LOGINHaris Papinya Aulia ternyata dua bersaudara, kakak kandungnya seorang wanita bernama Heni sekarang tinggal di Surabaya dengan keluarganya. Keberuntungan dan kesuksesan Haris dalam karir ternyata tidaklah demikian dengan Heni, Heni hanya Ibu rumah tangga memilik 3 orang anak dan suaminya hanya seorang pegawai biasa di salah satu perusahaan BUMN.Meskipun antara Haris dan Heni berbeda dari segi karir dan kehidupan sosial akan tetapi keduanya memiliki kesamaan dalam memperjuangkan putra-putri mereka hingga memiliki gelar sarjana, 3 anak Heni saat ini dua antara berkedudukan cukup tinggi di tempat mereka bekerja.Hanya saja putra bungsunya yang bernama Farhan meskipun menyandang gelar S2 di luar negeri, akan tetapi saat ini dia hanya bekerja sebagai karyawan biasa di salah satu perusahan swasta di Kota Surabaya.Farhan seusia dengan Aulia, di samping dari segi karir Aulia lebih menjanjikan karena berpenghasilan cukup besar Aulia pun sudah bekeluarga sementara Farhan masih single. Farhan s
Selama 2 jam penerbangan akhirnya pesawat yang ditumpangi Bobby landing di Bandara Soekarno Hatta Jakarta, selama di atas di ruangan bersekat itu Bobby dan Vivan tidak melakukan hal-hal yang dapat mengundang gairah seperti yang pernah ia lakukan pada keberangkatan pertama dari Jakarta ke Bali 2 hari yang lalu.Mungkin memang karena dikuatirkan di ruangan itu terpasang CCTV yang dapat membuat citra mereka rusak, terutama bagi Vivian sebagai pramugari di pesawat itu. Setelah turun dan pamit pada Vivian, Bobby duduk di ruangan tunggu kedatangan menanti jemputan Dori supir pribadinya yang ia beritahu melalui telepon sebelum take off tadi di Bandara I Gusti Ngurah Rai.Tak berselang lama menunggu Dori pun tiba, dengan dibantu supir pribadinya itu ia pun mengangkat barang-barang bawaannya berupa oleh-oleh dari Bali untuk Aulia dan juga pekerjanya di rumah termasuk supir pribadinya itu.Hampir jam 5 sore Bobby tiba di rumahnya, kalau tadi barang-barang bawaannya dari Bali ia ikut mengangkatn
Ternyata ikatan pengusaha yang Bobby salah satu anggotanya itu tidak hanya mengadakan acara ulang tahun tapi juga seminar yang diadakan di hari kedua, seminar itu sendiri dilaksanakan sejak pagi hingga jam 1 siang makanya Bobby di Bali selama 2 hari.Jika malam pertama sebelum diadakan acara ulang tahun esok harinya Bobby menginap dengan Vivian di salah satu hotel langganan pramugari cantik itu, tapi malam kedua menginap di hotel tempat diadakan acara ulang tahun dan seminar ikatan pengusaha yang sebelumnya juga telah disediakan bagi anggota.Setelah acara seminar selesai Bobby kembali ke kamarnya, dilihatnya jam dinding menujukan lebih sedikit dari jam 1 siang. Sambil duduk di kursi yang di depannya terdapat meja berukuran kecil, Bobby meraih ponselnya dan melakukan panggilan pada nomor kontak yang ia pilih di ponselnya itu.“Hallo, selamat siang Mas.”“Selamat siang Vivian, hari ini kamu terbang nggak ke Bali?”“Iya Mas, nih tengah mengudara dan 10 menit lagi akan landing di Bandara
Berbeda dengan Bali di Jakarta sedari pagi hingga malam datang cuaca tak bersahabat, meskipun yang hujan tak lebat namun boleh dikatakan tak ada berhentinya. Malam itu kembali Aulia musti bertugas hingga larut, karena banyaknya pasien yang musti ditangani.Bagi Aulia menangani pasien yang banyak itu tidaklah terlalu membuat dirinya pusing karena telah terbiasa, yang jadi beban pikirannya adalah dokter Hendra tak jua menyadari jika sikapnya yang kerap menolak sebagai tanda jika dia tak ingin terus-terusan didekati.Malam itu Aulia kembali harus dibuat berfikir alasan apa yang musti ia kemukakan pada saat ia akan pulang nanti dan dokter Hendra menghampiri menawarinya untuk pulang bareng lagi, jika beralasan ingin mampir ke rumah orang tuanya lagi ia rasa dokter Hendra tidak akan percaya.Malahan pada saat jeda mengoperasi pasien sosok yang dikuatirkannya itu menghampirinya di ruangan tempat ia beristirahat sejenak, Aulia tentu saja tak bisa menolak kehadiran dokter itu karena tahu jika
Pagi itu Pulau Bali cerah, sejak fajar menyingsing langit terlihat membiru hanya beberapa titik awan yang tampak itu pun terpencar. Di sebuah kamar hotel wanita cantik yang sejak semalam tertidur pulas dengan salah satu tangannya ia lingkarkan tepat dibagian dada sosok pria tampan bertubuh atletis, tiba-tiba bangkit dari posisi tubuhnya yang tadi berbaring.Wanita cantik itu langsung melirik ke arah jam dinding yang ada di kamar itu, jarum jam ternyata telah menunjukan hampir jam 7 pagi waktu setempat. Untuk beberapa saat ia hanya duduk bersandar di ranjang sembari menoleh ke arah pria tampan yang masih tertidur pulas di sebelahnya, ia pun tersenyum mungkin teringat akan peristiwa semalam yang membuatnya seakan terbang ke langit yang ketujuh.“Mas Bobby, bangun Mas udah siang,” ujar wanita cantik itu sambil mengoyang-goyang tubuh pria tampan yang masih tidur lelap di sampingnya.Pria tampan yang dipanggilnya Mas Bobby itu hanya mengeliat saja akan tetapi kedua matanya masih terkatup,
Kembali tersimpul senyuman manis dan manja di bibir Vivian saat tubuhnya dibopong lalu dibaringkan dengan lembut di ranjang, kali ini Vivian yang lebih agresif memulai sentuhan yang tentunya dibalas Bobby tak kalah liarnya.Seolah-olah Kamar hotel itu tak ber AC karena dahsyatnya gelora yang membakar dari dalam tubuh mereka, sentuhan dan gerakan mulai tak beraturan lagi hingga seprei ranjang pun kusut sekusut rambut indah panjang tergerai milik pramugari cantik itu.Bobby memang piawai di ranjang hingga membuat beberapa kali tubuh Vivian mengejang dan lemas, pramugari cantik itu seakan tak ingin melepaskan pelukan erat pria tampan nan perkasa itu di tubuhnya meskipun ia sudah tak kuasa lagi melayani sentuhan dan gerakan dari Bobby.Benar-benar sebuah sensasi dan pengalaman yang belum pernah Vivian peroleh dari pria manapun jua termasuk dari suaminya sendiri, akibat semakin intensnya gerakan yang di lakukan Bobby akhirnya keperkasaannya tumbang juga seiring tubuh kekarnya mengejang lal







