berusaha menutupi wajahnya yang masih memerah. Suaranya bergetar ketika ia melangkah keluar. “Mas Raga… Wulan… lagi ngapain berdua diem di sini?” Wulan langsung melipat tangan di dada. “Nah, itu juga yang aku mau tanya. Tadi aku ketemu Mas Raga di depan kamarmu.” Raga menelan ludah, bingung harus menjawab apa. “Aku cuma… ya, lagi keliling ngecek keadaan kos. Terus Wulan muncul tiba-tiba.” Maudy memandang mereka bergantian, sorot matanya sulit ditebak. Bibirnya tersenyum tipis, tapi ada getaran aneh dalam senyuman itu. “Jam segini kalian ngobrol di depan kamarku? Kalian berdua ini… aneh banget.” Suasana mendadak terasa panas meski malam begitu dingin. Raga berdiri di antara dua penghuni kos yang kini sama-sama menatapnya, menunggu jawaban yang tidak pernah ia siapkan. Tatapan Maudy bertahan beberapa detik sebelum akhirnya ia menarik napas panjang. Dengan cepat ia berbalik, masuk kembali ke kamarnya tanpa berkata apa-apa lagi. Pintu tertutup perlahan, meninggalkan keheningan di lorong itu. Raga berdiri kaku, perasaan campur aduk berputar dalam kepalanya. Wajahnya masih panas, jantungnya tak juga tenang. Ia mencoba menghela napas dalam, tapi suara bisikan tiba-tiba membuatnya menoleh. “Mas Raga,” suara Wulan terdengar pelan tapi tegas. “Kali ini kamu utang budi sama aku.” Raga mengernyit, berusaha menyembunyikan keterkejutannya. “Maksudmu apa, Wulan?” Wulan mendekat, senyumnya tipis penuh arti. “Aku tahu kamu tadi nguping di kamar Maudy. Aku bisa aja langsung bilang ke dia barusan.” Raga tercekat, tenggorokannya kering. “Aku… bukan maksudnya begitu, aku cuma—” “Tenang aja,” potong Wulan, matanya berkilat nakal. “Aku nggak bakal ngadu. Tapi inget, berarti kamu punya hutang sama aku.” Raga tak bisa membalas, hanya diam menahan rasa bersalah bercampur waspada. Ia tahu Wulan bukan tipe gadis yang bicara tanpa maksud. Malam itu, di lorong sepi, ancaman halus itu menjeratnya lebih erat daripada suara desahan Maudy sebelumnya. Wulan berbalik dengan langkah ringan menuju kamarnya. “Selamat malam, Mas Raga. Jangan lupa… aku bakal tagih kapan-kapan.” Pintu kamar Wulan menutup rapat. Raga berdiri sendirian, napasnya terengah pelan, sadar malam pertamanya di kos putri baru saja membuka pintu pada masalah yang jauh lebih besar.Setelah pagi yang menyisakan sisa hangat di udara, Raga keluar kamar lebih dulu. Ia mengenakan kaus tipis dan celana rumah, langsung menuju dapur tanpa banyak suara. Kompor dinyalakan pelan, wajan diletakkan, dan satu per satu nugget serta sosis masuk, disusul telur ceplok di sisi lain. Minyak mendesis pelan, memenuhi dapur dengan aroma sederhana yang akrab. Tak lama kemudian, Laura muncul. Rambutnya masih sedikit basah, ujungnya menempel di pundak. Ia menarik kursi meja makan dan duduk, menyandarkan dagu di telapak tangan. Pandangannya tak lepas dari punggung Raga yang sibuk di depan kompor. Beberapa detik berlalu sebelum Laura akhirnya membuka suara. “Kamu sadar nggak sih, Ga,” ucapnya pelan, nadanya santai tapi jelas, “akhir-akhir ini kamu kelihatan deket banget sama Wulan.” Raga menoleh sekilas tanpa menghentikan gerakan spatulanya. “Iya,” jawabnya ringan. “Aku tahu kok.” Ia membalik telur, lalu melirik Laura lagi. “Kenapa emangnya?” Laura tersenyum kecil.
Raga pulang ke rumah dalam keadaan sunyi. Ia langsung masuk kamar mandi, membiarkan air mengalir agak lama sebelum akhirnya keluar dengan rambut masih lembap dan kaus tipis menempel di punggungnya. Di dapur, ia menyiapkan kopi dengan tenang meski pikirannya sedang bercabang. Bubuk kopi masuk ke gelas, air panas disiram perlahan, sendok diaduk pelan sampai aroma pahit itu naik memenuhi ruangan. Raga membawa cangkir itu ke ruang tamu, lalu duduk di sofa. Ia menyalakan rokok, menghembuskan asap ke arah depan. Televisi di depannya mati, layar hitam itu memantulkan bayangan samar tubuhnya sendiri. “Benar dugaan gue,” gumam Raga pelan. “File itu udah di tangan Nyonya, untung aja gue udah suruh Indra minggat.” Raga kembali menghisap rokok, lalu meneguk kopi. Pahitnya tertinggal di lidah, membuatnya diam beberapa detik lebih lama dari biasanya. Punggungnya bersandar penuh ke sofa. Pandangannya turun ke lantai, lalu bergeser ke meja kecil di samping sofa. Di situ ponselnya tergel
Siang itu udara di kosan terasa lebih panas dari biasanya. Raga duduk sendirian di saung, bersandar di tiang kayu sambil menatap halaman yang lengang. Suara kipas angin kecil di sudut saung berputar pelan, kalah oleh suara serangga siang hari. Ia menggeser posisi duduknya, satu kaki dinaikkan ke bangku, siku bertumpu di lutut. Matanya menyapu sekeliling kosan—gerbang, tangga bangunan lama, lalu bangunan baru—memastikan tak ada satu pun orang yang lalu-lalang. Setelah yakin keadaan aman, Raga merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponsel. Ia menatap layar beberapa detik sebelum akhirnya menekan satu nama kontak lama. Nada sambung terdengar. “Bro… apa kabar?” ucap Raga saat panggilan terangkat. Suaranya terdengar santai. Di seberang sana terdengar tarikan napas kaget. “Julian?” suara itu ragu, lalu meninggi. “Lo Julian, kan?” Raga sedikit menunduk, matanya masih awas menatap sekitar. “Iya,” katanya pelan. “Gue Julian.” Beberapa detik hening, lalu suara tawa meledak dari sebe
Hari Minggu pun tiba, siang itu udara dermaga terasa panas menyengat. Deru ombak kecil memukul tiang-tiang kayu, sementara bau asin laut bercampur solar kapal menusuk hidung. Mobil hitam Nyonya berhenti tak jauh dari bibir dermaga, mesin masih menyala, kaca gelap menutup pandangan dari luar. Nyonya duduk tenang di jok belakang, punggungnya tegak, satu tangan menopang dagu. Asap rokok keluar perlahan dari bibirnya, membentuk garis tipis sebelum lenyap tertiup angin laut. Di sampingnya, Vanya duduk kaku, kedua tangannya saling bertaut di pangkuan, pandangannya sesekali melirik ke kaca depan lalu kembali menunduk. Beberapa ajudan berdiri menyebar di sekitar mobil. Ada yang pura-pura memeriksa ponsel, ada yang menatap ujung dermaga dengan sorot waspada. Mata mereka menatap sekeliling dengan waspada, langkah kaki mereka jarang berpindah, tapi terlihat siap bergerak kapan saja. Nyonya memecah keheningan tanpa menoleh. “Vanya, nanti kamu diam saja,” ucapnya pelan namun tegas. Asap
Cahaya matahari pagi menyelinap lewat celah gorden kamar Raga, Raga mengerjapkan mata, merasakan beban hangat di dadanya yang ternyata adalah kepala Wulan yang bersandar nyaman. Saat Raga mencoba menggeser tubuhnya pelan untuk beranjak dari ranjang, pelukan Wulan justru semakin mengencang secara tiba-tiba. Wulan menggeliat kecil, kelopak matanya terbuka perlahan. Ia mengerucutkan bibirnya, menatap Raga dengan pandangan yang seolah melarang pria itu pergi selangkah pun dari jangkauan tangannya. "Mas... mau ke mana sih? Jangan bangun dulu kenapa, di sini aja temenin aku," rengek Wulan dengan suara serak-serak basah yang menggoda. "Udah siang, Lan. Nanti Laura nyariin kalau aku nggak ke Kosan," jawab Raga sambil mengelus pipi Wulan lembut. "Biarin aja, sebentar doang kok, gak sampe sejam." sahut Wulan sambil menarik leher Raga agar kembali berbaring di sampingnya. Raga akhirnya menyerah, ia kembali merebahkan tubuhnya dan membiarkan Wulan menindih sebagian tubuhnya dengan posis
Malam semakin larut ketika Marni memutuskan kembali ke kosan. Ia keluar dari rumah Tante Maya, menyusuri gang sempit dengan langkah santai. Raga sempat menawarkan untuk mengantar, tapi Marni menolak dengan alasan jaraknya dekat. Setibanya di gerbang kosan, Marni membuka lalu menguncinya kembali. Ia berjalan ke arah kiri, melewati deretan kamar lantai bawah, rambutnya masih sedikit lembap, tubuhnya terasa lebih ringan dari sebelumnya. Saat Marni tepat di depan kamar Elistia, pintu kamar itu tiba-tiba terbuka. Elistia berdiri bersandar di kusen pintu, segelas bir di tangan kiri dan sebatang rokok di tangan kanan. “Eh, Mar,” sapa Elistia sambil menyipitkan mata. “Kamu habis dari mana? Seger banget kayak abis berenang.” Marni terkejut sesaat, lalu tertawa kecil. “Eh, kamu Lis. Aku kira kamu udah tidur.” “Aku tadi numpang mandi di rumah Tante Maya.” Mendengar itu, ekspresi Elistia berubah sedikit serius. Ia menurunkan gelasnya. “Serius? Emang kamar mandi kamu kenapa?”







