Share

Kepingan Masalalu

Penulis: NomNom69
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-06 09:07:41

Tiba di kosan, suasana sudah sepi. Lampu lorong hanya menyala setengah, menambah kesan muram malam itu. Raga memapah Rahma perlahan menuju kamarnya di ujung koridor, memastikan gadis itu masih kuat berdiri.

Begitu sampai, Rahma berhenti di depan pintu dan menatap Raga dengan mata sayu.

“Mas… makasih ya, udah mau jemput aku,” ucapnya pelan.

“Iya, gak usah dipikirin lagi. Yang penting kamu istirahat dulu,” jawab Raga lembut.

Rahma menunduk, tangannya menggenggam gagang pintu erat.

“Mas, tolong jangan bilang siapa-siapa ya… termasuk Tante Maya. Aku gak mau orang lain tahu,” katanya, suaranya nyaris bergetar.

Raga mengangguk pelan.

“Aku janji, Rahma. Ini cukup antara kita aja.”

Rahma pun masuk ke kamarnya, menutup pintu perlahan. Raga berdiri sebentar di depan pintu itu, menarik napas panjang sebelum melangkah pergi.

Sesampainya di halaman, ia langsung menuju rumah utama untuk mengembalikan kunci mobil. Tante Maya tampak duduk di ruang tamu sambil memegang tablet.

“Eh,
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Godaan Penghuni Kos Puteri   Dibalik Rencana Carmella

    Setelah pagi yang menyisakan sisa hangat di udara, Raga keluar kamar lebih dulu. Ia mengenakan kaus tipis dan celana rumah, langsung menuju dapur tanpa banyak suara. Kompor dinyalakan pelan, wajan diletakkan, dan satu per satu nugget serta sosis masuk, disusul telur ceplok di sisi lain. Minyak mendesis pelan, memenuhi dapur dengan aroma sederhana yang akrab. Tak lama kemudian, Laura muncul. Rambutnya masih sedikit basah, ujungnya menempel di pundak. Ia menarik kursi meja makan dan duduk, menyandarkan dagu di telapak tangan. Pandangannya tak lepas dari punggung Raga yang sibuk di depan kompor. Beberapa detik berlalu sebelum Laura akhirnya membuka suara. “Kamu sadar nggak sih, Ga,” ucapnya pelan, nadanya santai tapi jelas, “akhir-akhir ini kamu kelihatan deket banget sama Wulan.” Raga menoleh sekilas tanpa menghentikan gerakan spatulanya. “Iya,” jawabnya ringan. “Aku tahu kok.” Ia membalik telur, lalu melirik Laura lagi. “Kenapa emangnya?” Laura tersenyum kecil.

  • Godaan Penghuni Kos Puteri   Apa Langkah selanjutnya dari Raga.

    Raga pulang ke rumah dalam keadaan sunyi. Ia langsung masuk kamar mandi, membiarkan air mengalir agak lama sebelum akhirnya keluar dengan rambut masih lembap dan kaus tipis menempel di punggungnya. Di dapur, ia menyiapkan kopi dengan tenang meski pikirannya sedang bercabang. Bubuk kopi masuk ke gelas, air panas disiram perlahan, sendok diaduk pelan sampai aroma pahit itu naik memenuhi ruangan. Raga membawa cangkir itu ke ruang tamu, lalu duduk di sofa. Ia menyalakan rokok, menghembuskan asap ke arah depan. Televisi di depannya mati, layar hitam itu memantulkan bayangan samar tubuhnya sendiri. “Benar dugaan gue,” gumam Raga pelan. “File itu udah di tangan Nyonya, untung aja gue udah suruh Indra minggat.” Raga kembali menghisap rokok, lalu meneguk kopi. Pahitnya tertinggal di lidah, membuatnya diam beberapa detik lebih lama dari biasanya. Punggungnya bersandar penuh ke sofa. Pandangannya turun ke lantai, lalu bergeser ke meja kecil di samping sofa. Di situ ponselnya tergel

  • Godaan Penghuni Kos Puteri   Raga mengambil Langkah

    Siang itu udara di kosan terasa lebih panas dari biasanya. Raga duduk sendirian di saung, bersandar di tiang kayu sambil menatap halaman yang lengang. Suara kipas angin kecil di sudut saung berputar pelan, kalah oleh suara serangga siang hari. Ia menggeser posisi duduknya, satu kaki dinaikkan ke bangku, siku bertumpu di lutut. Matanya menyapu sekeliling kosan—gerbang, tangga bangunan lama, lalu bangunan baru—memastikan tak ada satu pun orang yang lalu-lalang. Setelah yakin keadaan aman, Raga merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponsel. Ia menatap layar beberapa detik sebelum akhirnya menekan satu nama kontak lama. Nada sambung terdengar. “Bro… apa kabar?” ucap Raga saat panggilan terangkat. Suaranya terdengar santai. Di seberang sana terdengar tarikan napas kaget. “Julian?” suara itu ragu, lalu meninggi. “Lo Julian, kan?” Raga sedikit menunduk, matanya masih awas menatap sekitar. “Iya,” katanya pelan. “Gue Julian.” Beberapa detik hening, lalu suara tawa meledak dari sebe

  • Godaan Penghuni Kos Puteri   File yang di Incar x Paula x Carmella

    Hari Minggu pun tiba, siang itu udara dermaga terasa panas menyengat. Deru ombak kecil memukul tiang-tiang kayu, sementara bau asin laut bercampur solar kapal menusuk hidung. Mobil hitam Nyonya berhenti tak jauh dari bibir dermaga, mesin masih menyala, kaca gelap menutup pandangan dari luar. Nyonya duduk tenang di jok belakang, punggungnya tegak, satu tangan menopang dagu. Asap rokok keluar perlahan dari bibirnya, membentuk garis tipis sebelum lenyap tertiup angin laut. Di sampingnya, Vanya duduk kaku, kedua tangannya saling bertaut di pangkuan, pandangannya sesekali melirik ke kaca depan lalu kembali menunduk. Beberapa ajudan berdiri menyebar di sekitar mobil. Ada yang pura-pura memeriksa ponsel, ada yang menatap ujung dermaga dengan sorot waspada. Mata mereka menatap sekeliling dengan waspada, langkah kaki mereka jarang berpindah, tapi terlihat siap bergerak kapan saja. Nyonya memecah keheningan tanpa menoleh. “Vanya, nanti kamu diam saja,” ucapnya pelan namun tegas. Asap

  • Godaan Penghuni Kos Puteri   Kehangatan Pagi With Wulan x Kepulangan Vanya

    Cahaya matahari pagi menyelinap lewat celah gorden kamar Raga, Raga mengerjapkan mata, merasakan beban hangat di dadanya yang ternyata adalah kepala Wulan yang bersandar nyaman. Saat Raga mencoba menggeser tubuhnya pelan untuk beranjak dari ranjang, pelukan Wulan justru semakin mengencang secara tiba-tiba. Wulan menggeliat kecil, kelopak matanya terbuka perlahan. Ia mengerucutkan bibirnya, menatap Raga dengan pandangan yang seolah melarang pria itu pergi selangkah pun dari jangkauan tangannya. "Mas... mau ke mana sih? Jangan bangun dulu kenapa, di sini aja temenin aku," rengek Wulan dengan suara serak-serak basah yang menggoda. "Udah siang, Lan. Nanti Laura nyariin kalau aku nggak ke Kosan," jawab Raga sambil mengelus pipi Wulan lembut. "Biarin aja, sebentar doang kok, gak sampe sejam." sahut Wulan sambil menarik leher Raga agar kembali berbaring di sampingnya. Raga akhirnya menyerah, ia kembali merebahkan tubuhnya dan membiarkan Wulan menindih sebagian tubuhnya dengan posis

  • Godaan Penghuni Kos Puteri   Kecurigaan Wulan x Kondisi Lucy

    Malam semakin larut ketika Marni memutuskan kembali ke kosan. Ia keluar dari rumah Tante Maya, menyusuri gang sempit dengan langkah santai. Raga sempat menawarkan untuk mengantar, tapi Marni menolak dengan alasan jaraknya dekat. Setibanya di gerbang kosan, Marni membuka lalu menguncinya kembali. Ia berjalan ke arah kiri, melewati deretan kamar lantai bawah, rambutnya masih sedikit lembap, tubuhnya terasa lebih ringan dari sebelumnya. Saat Marni tepat di depan kamar Elistia, pintu kamar itu tiba-tiba terbuka. Elistia berdiri bersandar di kusen pintu, segelas bir di tangan kiri dan sebatang rokok di tangan kanan. “Eh, Mar,” sapa Elistia sambil menyipitkan mata. “Kamu habis dari mana? Seger banget kayak abis berenang.” Marni terkejut sesaat, lalu tertawa kecil. “Eh, kamu Lis. Aku kira kamu udah tidur.” “Aku tadi numpang mandi di rumah Tante Maya.” Mendengar itu, ekspresi Elistia berubah sedikit serius. Ia menurunkan gelasnya. “Serius? Emang kamar mandi kamu kenapa?”

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status