Home / Romansa / Gairah Liar Sahabat Suamiku / 3. Perhatian yang Manis

Share

3. Perhatian yang Manis

Author: Lucyofheart
last update publish date: 2025-06-17 18:51:11

“Honey, maafkan aku pulang terlambat. Tadi ada kerjaan yang tak bisa di tinggal begitu saja, itu sangat mendadak Honey,” kata Dion menghampiri Zwetta yang menunggu di meja makan. Pria itu langsung saja mencium kening Zwetta dengan mesra dan Alan tersenyum melihat hal itu.

“Ya, aku tahu,” jawab Zwetta singkat, ia tidak mau berdebat dengan Dion saat ini. Lebih baik ia mengiyakan saja, karena jelas ia tahu alasan Dion apa. Selalu mengenai pekerjaan.

“Kalian sudah makan? Aku benar-benar terlambat, maafkan aku Alan tidak menyambut kedatanganmu,” kata Dion sambil duduk di samping istrinya itu.

“It’s okay, istrimu sudah menyambutku dengan sangat baik dan menemaniku,” ucap Alan dengan senyum mengembang sambil menatap Zwetta sehingga pandangan keduanya bertemu.

“Syukurlah, istriku emang selalu yang terbaik. Aku bersyukur memilikinya karena bisa di andalkan,” puji Dion sambil menatap Zwetta dengan mesra bahkan mencium punggung tangan Zwetta membuat Alan tertawa.

“Ya, kau benar. Ayo Dion makan, makananya sangat enak dan istrimu sangat pintar memilih makanan. Aku menyukainya,” puji Alan membuat Dion tertawa dan bangga.

Zwetta hanya diam saja ketika Dion sudah datang.

“Ya dia emang sangat pintar, makanya dia juga sukses di pekerjaannya,” puji Dion.

“Selain pintar, dia juga cantik. Andai saja aku juga punya kesempatan yang sama punya istri yang cantik seperti Zwetta pasti aku akan sangat bersyukur bukan? Kau sangat beruntung memilikinya,” puji Alan secara terang-terangan di depan Dion.

“Kau bisa saja.” Tawa Dion pecah, Zwetta menatap Alan dengan serius. “Nanti kau juga bisa mendapatkan istri seperti Zwetta, aku yakin itu. Kau lebih tampan dan pintar dariku, pasti sangat mudah mendapatkannya.” Alan tertawa sambil meminum wine yang sudah disediakan itu.

“Mungkin aku bisa mendapatkan yang pintar dan cantik juga, tapi tidak seperti Zwetta yang baik dan sangat mencintaimu bukan?” Perkataan Alan terkesan sangat ambigu di telinga Zwetta.

“Nanti kau bisa tanya pada istriku bagaimana mencari wanita sepertinya,” jawab Dion dengan tertawa.

Malam itu akhirnya dipenuhi dengan obrolan santai yang lebih di dominasi Dion dan Alan pastinya. Apalagi mereka juga sedikit membahas pekerjaan dan sedikit flashback tentang masa lalu mereka. Selesai makan, Zwetta memilih pamit undur diri dengan alasan mengerjakan pekerjaan.

“Aku pamit ke kamar, ada hal yang harus ku kerjakan.” Zwetta baru saja membereskan bekas makanan mereka sendirian.

“Baiklah, jangan terlalu kecapekan jaga kesehatanmu. Selamat malam Honey,” kata Dion sambil memeluk Zwetta dan bahkan mencium bibir sang istri di depan Alan.

Zwetta langsung saja mendorong Dion ketika berhasil menciumnya. Zwetta langsung saja naik ke atas meninggalkan kedua pria itu, pandangan Alan tak pernah lepas dari Zwetta sampai wanita itu menghilang dari pandangannya.

“Apa kau sangat menyukai istriku sehingga pandanganmu tak pernah terlepas sedikitpun darinya?” tanya Dion sambil tertawa membuat Alan tertawa.

“Sepertinya aku ketahuan. Zwetta memang perempuan yang menarik, kau sangat beruntung memilikinya.”

Dion tertawa dan merasa bangga.

Setelah ditinggal oleh Zwetta, Dion dan Alan kembali melanjutkan obrolan mereka. Begitu banyak hal yang mereka bahas sampai akhirnya lupa waktu. Dion kembali ke kamarnya dengan keadaan lampu yang sudah mati. Ia melihat jam sudah pukul dua pagi.

Zwetta istrinya sudah tertidur di atas tempat tidur. Dion langsung saja naik ke atas tempat tidur tanpa mengganti bajunya. Ia mendekati sang istri dan memeluk dari belakang.

Dion melingkarkan tangannya di perut sang istri dan mengecup beberapa kali ceruk leher sang istri. Alcohol sudah menguasai Dion, karena perbuatannya itu akhirnya membuat Zwetta terbangun dari tidurnya karena merasa terganggu. Zwetta marah karena perlakuan Dion itu dan mendorong Dion menjauhinya.

“Kau mabuk? Bahkan kau belum mengganti bajumu!” seru Zwetta dengan kesal saat sadar dengan pakaian Dion.

“Aku ingin memelukmu.” Racau Dion.

“Ganti bajumu kalau mau tidur di sini,” Ancam Zwetta sambil mendorong Dion.

Namun suaminya itu tidak mendengarkannya seberapa besar usahanya. Zwetta berdecak dan akhirnya memilih membiarkan Dion tidur di tempat tidur. Zwetta memilih tidur di sofa yang ada di dalam kamarnya. Karena Zwetta paling tidak suka dengan Dion yang tidur dengan keadaan yang belum bersih.

***

Zwetta terbangun dalam tidurnya dan merasakan pegal karena tidak nyaman tidur di sofa. Leher dan bahunya terasa sakit, lalu Zwetta melihat jam sudah pagi dan memilih untuk turun ke bawah. Ia menyiapkan sarapan seperti biasanya, roti dan kopi.

Zwetta sedikit bingung karena dapurnya sudah bersih, padahal semalam ia meninggalkan beberapa makanan yang belum habis. Yang ia yakini tidak di bersihkan oleh suaminya itu.

Namun Zwetta tak mau pusing dibuatnya, sambil menunggu airnya mendidih dan rotinya selesai di panggang. Zwetta memilih duduk di kursi bar dengan memijat leher dan punggungnya yang masih terasa sakit. Lalu ia dikejutkan dengan tangan seseorang yang ikut memijat punggungnya itu dan Zwetta menoleh ke belakang dan ternyata Alan.

“Astagah kau mengejutkanku.”

Zwetta langsung saja bangkit berdiri dan memperbaiki gaun tidurnya yang sedikit terbuka itu. Alan tersenyum dan menilai Zwetta dari atas sampai bawah yang sangat sexy karena menggunakan gaun tidur yang tipis, di bawah lampu seperti itu Alan bisa melihat di balik gaun tidur tersebut.

“Aku lupa kalau ada orang lain di rumah ini.”

Zwetta sepertinya sadar akan kesalahannya dan ingin naik ke atas namun langsung di tahan oleh Alan.

“Kau mau kemana?” tanya Alan sambil mengelus lengan Zwetta dan jangan lupakan senyuman khas miliknya.

“Mau mengganti baju,” jawab Zwetta jujur, Alan tertawa kecil lalu menggelengkan kepalanya.

“Tidak perlu, aku tahu kau sangat nyaman memakainya. Aku tidak akan melihatnya lagi, santai saja. Kenapa dengan bahumu? Sakit? Sini biar ku urut.” Zwetta menarik tangannya dari genggaman Alan lalu menggelengkan kepalanya.

“Nanti akan membaik.”

Pemanggang rotinya bunyi membuat Zwetta langsung saja melihat rotinya dan hendak mengeluarkannya namun Alan tiba-tiba berdiri di belakangnya seperti memeluknya dan menahan tangan Zwetta.

“Kau tidak sadar roti ini baru masak dan ini panas. Tanganmu bisa terluka.”

Seketika Zwetta sadar dengan kecerobohannya dan berdiam. Alan mengambil penjepit dan piring, lalu mengambil roti tersebut dan diletakkannya di atas piring. Zwetta bisa merasakan hembusan napas Alan yang berada di belakangnya. Ia memilih menahan napasnya sejenak.

“Airmu juga sudah mendidih,” ucap Alan sambil beralih mematikan kompor, barulah Zwetta bisa bernapas dengan lega.

“Terima kasih, aku ingin buat kopi.”

Zwetta ingin mengangkat air yang baru masak itu namun di tahan oleh Alan. Entah kenapa kali ini Zwetta menginginkan kopi bukan teh.

“Kau duduk saja, biar aku yang membuatkan kopi untukmu,” ucap Alan sambil memegang tangan lembut Zwetta.

Wanita itu langsung saja menarik tangannya dan mengikuti perkataan Alan untuk kembali duduk di kursi bar. Zwetta melihat Alan yang dengan mahir menyiapkan kopi untuknya. Lebih tepatnya Zwetta melihat perawakan Alan yang dikaguminya itu.

“Ini kopi dan roti untukmu, silahkan dinikmati,” kata Alan sambil memberikan secangkir kopi dan sepiring roti.

Alan membuat juga untuk dirinya sendiri. Zwetta meniup kopi tersebut lalu mencicipinya dan ia suka dengan kopi tersebut. Rasanya sama seperti buatannya setiap hari, tidak terlalu manis tidak juga terlalu pahit.

“Enak,” puji Zwetta tanpa sadar, Alan tertawa mendengar pujian dari Zwetta itu.

“Syukurlah kalau kau menyukainya. Aku tahu kopi yang selalu kau inginkan seperti itu.” Zwetta mengernyitkan keningnya bingung, dari mana pria ini tahu pikirnya. “Dion yang cerita tadi malam, kau selalu marah karena dia tak pernah berhasil membuatkan kopi yang sesuai dengan seleramu. Maka itu dia tak pernah membuatkan kopi untukmu bukan? Jadi dia kasih tahu bagaimana selera kopimu dan ternyata aku berhasil membuatkannya pagi ini,” kata Alan mencoba menjelaskan, Zwetta menganggukkan kepalanya mengerti.

“Thank’s,” jawab Zwetta singkat.

“Kenapa bahumu bisa sakit? Bukannya tadi malam masih baik?” tanya Alan penuh perhatian, Zwetta hanya tersenyum simpul dan tidak mau menjawab. “It’s okay aku tidak memaksamu untuk memberitahuku.” Lanjut Alan dengan senyuman khasnya. Hal itu membuat Zwetta jadi merasa bersalah, padahal Alan sudah baik padanya.

“Ini karena aku tidur di sofa, sepertinya tadi malam kalian banyak minum dan buat Dion mabuk. Jadi dia tak sadar naik ke tempat tidur belum mengganti pakaiannya. Aku tak suka dengan Dion yang selalu seperti itu, jadi aku memilih untuk tidur di sofa dari pada tidurku terganggu.” Akhirnya Zwetta menjelaskannya dan Alan semakin tahu mengenai kesukaan dari wanita cantik yang ada di depannya ini.

“Aku pandai dalam mengurut, mau ku bantu supaya lebih baik?” Tawar Alan yang langsung di tolak Zwetta dengan gelengan kepala.

“Tidak perlu akan aku atasi sendiri.” Tolak Zwetta dengan halus.

“Baiklah.” Alan tidak mau memaksakan Zwetta. Keduanya diam sambil menikmati kopi yang tersedia. Alan menilai Zwetta kembali dan membuatnya tersenyum. “Kau cantik, terlihat natural. Aku menyukainya.” puji Alan lagi secara terang-terangan membuat Zwetta menatap Alan dengan bingung. “Wajahmu bangun tidur seperti ini sangat cantik.” Alan mencoba menjelaskan maksud perkataannya.

“Terima kasih, aku balik ke kamar mau mandi.” Zwetta langsung saja bangkit berdiri dan membawa gelas serta piring yang sudah kosong tersebut namun langsung di tahan Alan.

“Pergilah, aku yang akan membereskannya.”

Zwetta seperti robot yang langsung saja setuju dengan perkataan Alan. Akhrinya ia meletakkan piring dan gelas tersebut lalu naik ke atas. Lagi Alan melihat Zwetta dari belakang yang menurutnya sangat sexy itu. Alan menggelengkan kepalanya keras akan pikiran gilanya itu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Gairah Liar Sahabat Suamiku   198. Keputusan

    Sesampainya di apartement, Alan masuk berjalan dengan lesu. Zwetta yang berada di dalam mendengar suara pintu terbuka langsung saja berjalan dan melihat wajah Alan tampak kacau.“Dari mana aja? Aku telepon tak diangkat,” kata Zwetta membuat Alan terkejut.Alan segera mengambil handphonenya di dalam sakunya dan melihat banyak pesan serta panggilan tak terjawab dari Zwetta. Bahkan Alan takt ahu jika begitu banyak panggilan dari sang istri. Ia tak mendengar bahkan tak merasakan hal tersebut karena pikirannya yang sangat kacau itu.“Aku tak sadar,” lirih Alan.“Titipanku mana?” tanya Zwetta lagi saat sadar Alan tak membawa kantong belanjaan.Alan bingung dan mengernyitkan keningnya.“Tadi aku minta

  • Gairah Liar Sahabat Suamiku   197. Permintaan Terakhir

    “Apa maksudmu mengirimkan itu?” tanya Alan langsung sekaligus marah begitu pintu apartement Clarabelle terbuka.“Elara lagi tidur, jangan teriak-teriak. Ayo kita bicara di dalam dengan tenang,” ajak Clarabelle membuat Alan menghela napasnya kasar.Alan masuk ke dalam dengan kesal, Clarabelle mengikuti Alan dari belakang dan duduk di seberang Alan. Rahang Alan mengeras menatap Clarabelle.“Apa benar kau hamil?” tanya Alan kesal.“Ya, aku hamil. Saat itu memang masa suburku dan kita tidak menggunakan pengaman. Aku tak tahu akan jadi seperti ini. Aku tak pernah melakukannya dengan siapapun, bahkan aku tak memiliki kekasih. Aku hanya melakukannya denganmu, sudah pasti aku hamil anakmu,” tegas Clarabelle.“Tapi bagaimana bisa?” tanya Alan masih tak percaya. “Aku pikir kita hanya tidur bersama saja tanpa melakukan apapun pada malam itu,” tegas Alan.“Kau mabuk dan kau tak sadar apa yang sudah kau lakukan. Kau memaksaku untuk melakukannya, bahkan dulu saat kita masih berpacaran kita sering m

  • Gairah Liar Sahabat Suamiku   196. Kejutan

    “Aku tak terima dengan yang terjadi malam ini. Aku akan datang lagi dan akan berjuang. Tuan akan menyesal sudah melakukan hal ini padaku. Tuan tidak akan mendapatkan wanita seperti aku lagi. Hanya aku yang bisa mencintai Tuan sebesar ini,” kata Mauryn masih saja tak terima dengan Dion serta Diana.Setelah itu Mauryn keluar dari sana dengan membawa barangnya yang sudah dibawanya itu. Mauryn menutup pintu dengan keras sehingga meninggalkan dentuman yang begitu keras. Dion sampai harus memejamkan matanya karena itu.“Bagaimana? Apa kau masih belum percaya padaku? Aku sudah mengakhiri hubunganku dengannya, tak ada wanita lain lagi. Aku ingin kau kembali padaku, tolong percaya padaku. Aku benar-benar menyesal, kasih aku kesempatan sekali lagi. Kalau kesempatan ini masih saja tak bisa ku pakai dengan baik, aku janji tak akan mengejarmu lagi. Kau bisa melakukan apapun yang kau mau termasuk meninggalkanku,” tegas Dion sambil menatap Diana dengan lekat.“Kau yakin dengan itu?” tanya Diana untuk

  • Gairah Liar Sahabat Suamiku   195. Tak Mau Berakhir

    “Apa maksud Tuan? Tuan bercanda bukan? Tuan bahkan sudah menunjukkan semuanya padaku dan aku menyukainya. Aku menyetujui apapun yang Tuan inginkan. Hubungan ini bahkan baru saja terjadi. Kenapa begitu cepat? Kenapa Tuan tak membutuhkanku lagi? Apakah Tuan bosan padaku?” tanya Mauryn yang tak terima.“Aku sudah tak membutuhkanmu lagi. Kau jelas tahu aku melakukannya hanya untuk mau bersenang-senang saja tak lebih. Aku hanya menjadikanmu sebagai tempat pelampiasan saja tak lebih. Jadi saat aku tak menginginkanmu lagi itu hakku,” tegas Dion.“Sebelumnya Tuan tak mengatakan hal ini padaku. Kenapa Tuan tiba-tiba seperti ini? Apa karena wanita ini?” tanya Mauryn tak suka menunjuk Diana.Hal itu membuat Diana tertawa mengejek.“Dia punya nama dan namanya Diana. Dia adalah wa

  • Gairah Liar Sahabat Suamiku   194. Mengakhiri Hubungan Part 2

    Pada sore harinya Dion menjemput Diana ke kantornya supaya keduanya bisa pulang bersama. Sebelum pulang mereka memutuskan untuk makan malam di luar. Namun saat makan malam, Diana meminta sesuatu hal pada Dion sehingga membuat pria itu terkejut.“Aku ingin ketemu dengan wanita itu malam ini. Di mana dia?” tanya Diana dengan serius.“Kau yakin mau bertemu dengannya hari ini?” tanya Dion memastikan.“Ya, kenapa? Kau tak mau mempertemukan kami?” tanya Diana kesal.“Bukan begitu sayang, kau sangat terburu-buru sekali. Aku pikir kau ak…”“Aku tak mau membuang waktu. Supaya kau tak memakai waktu yang ada untuk bermain api lagi. Aku mau semua permainan ini berakhir, lebih cepat lebih baik supaya tak memberikan wanita itu

  • Gairah Liar Sahabat Suamiku   193. Mengakhiri Hubungan Part 1

    “Dion ada di ruangannya?” tanya Diana pada Kimberly membuat wanita itu terkejut dengan kehadiran kekasih Dion.“Ada di dalam,” jawab Kimberly.Diana menganggukkan kepalanya dan segera berjalan. Namun tiba-tiba Diana menghentikan langkahnya dan segera berbalik. Diana menghampiri Kimberly kembali membuat wanita itu terkejut. Kimberly dari tadi memang melihat Diana yang hendak masuk ke dalam ruangan Dion itu.“Ada apa?” tanya Kimberly sopan.Diana melipat tangannya di depan dada, mengangkat wajahnya dan terlihat dingin. Matanya menyorotkan ketajaman dan ketegasan. Aura Diana terlihat sangat berbeda dari pada biasanya, membuat Kimberly sedikit takut.“Aku tahu hubunganmu dengan Dion, jadi segera akhiri. Jangan pernah menggodanya lagi a

  • Gairah Liar Sahabat Suamiku   185. Bersenang-senang

    “Akhhhhh Tuannn Dion!” erang Mauryn yang menggeliat tak karuan karena tangannya terikat.Hal itu membuat dirinya tidak berdaya karena tak bisa memegang sesuatu sebagai tumpuan. Mauryn kembali mengangkat pinggulnya denga

    last updateLast Updated : 2026-04-04
  • Gairah Liar Sahabat Suamiku   173. Kepemilikan 18+

    Dengan napas terengah-engah, Mauryn menatap Dion. Buah dadanya yang ranum terlihat jelas bergerak naik turun mengikuti napasnya yang memburu.“Aku milik Tuan, aku mainan baru Tuan. Aku adalah milik Tuan seutuhnya,” ucap

    last updateLast Updated : 2026-04-03
  • Gairah Liar Sahabat Suamiku   178. Mencari Kesempatan

    “Kenapa aku harus takut? Justru aku akan sangat senang dan berterima kasih padamu kalau kau mau memberitahunya. Semua orang juga akan tahu bahwa itu adalah anakmu. Aku dengan bangga akan memberitahu mereka siapa Daddy dari anakku. Hal itu semakin mempermudahku u

    last updateLast Updated : 2026-04-03
  • Gairah Liar Sahabat Suamiku   177. Pertemuan

    Hal itu membuat Zwetta terkejut, sekarang Zwetta tahu mengapa wanita tersebut menatap suaminya seperti itu. Karena ternyata wanita tersebut adalah mantan sang suami yang pernah disebut oleh kedua tangannya sebelumnya yang sudah pulang.

    last updateLast Updated : 2026-04-03
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status