Share

Mencari Kebenaran

Author: NomNom69
last update Last Updated: 2025-10-18 21:21:39

Malam itu kosan sudah sepi, hanya suara jangkrik di halaman belakang.

Raga baru selesai mencuci ember dan menyapu lantai dapur.

Bajunya masih basah di bagian punggung karena keringat.

Ia berniat pulang sebentar ke rumah Tante Maya untuk mandi sebelum keluar.

Tangannya sibuk menaruh sapu ke sudut dapur, sementara pikirannya sudah melayang ke rencana malam ini.

Belum sempat melangkah ke pintu, suara lembut terdengar dari arah tangga.

“Mas Raga…”

Raga menoleh, melihat Rahma berdiri di sana sambil memegang pegangan tangga.

Rambutnya diikat seadanya, wajahnya bersih tanpa make up.

“Iya, kenapa, Rahma?” tanya Raga, suaranya datar tapi lembut.

Rahma melangkah pelan mendekat, sandal rumahnya menimbulkan bunyi kecil.

“Mas abis ini mau pergi, ya?”

Raga tersenyum, menyeka peluh di lehernya.

“Ehh, iya. Ada urusan dikit. Kok kamu tau?”

Rahma nyengir kecil.

“Hehe… biasanya jam segini Mas masih duduk di saung, tumben udah beberes.”

Raga terkekeh pelan sambil menunduk.

“Oalah, ketaua
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Godaan Penghuni Kos Puteri   Godaan Marni x Info Vanya

    Keesokan paginya, Raga sedang menyapu halaman rumah kos. Matahari belum tinggi, udara masih lembap, dan suara sapu lidi bergesekan dengan tanah terdengar pelan. Dari arah tangga bangunan baru, Marni muncul. Ia mengenakan daster tipis bermotif bunga, rambutnya masih terurai acak, seolah baru bangun tidur. “Pagi, Mas Raga,” sapa Marni sambil meregangkan badan sedikit lebih lama. Raga menoleh sekilas. “Pagi, Mbak.” Marni melangkah lebih dekat, berdiri tak sampai satu meter dari Raga. Tatapannya turun naik, memperhatikan lengan Raga yang tegang saat menyapu. “Rajin banget ya pagi-pagi udah bersih-bersih,” ucap Marni sambil tersenyum miring. “Biasa, Mbakk. Namanya juga kerja.” jawab Raga singkat, kembali fokus ke halaman. Marni terkekeh kecil. “Mas Raga tuh dingin banget. Bikin aku makin penasaran.” Raga berhenti menyapu sebentar, menoleh, menatap Marni datar. “Enggak lah, Mbak. Mbak belum sarapan?” Marni terdiam sepersekian detik, lalu tertawa kecil lagi. “Belu

  • Godaan Penghuni Kos Puteri   Menyelidiki Paula x Lucy

    Malam itu, jarum jam menunjukkan pukul sembilan tepat. Ia berdiri di dekat jendela, tirai setengah terbuka, rokok mati terjepit di antara jari tanpa sempat dinyalakan. Vanya menatap layar ponselnya beberapa detik sebelum akhirnya menekan tombol panggil. Nada sambung terdengar, lalu suara yang ia kenal menjawab dari seberang. “Ya, Van.” Vanya menarik napas pendek. “Nyonya,” katanya hati-hati. “Aku mau lapor soal file itu.” Di seberang sana, suara Nyonya terdengar tenang. “Lanjutkan.” Vanya melangkah mendekati kursi, lalu duduk. Punggungnya menegak, Matanya menatap ke arah jendela. “File itu sepertinya bukan di Julian,” ucapnya. “Saya dapat satu nama soal file itu dari Julian, yaitu Paula." Hening sejenak. Hanya terdengar bunyi sendok kecil menyentuh cangkir di seberang telepon. “Kamu yakin?” tanya Nyonya pelan. “Kamu gak lagi di bohongi sama Julian lagi kan, Van?" Vanya menutup mata sesaat, lalu membukanya kembali. Jarinya mengetuk ringanbatang rokok yang berada

  • Godaan Penghuni Kos Puteri   Mimpi Masalalu x Keterlibatan Paula

    Gang sempit di belakang restoran itu becek dan berbau sisa makanan. Dinding kusam mengelupas, genangan air hitam memantulkan cahaya lampu jalan yang redup. Di sana, seorang bocah kecil meringkuk, lututnya tertekuk, punggungnya menempel pada tembok dingin. Langkah sepatu berhenti tak jauh darinya. Seorang wanita muda berdiri di ujung gang, gaun elegannya terlihat sangat kontras dengan gang kumuh itu. Di belakangnya, seorang ajudan berdiri tegak, tubuhnya sedikit membungkuk penuh hormat. Wanita itu mencondongkan tubuh, tatapannya tertuju pada bocah di hadapannya. “Siapa namamu?” Julian mengangkat kepala perlahan. Matanya menyipit, wajahnya kotor, rambutnya kusut tak terurus. Ia menelan ludah, ragu untuk menjawab. “Sa-saya Julian…” Suaranya terdengar pelan dan ragu sekali. Wanita itu mengulurkan tangannya. Jari-jarinya bersih, kuku-kukunya terawat. Julian menatap tangan itu lama, terdiam, seolah takut mengotori tangan putih bersih itu. Julian mengulurkan tangannya denga

  • Godaan Penghuni Kos Puteri   Kebenaran di balik Foto

    Malam di kediaman Nyonya Besar. Lampu gantung di ruang makan memancarkan cahaya hangat, memantul di permukaan meja panjang yang tertata rapi. Aroma hidangan mewah masih mengepul tipis, bercampur dengan wangi anggur. Nyonya Besar duduk di ujung meja, punggungnya tegak, satu tangan memegang sendok perak. Gerakannya tenang, dan santai menikmati hidangan makan malam itu. Langkah sepatu terdengar mendekat. Lucy muncul di ambang ruang makan, jaketnya masih dikenakan, rambutnya sedikit berantakan seolah baru turun dari perjalanan panjang. Begitu melihat Lucy, Nyonya Besar menghentikan gerakan tangannya, lalu menoleh perlahan. “Sudah pulang kamu?” Nada suaranya lembut, hampir keibuan. “Sini duduk. Temani saya makan malam.” Lucy berjalan mendekat tanpa ragu. Ia menarik kursi di hadapan Nyonya Besar, lalu duduk. Tangannya langsung meraih piring yang terletak terbalik, membukanya, dan mulai menyendok nasi. Beberapa lauk mahal ikut ia ambil tanpa sungkan. “Saya lapar kali, Nyonya…

  • Godaan Penghuni Kos Puteri   Paula x Carmella si Nyonya Besar

    Sore itu saung terasa lebih hidup dari biasanya. Raga duduk santai di bangku kayu, satu kaki dinaikkan, rokok menyala di antara jarinya. Ningsih dan Cahya duduk berseberangan, sesekali tertawa kecil menanggapi obrolan ringan yang mengalir tanpa arah. Tiba-tiba dari sana muncul Elistia dan Marni. Marni melambaikan tangan lebih dulu, langkahnya ringan dan santai berjalan menuju saung. “Halo Mas Raga.. halo semua..” Raga, Cahya, dan Ningsih serempak menoleh. Raga menggeser duduknya, menepuk-nepuk abu rokok ke asbak kecil di lantai. “Eh Mbak.. Udah siap barangnya?” Sementara itu Elistia tidak langsung mendekat. Ia membelok ke samping saung, membuka pintu kamarnya, masuk sebentar hanya untuk meletakkan tas kerja dan melepas jaket. “Udah, Mas.. tapi masih di mobil elis..” jawab Marni sambil menunjuk ke arah gerbang. Raga langsung bangkit. Ia mematikan rokoknya, menekan puntungnya hingga padam, lalu berdiri tegak. “Yaudah aku bantuu.. bentar aku ambil kunci kamarnya

  • Godaan Penghuni Kos Puteri   Sebuah File, Paula

    Keesokan paginya, rumah megah milik Nyonya Besar. Meja makan panjang dari kayu gelap tertata rapi. Piring porselen, gelas kristal, dan serbet kain terlipat simetris. Nyonya Besar duduk tegak di ujung meja. Ia mengenakan pakaian rumah yang sederhana tapi jelas mahal. Rambutnya disanggul rapi. Sebuah koran pagi terbuka di samping piringnya. Ia menggigit roti lapis dengan gerakan tenang, mengunyah perlahan, menikmati sarapannya seperti biasa. Seorang ajudan melangkah mendekat dengan sikap hormat. Ia sedikit membungkuk, menyerahkan sebuah ponsel. “Ada telepon dari Vanya, Nyonya.” Nyonya Besar tidak langsung meraih ponsel itu. Ia tetap mengunyah, menyesap teh hangat, lalu tersenyum tipis, dan menoleh sedikit ke arah telepon itu. “Lucy.. sudah ku blg untuk tidak berkomunikasi dgn vanya..” gumamnya pelan. Baru setelah itu tangannya terulur. Jemarinya ramping, kuku terawat sempurna. Ia mengambil ponsel tersebut, menempelkannya ke telinga. “halo van, ada apa?” Dar

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status